
Saat ini Gavin sedang dalam perjalanan menuju lokasi tempat transaksi gelap mereka. Tidak lupa ia telah menambahkan orang untuk menjaga kontrakan Kyra.
Setelah perjalanan beberapa saat, kini mobil yang di kendarainya telah terhenti di jarak 500 meter dari sungai Dan. dengan membawa sebuah pestol yang telah tersedia di mobilnya, Gavin turun dan menuju ke tempat Elard berdiri.
"Bagaimana?" tanya Gavin kepada Elard yang sedang berdiri memantau transaksi yang sedang di lakukan oleh Rey dan Carlos di jarak 300 meter dari tempat mereka berdiri. semua anak buah yang sedang bersama Elard langsung membungkukkan badannya memberi hormat saat kedatangan Gavin.
"Sementara aman, tidak ada pergerakan yang mencurigakan" jawab Elard setelah mendengar suara dari balik benda yang terpasang di kupingnya dan tersambung dengan beberapa penembak jitu yang sudah bersiaga di tempat mereka masing-masing.
Bahkan penembak jitu itu saat ini tengah berada di jarak 1 km dari lokasi transaksi berlangsung. namun dengan alat dan kemampuan yang luar biasa, mereka bisa dengan mudahnya mengawasi dan membidik musuh tepat di organ vital mereka. Sehingga ketika mereka membuat onar, maka penembak jitu itu hanya tinggal menarik pelatuknya untuk membunuh musuhnya.
Begitulah Black Lion yang begitu sangat di takuti. mereka para musuh tak akan menyangka sejauh apa yang bisa Black Lion lakukan jika sudah terusik. bahkan mereka tidak akan menyangka jika saat transaksi berlangsung, keluarga mereka dirumah sudah di bidik oleh para anak buah Black Lion. dan para anak buah Black Lion pun siap menarik pelatuk pestol mereka kapanpun itu jika mereka yang sedang bertransaksi berani bermain-main dengan kelompok mafia Black Lion ini.
"Bagus, pantau terus. aku sedang tidak mood, jadi jika mereka melakukan hal bodoh maka langsung saja habisi mereka seketika" ucap Gavin yang terselip sebuah perintah.
"Baik" jawab Elard lalu kembali fokus untuk memantau perkembangan transaksi. ia hanya berharap semoga mereka tidak melakukan hal konyol yang akan membuatnya harus repot-repot menghabisi mereka. ia berharap semoga transaksi ini berjalan lancar agar ia bisa segera pulang dengan bersih tanpa harus bermandikan darah.
*
Pukul 00.15 Shinta terbangun dari tidurnya. rasanya tenggorokkannya begitu sangat kering dan membangunkan instingnya untuk segera menghampus dahaganya itu.
Dengan mata yang masih berat, Shinta melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat sampai di ruang tengah, tiba-tiba langkahnya terhenti dan pandangan sayunya langsung mengabsen ke seluruh ruangan.
"Kemana dia? apa dia pergi dan tidur di luar?" batin Kyra saat tak menemukan Gavin di sana. dengan langkah gontai Kyra menuju pintu dan mencoba mengecek kembali pintu rumahnya.
Klek
Bunyi handle pintu yang berhasil terbuka oleh Kyra.
"Ya ampun tidak di kunci. kemana dia? kenapa tidak bilang jika mau pergi" ucap Kyra saat mengetahui pintunya yang tidak terkunci.
"Untung saja tidak ada orang jahat yang masuk ke dalam" gumam Kyra sambil mengunci pintu rumahnya. Setelah itu ia kembali kedapur untuk menuntaskan dahaganya lalu ia kembali ke kamar untuk melanjutkan perjalanan mimpinya yang sempat terhenti sebelumnya.
*
Malam ini Elard dapat bernafas lega, pasalnya ia tak perlu repot-repot untuk membunuh para pengacau dalam transaksi ini. ya, transaksi ini berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan semuanya.
Pukul 02.20, Gavin sedang dalam perjalanan untuk kembali ke kontrakan milik Kyra. Sebelumnya, setelah transaksi telah selesai, Gavin meminta ketiga sahabatnya untuk menjempunya besok. karena ia yakin jika besok Daffin masih tetap tidak akan mau pulang bersamanya. jadi ia mencoba cara menggunakan ketiga sahabatnya untuk membujuk Daffin pulang.
Setelah sampai di kontrakan Kyra, Gavin langsung turun dari mobilnya dan seperti biasa ia akan di sambut oleh para anak buahnya yang sedang berjaga di sana.
Setelah mendapatkan laporan jika semuanya baik-baik saja, Gavin melangkahkah kakinya menuju kontrakan Kyra.
Klek...
Alis Gavin saling bertautan saat pintu tidak terbuka.
Klek... Klek..
Gavin kembali mencoba membuka pintu itu namun nihil, pintu itu sama sekali tak bergerak.
"Sial, di kunci" gumam Gavin.
Melihat Bosnya yang belum masuk ke dalam dan masih berdiri di depan pintu, membuat salah satu anak buahnya menghampirinya.
"Tidak apa-apa" jawab Gavin yang langsung berjalan ke arah jendela samping yang langsung terhubung ke arah ruang tengah kontrakan Kyra.
Tanpa meminta bantuan, ia langsung membobol jendela itu dengan tangan kosong. Baginya itu adalah hal yang mudah. apalagi dengan jendela kayu yang tidak terlalu kuat kuncinya, sangat mudah bagi Gavin membukanya dengan tangan kosong.
Sedari tadi anak buahnya hanya mengawasi Gavin dari belakang. Setelah jendela terbuka, Gavin mulai memanjat jendela itu.
Awalnya proses manjat memanjatnya begitu lancar, namun saat hendak akan turun dari jendela itu, tanpa sengaja kepalanya terpentok kayu jendela yang memang mempunyai ukuran yang begitu kecil.
Dugh...
Bruuk..
Gavin berhasil mendaratkan tubuhnya dengan gaya terlentang di lantai.
Seketika para anak buah yang mendengar suara bosnya yang terjatuh itupun langsung mendekat seraya bersiaga menyiapkan senjata mereka masing-masing.
"Kau tidak apa-apa bos?" tanya anak buahnya panik setelah melihat bosnya terjatuh. sampai ia hendak ingin masuk juga kedalam untuk menolong bosnya itu. namun untungnya Gavin cepat melarangnya. jika tidak, mungkin malam ini akan ramai karena dikira ada maling yang membobol kontrakan Kyra.
"Bos kau tidak apa-apa?" tanya anak buah lain yang berbondong-bondong mendatanginya dengan senjata yang siap untuk di tarik pelatuknya.
"Tidak apa-apa. kembali lah berjaga, jangan membuat keributan" jawab Gavin sambil merapikan pakaiannya.
"Baik bos" jawab mereka serentak namun lirih.
Setelah sudah berhasil masuk, Gavin langsung masuk ke kamar Kyra untuk melihat pria kecilnya. entah kenapa seperti candu baginya, ia begitu menyukai pemandangan ini. pemandangan yang sangat menghangatkan hatinya.
Setelah memastikan jika putranya baik-baik saja, Gavin langsung kembali ke ruang tengah untuk merebahkan tubuhnya di kursi panjang itu. sampai pada akhirnya ia pun tertidur di kursi yang ia rasakan keras di punggungnya.
Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali Kyra sudah terbangun lebih dulu. matanya yang sayu karena bangun tidur, seketika melebar saat ia melihat Gavin yang sedang tertidur di atas kursi miliknya.
"Bukankah semalam dia tidak ada di rumah? dan perasaan semalam aku juga sudah mengunci pintu" ucap Kyra lirih sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Klek.. klek...
"Masih terkunci" gumam Kyra.
Kemudian Kyra menuju ke arah jendela untuk membukanya agar udara segar di pagi hari itu bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak di kunci? apa semalam dia masuk lewat jendela?" gumam Kyra saat mendapati jendelanya yang tidak terkunci. Namun Kyra tidak memikirkan hal itu. kemudian setelah membuka jendela itu, Kyra langsung bersiap-siap pergi ke warung untuk membeli bahan masakan untuk membuatkan sarapan pria kecil dan pria besar yang sedang menginap di kontrakannya.
.
.
.
***
.
**Dukung author terus ya, dan tetap ikuti cerita ini sampai habis. di jamin ceritanya akan semakin seru seiring berjalannya waktu😆
Terimakasih❤😘**