
~Edden POV~
.
.
.
"Sezya, apa kamu tau sesuatu tentang Jendral Widder?" tanyaku pada Rint yang tengah menyeduh teh.
"Ada apa anda menanyakan beliau?" matanya terlihat khawatir "Apa ada hal yang membuat anda terganggu? Setahu saya beliau adalah orang paling ramah di antara para pejabat kerajaan ini."
"Entahlah, aku merasa dia bukan orang asing. Apa dia bisa melakukan perpindahan seperti ke dimensi lain?"
"Setahu saya tidak. Memang beliau hanya bisa menggunakan Kristal elemen, dan sihir dengan bantuan batu sihir, namun kekuatan dan keahliannya sebagai prajurit sudah terlihat sejak beliau berumur 21 tahun. Saat itu beliau baru masuk dan diangkat sebagai pengawal pribadi raja terdahulu."
"Tak ada yang lain?" kali ini Sezya terdiam, berpikir sesaat dan menggeleng.
"Jika anda penasaran kenapa tidak tanyakan pada orangnya langsung? Anda bisa menemui beliau di istal kuda istana utama saat ini. Biasanya hari seperti ini beliau berkuda di sana."
"Bagaimana aku ke sana? Aku tak tahu jalan!"
"Baiklah, saya akan minta seseorang menganta-"
"Kau antar aku bisa kan?" aku menggenggam tangannya.
"Tapi-"
"Ayolah! Bantu aku! Aku takkan bisa tenang sebelum rasa penasaranku ini hilang!"
"Baiklah, jika anda memaksa." Akhirnya Sezya mengalah. Dengan teleport ia membawaku ke istal istana utama, namun saat sampai aku tak melihat siapapun di sana.
"Mana orangnya?" Hanya ada pengurus kuda, di luar terdengar ada suara orang tapi aku tidak ngerti mereka ngomong apa. penerjemahku ketinggalan.
"Mungkin sudah pulang atau sedang berkuda di arena luar." ia menunjuk keluar istal.
Memang ada beberapa orang berkuda di luar, aku melihat mereka sedang balapan mengelilingi arena pacuan dan jendral itu salah satunya. Tanpa pikir lagi aku langsung menaiki salah satu kuda dan memacunya ke dalam arena.
"Lho, nona? Anda bisa naik kuda?"
"Pernah belajar sebentar, kau boleh pulang Sezya!" aku langsung memasuki arena dan mengejar mereka. Karena dulu aku hanya sempat belajar sebentar jadi aku tak berani memacu kudaku terlalu cepat. Jendral itu sepertinya menyadari keberadaanku jadi dia berhenti dan memutar balik arah ke tempatku.
"Maaf Jenderal Widder, boleh saya bicara dengan anda sebentar?"
"Ada apa nona?" tanyanya saat aku cukup dekat.
"Anda sungguh tahu saya perempuan? Biasanya orang selalu salah." Apa lagi saat ini aku pakai baju laki-laki seperti yang Nemetis pilihkan. Nemetis saja gagal mengenaliku meski dia bisa membaca aura.
"Hm, mungkin karena aku sudah biasa membedakan orang dari auranya. Aura anak perempuan agak berbeda." Aku sendiri bisa melihat aura manusia dan benda –jika memang punya- tapi tak bisa membedakan jenis kelamin dari aura.
"Boleh aku tanya sesuatu pada anda?"
“Silahkan saja, bertanya bukan dosa.”
"Sejak di ruangan tadi saya penasaran, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Di tempat tinggal saya dulu mungkin, apa anda pernah ke sana?" Alisnya terangkat dengan ekspresi kaget sesaat dan berganti dengan senyum bingung.
"Aku tak sangka kau akan merasakannya begitu cepat nona Eddreine." katanya sembari menggaruk jenggotnya dengan telunjuk.
Aku sendiri mencoba mencerna keadaan dari saat dia mengucapkan namaku. Hanya Nemetis dan Sezya yang tahu nama asliku, selebihnya aku selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilan "Rasanya saya tak pernah memberitahukan pada siapapun di sini. Anda membaca pikiran saya?"
"Apa karena aku sudah tua kau lupa padaku?" orb coklat itu menyipit sedih "Padahal aku kira kau sudah menghilang entah kemana dan takkan bertemu lagi."
Sebuah nama muncul di kepalaku, nama yang dengan ragu kusebutkan. Sepertinya dia menyadari apa yang aku pikirkan. Ia turun dari kudanya dan membantuku turun dari kudaku.
"Tidak kusangka kamu sekecil ini ya. Aku selalu mengira kamu anak perempuan paling jangkung yang pernah kukenal." Tangan kasar dan keriput itu menyentuh kepalaku, tubuhku gemetaran antara ngeri dan bingung. "Syukurlah kamu baik-baik saja."
"Tidak, aku tersedot lubang lain dan tiba di tempat ini. Dengan waktu yang terpaut 55 tahun denganmu aku datang ke galaksi ini lebih dulu."
Aku tak tahu harus bicara apa lagi, Harron yang datang ke tempat ini di waktu yang jauh sebelum aku tiba, bagaimana dia bertahan hidup hingga jadi seperti ini aku tak mampu membayangkannya. Tak sadar aku pun menangis memeluknya, antara lega karena dia baik-baik saja dan aku tak sendiri lagi di sini.
"Aku pun sempat merasakan seperti yang kau rasakan saat tiba di sini. Asing akan semuanya, hingga ada yang melatihku dan mengangkat ku sebagai anak."
"A…aku… kira tidak akan bertemu lagi denganmu!" lelehan panas membasahi pipiku, membuat pandanganku menjadi buram.
"Ups, jangan menangis sekarang dong! Bisa-bisa aku dikira melakukan sesuatu padamu! Kau mau ikut ke rumahku? Akan ku pertemukan dengan istriku, eh cucuku juga ada!"
Cucu, mendengar kata itu air mataku terhenti, menyadari orang yang ada di hadapanku sekarang bukanlah orang yang biasa bersamaku berangkat sekolah.
"Aku tanya Sezya dulu."
"Tak apa, kalau bersamaku takkan ada yang melarang. Aku akan tinggalkan pesan pada mereka, tapi aku kembalikan kuda ini dulu."
Aku tak bisa berkata apapun, hanya menatap sosoknya yang menggiring kedua kuda dari belakang. Sungguh jauh berbeda dari yang kuingat selama 14 tahun ini.
"Memang sudah berubah. Walau bagiku hanya beberapa hari, bagimu telah berlalu puluhan tahun…" aku merasa ada sesuatu yang hilang dariku saat melihat Harron saat ini.
Harron yang mungil yang selalu berada di sisiku, saat TK dan SD dia sangat cengeng, aku selalu melindunginya. Namun saat masuk SMP dia berubah, makin tinggi dan kuat. Semuanya melampaui aku, aku merasa iri padanya. Kini dia sudah jauh lebih tinggi, badannya terlihat kekar meski usianya sudah terbilang lanjut.
Sempat aku menghindarinya selama beberapa minggu, walau ia selalu menungguku di depan rumah dan pulang sekolah, aku selalu menghindarinya. Hanya untuk menemuiku tengah malam ia nekat dengan meloncat dari balkon kamarnya ke balkon kamarku yang berseberangan sekitar 2 meter. Ia sama sekali tak menanyakan kenapa aku bersikap menjauhinya, ia hanya memelukku dan kami malah menangis berdua sambil berpelukan sampai tertidur.
Dibesarkan bersama, aku dan Harron sudah seperti saudara sendiri. Selalu membagi semuanya berdua, kemanapun berdua, dengan bersama kami merasa lengkap. Namun sekarang Harron bukanlah yang dulu lagi, aku tak bisa bersamanya, ia telah memiliki hidupnya sendiri, keluarga yang selalu menunggunya pulang.
.
.
.
.
.
~end pov~
.
"Tuan Widder, apa anda mengatakan sesuatu pada nona Edden?" Sezya menghampiri pria tua yang menuntun 2 ekor kuda di kedua sisinya. "Dia menangis."
"Yah, bagaimana aku bisa membohonginya sementara dia sudah mengejarku karena curiga?" Harron menyerahkan kuda pada penjaga dan menghampiri Rint yang masih menunggu di pintu istal.
"Apa anda baik-baik saja?"
"Jujur tidak. Apa bertemu kawan lama yang sudah terpisah 55tahun atau lebih dan ternyata bagi dia itu hanya beberapa hari berlalu bagaimana aku harus menanggapinya? Aku terkadang iri dengan kalian para Rint dan penguasa di sini."
"Umur panjang bukan berarti bisa bahagia dalam waktu lama."
"Aku tahu, tapi bisa bertemu lagi sebelum akhir hayatku, ini mungkin hadiah terakhir Tuhan untukku."
"Anda masih bisa hidup beberapa puluh tahun dengan kondisi badan se sehat itu." Sezya sangat yakin pria di hadapannya itu panjang umur sekali untuk manusia biasa. Edden yang datang belakangan tampak masih berusaha mengontrol emosi dan ekspresi wajahnya "Nona, sebaiknya anda hapus dulu air mata anda." melihat wajah Edden yang berantakan karena air mata, Sezya mengulurkan saputangannya. "Anda terlihat kacau."
"Biarin!" tukasnya sambil menggosok wajahnya dengan kasar. Tangannya masih dengan gemetar menutupi matanya dengan saputangan.
"Bisa kamu katakan pada Pangeran Nemetis kalau anak ini kubawa bersamaku?"
"Kalau dengan anda kami tidak akan khawatir tentang keselamatannya. Nona, bersikaplah baik pada keluarga beliau."
"Memang aku bakal bikin masalah?" gumaman Edden seakan tak terima di suruh berlaku baik padahal dia belum pernah -seingatnya- membuat masalah sejak sampai di tempat ini.