My Home

My Home
Chapter 02 Isekai?



Edden merasa tubuhnya nyeri seperti habis dibanting dalam latihan karate atau judo. Kepalanya yang memang sudah sakit sejak dia tersedot ke lubang cacing yang entah kenapa bisa makin menjadi hingga darah segar menetes dari kedua lubang hidungnya. Dengan panik di cari nya saputangan untuk menutup hidungnya.


Mendapati dirinya tersadar di tengah pepohonan yang bisa jadi adalah hutan belantara membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana jika ada binatang buas yang mencium bau darahnya? Bagaimana caranya dia keluar dari tempat ini? Apa dia bisa kembali atau malah akan mati konyol di sini?


"Duh, gimana nasibku dan Harron? Dia terlempar ke mana ya...?"


Lama dia menunduk, termenung sembari menunggu mimisannya berhenti. Hampir seluruh saputangannya basah oleh darah tapi setidaknya sakit kepalanya berkurang. Di tasnya ada air jika ingin membasuh saputangan itu, tapi sepertinya membuangnya adalah pilihan yang lebih baik karena air minum penting untuk saat ini. Untung saja ranselnya tidak hilang, seingatnya Harron juga masih memiliki Ranselnya yang penuh makanan... yang untuk pertama kalinya membuatnya merasa iri.


"Tahu begini aku beli banyak juga!" siapa juga yang bakal mengira dia akan mengalami hal begini. (Rin : hey, jangan tatap aku)


Matanya menyapu sekitarnya, tempatnya berada saat ini agak terbuka dengan di kelilingi pohon seperti bakau atau beringin dengan daun ungu lebar dan batang merah. Bau manis seperti mangga madu tercium dari sekelilingnya. Mungkin bau itu malah membuat hewan buas tidak bisa mencium bau darahnya tadi. Menggunakan kotak pensil, Edden menggali di rerumputan untuk mengubur saputangannya yang belepotan darah. Matanya menatap langit untuk mencari arah tapi warna langit yang ungu jingga membuatnya sulit menemukan bintang utara meski dia tidak yakin akan menemukannya. Hari menjelang malam, jam tangannya menunjuk ke angka 7 dan kompas kecil di jam tangannya berputar tanpa henti yang artinya medan magnet di sekitarnya terlalu besar.


Harus kan dia mencoba keluar sekarang atau malah menunggu pagi? Bisa saja jalan dengan penerangan senter dari ponsel tapi dia ragu. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu pagi. Berbaring dengan ransel sebagai bantal, matanya menatap langit yang perlahan berubah makin gelap dan bintang bermunculan. Jumlah bintang yang sangat banyak menyerupai Milky Way membuatnya menghela nafas berat. "Kalau langitnya begini gimana para astronom menentukan arah? Eh, itu kan beda dunia jadi beda juga urusannya."


Menghitung bintang sambil memikirkan keluarganya akan sangat marah jika dia dan Harron tidak ada dirumah saat mereka kembali, alasan apa yang harus dia berikan? Akhirnya menyerah untuk berpikir, kantuk membawanya ke alam bawah sadar. Dalam tidur nya dia bermimpi di peluk oleh seseorang sambil melihat bintang jatuh dari sebuah rumah pohon yang tinggi. Mungkin itu ingatannya saat masih bayi dan dia yakin yang bersamanya bukanlah kakaknya yang sekarang. Warna rambut anak dalam mimpinya sama dengannya.


Matanya terbuka disambut pepohonan yang mengelilinginya, masih agak gelap. "Subuh?" pikirnya dilanjutkannya tidurnya. Kali kedua membuka mata dia pun terheran- heran, suasana masih gelap padahal jam tangannya menunjuk pukul 8 pagi. "Apa malam disini lebih panjang?"


Sarapan dengan sekotak susu dan setengah bungkus keripik kentang, menjelang jam 10 matahari pun terbit. "Timur apa mana ya terbitnya..."


Di langit ada beberapa burung yang jika dilihat dari parahnya sepertinya pemakan ikan atau daging. Sesuai insting mereka pasti mencari sungai atau danau untuk mencari makan. Ke arah burung itu terbang lah Edden melangkahkan kakinya dan mulai memasuki hutan.


Setiap langkahnya dia mencoba membuatnya tidak terlalu bersuara, sangat berhati- hati melihat kakinya, takut ada ular atau sisi kiri kanan dan atas jika ada sesuatu yang muncul. Pohon ungu itu tumbuh sangat rimbun dengan berdekatan, hampir mustahil melihat langit saat ada di balik tumbuhan pohon beraroma manis itu. Batang dan akarnya mencuat keluar tanah bagai pohon bakau dan ada akar gantung seperti beringin. Hampir 2 jam berjalan, pepohonan di sekitarnya mulai tampak seperti pohon yang biasa dilihatnya, bahkan dia menemukan sekumpulan pohon berry dan strawberry liar. Ia pun memenuhi kotak makan siangnya dan mengisi perutnya dengan buah.


"Aturan dalam hutan, jangan menghabiskan semuanya karena pasti ada makhluk lain yang memakan buah yang kita temukan." Gumamnya, sembari melihat sekeliling masih banyak yang tersisa, ada jejak seperti kelopak bunga, sepertinya milik hewan sejenis rusa atau kambing hutan.


Jam tangannya menunjukkan pukul 5, yang ada dalam bayangannya adalah hari menjelang sore. Namun begitu keluar dari hutan dia melihat langit tak ada bedanya dengan tengah hari.


"Sepertinya satu hari di sini lebih lama dari bumi. Malam saja kalo dihitung lebih dari 15 jam...siangnya berapa jam ya..." Akhirnya langkahnya terhenti setelah mendengar suara air. Dengan semangat Edden berlari dan menemukan dirinya tengah berdiri di tepi tebing yang tidak terlalu tinggi. Tepat di depannya danau berwarna biru gelap membentang luas. Ada beberapa perahu yang tertambat tidak jauh darinya. Sayangnya tidak ada orang yang terlihat.


"Udah siang kok masih sepi?" Mencari lokasi aman untuk turun, akhirnya dia memilih melompat karena posisinya terlalu tegak lurus dengan tanah. Nyaris saja mencium tanah jika tangannya tidak ikut menopang badannya saat dia mendarat. Sebenarnya ranselnya juga berpengaruh karena lumayan berat "Untung tidak terkilir."


Tidak jauh dari perahu ada pondok yang sepertinya dipakai untuk peristirahatan atau tempat menjemur ikan. Alat pancing ditinggal di sana bersama jaring dan kapak. Para nelayan pasti sangat percaya kalau tidak akan ada yang mencuri alat mereka atau menggunakannya tanpa ijin.


Kembali menyusuri pinggiran danau, akhirnya tampak jalan setapak yang mengarah ke sisi lain. Tampaknya kali ini mengarah ke pemukiman penduduk.


Jika malam atau sore terasa wajar jika desa sepi, namun ini masih siang, masih waktunya orang bekerja, anak-anak bermain, ibu- ibu bergosip...er...lupakan yang terakhir.


Setelah beberapa ratus meter akhirnya mulai terlihat rumah- rumah batu yang kokoh. Di sepanjang jalan, halaman, belakang rumah tak nampak satu pun warga. Jika ini desa yang ditinggal, tidak mungkin ada kayu bakar di halaman rumah dan semua terlihat bersih.


"Satu yang menjelaskannya adalah para warga bersembunyi dalam rumah untuk menghindari sesuatu." Edden merasa badannya merinding memikirkan binatang apa yang bisa membuat warga satu desa sembunyi. "Macan apa singa lepas, buaya jalan-jalan, pasukan ular pun masih tidak membuat orang enggan keluar rumah."


Memilih mencoba menemui warga, Edden memasuki halaman rumah yang paling besar. Baru beberapa langkah memasuki halaman, sesuatu menyambutnya, sebuah jaring yang entah muncul dari mana menangkapnya dan kini melayang tanpa tali beberapa kaki dari tanah.


"Jaring terbang?!"


Pintu rumah dari seluruh penjuru desa terbuka, para pria berlari melihat apa yang berhasil mereka tangkap. Ketika melihat yang ada dalam jaring hanya seorang remaja tanggung, mereka tampak kecewa.


"Maaf deh kalau aku bukan yang kalian inginkan!" serunya frustasi. Hal lain yang menyebalkan, dia tidak mengerti satu pun yang mereka katakan. "Perfecto, kore wa hounto isekai!" yah, mereka pun tidak mengerti apa yang dikatakannya.