
"Lalu kau maunya dia bilang apa Nemetis?" suara seorang perempuan membuat raut wajah Nemetis berubah.
"Seanne! Jangan ikut campur!" wajah cantiknya langsung berubah jutek!
"Amera* galak sekali! Hei, siapa anak ini? Rasanya aku pertama kali melihatmu membawa orang tak dikenal di sini." Dia juga mengatakan hal yang sama dengan Nemetis. Perempuan ini rambutnya hijau tosca digelung di kiri dan sisanya menjuntai hingga pinggangnya, matanya coklat terang.
"Dia Edden. Anak yang tersesat oleh lubang hitam ke tempat ini." Edden mengernyit kening, sepertinya Nemetis memberi penjelasan tidak lengkap.
"Oh, orang dimensi lain? Ini pertama kalinya aku melihat langsung. Heba…t! tapi kenapa dibawa ke istana? Sampai harus menemui yang mulia pangeran segala. Biasanya kan langsung di bawa ke dewan keamanan atau dewan penyihir agung."
"Kau lupa aku siapa?"
"Oh, iya ya! Tapi aku tetap penasaran!"
"Buka matamu yang lebar! Lihat mahkota yang dipakainya!"
"Hm? Mahkota batu ungu, memangnya kenapa?"
"Bacalah buku sejarah lebih teliti! Dasar bodoh! Makanya kau selalu jadi no. 2 di sekolah dulu!" (Author: lalu aku yang ranking 10 dari belakang dikatai apa kalo ranking segitu dikatai bodoh?!)
"Hei, jangan galak gitu dong!"
"Ini adalah batu sihir! Batu ungu elemen waktu."
"E…elemen waktu? Bukannya itu disimpan di gudang harta pusaka kerajaan? Pencuri?!"
"Bodoh!" Nemetis menatap gadis itu lekat-lekat, kalau tatapannya bisa membunuh, dia yakin Seanne akan gosong. Entah memang sengaja memanas-manasi, atau agak lemot, Nemetis sudah beberapa kali berteriak 'bodoh' padanya. Akhirnya Nemetis menyambar telur Rint Edden dan meletakkannya di ujung hidung Seanne.
"Kau keturunan suku Setylon seperti tuan Marga?!"
"Lemotnya! akhirnya otakmu jalan juga!" Nemetis gemetar menahan amarahnya.
"Akhirnya ada keturunan lain yang muncul! Wuah!” Seanne memeluk Edden seakan tak ada hari esok! Apa lagi wajah remaja itu jadi bertemu dengan dadanya yang besar.
"Hei aku ini perempuan juga tapi jika keadaannya begini siapapun pasti takkan merasa nyaman! Aku masih normal hoy! “Me-, to-&%&)VjfyT*T!!!!” bukannya di lepas wajah remaja itu malah makin tenggelam dalam pelukan ganas.
.
.
.
~Edden POV~
.
“Ahem, Seanne.” Nemetis memang penyelamat, dia menarikku dari pelukan maut sebelum aku benar-benar mati kehabisan nafas. “Jangan terbawa duniamu sendiri.”
“Tapi yang seperti ini kan jarang ada! Apa lagi dia manis!”
“Dia-bukan-barang-langka! Dan kau bisa bertemu dengannya kapan saja karena mulai sekarang dia tinggal bersamaku.”
“Kakek tua, kau mau memonopoli semuanya ya?” Menyebut Nemetis sebagai 'kakek', Seanne sungguh tidak sayang nyawa.
“Siapa kau sebut kakek huh?!”
“Hei Edden, nanti kita jalan-jalan di kota berdua!” dia sungguh mengacuhkan kemarahan Nemetis.
“Jangan acuhkan aku rambut rumput!”
"Maaf ya, aku sebenarnya tak ingin lebih lama di sini. Boleh aku pulang ke desa bersama Sezya?" Rasanya bakal ikut gila jika berada lebih lama bersama mereka.
"Belum bisa, kalau kau mau ke taman ikuti saja lorong ini terus ke sana sampai mentok dan belok kiri. Kau akan sampai di taman, ada banyak pohon besar dan kolam dengan air mancur. Kau bisa tunggu di sana. Saat pulang akan aku jemput."
"Kau masih lama?"
"Aku masih ada kerjaan, dan sedikit urusan dengan dewan sihir yang lain." Ugh, aku sungguh ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Tampaknya dia menyadarinya “Sabar ya.”
"Baiklah, aku nunggu di sana saja." Aku kalah dengan sikapnya yang seperti seorang ayah. Aku terpaku melihat Seanne dan Nemetis yang bicara dengan bahasa mereka, Seanne diseret paksa agar tak menempel padaku terus. Setelah mereka menghilang dari pandanganku barulah aku pergi ke arah yang ditunjukkan Nemetis. Walau dibilang lurus saja sampai mentok, sungguh sangat panjang lorong itu.
.
.
.
.
.
"Ya ampu…n! ternyata istana ini besar sekali!"Kakiku lumayan pegal saat sampai di taman. "Coba aku bisa terbang atau teleportasi. Tinggal syu..ng atau shu…t, udah nyampe! Nemetis bisa terbang tidak ya?" gumamku sambil melihat-lihat pohon-pohon besar itu.
Entah berapa umur pohon-pohon ini, dengan diameter sekitar 1,5 sampai 3 meter dan tinggi yang hampir setinggi sekolahku (sekolahku dulu kelas paling atas di tingkat 5 tingginya 18 meter) umurnya mungkin di atas 100 tahun.
"Heba…t! selama ini aku jarang melihat pohon sebesar dan setinggi ini!”
Pandanganku tertuju pada sebuah pohon yang ada di seberang kolam. Dahannya yang besar dan kelihatannya gampang di panjat. Dengan semangat aku menaiki pohon itu. Maksudku sih mau duduk di atas dahan yang menjulang di atas kolam. Namun aku kaget saat menyibak ranting rimbun yang menutupi jalan ke dahan itu ada seseorang yang duduk bersandar di baliknya.
“Whoah!” Saking kagetnya aku terpeleset dan hampir jatuh ke kolam, untung dia menangkap kerah bajuku dan menarikku ke atas. Enteng sekali dia menarikku dengan satu tangan kemudian mengalungkan tangannya di bahuku sampai aku bisa berdiri sendiri.
"Kau tidak apa-apa? Maaf membuatmu kaget, aku selalu duduk di sini untuk melepas lelah, tak kusangka ada juga yang tertarik memanjat setinggi ini selain aku dan Nemetis."
"Oh, Nemetis sering ke pohon ini juga? Maaf, sudah mengganggu anda. Terima kasih juga untuk pertolonganmu tadi, kalau tidak aku pasti nyebur ke kolam."
"Sama-sama, kalau tak salah namamu Edden kan? Nemetis mana?"
"Masih ada urusan dengan dewan penyihir lainnya. Maaf, kenapa anda tahu namaku?"
"Lho, baru tadi kita ketemu, kamu sudah lupa? Parah sekali." orang itu menatapku dengan tidak percaya.
"Tadi?" meski kesal dikatai payah aku sendiri agak heran tak ingat ketemu dengan orang ini.
"Belum lewat 40 menit kan?"
Aku memutar otak mengingat siapa saja yang aku temui hari ini. Aku menatap orang itu dari atas sampai bawah. Rambut hitam, mata coklat dan suaranya sudah pernah kudengar, tapi nada bicaranya yang enteng itu membuatku ragu. Aku masih berusaha mengingat saat meihat pita hitam sutra itu dan hanya satu yang terlintas di benakku saat itu.
"Yang mulia raja! Maaf! Saya tidak tahu kalau ini anda! Karena tadi anda memakai topeng! Maafkan saya!" Orang itu malah tertawa melihatku panic. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menahan tawa. "Ada yang lucu?" aku bingung deh sama orang ini.
"Hahaha! Kamu! Lucu! Tak usah sepanik itu, sikapmu beda sekali dengan saat menghadapiku di dalam ruang pertemuan tadi."
“Dia memintamu memanggilnya begitu?”
“Iya, apa seharusnya tak boleh?”
"Tak apa, dia juga saat kerja saja pakai bahasa sopan denganku, selain itu biasa saja. Saat kerja memang harus formal, itu aturan. Dibelakang ya terserah."
"Mirip…." Apa boleh ya seorang raja begini? Wait, seharusnya keluarga kerajaan ngak sesantai ini.
"Apanya?"
"Anda dan Nemetis, jika bicara seperti itu kelihatan mirip. Memang sepupu ya."
"Oh, dia sudah bilang ya. Padahal jika di adu dia yang lebih pantas jadi raja, bukannya dewan penyihir. Menyusahkan aku saja."
"Siapa yang kau bilang menyusahkan?! Aku kan sudah membantumu selama ini!" Nemetis menegur dari bawah pohon. Ia naik ke tempatku dan raja dengan sekali lompatan.
"Lho, sudah selesai?" sehebat apapun dia masa bisa secepat ini?
"Belum, aku takut kau diapa-apakan olehnya makannya kesini saat tau pertemuan sudah selesai."
"Tidak ku apa-apakan kok!"
"Iya, tadi beliau menolongku saat hampir jatuh dari pohon ini."
"Ya ampun! Kalau jatuh dan luka gimana?! Kenapa sih kau selalu melakukan hal bodoh?!"
"Maaf." setelah Seanne kali ini aku yang kena marah. Ini sungguh harinya Nemetis marah-marah.
"Sudah, jangan dimarahi. Toh tidak jatuh kan? Tapi tak kusangka dia perempuan, kukira tadi laki-laki." Lho, padahal jenderal tadi begitu mudahnya menebak genderku. Orang tua memang matanya awas ya?
"Yah, aku juga sempat tertipu penampilannya. Tapi kau tahu dari mana dia perempuan?"
“Saat menariknya tadi, enteng! Kalau laki-laki yang setinggi ini kan bisa lebih berat."
"Yakin cuma itu?" Tanya metis dengan pandangan menyelidik
"Kau maunya aku bilang apa?!"
"Sejujur-jujurnya! Setahuku kau bukan orang yang dengan mudah membedakan anak seperti dia. Membedakan antara Dira dan Danne saja kau masih salah hingga sekarang." Siapa lagi tuh?
"Ya...ya…, memang dadanya tak sengaja kusentuh, eh, bersentuhan dengan lenganku saat menangkap dan membantunya berdiri." Raja mengangkat kedua tangannya di samping kepalanya. Ya ampu…n! Tapi karena dia sudah menolongku aku tak berani mendampratnya.
"Edden, badanmu gemetaran seperti di guncang gempa saja."
"Diam kau mentos! Kau kira aku senang mendengar pengakuannya tadi! Seharusnya kau tidak usah tanya di depanku saja!"
"Wah, bisa malu juga." Oh demi apa coba, aku benci seringai mereka itu!
"Kalian jangan menggodaku!" akhirnya kemarahanku meledak namun mereka malah senang melihaku kesal.
"Baiklah, sebagai permintaan maaf aku akan menjamumu untuk makan malam di istanaku. Kau mau?"
"Tidak!" entah kenapa Nemetis mengatakan hal yang sama denganku.
"Lho? Kenapa? Memangnya ada yang salah?" sepertinya sang raja itu bingung dengan kami.
"Aku akan membawa dia tinggal di istana timur. Sesuai peraturan hanya kaum bangsawan kerabat dan keturunan raja yang boleh tinggal di istana utama. Karena dia adalah tanggung jawabku maka aku akan membawa dia ke istana Timur."
"Apa itu tidak berlebihan Nemetis? Bukannya aku cukup tinggal di rumahmu saja? Jika ada keperluan baru datang ke istana."
"Tentu saja tidak, istana timur adalah istana milikku karena ibuku adalah anak sulung, sedangkan dia dulu di istana utara (menunjuk raja). Kan ayahnya yang diangkat jadi raja. Setelah raja dahulu mangkat dia yang menggantikan dan pindah ke istana utama."
"Selatan dan barat?
"Selatan untuk para putri, barat untuk para selir."
"Tapi barat jarang dipakai, karena sejak dulu, raja di kerajaan ini biasanya paling banyak punya 3 istri. Jadi cukup lenggang."
"Rasanya dia lebih cocok di selatan, tapi kenapa kamu masih saja terlalu mengikuti adat lama. Sekarang kan tidak begitu diperdulikan."
"Memang begitu, sudahlah, jika kau ingin bertemu Edden sebaiknya temui dia di istana timur saja."
"Kalian berdua ini berdebat sendiri, yang lebih penting kasih tahu aku jalannya supaya aku tak nyasar. Tempat ini kan besar sekali!" protesku, aku ini kan bukan orang yang punya kemampuan khusus –kecuali melihat hantu-.
"Iya juga, nanti akan aku berikan peta simple di sini. Lagi pula aku tak membawamu dengan jalan kaki ke istana timur."
"Lalu? Pakai kereta kuda lagi?"
"Begitu juga asik, tapi lama. Mending langsung saja."
"Ha?" aku makin tak mengerti cara pikir orang dari dunia ini.
"Biar kujelaskan dengan prakteknya langsung" ia mengamit tanganku.
"Prak-" belum habis aku bicara keadaan di sekelilingku sudah berubah. Bukan di atas pohon, tapi aku ada di atas tanah. Di depan sebuah istana gerbang besar yang dijaga oleh pengawal berbadan besar dan seram. "tek…, boleh tau ini di mana lagi? Kenapa bisa ada di sini, kapan pindahnya?!"
"Itulah yang dinamakan pindah tempat dalam sekejap. Bisa dibilang teleport"
"Pindah tempat dalam sekejap?" dia betulan bisa teleport?!
"Begitulah, mungkin jika berlatih kau pun akan bisa melakukannya."
"Oh." Aku sendiri pun tidak bisa percaya apa yang dikatakan orang-orang di sini. Tempat yang asing, orang yang asing, semuanya serba asing bagiku. Aku masih merasa akan gila jika tak segera kembali ke tempatku berasal.
"Tuan, anda sudah tiba rupanya." Rint milik Nemetis menghampiri kami dengan berlari kecil.
"Sezya, bawa Edden ke kamarnya. Aku akan pergi ke ruanganku."
"Baik tuan, mari nona." Sezya menggenggam tanganku, menuntunku memasuki istana. Istana ini sepi sekali, bahkan tidak ada penjaga di pintu masuknya.
"Sepi sekali."
"Oh, tempat ini memang tidak perlu penjaga ketat karena Tuan Nemetis menggunakan sihir di seluruh penjuru. Yang tidak memiliki ijin akan langsung terlempar keluar. Tidak ada yang bisa menerobos masuk."
"Keren sekali."