My Husband Is A Boss Mafia

My Husband Is A Boss Mafia
Daffin



Disebuah rumah rumah sederhana yang terletak di antara padatnya pemukiman penduduk, terdapat seorang pria yang terbaring lemah di ranjangnya sedang mengerjap-erjapkan matanya.


Sambil memegangi lengannya yang masih terasa perih. dengan lemas ia berusaha mendudukkan badannya. tiba-tiba matanya panik menelurusi ruangan itu, namun ia langsung bernafas lega saat mendapati pria kecil yang sedang tertidur di sampingnya.


"Kau sudah gila membawa orang asing pulang?"


Samar-samar Gavin mendengar seorang pria yang sedang berbicara di luar ruangannya.


"Tapi dia sedang terluka Bian"


Kali ini seorang perempuan menyahutinya.


Seketika Gavin mengingat kembali hal yang telah menimpanya kemarin malam.


*Flashback On*


Gavin segera mengambil beberapa senjata apinya lalu dengan tergesa-gesa ia langsung menuju mobilnya.


"Datangkah ke TIX Tower dalam 30 menit lagi. dan ingat, datanglah sendiri dan jangan membawa bantuan apapun. jika tidak kau akan melihat kepala putramu terlubangi malam ini"


Gavin melesatkan mobilnya menuju tempat yang di maksud setelah mendapat pesan tersebut. Karena takut dengan ancaman orang yang telah mengirimkan pesan itu, Gavin pun menuruti keinginannya untuk tidak memberi tahukan masalah ini siapa-siapa. hanya berbekalkan satu pistol yang ia masukkan ke saku celananya, Gavin nekat datang sendiri demi menyelamatkan putranya.


Sambil mencengkram erat kemudinya, Gavin melajukan mobilnya dengan sangat cepat. beruntungnya malam itu yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan di tambah lagi dengan hujan yang mengguyurnya dengan begitu deras, membuat jalanan malam itu terlihat sepi sehingga memudahkan dirinya untuk melajukan mobilnya.


Setelah sampai, ia langsung disambut dengan beberapa pria bertubuh tinggi dan besar dengan pakaian yang serba hitam.


"Angkat tanganmu" ucap seorang pria dengan topeng yang menutupi wajahnya dan menodongkan senjata api ke arahnya.


Gavin langsung mengangkat kedua tangannya begitu ia turun dari mobilnya. dan seseorang langsung mendekatinya lalu memeriksa tubuhnya. Setelah yakin telah memeriksa semuanya, orang itu menjauh dengan membawa sebuah pistol yang ia temukan di saku celana Gavin.


"Dimana Daffin sekarang?" Gavin berjalan ke arah mereka tanpa takut dengan orang-orang yang sedang menodongkan senjatanya ke arahnya. Benar saja, mana mungkin ia takut jika hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. namun saat ini yang ada dalam pikirannya adalah rasa khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya.


Ya, disana ada beberapa orang bertubuh besar dengan pakaian yang serba hitam sedang bersiaga mengarahkan senjata timah panasnya ke arah Gavin.


"Tenanglah, putramu aman dengan mommy nya" ucap seorang pria turun dari mobil.


Gavin mengepalkan tangannya dan rahangnya terlihat mengeras saat laki-laki tersebut melepaskan kaca mata hitamnya dan menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Daniel!" Geram Gavin


"Hahaha Gavin, bagaimana kabarmu?" tanya Daniel. Daniel adalah musuh Gavin dalam dunia bisnis gelap. Daniel begitu sangat membenci Gavin karena selalu saja menggagalkan bisnis gelapnya.


"Apa maumu Daniel?" tanya balik Gavin tanpa menjawab pertanyaan dari Daniel


"Mauku kau mati Gavin!" Jawab Daniel tajam


Tiba-tiba seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam milik Daniel dengan menyeret tangan pria kecil di sampingnya.


"Awww sakit mommy" pekik Daffin saat tangannya di tarik kasar oleh wanita itu. namun wanita itu tak menghiraukannya dan masih mencengkram erat tangan Daffin.


Tanpa rasa takut, Gavin berjalan menuju ke arah mereka. seketika anak buah Daniel bersiaga dengan mengarahkan senjata timah panasnya ke arah Gavin.


"Berhenti atau kau akan melihat lubang di kepala putramu malam ini" Daniel mengarahkan pistolnya ke arah kepala Daffin. Seketika Gavin menghentikan langkahnya.


"Daddy.." panggil Daffin ketakutan dengan air mata yang merembas kepipi cabinya.


"Andrea lepaskan Daffin sekarang juga! bagaimanapun dia adalah anakmu. lepaskan dia. urusanmu hanya denganku" ucap Gavin yang berusaha tenang agar tak membahayakan putranya. namun wanita itu hanya menyunggingkan bibirnya.


Ya, bukan tanpa sebab Gavin membunuh keluarga winata dan menghancurkan keluarganya. hal itu karena Winata dulu pernah menculik mommy nya Adena Zeroun. dan hal itu tentu saja membuat Gavin dan daddy nya Barry Zeroun murka dan membasmi keluarga Winata. Namun saat itu putri sulung Winata sedang menempuh pendidikan di luar negeri, setelah mendapat kabar tentang keluarganya membuat Andrea bertekad untuk membalaskan dendam keluargnya.


"Tidak, dia adalah anakmu. dan aku akan menghancurkan hidupmu" ucap Andrea tersenyum sinis.


Sejenak Gavin menatap Daffin yang juga sedang menatapnya. lalu ia mengedipkan matanya seolah memberikan isyarat.


Bruk..


Tanpa aba-aba Gavin langsung melumpuhkan satu anak buah Daniel dengan tendangan kilatnya. dengan cepat Gavin langsung mengambil pestol dari anak buah Daniel yang terjatuh.


Dor.. dor.. dor....


Gavin menembakkan pistolnya ke arah anak buah Daniel.


"Aawww...." Pekik Andrea melepaskan cengkramannya saat Daffin menggigit tangannya


Dengan segera Daffin berlari menjauhi mommy nya.


"Sialan!" geram Daniel saat melihat anak buahnya yang sudah banyak terkapar akibat serangan dari Gavin. Hanya tinggal dirinya, Andrea dan 2 anak buahnya yang masih tersisa. sedangkan yang lain sudah mati setelah timah panas milik Gavin berhasil menerobos jantung mereka.


Ya, memang Gavin adalah penembak yang sangat jitu. tidak heran jika ia bisa melumpuhkan musuhnya hanya dengan 1 kali tembakan. ia bisa membidik tepat di organ-organ vital musuhnya. dan itu yang membuat ia menjadi semakin kuat dan di takuti musuhnya jika sudah berhadapan denganya.


Melihat Daffin yang berhasil melepaskan diri dari Andrea, segera Gavin berlari menghampiri Daffin tanpa menghentikan tembakannya.


Belum juga sampai meraih Daffin. sekilas ia melihat Daniel yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah Daffin. Seketika ia mempercepat langkahnya untuk melindungi Daffin.


Doooor.....


Doooor...


Dua suara tembakan terdengar begitu nyaring di telinga.


"Sayang..." teriak Andrea


"Bos" teriak anak buah Daniel


"Daddy..." Teriak Daffin yang menangis di tengah guyuran hujan.


Untung saja Gavin bisa menyelamatkan putranya. walaupun ia harus merasakan betapa panasnya timah yang menerobos ke lengannya.


Namun bukan Gavin namanya jika ia tak bisa melakukan perlawanan. Ia masih bisa menarik pelatuknya dan melepaskan pelurunya ke arah Daniel. Sungguh beruntung nasib Daniel yang tidak mati saat ini. karena timah panas milik Gavin yang hanya bersarang di perut samping Daniel.


"Cepat bawa masuk Daniel ke mobil. dan minta bantuan yang lainnya untuk menangkap dia!" Teriak Andrea yang khawatir dengan kondisi kekasihnya itu.


Mendengar itu membuat Gavin memutuskan untuk pergi dari sana. 'Kabur', kata yang tepat untuk situasi saat ini. Bukannya ia takut berurusan dengan Daniel, namun ia khawatir dengan keadaan putranya. apalagi situasinya yang saat ini ia sedang terluka dan tidak ada bala bantuan yang menolongnya. memang semua anak buah, keluarga dan sahabatnya tidak ada yang tau dengan kepergiannya saat ini. dan ia khawatir jika ia tak bisa menghadapi bantuan anak buah Daniel yang akan datang nanti.


Melihat semua yang sedang panik mengurus Daniel, hal ini menjadi peluang bagi Gavin untuk kabur dari sana. Dengan menahan perih di lengannya akibat lukanya terkena guyuran air hujan, Gavin menggendong Daffin untuk pergi dari sana dan bersembunyi dari kejaran anak buah Daniel.


***


**Kakak-kakak mohon dukungannya ya. dan kalau suka dengan cerita ini tolong di like, vote, rate⭐5 ya. dan yang paling penting jangan lupa komenannya biar author tau gimana respon kalian terhadap cerita ini


Terimakasih❤😘**