
Kreek...
Suara decitan terdengar saat Kyra kembali menidurkan Daffin di tempat tidur kayu miliknya. setelah menidurkan Daffin, Kyra segera membuka perban milik Gavin yang sudah berubah warna menjadi merah itu lalu menggantinya.
"Luka apa itu?" tanya Bian saat melihat luka yang dimiliki Gavin
Gavin hanya diam tak menjawab pertanyaannya, dan menatapnya dengan tatapan dingin.
"Lihatlah dia nampak sangat mencurigakan. bagaimana jika dia benar seorang jahat?" bisik Bian kepada Kyra, namun dengan suara yang sedikit keras membuat Gavin masih bisa mendengarnya.
Gavin menyipitkan matanya saat mendengar itu. Sedangkan Kyra yang tidak enak dengan Gavin pun langsung mencubit Bian yang berdiri di sebelahnya.
"Aaaw.." pekik Bian begitu keras saat Kyra berhasil mencubit perutnya.
"Daddy.." panggil Daffin yang terbangun karena suara Bian yang mengganggu tidurnya.
"Daffin kau sudah bangun?" tanya Gavin dan Daffin hanya mengangguk.
"Maafkan om ini ya sayang, karena telah mengganggu tidurmu" ucap Kyra lembut, dan Daffin hanya mengerjapkan matanya saja.
"Daddy, Daffin lapar" ucap Daffin memegang perutnya.
"Oh namamu Daffin ya sayang?" Daffin hanya mengangguk. Ya, begitulah Daafin.
Selama ini Gavin selalu mengajarkan dan meminta putranya untuk tidak boleh berbicara atau mengikuti orang yang tak di kenalnya. mengingat ia yang seorang mafia dan banyak musuh yang berusaha menghancurkannya, maka tak jarang dari mereka yang akan mengincar keluarganya. karena itu, sebagai antisipasi Gavin selalu mewanti-wanti putranya agar tak berbicara dengan orang yang tak di kenal.
"Daffin mau makan apa? nanti tante Key buatin" Kyra berusaha mendekati Daffin. Saat di sekolahan Kyra selalu di panggil dengan Ms Key. karena namanya yang susah untuk di sebutkan oleh anak kecil. jadi para anak muridnya hanya bisa memanggilnya dengan panggilan Ms. Key agar lebih mudah.
Daffin sedikit ragu untuk mengatakannya. saat ini ada daddy nya di sana, ia takut di marah jika berbicara dengan orang asing.
Daffin menatap daddy nya untuk meminta pendapat. senyumnya mengembang saat melihat daddy nya mengangguk.
"Naci Goleng cocis tante" ucap Gaffin bersemangat. Entah kenapa rasanya Daffin begitu senang dengan Kyra, padahal mereka baru pertama kali bertemu ini. namun terlihat Daffin begitu menyukai Kyra. mungkin karena Kyra yang sudah terbiasa dengan anak kecil, jadi membuatnya sangat mudah untuk mendapatkan hati Daffin. apalagi dengan perlakuan lembut dan hangat dari Kyra, hal itu membuat Daffin menurut saat semalam memandikannya.
"Ya udah tante buatin dulu ya sayang" ucap Kyra sambil membereskan kotak P3K nya.
"Terimakasih, maaf telah merepotkan kalian" ucap Gavin tiba-tiba namun masih dengan wajah datarnya. sebenarnya ucapan itu sangat pantang ia ucapkan. namun jika sudah menyangkut dengan putranya, maka Gavin tak akan segan-segan melakukan apapun itu.
"Tidak apa-apa. kalian tidak merepotkanku kok. kalian hanya merepotkan dia saja" jawab Bian dengan bola matanya yang menyorot ke arah Kyra.
Kyra melototkan matanya saat mendengar perkataan sahabatnya itu. tentu saja hal itu membuat Kyra kembali merasa tidak enak kepada Gavin.
Bugh..
"Aaww" pekik Bian sambil mengangkat sebelah kakinya saat Kyra berhasil menendang keras kakinya.
"Sakit Kyraa!" teriak Bian kesakitan.
Gavin memincingkan sebelah matanya saat melihat interaksi kedua orang di depannya.
"Tidak kok tuan, saya tidak merasa keberatan" ucap Kyra dengan memberikan senyum kudanya.
"Apakah kalian pasangan suami istri?" tanya Gavin yang mengira mereka adalah sepasang suami istri, namun ia heran dengan kelakuan mereka yang tak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
"TIDAK!"
"BUKAN!"
Jawab mereka cepat dan bersamaan. sontak saja hal itu membuat Gavin dan Daffin terkejut.
"Tidak mungkin aku mau menikah dengan wanita cerewet seperti dia" gerutu Bian
"Aku juga tidak mau menikah dengan pria pelit seperti mu" ucap Kyra tak mau kalah.
"Mm.. maaf tuan, sebenernya dia ini hanyalah anak yang di buang orang tuanya di gang sebelah karena kesehariannya cuma bisa ngabisin beras orang tuanya" ucap Kyra kepada Gavin.
"Sembarangan kalo ngomong" Bian menonyor kepala Kyra.
"Aaaw" pekik Kyra
Gavin hanya menatap aneh ke arah mereka berdua. sedangkan Daffin terlihat tertawa melihat dua makhluk itu berkelahi.
Mendengar tawa Daffin, membuatnya tersadar.
"Oh iya, tante lupa. Tante buatin Daffin nasi goreng sosisnya dulu ya" ucap Kyra kepada Daffin dan di balas dengan anggukan senang dari pria kecil itu.
"Daffin boleh bermain dengan om Bian dulu sambil nunggu nasi gorengnya matang ya" ucap Kyra lalu menuju kedapur untuk mulai memasak nasi goreng sosis keinginan Daffin.
Sedangkan di kamar, Bian terlihat diam saat Daffin tak mau bermain dengannya lantaran tak di izinkan oleh daddy nya.
Bian duduk di kursi yang ada di dalam kamar itu sambil menatap kearah Gavin yang sedang berbaring dengan menutup matanya.
"Sebenarnya dia ini siapa sih? kalo di liat dari lukanya sepertinya bukan luka kecelakaan soalnya tidak ada luka lain di tubuhnya" Batin Bian penasaran.
"Tuan kalau boleh tau siapa namamu?" Bian memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa?" tanya balik Gavin dingin tanpa merubah posisinya.
"Ini orang ngga ada sopan-sopannya banget sih" gerutu Bian dalam hati.
"Tidak apa-apa. hanya aneh saja memanggilmu dengan panggilan tuan. aku ingin memanggil dengan namamu"
Seketika Gavin langsung membuka matanya dan menatap tajam ke arah Bian dengan tatapan membunuhnya.
"Eh buset ni orang nakutin bener sih mukanya" Bian bergidik ngeri dengan tatapan Gavin.
"Nasi gorengnya matang sayang" ucap Kyra yang tiba-tiba masuk dan menyelamatkan Bian dari susana yang mencekik lehernya.
Daffin yang sedang bermain mobil-mobilan yang diberikan Kyra pun langsung turung dari tempat tidur dan menghampiri Kyra yang berdiri di pintu kamarnya.
"Gavin" ucap Gavin sambil menurunkan kakinya dari ranjang.
"Haa?" Kyra tak paham
"Kalian bisa memanggilku Gavin" lanjut Gavin.
"Oh iya Gavin. kau juga bisa memanggilku Kyra" ucap Kyra ramah.
"Dan kau bisa memanggilku Bian" lanjut Bian lirih.
Setelah itu, mereka pun keluar menuju ruang makan.
"Kok cuma dua piring Key?" tanya Bian saat melihat dua piring nasi goreng tersaji di atas meja makan.
"Ya emang mau berapa?" tanya balik Kyra.
"Aku ngga kamu buatin?" protes Bian.
"Nggak! kan kamu ngga sakit" ketus Kyra tanpa memperhatikan raut wajah bian yang saat ini sudah di tekuk.
"Kamu itu ya, sahabat lucknut banget" ucap Bian lalu berjalan keluar.
"Mau kemana?" tanya Kyra saat melihat Bian berjalan keluar.
"Mau nyari istri, biar ada yang bikinin makan!" ketus Bian dan hanya di sambut tawa oleh Kyra.
Sedangkan Gavin hanya melanjutkan makannya tanpa memperhatika kelakuan mereka berdua. dan Daffin pun sama, terlihat begitu lahap memakan makanannya.
***
Kakak-kakak mohon dukungannya ya.
Kalau suka dengan cerita ini tolong di like, vote, rate⭐5 ya.
Dan yang paling penting jangan lupa komenannya biar author tau gimana respon kalian terhadap cerita ini.
Terimakasih❤😘**