My Home

My Home
Chapter 03 Welcome to other world



Penduduk mengeluarkan 'tangkapan salah sasaran' mereka dengan wajah kecewa namun merasa bersalah. Mereka tampak panik melihat beberapa bagian lengan Edden yang tergores oleh ranting yang ikut tersapu dalam jaring yang mereka pasang. Seorang pemuda bersurai ikal pirang keemasan mencoba menengahi dan memberi isyarat agar mengikutinya. Dari perawakan dan wajahnya, pemuda tadi sepertinya masih 20 tahunan namun penduduk tampak memberi hormat dan bersikap sopan padanya.


"Mereka ramah sekali sama orang asing." gumamnya sembari mengikuti pemuda yang memasuki rumah paling besar di desa. "Woah, seperti rumah penyihir."


Dalam rumah itu perabotan tembikar dan keramik mendominasi dengan furnitur kayu sederhana namun tampak elegan. Ruang tamu yang menyambung dapur dan di sisi yang berseberangan ada tangga menuju ke atas dan ruang bawah. Simple minimalis yang menghemat lahan.


Suara tepukan di kursi membuatnya tersadar dari dunianya. Pemuda itu memberi isyarat agar duduk di sampingnya. Edden meletakkan tasnya di lantai dan duduk berhadapan dengan si pirang. Meraih kedua tangan Edden dan memeriksa lukanya, pemuda itu tampak menggerutu dan bicara entah apa dan menatap remaja di depannya lekat-lekat.


"...."


" ? " Edden bisa merasakan tatapan itu seakan mencari sesuatu untuk dibandingkan. Belum hilang rasa herannya, cahaya redup merambat dari jari lentik yang menggenggamnya, menyelimuti seluruh lengannya dan lukanya perlahan lenyap. "Sihir betulan!"


"Untuk orang yang baru sampai di tempat asing kamu sangat santai." Orb hijau dan amber bertatapan, Edden menelan ludah dengan berat.


"Kamu...eh, anda bisa bahasa-"


"Bukan hal yang sulit, tidak usah kaku begitu. Di Granders ada beberapa tempat khusus menggunakan bahasamu."


"Benarkah? Oh, terimakasih sudah menyembuhkanku."


"Berapa usiamu?"


"...14 bulan depan."


"Lalu apa yang membuatku bisa sampai di sini?" Akhirnya Edden menceritakan bagaimana dia berakhir di tempat ini. "Sepertinya memang ada distorsi kecil, tapi jika dalam celah dimensi ada orang yang mencoba membawamu bisa jadi memang sengaja memanggilmu."


"Untuk apa? Jangan bilang mengalahkan raja iblis seperti di buku komik!" Edden mulai panik namun kepanikannya justru ditertawakan. "Aku serius!"


"Raja iblis itu tidak ada di sini. Tapi kalau kamu bicara perang masih ada di beberapa tempat. Kami tidak punya standar untuk iblis, siluman atau manusia di sini."


Sekarang Edden mengerti dengan berbagai perbedaan yang dia lihat dari warga desa mereka tetap hidup berdampingan.


"Tapi untuk apa membawaku ke tempat begini? Aku bukan orang jenius yang bisa memberikan penemuan untuk tempat ini, atau bukan orang yang memiliki bakat khusus."


"Kalau alasan bisa macam-macam. Kita akan tahu jika orangnya muncul untuk mencarimu."


"Kapan?" pemuda itu angkat bahu "Temanku yang terseret oleh lubang yang berbeda apa bisa ditemukan?"


"...aku tidak bisa menjamin. Keluar dari portal yang berbeda artinya kalian akan sampai di tempat yang berbeda dengan waktu yang berbeda. Baik planet dan waktu yang akan ditemui jika keluar dari portal liar tidak dapat diprediksi. Selama tinggal di sini aku menemukan 3 orang termasuk kamu yang menjadi korban portal liar."


"Apa mereka bisa pulang ke tempat asalnya?"


"Tidak. Lebih tepatnya mereka memutuskan untuk tinggal. Portal dimensi ruang dan waktu itu bukan perkara mudah. Hanya beberapa penyihir setingkat Amera atau Maha Guru yang bisa, tapi taruhannya adalah nyawa."


"Itu artinya sihir yang membutuhkan energi sangat besar."


Dibanding memikirkan soal portal, yang lebih membebani kepalanya sekarang adalah tempat tinggal. Bagaimana caranya anak SMP bertahan di tempat asing yang ekosistemnya tidak dikenali?


"Kenapa?" sepertinya kegelisahan Edden menarik perhatian nya "Lapar?"


"Tidak, hanya saja aku berpikir bagaimana cara hidup di sini. Anda tahu ini adalah tempat yang asing untukku."


"Semudah itu?"


"Jika kamu sudah dewasa lain lagi, tapi usia mu bahkan belum 16 tahun. Aturan di sini manusia biasa dewasa di usia 16 tahun. Oh iya, aku belum tahu nama mu."


"Namaku Eddreine, tapi biasa dipanggil Edden."


"Nama dan panggilannya cukup unik. Aku Nemetis Andris Yetzuar, karena kamu bukan warga di sini, panggil saja aku Nemetis atau Metis."


"Baiklah, tapi apakah aku tidak perlu bekerja?" Nemetis mengerucut mendengar pertanyaan itu. Dia tidak tahu kalau remaja yang ada di depannya ini adalah tipe yang sangat perhitungan.


"Jika kamu ingin, tidak ada yang melarang. Kamu bisa saja membantu warga dan mendapat upah atau membantu asistenku di sini. Hey, kamu yakin tidak bersama yang lain?"


"Huh?" perubahan ekspresi Nemetis menjadi serius membuatnya kaget "Aku cuma sendiri sejak semalam."


"Tapi ada yang mengikutimu." melirik ke arah pintu masuk, Nemetis kembali membuat ekspresi bingung. Langkahnya tergesa membuka pintu seperti mencari sesuatu kemudian membungkuk memungut sesuatu di depan pintu. "Ini milik mu?"


Sebuah benda yang masih segar di ingatannya. Itu adalah telur yang dipungutnya saat pulang sekolah. Jika telur itu ikut bersamanya, seharusnya tertinggal di tengah hutan karena dia tidak merasa melihat telur itu di sekitarnya atau membawanya di tasnya. Benda itu kini ada di genggaman Nemetis. Edden menggeleng bingung, pada dasarnya itu memang bukan miliknya.


"Telur Rint Suku Setylon ini bukanlah benda yang bisa ada di mana saja."


"Aku memang sempat memungutnya, tapi tidak ingat membawanya. Lagi pula, jika terbawa harusnya tertinggal di tengah hutan."


"Tentu saja dia mengikutimu." Edden mulai merasa si pirang ini agak gila. Mana bisa telur mengikuti orang. "Tampaknya kamu tidak percaya padaku. Ini, (menyodorkan telur pada Edden) yang ada dalam benda ini adalah makhluk paling buas di seluruh jagat raya."


"Ular berbisa?" Nemetis menggeleng "Apa sebuas Tazmania Devil atau buaya air asin?"


"Ha...h... sulit menjelaskan pada orang yang bahkan tidak tahu apa itu Rint."


"Mahkluk yang ada di dalam sini, jika hidup di alam liar, mereka memakan apa saja yang mereka lihat ketika lapar. Makanan utama mereka adalah energi terutama sihir, biasanya energi diambil dari darah."


"Telurnya sekecil ini...apa mereka termasuk hewan magis?"


"Oh, kamu tahu hewan magis."


"Di film banyak jenisnya, tapi jarang yang lahir dari telur dan membahayakan sekitar."


"Rint lahir dari alam, sebagian besar berwujud hewan. Setelah melakukan kontrak dengan manusia, mereka mendapat wujud manusia atau berevolusi menjadi bentuk lain seperti keinginan majikannya."


"Telur ini lahirnya jadi makhluk apa? Punya siapa? Induknya di mana?"


"Kamu ini cerewetnya seperti perempuan saja." Edden mengernyit "Apa?"


"Aku memang perempuan."


"...bencong?" Nemetis melirik dada Edden yang rata.


"Asem! Aku betulan perempuan!"