My Home

My Home
Chapter 07



"Masih jauh?"


"Tidak. Sebentar lagi kita sampai."


3 hari lamanya Edden tertidur setelah mengamuk, hal pertama yang mengejutkannya adalah telur Rint yang dia lihat terakhir hanya sebesar telur ayam kini hampir sebesar bola sepak. Respon dari telur itu pun makin jelas dan selalu mengikutinya kemanapun. Sehari setelah sadar pagi-pagi mereka berangkat dengan kereta kuda ke istana untuk menemui raja dan para dewan yang ingin memastikan siapa yang tersesat kali ini.


Sebelum ke istana mereka singgah ke beberapa toko seperti toko pakaian, sepatu, senjata, dan terakhir aksesoris. Edden suka melihat model perhiasan yang sederhana namun dia kurang suka mengenakannya karena semua kegiatan sekolahnya membuatnya sulit mengenakan aksesoris selain jam tangan. Untuk pertama kalinya dia menginginkan sebuah cincin saat melihat etalase di pojokan yang sepertinya barang yang kurang laku.


"Boleh aku minta yang ini?" Nemetis melirik cincin usang dengan kristal biru redup yang tampak sudah tua.


"Barang antik yang tidak akan bertahan lama jika kamu yang pakai, yakin mau?"


"Iya." Sejujurnya dia tidak mengerti kenapa Nemetis bilang benda itu tidak akan bertahan lama jika dipakai olehnya 'Memangnya aku tipe perusak barang?' batin Edden.


Kereta berhenti di depan gerbang yang sangat megah. Salah satu penjaga gerbang menengok ke dalam kereta. Melihat Nemetis ia langsung memberi hormat dan gerbang pun terbuka. Semua orang sangat menghormatinya padahal dari luar tak tampak seperti orang hebat.


"Apapun yang terjadi, katakanlah padaku." kata Nemetis begitu mereka memasuki halaman depan istana.


"Bilang apa barusan?"


"Jika ada sesuatu yang terjadi padamu katakanlah padaku. Sekecil apapun, istana bukanlah tempat yang aman untukmu. Tapi karena perintahlah aku membawamu kemari. Karena itu, jika ada apa-apa katakan padaku. Bawa ini dan jangan pernah kau perlihatkan pada orang lain."


"Apa ini?" ia memberi sepasang kelereng berwarna perak dan biru serta sebuah cermin lipat kecil seukuran tempat bedak. "Untuk apa kelereng ini? Cermin ini?"


"Kelereng itu adalah senjata serbaguna. Itu bisa berubah jadi benda apapun yang kau butuhkan dengan memasukkan sihir. Senjata, perlengkapan sihir atau apapun bisa di ikuti silver item, yang biru adalah pembuat tameng otomatis jika ada energi sihir yang membahayakan mendekatimu. Tapi aku harap kau punya konsentrasi dan imajinasi yang bagus karena ini juga tak mudah digunakan.”


“Heeh, menarik.” kali ini Edden teringat anime yang juga menggunakan item yang mirip.


“Cermin itu adalah benda untuk berhubungan denganku". Ia memperlihatkan sebuah cermin yang bentuknya sama. "Walau aku tak ada di dekatmu aku tetap akan bisa mengetahui keadaanmu dan kau bisa menanyakan apapun padaku."


"Kamu ini seperti ayahku saja, jangan terlalu khawatiran. Tapi terima kasih, aku akan berhati-hati dan membawanya ke manapun. Ini tahan pecahkan?" Nemetis tersenyum kecil mendengar Edden menyebutnya 'ayah'.


"Tentu saja. Cermin ini juga berfungsi sebagai perisai untuk serangan fisik, akan membesar jika ada kekuatan sihir yang kamu berikan."


"Perlindungan otomatis lagi? Apa tidak berlebihan?" Diselipkannya kelereng itu di ikat pinggang dan cermin itu ke sakunya. "Jangan-jangan sudah menyiapkan semuanya ya."


"Tentu saja. Semuanya dalam semalam, aku hebatkan?" Wajah Nemetis seakan berkata 'Puji aku dong!'.


"Ya heba…t" jawab Edden ogah-ogahan, entah kenapa merasa sedang bicara dengan kakek mantan prajurit kemerdekaan yang selalu menganggap dirinya paling hebat dan berjasa.


"Kok begitu jawabannya?!"


"Lalu aku harus bilang apa ?"


"Jawabanmu seperti mengatakan 'tak ku sangka kau bisa melakukan semua itu'!"


"Memang kan? Dari luar kau tak seperti orang hebat. Tapi ternyata semua orang bisa hormat padamu."


"Aku anggap itu pujian."


Sebelum masuk ke istana utama, sebelumnya mereka memasuki sebuah ruangan di bangunan terpisah yang sepertinya gudang. Ruangannya tidak terlalu besar tapi penuh dengan barang-barang unik seperti senjata, permata, topeng, perhiasan yang bentuknya agak antic dan aneh. Nemetis dengan mudah membukanya hanya dengan menempelkan tangannya ke pintu.


.


.


.


.


.


~Edden POV~


"Pakailah cincin yang tadi."


"Memangnya kenapa?"


"Pakai saja." Katanya sambil menyisir rambutku padahal aku yakin dia tidak membawa peralatan apapun. Semua masih misteri buatku bagaimana dia mengeluarkan semua benda tiba-tiba.


Aku memakainya dan Nemetis mengambil sebuah kotak kayu yang berdebu dan using dari rak tak jauh dari tempatku berdiri. Kotak yang kelihatannya sudah sangat lama disimpan. Mungkin beberapa puluh tahun, atau ratusan? Aku tak yakin itu.


"Apa isinya?"


"Peninggalan dari kerajaan Setylon. Ini adalah sebuah hadiah yang seharusnya diberikan pada putra mahkota dan tuan putri yang akan memimpin kerajaan itu. Namun karena kerajaan hancur dan mereka menghilang maka benda ini dikembalikan kemari untuk disimpan. Aku rasa tak ada salahnya kalau kamu menggunakannya."


"Apa karena aku keturunan yang masih tersisa?"


"Aku kan sudah bilang, kamu adalah darah murni. Benda ini bereaksi saat kamu muncul ke tempat ini. Sudah tidak ada alasan bagi kita menyembunyikannya."


"Ada-ada saja. Lagian apa ini?"


"Hiasan kepala, pelindung bahu, siku dan lutut, serta topeng ada sepasang."


"Pakaian perang sederhana?" gumamku. Ini mirip di komik-komik jaman kerajaan Romawi, Mesir, atau Babilonia?


"Mungkin di tempatmu begitu. Tapi jika berpakaian resmi harus menggunakan ini. Soalnya kau pakai pakaian laki-laki sih…! Kalau berpakaian perempuan kan aku bisa dandani dengan mahkota ini."


"Tidak mau!" sayangnya aku kalah cepat, dia sudah lebih dulu mencengkram bahuku dan membantingku ke kursi yang entah muncul dari mana. Sebuah rantai muncul dari kelereng perak lain yang dia keluarkan dari balik jubahnya, dengan itu dia mengikatku supaya tidak bisa lari.


“Woy! Ini pemaksaan! Kemana larinya hak asasi manusia!”


“Yang beginian tidak udah pake hak asasi!”


“Aku tak mau pake itu!”


“Cih!” saking kesalnya –mungkin- dia meencengram kepalaku, rasanya kepalaku bakal robek karena cengkramannya. “Diamlah dan jangan banyak bicara bocah sialan!”


“Bo-?!” aku sudah mau membalas namun urung karena tampangnya seram sekali! Kemana hilangnya orang yang barusan ada di sini dan aku lihat semalam?!


"Jangan bergerak!"


"Wadah! Telingaku kejepit!"


"Harus di pasang dengan kuat supaya tidak jatuh. Soalnya kamu tak bisa diam." tapi entah kenapa dia memandangku dengan lekat-lekat.


"Kenapa memandangku seperti itu?"


"Hm..., semakin dilihat aku jadi merasa pernah melihatmu. Atau seseorang yang mirip denganmu."


"Di dunia ini pasti ada beberapa orang yang mirip, bahkan mungkin sama wajahnya."


"Tidak! Aku yakin pernah."


"Kalau begitu cobalah untuk mengingatnya. Sekarang aku harus apa lagi?"


"Eh, hampir lupa, pakai topeng ini. Kita ke ruang tengah. Karena kita telah ditunggu oleh para penguasa dan sang raja."


"Ukh, aku kan tak mengerti bahasa kalian!" gerutuku sambil memakainya.


"Aku benci belajar."


"Tapi kau harus belajar." ia cuma tersenyum sekilas tapi kok seram? Yang dimaksud dengan ruang tengah itu ternyata lumayan jauh, istana ini sungguh sangat luas! Jika tersesat mungkin perlu berhari-hari mencari jalan keluarnya. Aku mengikuti Nemetis sambil berusaha mengingat jalan yang telah kami lalui dan sampailah kami di depan sebuah pintu batu besar yang di jaga oleh beberapa pengawal. Begitu melihat Nemetis mereka langsung membukakan pintu. Sungguh sangat besar dan ramai tempat itu. Tempat duduk tertata mengelilingi seluruh ruangan dengan bentuk seperti di opera house semuanya penuh orang.


Di tempat yang lebih tinggi ada sebuah singgasana dengan 2 buah tempat duduk yang megah. Dan di sisi kiri dan kanan ada beberapa kursi yang mengapitnya. Sepertinya yang duduk di sana adalah orang-orang kepercayaan raja dan hanya 1 kursi yang kosong dan itu tepat di sebelah singgasana raja singgasanai permaisuri tampaknya kosong (mungkin sudah meninggal atau belum punya permaisuri, tau deh).


Saat kami memasuki ruangan semua orang yang duduk di sekitar ruangan bangun dan memberi hormat dengan membungkukkan badan, sepertinya itu ditujukan pada Nemetis. Berada di dekat singgasana raja, Nemetis membisikkan agar mengikuti apa yang ia lakukan. Sang raja turun dari singgasana dan mendekat ke arah kami, Nemetis pun berlutut dan aku mengikutinya.


"Berdirilah, buka topengmu itu. Seharusnya kau tak perlu mengenakannya." dari suaranya aku yakin raja ini masih muda. Mungkin seumuran Nemetis, sangat muda dari yang aku bayangkan. Tapi karena raja itu memakai topeng aku tak bisa melihat wajahnya. Walau wajahnya tertutup aku bisa merasakan pancaran mata yang sangat menyelidik. Aura yang terpancar darinya bagaikan harimau yang sangat siaga terhadapku. Mungkin karena aku orang asing yang memasuki wilayahnya.


"Kau kah yang orang yang ditampung oleh Nemetis?"


"Benar. Sebelumnya saya minta maaf karena mungkin anda merasa terganggu dengan saya, tapi saya bukanlah musuh atau orang yang berbahaya. Saya hanya murid sekolah biasa."


Dari dekat aku baru dapat melihat sosoknya dengan baik, orang ini tinggi, sangat tinggi, meski harus kuakui Nemetis masih lebih tinggi dari orang itu. Mungkin sekitar 180 cm bahkan lebih, rambutnya hitam legam, panjang diikat dengan pita sutra warna hitam.


"Edden!" Nemetis menegurku. Orang-orang di ruangan itu ribut. Mungkin aku termasuk lancang ya, bicara seperti itu pada raja.


"Tak apa. Tajam juga instingmu. Auramu juga bagus. Tapi, Nemetis..."


"Ada apa yang mulia?"


"Kenapa kau memakaikan peninggalan kerajaan Setylon padanya? Bukankah ada ratusan perhiasan yang bisa kau pakaikan, kenapa memilih itu?"


"Karena dari dirinya saya merasakan darah suku Setylon. Dan ia memiliki telur rint yang hanya dimiliki suku Setylon." Tiba-tiba ruangan itu agak bising karena orang-orang yang ada di sana saling berbisik bahkan terang-terangan berkata seolah mereka ragu. Hei, aku juga masih meragukan semua yang dikatakan oleh Nemetis. Bukannya dia bilang orang-orang sudah tahu?


"Anak kecil ini? Kau yakin?"


"Ini buktinya." ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Telur rint yang aku letakkan di dalam tas! Rupanya dia mengambilnya saat aku tak sadar. Bagaimana telur sebesar itu masuk saku?!


"Iya, ini memang telur rint suku setylon. Warna ungu dengan garis nadi berwarna emas, merah, dan kuning. Ini milikmu?"


"Sebenarnya saya tak yakin. Karena saya baru menemukan telur itu sesaat sebelum terlempar ke dunia ini."


"Berarti selama ini kau tak tahu apa-apa. Apa kau anak kandung dari keluarga yang membesarkanmu?"


"Saya anak angkat. Keluarga saya hanya memiliki 1 anak laki-laki.


"Berarti tidak tertutup kamu adalah keturunan suku Setylon." meski sudah di pastikan mungkin sebaiknya pura-pura tidak tahu saja.


"Mungkin iya, mungkin tidak. Saya hanya ingin tahu kapan saya bisa kembali pulang ke tempat asal saya."


"Orang yang tidak sabaran. Perlu waktu lama. Sihir pindah dimensi itu memerlukan kekuatan yang besar jadi perlu mengumpulkan banyak kristal energi. Lagipula orang yang memiliki kemampuan itu sedang tidak di tempat."


"Mungkin sebaiknya saya saja yang mengurus Edden, Yang Mulia. Saya kurang yakin untuk membiarkan Edden ada di istana."


"Maksudmu istanaku tidak aman?"


"Bukannya ingin lancang, tapi Edden butuh tempat yang lebih tenang. Dia perlu belajar tentang keadaan di tempat ini. Memang di istana banyak pengawal, tapi saya rasa dengan tinggal bersama saya dia lebih bisa saya jaga dan awasi keadaannya."


"Nemetis-" tadinya aku ingin bicara tapi suaranya terdengar di kepalaku. Telepati.


"{Jangan bicara apapun! Aku tak mau terjadi hal yang di luar wewenangku. Raja di depanmu ini adalah sepupuku. Aku tahu benar sifatnya. Bisa bahaya jika kau salah bicara. Aku yang akan mengurus semuanya}"


Oalala…..! ternyata dia sepupu raja! Pantas saja dia dihormati oleh semua orang! Itu artinya di dalam darahnya mengalir darah keluarga raja dan boleh dibilang seorang pangeran di planet ini. Aku harus mulai menjaga mulutku saat bersamanya, jika tidak aku bisa habis nih!


"Benar juga, tak mungkin langsung tinggal di istana saat pertama ke sini. Baiklah, aku titipkan dia padamu saudaraku. Ajari dia semua yang bisa kau ajarkan."


"Semua?" aku bertanya-tanya dalam hati.


"Maaf yang mulia." seorang turun dari kursi di sebelah singgasana raja. Pria yang sudah cukup berumur, mungkin sekitar 60-70 tahun. Rambut dan janggut yang sudah memutih namun dari auranya kuat sekali memperlihatkan ia adalah orang yang hebat. Tapi.., ada sesuatu yang membuatku merasa kalau dia tak asing. "Saya ingin mengajukan diri sebagai salah seorang yang melatih anak ini." Makin berisiklah ruangan itu karena kakek ini.


"Jenderal Widder, anda serius? Bukankah selama ini anda selalu menolak menjadi pelatih prajurit maupun anak bangsawan di kerajaan ini."


"Anak ini mengingatkan saya pada almarhum putri sulung saya, tatapan matanya mirip sekali…" ia tersenyum padaku.


"Maaf, bukankah saya hanya menumpang. Tak perlu di ajari yang macam-macam kan?"


"Nona, disini adalah tempat yang berbeda dengan duniamu, walau hanya menumpang, saat kami tak ada di sekitarmu kamu harus bisa menjaga diri dan bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarmu."


"Kakek, apa disini seberbahaya itu?"


"K-Kakek?! Panggil dia Jendral atau Raja Widder!" Nemetis menjitakku dengan sepenuh hatinya. Sakit sekali!


"Hahaha! tidak apa-apa! Pangeran tak usah mempermasalahkan itu."


"Maaf, jendral-"


"Tak apa, panggil kakek saja. Atau ayah juga boleh!" sekali lagi aku merasa terhantam sesuatu ketika melihatnya tertawa. Apa aku kenal orang ini? Atau mungkin dia ada hubungannya dengan kedatanganku ke dimensi ini? Sebisa mungkin aku tidak boleh terlalu curiga tanpa alasan.


"Jendral, jangan bercanda." Sang raja pun tampaknya agak segan.


"Maaf pangeran Nemetis. Sudah lama saya tidak tertawa seperti tadi. Bagaimana nak? Apakah kau mau menjadi muridku?"


"Tentu saja, suatu kehormatan punya guru seorang jenderal." aku agak membungkuk sebagai bentuk terimakasih.


"{Di luar dugaan kau pintar bicara ya}" sepertinya dia marah.


"Baik! Silakan datang ke istana atau rumahku kapan saja kau siap."


"Hm, sungguh sangat menarik. Kesempatan langka bisa dilatih oleh jendral terkuat di kerajaan ini. Nemetis, kau boleh lakukan apa yang kamu mau."


"Baik yang mulia, jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan kami permisi."


Sebenarnya aku agak bingung dengan Jendral tadi tapi karena Nemetis memberi isyarat untuk keluar maka aku mengikutinya. Sampai di luar ruangan dia mencubit pipiku dengan gemas.


"Kau! Hampir membuatku mati ketakutan! Apa kau tahu apa hukuman jika bicara lancang terhadap raja maupun pejabat istana?!"


"Hukuman cambuk, pukul, penjara, denda bahkan mati. Itu yang sering kubaca di buku."


"Bukan sering! Tapi memang begitu! Lain kali jangan bicara sembarangan!"


"Maaf, aku akan lebih berhati-hati kalau bicara."


"Itu lebih baik! Ini bukan di duniamu dimana perbedaan status sudah tak terlalu di permasalahkan. Di sini para penguasa sangat berkuasa. Bahkan seorang bangsawan bisa membunuh orang yang tak disukainya di depan umum tanpa takut dihukum."


"Iya, akan kuingat."


"Ugh…, kalau kau pasang wajah begitu aku jadi seperti memarahi anak umur 5 tahun." Nemetis bersungut-sungut tapi tangannya masih saja mengacak-acak rambutku. "Rasanya umurku untuk hidup berkurang beberapa tahun karenamu."


"Eh?! Bukannya anda keluarga raja?"


"Tapi aku sudah lama mundur dari dunia politik, sekarang statusku tidak lebih dari bangsawan biasa, penyihir, tabib, atau guru."


"Pensiun dini yang sangat dini."


"Bahasamu itu...."