
Saat ini Gavin sedang tidur di kamar Kyra bersama Daffin. Tadi sebelum berangkat ke warung, Kyra sempat membangunkanya dan menyuruhnya pindah ke kamar untuk tidur bersama Gavin sekalian untuk menjaga Gavin agar tidak terjatuh dari tempat tidur.
Gavin dan Daffin yang masih tertidur pulas itupun langsunh terbangunkan oleh aroma masakan Kyra yang begitu harum dan langsung merebak masuk kehidung mereka.
Terlihat Daffin menggeliat dalam pelukan Gavin dan mengerjapkan matanya.
"Daddy" panggil Daffin saat melihat Daddnya tidur bersamanya. ia langsung memberikan morning kiss kepada daddynya.
"Hmmm apa kau mimpi indah sayang?" tanya Gavin yang kembali meraih Daffin kembali dalam pelukannya.
"Ya daddy, Daffin semalam menjadi seorang raja" jawab Daffin begitu senang.
"Daddy, apa semalam daddy ikut tidur bersama kita makanya Daffin menjadi raja semalam?" Daffin mengangkat kepalanya dan menatap wajah daddynya yang masih memejamkan matanya.
Gavin langsung membuka matanya setelah mendengar pertanyaan dari putranya. ia melihat mata Daffin yang begitu berbinar menunggu jawabannya.
"Daffin, apakah kau tidak lapar?" tanya Gavin mengalihkan pembicaraan mereka.
Daffin menganggukkan kepalanya, dan Gavin segera bangkit dari tidurnya.
"Ayo kita makan, sepertinya tante Key memasak makanan yang enak" ucap Gavin, dan Daffin pun merentangkan kedua tangannya agar di gendong oleh Gavin.
"Tante Key" panggil Daffin dalam gendongan Gavin.
"Sayang, udah bangun" ucap Kyra yang langsung mengambilkan segelas air minum untuk Daffin.
"Tante masak apa?" tanya Daffin setelah selesai meneguk habis air yang di berikan oleh Kyra.
"Masak cumi rica-rica" jawab Kyra yang kembali melanjutkan masaknya.
"Apa Daffin suka sama cumi?" lanjut Kyra bertanya.
"Ti..." ucap Gavin terpotong.
"Suka tante" sela Daffin cepat.
Gavin menatap putranya heran. pasalnya putranya itu tidak menyukai cumi-cumi.
Daffin dan Gavin terlihat sudah duduk di kursi mereka masing-masing sambil menunggu Kyra selesai menyiapkan makanan.
Kyra langsung menyendokkan nasi dan lauk ke piring Daffin. setelah selesai, tanpa sadar Gavin langsung ikut menyodorkan piringnya kepada Kyra. Kyra yang hendak kembali ke kursinya pun terhenti dan menatap bingung ke arah Gavin. Sedangkan Gavin yang melihat itupun langsung menarik kembali piring kosongnya.
"Tante, daddy juga ingin di ambilkan seperti Daffin" celetuk Daffin yang tentu saja membuat Gavin membelalakkan matanya.
"Ah benarkah?" tanya Kyra yang langsung mengambil piring kosong Gavin dan mengambilkan nasi dan lauk untuk Gavin.
"Tante pipinya merah" celetuk Daffin kembali setelah melihat pipi Kyra yang memerah. Tentu saja pipinya memerah saat ini. ia begitu canggung dan malu saat harus mengambilkan makan untuk Gavin, laki-laki yang diam-diam ia kagumi ketampanannya.
"Ah tadi pipi tante ngga sengaja terkena cabai. jadi memerah" jawab Kyra gugup. sedangkan Gavin hanya memperhatikannya.
"Panas tante?" tanya Daffin.
"Kata daddy kalo panas atau sakit akan sembuh kalau di tiup. Kalau pipi tante panas, daddy bisa niupin pipi tante biar sembuh" lanjut Daffin yang berucap begitu polosnya.
"Egh engga kok. ngga panas, nanti juga hilang" jawab Kyra.
"Udah, cepetan makan. keburu dingin nanti nasinya" lanjut Kyra mengalihkan pembicaraan.
"Suapin tante" ucap Daffin manja.
"Daffin, makan sendiri. jangan ngerepotin tante Key terus" ucap Gavin tegas. Daffin pun langsung mengerucutkan bibirnya sehingga membuatnya begitu sangat menggemaskan.
"Ya udah, sini tante suapin" ucap Kyra dan membuat Daffin langsung tersenyum senang.
Gavin menatap putranya heran, apalagi saat melihat piringnya yang sudah hampir habis saat ini. putranya itu begitu lahap saat di suap oleh Kyra.
"Bukannya Daffin tidak suka dengan cumi-cumi?" Gavin mengernyitkan sebelah matanya menatap putranya yang sudah kenyang itu.
"Benarkah?" tanya Kyra tidak percaya karena Daffin telah menghabiskan makanannya.
"Cumi buatan tante Key sangat enak daddy. Daffin suka" jawab Daffin.
Gavin masih menatap aneh ke arah mereka berdua. memang ia merasakan jika masakan Kyra enak, namun ia tak menyangka jika putranya akan menghabiskan makanan yang bahkan tidak ia sukai.
"Daffin setelah ini kita pulang ya, besok daddy harus bekerja" ucap Gavin saat mereka sedang bermain di ruang tengah, sedangkan Kyra terlihat sedang berberes-beres.
Daffin langsung lari dan memeluk kaki Kyra yang sedang menyapu.
"Daffin tidak mau pulang. Daffin mau bersama tante Key" ucap Daffin. Kyra yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba di kakinya itupun langsung mengangkat dan menggendong Daffin.
Gavin menghembuskan nafasnya. benar apa yang ia kira, jika Daffin pasti tidak mau pulang lagi.
Mendengar itu Daffin sedikit melonggarkan pelukannya di tubuh Kyra.
"Daffin pulang dulu ya. besok-besok kan masih bisa bertemu sama tante Key. kapan pun Daffin mau" ucap Kyra yang juga berusaha ikut membujuk Daffin.
"Janji tante" Daffin mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji" Kyra tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Daffin lalu mencium pipi cubby Daffin.
Ciiit...
Mendengar suara rem mobil di depan, Gavin pun langsung mengajak Daffin keluar.
"Sayang sepertinya paman-pamanmu sudah datang, ayo kita keluar untuk menemui mereka" Gavin mengambil Daffin dari gendongan Kyra lalu menurunkannya.
Akhirnya Daffin pun mau berjalan keluar namun dengan tangannya yang masih menggandeng tangan Kyra. Kyra pun mengikuti mereka keluar sekalian mengantarkan kepergian mereka.
Di sisi lain Elard, Rey dan Carlos yang sudah sampai di depan kontrakan Kyra pun harus dikejutkan dengan mobilnya yang seperti menabrak sesuatu.
Brak..
Ciit..
Elard yang membawa mobil itupun langsung menginjak rem saat merasa mobil yang ia bawa menabrak sesuatu.
"Ada apa?" tanya Rey yang duduk di samping bangku kemudi.
"Entahlah, sepertinya menginjak sesuatu" ucap Elard. lalu merekapun turun, karena kebetulan mereka juga telah sampai di depan kontrakan Kyra.
"Sial" ucap Elard sembari menendang sesuatu yang telah mengganggu perjalanannya.
"Aaaaa Lillyyyyyy...." Elard, Rey dan Carlos terkejut mendengar suara teriakan wanita yang begitu histeris.
Sedangkan Kyra yang baru saja keluar dari kontrakannya, harus di kejutkan dengan hal yang sangat membuatnya sedih.
Ia langsung menangis histeris dan berlari ke arah kucing kampung kuning yang sudah tergeletak bersimbah darah di belakang mobil hitam yang di kendarai oleh 3 pria yang tidak dikenalnya.
"Hiks hiks hiks... Lilly.... hiiihiiiihiii.... Lilly..." Kyra berjongkok di depan kucing yang sedang kejang-kejang di tanah itu. ia menangis histeris seraya memanggil-manggil nama kucing kesayangannya itu.
Sedangkan Gavin, Daffin dan ketiga pria yang telah menabrak kucing kecil itupun hanya diam berdiri sambil menatap heran ke arah Kyra yang begitu histeris menangisi kucing itu. Hanya kucing, batin mereka semua.
Tidak lama kucing itu berhenti kejang-kejang, hal itu menandakan jika Lilly telah positip meninggal.
Dengan masih mengeluarkan air matanya, Kyra menatap tajam ke arah tiga pria yang berdiri di samping mobil hitam yang telah menabrak kucing kesayangannya.
Kyra bangkit dan berjalan mendekati mereka.
Dugh...
"Aaw..." pekik Elard sambil mengangkat sebelah kakinya.
"Pembunuh!" tukas Kyra menatap tajam Elard.
Kyra menendang begitu keras kaki orang yang telah menendang kucingnya beberapa waktu yang lalu. Kyra menendangnya dengan keras sampai ia mengaduh kesakitan.
Setelah menendang kaki Elard, ia langsung melajukan langkahnya untuk masuk kedalam. tidak lama, ia keluar dengan membawa sebuah handuk di tangannya. ia melihat dua pria lainnya yang sedang menertawakan pria yang sudah ia tendang tadi.
Ia kembali menghampiri ketiga pria itu lalu..
Bugh... bugh...
"Tidak punya hati!" tukas Kyra kembali kepada dua pria yang baru ia tendang kakinya itu.
Rey dan Carlos yang mendapat serangan dadakan itupun langsung mengaduh kesakitan sama seperti Elard.
Setelah itu Kyra melewati mereka dan mengangkat tubuh Lilly yang sudah tak bernyawa dan membawanya dengan handuk untuk ia kuburkan. Ia kembali ke dalam dan melewati ketiga pria yang masih menggelinjang kesakitan dengan memegang kaki mereka.
Sedangkan Daffin dan Gavin yang masih berdiri di depan pintu rumah Kyra pun hanya menyaksikan semuanya dengan penuh keheranan.
.
.
.
***
**Terimakasih atas dukungannya, dan tetap dukung karya ini ya. dan maaf jika proses up nya lambat. karena author memang sedang slow up untuk karya iniš.
Tapi author tidak akan pernah bosan untuk selalu meminta dukungan kepada para readers tercintašā¤**