My Home

My Home
Chapter 06



"Seminggu serasa sebulan..." Gumam Edden yang tengah membantu Sezya menyiapkan makan siang. Tugasnya hanya sebagai tukang potong dan cuci sayur saja karena dia bahkan belum tahu apa nama dan kegunaan bahan makanan di sini. Beberapa terlihat sama saja dengan di bumi, namun bagaimana kalau kalian menemukan stroberi sepedas cabai? Anggur yang lebih manis dari gula, jeruk yang menyedot puluhan liter air dan bisa meledak, pisang yang sekeras batu harus di panaskan kalau mau di makan. Masih banyak benda aneh lain yang membuatnya di larang menyentuh apapun tanpa ijin.


"Itu kata-kata yang sangat berlebihan, nona."


"Masalahnya perbedaan waktu tempatku biasa tinggal dan di sini jauh sekali. Kadang sehari di sini bisa 30jam sampai 40 jam. Itu perbedaan yang jauh sekali."


"Hum...berarti sehari di planet yang anda tinggali pendek?"


"23 sampai 24 jam saja."


~Edden POV~


"Hanya setengah hari di sini, kami bahkan takkan punya waktu untuk istirahat." mau protes tapi itu benar, terkadang saat kita sedang sibuk tahu-tahu sudah malam dan saat sulit tidur malah sudah subuh. Tempat ini memang cocok dengan kata 'Bekerja hingga lelah, istirahat hingga bosan.'


Di sela-sela mengurus rumah, Sezya mengajariku membaca, menulis dan bahasa yang umum di gunakan di tempat ini. Seminggu ini aku mulai belajar membaca buku dengan catatan kalau-kalau lupa huruf dan artinya.


"Sebagai awal, anda baca saja sejarah bergambar untuk anak-anak." Buku sejarah anak-anak katanya, tapi buku yang dibuat seperti komik dan novel itu sendiri tebalnya hampir seribu halaman dan sebesar kardus Air mineral kemasan tanggung. "Ini sejarah awal galaksi saat masih perebutan kekuasaan dan jaman perang sekitar 10ribu tahun lalu."


"Ebusyet...." aku merasa agak kasihan dengan anak-anak di tempat ini yang harus belajar dengan buku segini hanya untuk satu materi pelajaran. "Gimana bawanya ke sekolah ya?"


"Anak-anak umumnya hanya belajar di rumah atau balai desa. Bangsawan belajar dengan guru privat dan masuk sekolah yang sesuai dengan kriteria mereka di usia 10 tahun hingga 20 tahun walau ada juga yang memulai lebih lambat karena keterbatasan materi dan perkembangan kemampuan mereka."


"Kriteria?"


"Bagaimana menjelaskannya ya... semua tergantung kemampuan sihir, kemampuan fisik, kemampuan otak, dan pastinya uang."


"Okeh, terakhir memang wajib." Pendidikan di manapun mahal. "Walau kadang pasti ada yang masuk sekolah bagus hanya berdasarkan uang dan status." Sezya mengangguk sepenuh hati.


"Sekolah paling lengkap sendiri ada di Galaksi Endrion, Planet pusat Endrion tentunya. Istana di sana sengaja di ubah menjadi pusat pendidikan dan pemerintahan sehingga Keluarga raja membuat mansion kecil di belakang sekolah sebagai ganti tempat tinggal. Mereka satu-satunya yang melakukan itu di galaksi ini."


"Istana kan lambang kekuasaan, masa di jadikan sekolah juga...."


"Ya kan? Banyak yang menentang tapi mereka tidak perduli, malah mengancam membubarkan sistem pemerintahan kalau menentang. Pejabat dan lulusan terbaik sendiri terkadang menjadi guru di kelas tertentu, jadi kalau mereka ternyata tidak memenuhi kriteria jabatan dan kemampuan semua haknya di batalkan."


"Tsadest, savage njir!" sebuah pukulan pelan mengenai belakang kepalaku "Sezya!" tapi dia ada di depanku, jadi tidak mungkin memukul dari belakang.


"Jangan gunakan bahasa itu lagi jika kamu bertemu orang lain yang tidak dikenal."


"T-tuan Nemetis..., anda sudah kembali." alisnya mengernyit saat aku memanggilnya begitu.


"Selamat datang kembali, Tuan."


"Apa kamu yang mengajarinya bicara begitu Sezya?" kami mengangguk bersamaan.


"Ada yang salah tuan?" tanyaku


"Separuhnya iya, Ed. Tuan, itu hanya jika kamu memanggil suamimu, majikanmu, atau orang yang kastanya lebih tinggi. Setidaknya gunakan itu jika kamu bicara di tempat umum denganku atau orang lain."


"Tapi memanggil orang asing dengan akrab juga tidak boleh kan? Dan dari situasi kedudukanmu kan lebih tinggi dari aku, eh saya yang orang biasa."


"Kamu adalah tamu, tidak ada kewajiban memanggilku dengan sebutan 'Tuan'."


"Lalu? Apa aku panggil kakak?"


"...itu juga tidak cocok. Mungkin.... 'Amera' dalam artian bahasamu artinya 'Guru' atau Nemetis yang memang nama lebih cocok. Karena secara tidak langsung aku akan jadi Gurumu selama tinggal di sini."


"Sebenarnya bukan masalah, hanya saja orang yang ingin kutemui malah sedang tidak di tempat sejak beberapa hari lalu. Dan di istana mereka ribut karena peninggalan Galaksi Setylon yang sudah ratusan tahun di simpan sekali lagi bereaksi yang artinya itu adalah dirimu. Kali ini kami tidak bisa menyangkal darah yang mengalir di tubuhmu."


"Jadi benar ya aku orang 'sini'..." Sungguh kenyataan gila, bagai film fantasi menyebrangi ruang dan waktu untuk pergi ke dimensi dan waktu yang berbeda kini aku kembali ke dunia asalku 300 tahun kemudian. "Tunggu tadi kamu bilang 'sekali lagi'?"


"Kejadian ini pernah terjadi 15 tahun lalu. Salah satu Pangeran Setylon kembali dalam keadaan luka parah. Baginya dia baru saja lari dari perang tapi bagi kami itu sudah berakhir 300tahun lalu."


"Lalu menurutmu aku salah satu keturunan planet itu?"


"Kau... darah murni. Seharusnya ada 4 anak yang selamat. 2 anak usia 12 dan 11 tahun, dan 2 bayi. Aku yakin kamu salah satu bayinya."


"....saudaraku?"


"2 kakakmu. Tapi bukan hakku menjelaskan siapa mereka. Apa kamu mau menunggunya?" Aku terpana melihat wajah Nemetis yang justru terlihat sedih padahal dalam situasi ini aku lah yang seharusnya merasa berat hati "Aku yakin dia bisa membawamu kembali ke dimensi tempatmu tumbuh besar seperti dia mengantar anak yang tersesat kesini 10 tahun lalu ke dimensinya saat ini."


"Berapa lama dia akan kembali?"


"Dari pesan yang ditinggalkannya, setidaknya kamu harus menunggu 1 sampai 2 tahun."


"Lama sekali..." Aku sudah berpikir sejak Sezya bilang perlu waktu bertahun-tahun untuk melacak dimensi, tapi aku masih harus menunggu orangnya kembali dan menunggu waktu yang dia butuhkan untuk mengembalikan ku tanpa kepastian "Aku mau cepat pulang...." tanpa bisa kubendung perasaan di dadaku akhirnya meluap. Mataku panas dan buram, lelehan hangat mulai membasahi pipiku. Sekuat apapun aku berusaha, bersikap tenang dan mencerna situasi, aku tetaplah anak-anak yang takkan bisa jauh dari rumah tempatnya tumbuh besar.


"No-nona!" Aku bisa tahu Sezya panik karena aku menangis, Nemetis membiarkanku menangis mengeluarkan seluruh emosiku. Tanpa peduli malu aku menangis sekeras yang kubisa, menjerit seperti orang gila, di sela-sela tangisku aku mendengar suara gemuruh dari sekitarku dan jeritan orang-orang di luar sana. Apa peduliku? Aku hanya bisa menangis meratapi nasib hingga lelah dan tak ingat apapun lagi.


.


.


.


.


.


~Normal POV~


Nemetis menatap remaja yang menangis sekuat tenaga meratapi nasibnya. Dia tidak berniat menghentikannya, meski rumahnya mulai bergetar bagai gempa dan orang-orang di luar sana juga menjerit ketakutan karena gempa makin besar merambat ke seluruh penjuru desa seiring makin keras jeritan tangis anak itu. Semua kerusakan bisa dia perbaiki, tapi dia tidak yakin bisa menahan anak itu jika mengamuk lebih jauh.


Telur Rint yang merasakan luapan emosi dan dan energi majikannya menggelinding perlahan dan melayang di sekitar Edden. Perlahan energi yang meluap di hisap, membuatnya bertambah besar tiga kali lipat hingga menyamai genggaman tangannya. Kekuatan yang bisa membuat telur Rint Setylon membesar seketika itu seharusnya cukup untuk meletuskan gunung berapi. Perlahan tangisnya makin lemah hingga dia oleng. Tangannya segera menopang tubuh Edden sebelum kepalanya membentur meja. Dia pingsan kelelahan meski masih sesegukan hingga sesak nafas.


"Selama aku pergi dia tidak pernah marah-marah atau menangis?" Sezya menggeleng kuat-kuat, dengan saputangan nya dihapusnya airmata Edden.


"Nona bersikap biasa saja, bahkan terkesan ceria berkeliling desa dan belajar dengan senang hati."


"Dia menahan diri dengan baik selama aku tidak ada. Bersaudara yang merepotkan."


"Maksud anda Tuan Marga?"


"Siapa lagi? Coba lihat rambut ini, menurutmu dari sekian milyar orang berapa banyak yang memiliki rambut yang sama persis?"


"Apa tidak sebaiknya saya bawa ke kamar?"


"Ah, biar aku saja. Tolong siapkan makanan dan minuman alkohol untukku. Aku yakin anak ini tidak akan bangun sampai besok bahkan lusa." Mata Nemetis kini tertuju pada telur yang melayang mengelilingi dirinya yang menggendong Edden "Sebaiknya kamu tetap ada di samping anak ini hingga energinya stabil, telur kecil." telur itu bergoyang-goyang seakan mengiyakan dan mengikuti Nemetis dari belakang.