My Home

My Home
Chapter 05 Hari pertama



Edden termenung di depan danau yang masih sepi dari aktivitas warga. Para pemburu monster yang datang pagi itu masih berkeliling mencoba menangkap ular yang menjadi sebab takutnya warga desa, termasuk Nemetis yang sepertinya trauma dengan binatang melata.


"Ular seperti apa yang membuat orang-orang begitu takut?" namun ada hal lain yang membuatnya bingung "Telur itu hilang di mana ya?"


Ya, telur yang katanya adalah telur Rint miliknya menghilang saat Nemetis meninggalkan desa untuk melapor ke istana. Meski Sezya bilang telur itu akan kembali, otaknya masih tidak terima dengan situasi. Untuk tidur pun sulit sekali karena perbedaan waktu yang hampir dua kali lipat dari bumi. Masih menggunakan patokan waktu bumi, jam tangannya menunjukkan pukul 5 sore walau keadaan sekitar malah seperti pukul 8 atau 9 pagi. "Ngantuk part two..."


Suara ledakan terdengar dari hutan, mungkin para pemburu sudah menemukan dan berusaha membunuhnya. Dirinya sudah bersiap dengan ledakan lain tapi ternyata hanya terdengar sekali. Apa hewan yang diburu ternyata lemah sehingga cukup sekali serang? Atau para pemburu pro itu sangat kuat? Suara terompet terdengar dan disambut sorakan para warga dari dalam rumah. Artinya semua beres kan?


Warga ramai-ramai menuju hutan untuk melihat hasil perburuan. Beberapa membawa golok dan belati. Edden yang penasaran pun mengikuti dari belakang. Mereka berkerumun di dekat semak buah stroberi dan berry liar yang sempat dipetiknya. Berlawanan arah dari tempatnya datang ketika keluar dari dalam hutan, sepotong kepala tergeletak tidak jauh dari tempat ledakan.


Seekor ular yang dia pikir paling hanya beberapa meter atau sebesar anakonda yang biasa ditemuinya di taman safari ternyata bayangannya salah besar. Kepala ular itu saja bahkan sebesar sapi. Tubuh ular itu masih tampak dalam posisi bertumpuk melingkar seperti dalam posisi tidur saat di serang pemburu. Setidaknya panjang ular itu 16 atau 20 meter. Para peneliti Titano Boa pasti kegirangan kalau melihat bukti nyata begini, sungguh beruntung Edden tidak bertemu makhluk itu saat melewati hutan.


"Wah, kalau hewan di sini begini besar, wajar saja orang-orangnya kuat semua! Sekali serang ular begini mati!" Edden terpukau takjub. Warga juga tampak sangat kagum pada para pemburu yang tampak bingung harus menanggapi kerumunan warga.


Bersama mereka menguliti mayat dan memisahkan bagian-bagian seperti kulit, sisik, daging, organ dalam dan tulang. Kepalanya sepertinya sengaja di biarkan utuh untuk bukti atau mungkin keperluan lain. Daging di bagikan pada warga dan sisanya di bawa oleh pemburu. Sepertinya mereka menolak uang yang di berikan warga dan hanya membawa kepala, kulit, tulang dan sisa daging.


"Masih ada orang baik di dunia ternyata." Semua orang tampak sibuk mengolah daging ular menjadi daging asap dan daging kering di tepi danau. Wajah cemas mereka berganti senang mendapat daging dan bahaya juga sudah berlalu. "Aku harus lebih menganggap serius perbedaan tempat ini dengan Bumi."


.


.


.


~Edden POV~


"Nona!" Sezya setengah berlari menghampiriku dengan wajah panik. "Saya menemukannya!"


"Huh? Apa yang ketemu?"


"I-ini! Saat pemburu dan warga melakukan pembongkaran, mereka menemukan ini di dalam ular!" Ternyata yang dia maksud adalah telur yang sejak semalam tidak terlihat.


"Dia di makan oleh ular? Hebat sekali masih utuh! Kok rasanya dia lebih besar dan berat?" aku yakin telur ini sedikit lebih kecil sebelumnya dan lebih ringan beberapa puluh lgram.


"Itu...sebenarnya...telur ini lah yang telah membunuh Black Viper."


"Maksudmu ular tersedak dan mati tercekik karena menelan telur ini?" Sezya menggeleng kuat-kuat. "Iya juga, telur ini terlalu kecil untuk membuat ular sebesar itu tersedak."


"Sepertinya memang ditelan ular tapi...telur ini menyedot habis darah ular itu dari dalam sejak semalam." wajah Sezya yang pucat pasi gemetaran. "Para pemburu bilang ular sama sekali tidak bereaksi saat diserang dan tidak ada darah saat kepalanya terputus oleh pedang."


"Sebenarnya telur makhluk macam apa ini? Dia minum darah sebanyak itu tapi hanya bertambah besar sedikit. Apa sebaiknya aku minta Kak Nemetis menyimpannya?" Telur itu berkedut di tanganku, sepertinya protes. "Apa benar kamu adalah milikku?"


"Sepertinya dia sedih karena nona meragukannya." celetuk Sezya "Saya hanya bisa membaca auranya saja."


"Tuan Nemetis belum kembali. Sepertinya ada banyak hal yang harus di lakukan. Dulu juga saat ada kecelakaan seperti anda, butuh waktu seminggu untuk mengurusnya."


"Ya, ampun. Aku harus minta maaf dan berterimakasih dia mau repot-repot mengurus aku yang orang asing ini."


"Sebaiknya anda simpan kata minta maaf sebelum anda menyesal."


"Huh?"


"Tuan tidak suka kalau ada yang minta maaf kalau cuma untuk basa basi. Lagi pula beliau sepertinya senang ada kegiatan setelah beberapa tahun ini hanya makan tidur dan membuat ramuan obat."


"Segitu nganggurnya..., lalu menurutmu apa ada kasus yang akhirnya bisa memulangkan orang yang tersesat kemari?"


"Sampai saat ini hanya yang terlempar di Endrion yang berhasil pulang karena mereka punya gerbang permanen ke berbagai dimensi. Mungkin Tuan akan minta bantuan ke sana. tapi tetap makan waktu 2 hingga 10 tahun."


"LAMA BANGET!!!" Aku keburu tua kalau harus menunggu 10 tahun!


"Itu kan misalnya. Tapi ada juga seperti kasus Jendral Widder yang menolak pulang ketika penguasa menawarinya untuk kembali. Yah, walau saat itu beliau memang sudah mau menikah dan punya jabatan sebagai pengawal pribadi raja terdahulu."


"Kalau sudah sampai begitu pulang pun percuma, malah sulit untuk adaptasi kembali."


"Kalau dalam kasus anda yang justru kembali kemari ada satu yang mirip. Tapi itu sudah 20 tahun lalu dan orang itu dinyatakan hilang 300 tahun sebelumnya."


"Busyet...melompati waktu 300 tahun. Semua orang yang dikenal sudah tidak ada di dunia lagi. Hei, berapa kali aku bilang, aku bukan orang dari dimensi ini!"


"Saya berani taruhan nyawa untuk hal satu itu!"


"Serem amat pakai nyawa!"


"Anda tidak mau mendengarkan saya!"


"Mana ada manusia biasa bisa pindah dimensi! Aku cuma bisa lihat roh saja!"


"Orang keturunan Setylon itu separuh naga!"


"Kamu makin ngawur, memangnya aku mirip ular?"


"....Aahhhh!!! Harus bagaimana membuat Anda mengerti!" Sezya meraung frustasi hingga penduduk yang tadinya sibuk melihat kami. Memastikan tidak ada hal aneh mereka kembali ke kegiatan mengolah daging ular. "Hey, telur kecil! Coba kamu buat majikanmu ini mengerti!"


"Pada akhirnya akal sehatmu rusak..." Aku hanya menggeleng pasrah melihat Sezya menoel-noel telur yang kembali berdiri tegak meski di dorong oleh telunjuknya. "Kalau makan waktu beberapa tahun...sepertinya tidak ada salahnya belajar bahasa di sini."


"Kalau anda mau saya bisa ajari.... Tuan juga meminta saya untuk melakukan dan menyiapkan apa saja yang anda perlukan selama tinggal di sini."