
Daffin menengkurapkan sendok dan garpunya di atas piring yang sudah kosong.
"Daddy masakan tante Key sangat enak" ucap Daffin dengan senyum yang mengembang di bibirya.
"Apa kau suka dengan nasi gorengnya sayang?" Kyra memberikan minum kepada Daffin.
Daffin mengangguk dengan gelas yang masih menempel di bibirnya.
"Daffin sangat suka tante" ucap Daffin setelah selesai minum.
"Kamu gemesin banget sih Dafiin" Kyra menyubit gemas pipi gembul Daffin. dan Daffin pun hanya tertawa dengan Kyra.
Sedangkan Gavin yang belum selesai memakan makanannya, hanya memperhatikan interaksi keduanya. Entah kenapa, yang jelas hatinya terasa damai saat melihat keduanya.
"Daddy aku ingin memakan masakan tante Key setiap hari" celetuk Daffin.
"Kan di rumah sudah ada Maya yang akan memasakkanmu apa saja" Maya adalah wanita yang bertugas merawat Daffin dirumah.
"No Daddy, nasi goreng buatan Maya tidak seenak buatan tante Key"
"Baiklah sayang, tante Key akan memasakkanmu setiap hari" ucap Kyra menengahi, namun malah di balas pelototan dari Gavin.
"Apa aku salah bicara?" batin Kyra menciut saat mendapat pelototan itu.
"Ye..." sorak Daffin lalu turun dari kursinya dan berlari ke kamar untuk mengambil mobilannya.
"Kenapa?" tanya Kyra saat Daffin sudah pergi ke kamar.
"Daffin tidak seperti anak kecil pada umumnya yang bisa di bohongi. ketika ia di janjikan sesuatu, ia akan menagihnya dan harus mendapatkannya tidak peduli apapun itu" ucap Gevin dengan wajah dinginnya.
"Lalu?" tanya Kyra yang meminta solusi karena merasa telah salah bicara.
Gavin hanya mengangkat kedua bahunya. lalu ia beranjak untuk kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan makannya.
"Aku titip Daffin sebentar. aku harus pergi ke suatu tempat" ucap Gavin kembali keluar lalu berbicara kepada Kyra yang baru saja selesai membereskan sisa makannya.
"Mau kemana?" tanya Kyra namun tak di jawab oleh Gavin.
"Daffin, daddy mau pergi dulu sebentar ya. kamu di sini nurut sama tante Key" ucap Gavin kepada Daffin yang masih bermain mobilan di lantai
Daffin mengangguk
"Daddy hati-hati" ucap Daffin dengan raut wajah yang seperti tidak mau Gavin pergi.
Gavin tersenyum lalu menciumi wajah Daffin.
"Aku titip Daffin" ucap Gavin dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan Kyra dengan wajah yang begitu penasaran dengannya.
"Daffin, itu daddy mu mau kemana?" tanya Kyra yang sudah duduk di sebelah Daffin yang sibuk memaju mundurkan mobilan berwarna kuning itu.
"Daddy mau pergi ke tempat yang beringsik tante" ucap Daffin yang masih fokus dengan mobilannya. yang Daffin maksud dengan tempat beringsik adalah tempat kemaren di saat dia harus mendengar suara tembakan yang begitu nyekat di gendang telinganya. itulah memori terakhir yang Daffin tau.
Di sebuah gedung tua yang begitu besar dengan di kelilingi tembok yang menjulang tinggi, di sana Gavin saat ini berada.
"Bos"
"Bos"
Para pria dengan tubuh yang tinggi dan besar serta berpakaian serba hitam menyambut kedatangannya dengan membungkukkan tubuh mereka serentak.
"Dimana Elard?" tanya Gavin dingin tanpa menghentikan langkahnya
"Tuan Elard dan yang lainnya ada di dalam bos" salah satu anak buahnya membukakan pintu gedung itu dan mempersilahkan bosnya masuk.
"Gavin!" Panggil Carlos saat melihat Gavin berjalan masuk ke arahnya.
"Oh ya tuhan, kau kemana saja? ku kira kau sudah mati Gavin" kini suara Rey ikut terdengar.
Carlos, Elard dan Rey adalah sahabat sekaligus para kaki tangan Gavin.
Carlos, Elard dan Rey adalah seorang pria yang tak kalah tampannya dengan Gavin. Mereka adalah empat serangkai yang tak terkalahan. tak terkalahkan kekuatannya dan tak terkalahkan ketampanannya. bahkan jika mereka berempat sedang bersama, mungkin para wanita akan mengira mereka adalah grup idol. dengan wajah dan tubuh yang sangat mempesona bak dewa yang mampu menyihir siapa saja yang menatapnya, siapa yang menyangka jika mereka adalah empat serangkai malaikat maut yang mampu membunuh seseorang dengan mudahnya.
Carlos, Elard dan Rey. Mereka semua bernasib sama sewaktu kecil, menjadi budak dan tahanan para gangster. Namun hidup mereka berubah di saat Barry Zeroun menyelamatkan mereka. Barry Zeorun berniat menjaadikan mereka sebagai kaki tangan anaknya kelak.
Barry Zeroun memberikan pendidikan tertinggi kepada mereka hingga mereka ahli dalam bidangnya.
Carlos menempuh pendidikan tertinggi dalam bidang hukum, hingga saat ini ia menjadi ahli hukum yang sangat hebat. bahkan para pemerintah pun akan kalah jika sudah berhadapan dengan Elard di meja hijau.
Rey mendapat gelar dokternya. hingga saat ini ia menjadi dokter hebat yang bekerja di rumah sakit besar milik keluarga Zeroun.
Elard, ia di berikan pendidikan di bidang IT. saat ini ia menjadi ahli IT yang sangat hebat. bahkan ia bisa membobol pertahanan keamanan Negara hanya dengan menggerakkan jari-jarinya.
Sedangkan Gavin, ia menempuh pendidikan di bidang ekonomi. Ia memiliki otak yang begitu jenius. hingga ia bisa menyelesaikan pendidikannya sebelum waktunya. bahkan ia sudah bisa memimpin perusahaan ayahnya saat ia masih melakukan pendidikannya.
Mereka berempat sudah menjadi sahabat dari kecil dan tumbuh bersama menjadi dewasa. Bahkan Gavin sudah menganggap mereka sebagai saudaranya sendiri. Mereka akan saling melindungi satu sama lain. dan tak tanggung-tanggung, mereka akan langsung bergerak saat ada yang mengusik salah satu di antara mereka.
Selain hebat dalam bidangnya masing-masing. Tidak lupa Barry Zeroun membekali mereka dengan kekuatan bela diri. Barry dengan keras mendidik mereka menjadi kuat. dengan bekal berbagi bela diri yang di kuasai, di tambah lagi dengan pelatihan menembak. membuat mereka menjadi tak terkalahkan.
Mereka adalah empat momok yang di balik kesuksesan Black Lion Grup baik dalam bisnis normal maupun bisnis gelap
Siapa sangka wajah tampan dengan profesi yang normal, ternyata adalah seorang mafia berdarah dingin yang mampu membunuh lawannya dengan mudah.
"Kau terluka Gavin!" Rey membulatkan matanya saat melihat perban yang membalut lengan sahabatnya itu.
"Hanya luka kecil" ucap Gavin santai
"Kau harus segera di obati" ucap Carlos
yang terdengar khawatir.
"Nanti saja. lagi pula luka ini sudah di obati"
Carlos dan Rey kompak mengernyitkan mata mereka menengar itu. Siapa yang mengobatinya batin mereka. pasalnya sahabatnya itu sangat tidak suka jika tubuhnya di sentuh orang lain.
"Dimana Elard?" ucapnya sambil melanjutkan langkahnya.
"Elard ada di dalam dengan anak buah Daniel yang berhasil kita tangkap" jawab Rey yang mengikuti langkah kaki Gavin.
"Kenapa kau tidak menghubungi kami malam itu?" tanya Rey penasaran.
"Tidak bisa. aku harus menyelamatkan Daffin, jika aku membawa kalian mungkin Daffin akan mati saat itu" jawab Gavin yang masih melanjukan langkah kakinya
"Tapi kau membahayakan Daffin juga jika begitu" saut Rey.
"Kau tau malam itu kami sangat khawatir mencarimu? saat kami mengetahui letak lokasimu, kami segera menuju ke tempat. dan betapa terkejutnya kami saat melihat para mayat sudah tergeletak di sana dan tidak mendapati kau dan Daffin disana. kau tau, bahkan Elard menangis karena mengira kau mati bersama mereka" Carlos terkekeh kecil saat mengingat kembali ekspresi Elard malam itu. memang Elard lah yang paling dekat dengan Gavin.
Dulu Elard mempunyai seorang adik kecil sebelum akhirnya adiknya itu mati di tangan para gangster yang menahannya. Ia begitu terpukul, sampai pada akhirnya ia di pertemukan dengan Gavin yang usianya lebih muda darinya. dan hal itu membuatnya menyayangi Gavin dan menganggapnya sebagai adiknya.
"Lalu apakah kalian berhasil menangkap Daniel?" Gavin menghentikan langkahnya.
"Tidak, kami hanya berhasil menangkap anak buahnya. saat kami datang Daniel sudah pergi dari sana dan hanya tersisa anak buahnya yang sedang mencarimu"
"Setelah kami menangkapnya, kami segera pergi dari sana dengan membawa semua barangmu. Karena kami mendapat info kalau polisi sedang menuju ke lokasi. Jadi kami segera pergi dari sana dengan membawa anak buah Daniel yang berhasil kami tangkap"
Gavin menyeringai mendengar itu.
***
**Yang suka dengan ceritanya mohon untuk komen ya.
Jangan lupa dukungannya dengan like, komen, rate ⭐5 and vote ya❤😘
Terimakasih 😘**