My Husband Is A Boss Mafia

My Husband Is A Boss Mafia
Uang 3 Juta?



Sesampainya mereka di kediaman mewah Gavin, mereka langsung masuk ke ruang kerja Gavin. Terlihat ruang kerja itu normal seperti ruang kerja pada umumnya. Namun siapa sangka jika di dalam sana terdapat sebuah ruangan khusus untuk menyimpan berbagai sejata kesayangan Gavin.


“Bagaimana perusahaan hari ini?” ucap Gavin saat Rey mulai membuka perbannya.


“Semua aktivitas berjalan seperti biasanya” jawab Carlos.


“Lalu bagaimana dengan transaksi yang akan dilakukan nanti malam?” Gavin kembali bertanya.


“Sesuai kesepakatan, Jam 00.30 di sungai Dan” ucap Rey


Carlos, Rey, Elard dan Gavin. Empat serangkai yang mempunyai profesi dan keahlian di bidangnya masing-masing. Namun selain ahli di bidangnya masing-masing, mereka juga ahli dalam segalanya.


Jadi tidak heran jika seorang dokter atau ahli hukum bisa mengerti dengan urusan bisnis-membisnis dan bunuh-membunuh. Karena jika mereka sudah di luar profesi normalnya, mereka akan berubah menjadi seorang yang berbeda saat sedang berada di Black Lion.


“Apa kau akan datang malam ini?” tanya Rey saat ia kembali membalut perban baru di lengan Gavin.


“Tentu saja, setelah menjemput Daffin aku akan datang ke lokasi” jawab Gavin.


“Elard, kau lacak keberadaan Daniel. Secepatnya kita harus menemukannya” perintah Gavin kepada Elard


“Siap” jawab Elard.


“Dan sekarang carikan informasi dan latar belakang wanita yang bernama Kyra” Gavin memerintahkan Elard untuk mencari tahu tentang Kyra.


Bukan karena alasan Gavin ingin mengetahui latar belakang Kyra. karena hidupnya yang penuh dengn musuh, jadi sebagai antisipasi siapa sangka jika Kyra adalah seorang mata-mata.


“Baik, tunggu sebentar” ucap Elard yang langsung mengambil laptopnya dan membukanya. Terlihat jari-jari Elard bergerak cepat di atas keyboard laptop miliknya.


“Selesai” ucap Elard setelah 5 menit ia fokus dengan laptopnya.


“Siapa wanita ini?” tanya Rey saat ia melihat layar laptop milik Elard.


“Dia adalah wanita yang menolongku dan Daffin semalam. Dan saat ini Daffin sedang bersamanya” jawab Gavin acuh.


“Kyra Ratnasari, umur 27 tahun, asal kampung **, status singgle” Elard mulai membacakan informasi yang di dapatkannya.


“Profesi seorang guru di sekolah kanak-kanak Pertiwi. Gaji perbulan 3 jt”


Mendengar itu seketika semua menyipitkan matanya.


“Uang 3 Juta sebulan untuk apa? Bahkan Seminggu saja aku bisa habis 10 juta hanya untuk makan” ucap Rey.


Tak hanya Rey yang heran dengan penghasilan Kyra, tapi juga Carlos, Elard dan bahkan Gavin yang biasanya uang 3 juta bagi mereka akan habis dalam sehari.


“Kedua orang tuanya berada di kampung **, hidup sendiri di kota dan mengontrak sebuah rumah selama disini. Guru terfavorit dan banyak di sukai oleh anak muridnya karena sifatnya yang penyayang dan lembut kepada anak muridnya” Lanjut Elard


“Sudah?” tanya Gavin saat Elard tak melanjutkan kata-katanya lagi.


“Hanya itu data dasar yang dimilikinya” jawab Elard sambil menutup laptopnya.


Memang Elard akan selalu membawa laptop kemanapun ia pergi dan akan ia letakkan di mobil jika ada urusan pribadi atau ia masukkan tas dan di bawanya saat sedang urusan bisnis.


Setelah merasa telah selesai dengan urusannya, Gavin pun bergegas untuk menjemput Daffin di kontrakan Kyra.


“Kalian istirahatlah dulu sebelum melakukan transaksi nanti malam. Saat ini aku akan menjemput Daffin terlebih dulu” ucap Gavin.


“Apa perlu ku antar?” tanya Elard.


“Tidak perlu, pulanglah. Aku bisa di antar sopir” ucap Gavin.


Dengan di antarkan oleh anak buahnya, Gavin menuju ke kontrakan Kyra untuk menjemput putranya. Setelah beberapa saat perjalanan, akhirnya Gavin sampai di kontrakan Kyra.


Kedatangannya langsung di sambut oleh 3 orang pria berpakaian serba hitam. Terlihat mereka langsung membungkukkan badannya begitu Gavin menuruni mobilnya.


“Bagaimana keadaannya” tanya Gavin kepada 3 pria itu.


“Semuanya baik-baik saja bos. Sedari pagi mereka tidak ada yang keluar dari rumah. Tuan muda juga tidak terdengar menangis atau merengek” ucap salah satu pria tersebut melapor.


“Baiklah, lanjutkan tugas kalian”


“Baik bos” jawab mereka serempak lalu kembali berpencar ketempatnya masing-masing untuk berjaga.


Gavin berjalan memasuki halaman kontrakan Kyra. Ia mulai mengetuk pintu kayu itu. Namun dahinya mengernyit saat tak ada jawaban dari ketukan pintunya.


“Daffin.. Kyra” panggil Gavin yang tak juga mendapat jawaban dari keduanya.


Dengan ragu Gavin membuka pintu kontrakan Kyra.


Kleeek...


"Ceroboh” batin Gavin saat ia berhasil membuka pintu Kyra yang tidak di kunci.


Perlahan Gavin memasuki kontrakan Kyra. Matanya kembali menyipit saat tak mendengar aktivitas manusia di sana. Gavin menuju ke kamar yang ia tempati semalam karena tak mendapati Kyra dan putranya di dapur ataupun di meja makan.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya menatap lekat ke arah tempat tidur, hantinya begitu sangat damai saat ia melihat putranya yang sedang tertidur pulas bersama Kyra yang juga tertidur dengan posisi memeluk tubuh putranya.


Pemandangan yang benar-benar sangat menyentuh hatinya, saat melihat putranya yang tertidur itu juga memeluk Kyra. Tak sadar Gavin mengeluarkan seulas senyumannya melihat itu.


Karena tidak mau mengganggu waktu tidur mereka, Gavin memutuskan untuk menunggunya di luar.


Sudah hampir 1 jam Gavin duduk di kursi panjang yang ada di ruang tengah kontrakan Kyra. Sambil memainkan ponselnya, ia setia menunggu sampai salah satu di antara mereka ada yang terbangun.


“Loh sejak kapan kau di sini? bagaimana kau bisa masuk? Kenapa aku tidak tau kau datang?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Kyra saat ia terkejut melihat Gavin yang sudah berada di dalam kontrakannya.


“Kira-kira sudah satu jam yang lalu. dan aku bisa masuk karena kau tak mengunci pintumu saat kau tidur” jawab Gavin datar.


“Ooo, aku lupa menguncinya tadi karena ketiduran” ucap Shinta sambil berjalan ke arah dapurnya untuk mengambil minum.


“Apa kau tidak takut jika ada penjahat yang masuk?”


“Tentu saja takut, tapi lingkungan di sini aman. Jadi aku tidak perlu khawatir” jawab Kyra acuh.


“Tante...” Dafiin tiba-tiba muncul dari kamar Kyra dengan tangannya yang sedang mengsap-usap matanya seperti khas bangun tidur.


“Wah anak tampan daddy sudah bangun rupanya”


“Daddy” Daffin membuka kedua matanya saat mendengar suara daddy nya.


Gavin menghampiri Daffin lalu menggendongnya.


“Kok sudah bangun sayang?” Kyra mendatangi mereka lalu memberikan segelas air putih kepada Daffin yang masih dalam gendongan Gavin.


Sungguh sangat manis pemandangan itu. bahkan mungkin orang lain yang melihat itu akan mengira jika mereka adalah keluarga kecil harmonis yang kompak mengasuh anaknya.


***


Jangan lupa like dan komennya❤😘