
"Daffin kenapa kau diam saja sedari tadi? apa kau tidak suka paman menjemputmu?" ucap Elard yang melihat keponakan kecilnya dari kaca spion yang hanya diam sedari tadi.
Gavin, Rey dan Carlos yang baru menyadari tingkah aneh dari Daffin pun kompak menoleh ke arah pria kecil yang sedang terduduk di kursi belakang. tak biasanya Daffin diam seperti ini, karena jika sudah bertemu dengan paman-pamannya ia akan cerewet dan tidak bisa diam.
"Ada apa Daffin?" kali ini Gavin membuka suaranya menatap ke arah putra kecilnya yang masih terdiam.
"Kenapa kalian jahat sekali paman?" Daffin mengeluarkan suaranya namun hal itu membuat semua kompak megerutkan keningnya.
"Jahat kenapa Daffin? apakah kami berbuat salah padamu" tanya Carlos seraya mengusap lembut rambut Daffin. Sedangkan Daffin, saat ini ia sukses membuat semua orang gemas kepada dirinya dengan mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Tidak" Ketus Daffin.
"Kalian telah membunuh Lilly?" lanjutnya.
"Lilly?" Elard masih fokus dengan kemudinya namun sebelah alisnya terlihat naik ke atas saat ia sedang mengingat-ngingat nama Lilly. seperti tak asing namun ia lupa, mungkin efek karena selama ini ia telah banyak membunuh jadi ia sampai lupa siapa saja nama yang sudah ia bunuh selama ini.
"Maksudmu kucing kampung tadi?" saut Rey yang memang sedikit mengingat momen tadi. momen dimana untuk pertama kalinya ada wanita yang berani menyakitinya.
"Paman... itu kucing kesayangan tante Key!" Seru Daffin marah namun malah terlihat menggemaskan.
"Lalu?" tanya Elard.
Pertanyaan Elard malah membuat Daffin menjadi semakin kesal. dengan masih tetus mengerucutkan bibirnya, ia membuang pandangannya ke arah jalanan.
"Daffin..." panggil Gavin lembut.
"Daddy paman Elard, paman Rey dan paman Carlos jahat. mereka sudah membunuh Lilly" Daffin mengadu ke daddy nya.
Daffin adalah seorang anak yang pintar. di usianya seperti ini ia sudah didik untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. karena memang tuntutan agar dirinya bisa lebih cepat untuk bisa menjaga dirinya sendiri, itulah tujuan Gavin mendidik putranya seperti itu.
Gavin masih terus mendengarkan ucapan dari putranya.
"Saat ini tante Key pasti masih menangis" lanjutnya dengan wajah yang berubah menjadi sendu. tak ia pungkiri jika selama berada di kontrakan Kyra, ia juga selalu di ajak Kyra untuk bermain bersama Lilly. dan ia tahu bagaiman Kyra begitu sangat menyayangi Lilly. jadi ia sedih sekaligus merasa bersalah kepada Kyra.
"Daddy, Daffin ingin kembali ke rumah tantey key" Daffin menatap Gavin.
"No Daffin, ini sudah siang. Daddy dan paman-pamanmu harus bekerja"
"Kalian memang jahat" Seru Daffin yang kembali merajuk.
"Daffin, maafkan paman El. Nanti paman akan mengganti kucing yang lebih bagus kepada tante Key" tutur Elard yang melihat Daffin dari kaca spionnya.
"Tante Key tetap akan sedih paman. Daffin ingin menghibur tantey Key" ucap Daffin.
"Baiklah, Daffin ingin apa sekarang?" Gavin menghembuskan nafasnya. ia paham satu-satunya cara agar putranya tidak kesal lagi yaitu dengan mengikuti kemauannya.
"Daffin ingin mengajak tantey Key ke taman hiburan" ucap Daffin yang tiba-tiba berubah antusias.
"Sepertinya hanya alasan karena ingin pergi ke taman hiburan" celetuk Carlos yang duduk di samping Daffin. Daffin yang mendengar itupun langsung memberikan tatapan tajam kepada pamannya itu.
"Baiklah, besok Daffin bisa pergi ke taman hiburan di antar dengan beberapa pengwal" ucap Gavin.
"No Daddy. Daffin mau daddy dan paman ikut. karena pamanlah yang telah membuat tante Key sedih" Daffin menggelengkan kepalanya.
"Daffin besok daddy dan paman harus bekerja" ucap Gavin.
"Kalau begitu besok lusa. bukankah besok lusa daddy dan paman libur?"
Tidak langsung menjawab, Gavin, Carlos, Rey dan Elard pun hanya bisa saling pandang.
"Baiklah, besok lusa kami akan mengantarkanmu ke taman hiburan" Gavin menyetujui permintaan putranya.
"Yeee.. thanks daddy, paman" sorak Daffin senang. hal itu membuat yang lain hanya menggelengkan kepalanya. pasalnya mereka tau jika ini hanyalah keiginan Daffin semata yang ingin bermain di taman hiburan. karena selama ini Gavin akan selalu melarang putranya itu untuk bermain di tempat umum. Dan saat ini mereka tau jika Daffin telah memanfaatkan situasinya untuk bisa pergi ketaman hiburan bersama tante Key. Sungguh licik bukan? ya itu semua menurun dari daddynya.
"Berikan beberapa anak buah untuk mengawal Kyra" Gavin mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya, sedangkan ketiga sahabatnya duduk di sofa.
"Kenapa?" Rey menautkan alisnya saat mendengar perintah dari sahabatnya itu.
"Aku takut ia akan di incar musuhku setelah mengetahui ia telah berinteraksi denganku dan Daffin" Jawab Gavin dengan membuka beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
"Itu berkas-berkas transaksi semalam" sela Carlos memberitahukan berkas yang ada di atas mejanya.
"Kenapa?" Rey kembali memberikan pertanyaan yang sama, namun kali ini ia terlihat menyunggingkan sebelah bibirnya. seperti mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui.
"Tidak apa-apa, aku tidak ingin ia terluka setelah apa yang ia lakukan kepada aku dan Daffin" jawab Gavin masih memeriksa berkas-berkas itu.
"Kenapa kau perduli? biasanya kau tidak akan perduli dengan orang lain" Rey semakkin menyunggingkan sebelah bibirnya. Tak hanya Rey, namun Carlos dan Elard yang juga paham dengan arah pembicaraan dari Rey pun langsung menatap lekat ke arah Gavin.
Mendengar itu seketika Gavin terlihat salah tingkah dan langsung menutup berkas-berkas yang sedang ia amati.
"Aku hanya ingin membalas hutang budi saja" Gavin menaikkan salah satu alisnya menatap ketiga sahabatnya. entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup saat diberikan pertanyaan bertubi-tubi dari sahabatnya, namun ia berusaha menyembunyikannya.
"Kenapa pipimu memerah" jari terlunjuk Carlos menunjuk ke arah pipi Gavin. Seketika Gavin langsung memegang kedua pipinya.
"Kau mau mati!" seru Gavin setelah menyadari jika ia sedang di kerjai.
Carlos dan Rey terkekeh kecil, sedangkan Elard terlihat hanya diam saja.
"Lakukan saja perintahku" lanjut Gavin.
"Baiklah-baiklah, akan aku berikan pengawal terbaik untuk menjaganya" ucap Rey.
"Tidak perlu yang terbaik, cukup yang biasa saja" ucap Gavin.
"Tidak papa, aku hanya ingin menjaga gadis itu. lagi pula ia cantik, dan sepertinya ia gadis yang polos. sangat cocok denganku" Rey melirik ke arah Gavin
"Tidak usah macam-macam. kau fokuslah bekerja" Gavin terlihat menatap serius ke arah Rey.
"Kenapa? sudah waktunya aku beristri. aku tidak mau selamanya seperti ini" kilah Rey tersenyum kecil.
"Hey, jika ingin mencari istri masih banyak wanita di luar sana yang lebih cantik dan sexy dari wanita itu" sela Elard.
"Kenapa? sepertinya aku menyukainya. dia cantik" Rey melirik ke arah Gavin.
"Bukankah begitu Gavin?" lanjutnya bertanya dengan tersenyum simpul. Sedangkan Gavin terlihat menatap tidak suka ke arahnya.
"Cantik apanya? jika saja Daffin tidak menyukainya, sudah kupastikan akan kubunuh dia malam ini" Elard terlihat kesal saat membayangkan Kyra yang menendang kakinya tadi.
"Kenapa kau begitu marah dengannya?" tanya Carlos.
"Kau tidak kesal setelah tadi ia menendang kaki kita?" ucap Elard.
"Apakah keu kesakitan dengan tendangannya?" tanya Rey.
"Haah.. tendangannya tak ada apa-apanya di tubuhku, tapi tendangannya telah menyakiti harga diriku" ucap Elard dengan tatapan membunuhnya.
***
**Terimakasih yang sudah mendukung karya ini.
Tetap untuk terus memberikan dukungannya ya. like, komen and vote sebanyak mungkin.
Terima kasih😘**