My Husband Is A Boss Mafia

My Husband Is A Boss Mafia
Kredit Motor



Di tengah guyuran hujan, Gavin masih menggendong Daffin di punggungnya sambil menyusuri jalanan yang sepi itu. Bau amis yang berasal dari darah Gavin yang menetes pun mengiringi langkah mereka. untung saja malam ini hujan, jadi darahnya yang menetes kejalanan bisa langsung terhapus dengan air hujan.


"Daddy kau tidak apa-apa?" tanya Daffin tepat di kuping kiri Gavin.


Gavin berhenti lalu menurunkan Daffin dari gendongannya. ya posisi mereka saat ini sudah lumayan jauh dari tempat kejadian tadi. dan Gavin sedikit tenang karena merasa jika anak buah Daniel tidak bisa menemukannya.


"Daddy baik-baik saja Daffin" jawab Gavin sambil melepaskan kemejanya untuk di kenakan ke Daffin. setelah itu terlihat ia terpejam saat tangan kosongnya mengambil begitu saja peluru yang bersarang di lengannya, lalu kemudian ia menyobek kemejanya dan mengikatkannya di lengannya yang terluka.


Saat ini ia merasa dirinya sangat lemas, mungkin karena dirinya yang kehilangan banyak darah yang sudah banyak keluar sejak ia berjalan dari tadi. Saat ini ia benar-benar tak ada tenaga untuk melanjutkan perjalanannya. sungguh sial nasibnya, karena ia tak bisa menghubungi anak buahnya dan meminta bantuan. bagaimana bisa jika saat ini ponselnya tertinggal di mobil yang masih ada di sana.


Sementara itu seorang gadis sedang mengendarai motornya dengan menggunakan jubah hujannya.


"Ya tuhan, ngeri banget sih ini" gumam Kyra yang terus bolak-balik mengusap kaca helm nya yang terkena air hujan dan membuat pandangannya buram.


"Kenapa juga sih pestanya harus di adain malem? kan bisa siang atau sore hari gitu" gerutu nya dengan masih fokus memandang jalanan yang gelap. saat ini Kyra sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara ulang tahun pernikahan rekan kerjanya di sekolah. Ya, Kyra berprofesi sebagai guru yang mengajar di sekolah kanak-kanak. ia mengambil profesi ini karena memang ia sangat menyukai anak-anak.


Tiba-tiba matanya menyipit dan keningngnya berkerut saat melihat sesuatu di depan sana.


"Aduuh!" pekik Kyra terkejut. saat ini tubuhnya begitu kaku, jantungnya berdebar tak karuan.


"Apa itu? Astaghfirullah, astaghfirullah" ucap Kyra beristighfar saat ia melihat sesuatu yang ia kira adalah hantu jalan. dengan kondisi di gelapnya malam dengan guyuran hujan, ditambah dengan redupnya lampu penerangan jalan yang berwarna kuning kemerahan, membuat kesan horor di sepanjang perjalanan semakin terasa.


Semakin motornya mendekat, maka semakin jelas pandangannya. ia terkejut saat yang di lihatnya saat ini adalah seorang pria yang sedang melambai-lambaikan tangannya.


"******, dia nyetopin lagi" Kyra melihat jalanan yang sangat sepi dan tak ada orang lain lagi selain dirinya.


Karena takut tidak ada orang selain dirinya, ia berniat untuk mengacuhkannya dan melewatinya begitu saja. namun tiba-tiba tangannya refleks menarik rem motornya saat melihat anak kecil yang terduduk di aspal dengan kemeja besar yang menutupinya dan terlihat seperti kedinginan di sebelah pria itu.


"Astaga" ucap Kyra yang langsung turun dari motornya dan menghampiri anak kecil itu dengan masih memakai jubah hujannya.


"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Kyra khawatir. Daffin hanya menganggukkan kepalanya lalu menunjuk ke arah Gavin yang di lewatinya.


"Astaga tuan, anda terluka" Kyra terkejut saat melihat darah yang mengalir di lengan Gavin.


"Saya antar ke rumah sakit ya tuan" ucap Kyra menawarkan bantuan


"Tidak, tolong bawa kami ke rumah mu" ucap Gavin lemah.


Melihat kondisi kedua pria ini membuat Kyra menjadi iba.


"Baik tuan, mari naik motor saya" ucap Kyra yang kembali ke motornya dan menyalakan mesinnya.


Gavin mengangkat Daffin dengan sisa tenaganya dan mendudukkannya di belakang Kyra, lalu ia ikut naik dan duduk di jok yang paling belakang yang dimiliki motor merah itu.


"Pegangan ya tuan" ucap Kyra lalu melajukan motornya. Kyra sedikit terkejut saat tangan Gavin memeluk perutnya dari belakang dan mengeratkan pegangannya. namun ia pikir mungkin orang ini ingin melindungi pria kecil yang posisinya duduk di tengah-tengah mereka agar tidak terjatuh.


Malam itu Kyra langsung mengurus kedua pria itu. Pria kecil itu ia urus terlebih dahulu dengan memandikannya lalu menggantikan pakaiannya yang sudah basah. untung saja ia mempunyai pakaian anak di rumahnya. semua itu ia simpan untuk berjaga-jaga jika ada anak muridnya yang berkunjung kerumahnya dan membutuhkan pakaian ganti. jadi ia menyiapkan beberapa pakaian anak di lemarinya.


Daffin terlihat menurut saat di mandikan dan di pakaikan oleh Kyra. Setelah selesai mengurusi pria kecil itu, lalu ia langsung mengurusi pria satunya yang sedang terluka. ia membersikan lukanya lalu mengobati dan memerban lukanya.


Di pagi hari yang sejuk setelah guyuran hujan semalam, Kyra menghubungi Levin untuk memberikan kabar tentang kedua pria yang saat ini ada di rumahnya.


"Kau sudah gila membawa orang asing pulang kerumahmu?"


"Tapi dia sedang terluka Bian"


"Apa kau tidak takut? dia seorang pria asing. bagaimana jika mereka adalah kawanan begal? bagaimana jika mereka mengambil motormu dan melukaimu?"


"Aargh.. sadarlah Kyra. motormu itu belum lunas masa kreditnya. dan lagi, kau itu masih punya hutang denganku 200 ribu. bagaimana kalau kau meninggal sebelum sempat membayar utangmu padaku?"


Seketika kyra memasang wajah datarnya setelah mendengar itu.


"Kenapa? ada apa?" tanya Bian setelah melihat ekspresi dari sahabatnya itu.


"Kamu ini malah mikirin kredit motor sama hutang. aku juga belum mau mati, kamu harus membayar hutangmu yang satu juta itu dulu sebelum aku mati" ucap Kyra memberikan pukulan telak kepada sahabatnya.


"Hehe santai bro. kan belum mau mati. aku doain panjang umurnya biar panjang juga waktu aku buat bayar" ucap Bian cengengesan.


"Ya lagian kamu main bawa orang pulang malem-malem. kamu ngga liat itu lukanya? gimana kalo dia beneran penjahat?" tanya Bian kembali dengan wajah was-wasnya.


"Sepertinya tidak mungkin dia penjahat, soalnya dia bersama anak kecil. mungkin luka itu hasil dari kecelakaan" ucap Kyra menduga


"Kamu ngga tau kalo sekarang ini anak kecil bisa jadi begal? Eh maksudnya umpan begal"


"Kamu ngga ngeliat berita-berita itu kalo sekarang itu jamannya penjahat modus minta tolong terus ujung-ujungnya yang nolongin itu malah endingnya di begal?"


Klek..


Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Kyra dan Bian langsung terbungkam saat melihat Gavin yang keluar dengan menggendong Daffin yang masih tertidur. Seketika Kyra dan Bian saling berpandangan.


"Mm tuan mau kemana?" tanya Krya


"Saya akan pulang. terimakasih atas bantuannya semalam" jawab Gavin


"Aawh..." pekik Gavin saat kembali merasakan sakit di lengannya yang sedang menumpu tubuh Daffin


Kyra sigap mengambil alih Daffin dari gendongan Gavin saat melihat kain perban yang semula berwarna putih kering berubah basah dan berwarna merah.


"Tuan, sebaiknya tuan istirahat disini dulu. nanti setelah baikan tuan bisa pulang" ucap Kyra kepada Gavin.


Akhirnya Gavin memutuskan untuk mengikuti saran dari Kyra dan kembali masuk ke kamar.


***


**Kakak-kakak mohon dukungannya ya. dan kalau suka dengan cerita ini tolong di like, vote, rate⭐5 ya. dan yang paling penting jangan lupa komenannya biar author tau gimana respon kalian terhadap cerita ini


Terimakasih❤😘**