
Kita bertiga nonton TV bareng di
kamar kostku. Aku, Lia dan Erik.
Biasanya sih ada Dodijuga pacarnya
Lia. Tapi hari ini Dodi masuk malam.
Jadi nggak bisa kumpul bareng.
Erik tiduran diatas ranjang
tempat tidurku sambil memainkan
ponselnya. Lia duduk bersandar
ranjang dan aku tiduran di pangkuan
Lia. Ngobrol-ngobrol sambil
bercanda-canda seperti biasa.
"Eh, Nov, elo dah tau kalau Reno
risain?" Tanya Lia dengan wajah yang
sangat serius.
"Udah kok."
"Kenapa dia resign?"
"Dia takut baper sama gw. Hahahah..." Jawabku sambil tertawa
lepas.
Lia langsung menjitak kepalaku
denganjarinya.
"Yang ada elonya yang
baper. Elo kan bucin banget."
Mantan kekasihku
Jangan kau lupakan aku
Bila suatu saat nanti
Kau merindukanku
Datang datang padaku ho hey hey
hey Mantan...
"Itu suara ponsel elo, Nov?" Tanya
Erik.
"ya."
"Ngenes banget sih lo. Nganti dong
nada deringnya. Katanya nggak baper."
"Lagunya bagus, gaes. "Aku melihat
layar ponselku tertulis nama Ardi
dilayar ponsel. Ku geser tombol warna
hijau.
"Halah. Dasar baper."
"Hallo." Sapaku. Ardi adalah
sepupuku. Anaknya pamanku yang
tinggal didekat rumahku di daerah
XX.
"Noy, besok pagi gw jemput ya."
Jemput? Ngapain? Gw nggak libur,
Di,"
"Elo resigm aja."
"Eh, ngomongnya seenak jidat!"
"Beneran. Ini gw dah buatin surat
resign buat elo. Besok tinggal pilih
mau pakai yang mana."
"Emang kenapa gw harus resign?Gw masih pengen kerja. Cicilan motor
gw aja belom kelar."
"Halah kalau cumna cicilan motor
sih gampang, Nov. Yang penting lo
siap-siap. Besok gwjemput."
"Tapi, Di ...."
Tut... tut... tut..
Telpon terputus.
Kupandangi layar ponsel yang
ternyata memang telponnya sudah
diputus sepihak. Aku bangun dan
duduk disamping Lia.
Aku menatap
lurus kedepan. Ada apa ini? Kenapa
Ardi mau menjemputku pulang? Apa
Ayah atau lbuk sedang sakit? Tapi
kenapa harus sampai resign juga?
"Ada apa, Nov?" Tanya Erik yang
mulai penasaran dengan wajahku yang mulai berubah expresi.
"Gw juga nggak tau. Gw disuruh
resign."
Lia dan Erik saling berpandangan.
Kami bertiga diam dengan pikiran
masing-mnasing
.***
Jam 8 pag, aku sudah rapi. Sudah
mandi, sudah wangi. barang-barang
pun sudah aku packing didalanm koper.
Sudah melunasi pembayaran kost
yang bulan kemarin kurang.
Tak lama kemudian, sebuah mobil
warna merah terparkir didepan kost.
Seorang lelaki keluar dari dalam
mobil itu menggunakan kacamata
|hitam. Lalu dia copot kaca mata itu.
Dan berjalan masuk ke gerbang kost.
Aku tersenyum kearahnya dan melambaikan tanganku. Dan menyuruhnya untuk mendekati ku.
"Waahh, makin cakep aja lo."
Sapaku setengah memuji sepupuku
satu-satunya ini. Pamanku memang
orang yang berada. Berbeda dengan
kedua orang tuaku. Tapi paman selalu
|baik pada keluargaku.
Ardi langsung memelukku.
"Sehat
kan, Mbakku sayang." tanyanya saat
memelukku.
"Sehat." Kami melepaskan pelukan
kami. Di luar gerbang ada sepasang
yang sedang memperhatikan
kami. Dia keluar dari dalam mobil
dan berjalan ke arahku.
"No, elo jadi resign?" Dia Erik. Raut
wajahnya yang penuh kekhawatiran,
seperti takut gw akan jatuh kejebur kolam lele.
"Ya mau gimana lagi, Rik. Ini sepupu
gw dah jemput gw." Aku menunjuk ke
arah Ardi.
Lalu Ardi memberikan amplop
coklat pada Erik.
"Mas teman satu
kerjaan sama Nova, kan? Nitip surat
resignnya Nova ya, Mas."
Erik menerima amplop itu dan
setuju dengan resignku.
Kami memang
dari dulu dekat. Kami dekat setelah
aku berpacaran dengan Reno.
Bahkan
Reno sering merepotkan Erik saat dia
tidak bisa menjemputku atau tidak
bisa menemaniku pergi. Aku fikir,
itulah teman dan sahabat yang baik.
"Erik, sumpah muka lo melas
banget." Aku memeluknya. Dia sangat wangi. Dia membalas pelukanku,
|bahkan lebih erat.
"Elo harus sering-sering telpon gw
ya, Nov. Sering-sering main kesini
juga." Ucapnya kemudian. Sepertinya
dia menahan tangis, karna suaranya
yang terdengar agak serak.
"lya, Rik. Jangan sedih ya. Masih ada
Lia sama Dodi, kan?"
Lalu dia lepaskan pelukannya.
"Elo bukan mereka, Nou."
Ardi masuk kekamarku, mengambil
tas dan koperku lalu membawanya
masuk kedalam mobilnya.
"Gw sayang sama elo, Nov."
Ucap Erik dengan mnata yang
berkaca-kaca.
Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa, rasanya anek mendengarkan kata-kata Erik.
"Nova!" Lia datang dan langsung
memelukku. "Elo jahat. Elo tinggalin
gw sekarang. Kalau bedak gw habis,
bensin gw habis, lipstik gw habis, gw
inta nya kesiapa dong?" Lalu dia
lepaskan pelukannya.
"Dasar tukang minta-minta!"
"Ini beneran elo akan pergi?
"Iya, Lia. Itu Ardi udah nungguin.
Gw pergi sekarang ya. Gwjanji, gw
akan sering-sering telpon kalian
berdua. Sahabat terbaikku. "
Aku kembali tersenyum lalu
memeluk Lia lagi. Lalu bergantian,
memeluk Erik.
"Elo jangan nangis lagi ya, Nou. Lupain Si Reno. Dia udah bahagia. Elo
harus kejar kebahagiaan elo. Jangan
|lagi nangis buat Reno. Gw nggak rela."
Erik manasehatiku sambil mengelus
kepalaku.
Aku melepaskan pelukanku.
Rasanyajadi pengen nangis
mendengar ucapan Erik. Dia orang
yang paling perhatian setelah Reno
pergi.
"lya, Rik. Gw nggak akan nangis
lagi kok. Elo jaga diri baik-baik ya.
Makasih untuk semua kebaikan dan
perhatian elo selama gw disini."
***
Sampai di depan rumahku. Ayah,
Tbuk sudah menyambutku didepan
pintu. Kedua adikku sudah pasti
sekolah karna sekarang bukanlah hari libur.
"Tuh udah ditungguin Pakde
sama Bude." Ucap Ardi saat melihat
Ayah dan lbuku langsung berdiri
ketika melihat mobil Ardi memasuki
plataran rumah.
Aku tersenyum melihat mereka yang
sehat. Aku langsung keluar dari mobil
dan mendekati mereka.
Mencium
tangan kedua orangtuaku. Ardi
mengeluarkan koper dan tasku dari
bagasi mobilnya. Lalu kami masuk
kedalamn rumah. Didalam ada Paman
dan Bibijuga.
Kedua orang tua Ardi.
Mereka duduk diruang tamu.
Aku tersenyum pada mereka dan
menyalaminya. Lalu duduk di kursi
yang kosong. Ardijuga ikut duduk
disebelahku.
"Tumben ini kok pada kumpul.
lbuk nggak ada orderan catering,
ya?" Tanyaku saat lbuku ikut duduk
disebelah Bibiku.
"Ibu close order selama sebulan ini,
Nduk." Jawab lbuk dengan tersenyum
kearahku.
"Kenapa, Buk?" Aku mulai curiga. Ini
nggak seperti biasanya. Kenapa juga
mereka keluarga ku berkumpul begini.
Aku menatap Ardi, berharap dia
menjelaskan sesuatu padaku. Tapi dia
malah mengangkat kedua bahunya.
"Ayah juga, kenapa sekarang nggak
kerja?"
"Ayah cuti 2 hari, Nou." Tbuk yang
menjawabnya.
"Terus, Paman dan Bibi?""Kami kangen sama kamu." JawabanBibi yang aku tau itu bukan aslinya.
Akufrustasi bertanya dengan
mereka.
Lebih baik aku diam saja lah.
Lalu aku merebahkan tubuhku ke
sofa.
"Besok, ada yang akan melamarmu,
Nou." Ucap Ayah dengan tiba-tiba.
Seketika mataku membelalak.
Kaget bukan main.
Jadi mereka
memintaku pulang untuk ini? Sampai menyuruhku resign..
"Tapi ..."