
Ribut yang mereka lakukan lumayan lama karena Nemetis sungguh tidak percaya kalau Edden perempuan. Bahkan Rint milik Nemetis dipanggil untuk membuktikan dan membenarkan kalau remaja bersurai coklat kemerahan itu perempuan. Wajah kalah si pirang tidak bisa disembunyikan. Selama ini sepertinya dia belum pernah salah mengenali maupun membedakan gender seseorang.
"Sezya, kamu urus dia selama aku pergi ke Istana. Ambilkan pakaian pakaian lama Christallino untuknya."
"Baik, tuan." Jawab Rint dengan perawakan gadis kecil seusia Edden. Sepertinya wujud Rint ini memang menyesuaikan dengan pemiliknya, rambut mereka sama. "Nona, apa mau mandi dulu selama saya siapkan makan siang?"
"Mandi!" mata Edden berkaca-kaca. Sudah 2 hari tidak mandi, badannya sudah lengket dan panas. Tanpa sungkan ia mengiyakan. "Oh iya, istana yang dikatakan Nemetis tadi apa jauh dari sini?"
"Kota tidak begitu jauh, hanya beberapa puluh kilometer. Beliau sepertinya tadi menggunakan kereta terbang karena berniat membeli sesuatu."
"Terbang ya....hehe...." tawa Edden datar. Rasanya dia takkan kaget jika ada hal seperti terbang atau monster naga di tempat ini. Edden memilih bertanya nanti saja saat makan, kini yang penting bersihkan diri!
Kamar mandi dengan interior sederhana hampir mirip kamar mandi + toilet orang Indonesia sangat bertolak belakang dengan rumah yang justru mirip bangunan kuno di Film Hobbit dengan interior mirip rumah penyihir di cerita Asia kuno. Entah semua rumah begini atau memang yang punya rumah suka mencampur semuanya.
"Sezya, boleh aku tahu tempat ini di mana?" tanya Edden saat mereka makan bersama.
"Ini Desa Para di perbatasan Istana Yets, Planet Yets."
"....Sampai sebut nama planet...jadi istana yang akan didatangi Nemetis itu istana pusat pemerintahan di planet ini?"
"Benar. Tuan adalah mantan Penyihir Istana jadi beliau sudah terbiasa ke istana."
"Masih semuda itu sudah jadi orang penting. Dunia lain memang beda!"
"Muda? Saya rasa majikan saya tidak semuda itu, tapi meski sudah tidak sesibuk dulu, pihak istana masih sering meminta bantuannya."
"Lalu, menurutmu apakah aku muncul di tempat ini karena kecelakaan atau memang sengaja?"
"...Kalau boleh jujur, saya merasakan energi lain dari anda. Dibanding dengan orang yang pernah saya lihat saat kecelakaan distorsi... anda lebih mirip orang yang berasal dari dunia ini."
"Kalau aku orang dunia ini berarti sama dengan aku kembali ke duniaku doang. Lucu sih, tapi aku bukan orang yang seperti yang kamu kira. Aku tidak punya bakat sihir."
"Nona, sihir ada dimanapun. Yang menjadi masalah adalah benda di sekitar anda tidak memiliki kemampuan itu atau anda tidak memiliki cara untuk menggunakannya."
"Tempatku tinggal memang tidak mengenal sihir. Mereka mengenal teknologi."
"Teknologi adalah bagian dari sihir buatan untuk non penyihir. Listrik, api, air dan angin sendiri adalah bentuk sihir alami yang bisa di buat manusia dan memang tersedia di alam. Tapi untuk menggunakan bentuk lain membutuhkan gabungan mereka dan alat perantara sihir."
"Masuk akal juga. Lalu soal telur tadi-"
"Rint itu saya rasa milik anda."
"Aku memungutnya bukan berarti langsung jadi milikku." Sezya menggeleng "Terus?"
"Macem dongeng roman kritis saja. Lagi pula aku besar di tempat yang berbeda, telur ini saja baru aku lihat kemarin."
"Nona, telur ini terpisah dari anda karena beda dimensi. Selain itu ada energi lain yang menyelimutinya. Saya memang bukan makhluk kuat seperti Rint petarung tapi saya tidak pernah salah membedakan energi. Anda memang berasal dari dimensi ini."
"Dimensi ini huh..." Edden tahu dia anak angkat tapi tidak pernah berpikir dirinya berasal dari dunia lain.
Orangtuanya menemukannya di taman kota saat hujan badai dengan keadaan luka sayatan dan bakar di punggungnya. Sampai saat ini bekas luka itu masih ada dan membuat teman- temannya takut. Saat mereka menemukannya usianya sekitar 13 bulan. Semua orang bahkan dirinya berpikir kalau dia sengaja dibuang setelah mengalami percobaan pembunuhan. Tidak ada laporan anak hilang, tidak ada laporan kelahiran yang cocok dengannya karena tidak mungkin orang lupa dengan bayi yang rambut nya coklat cerah dengan ujung rambut yang merah menyala. Warna ujung rambutnya selalu kembali meski dipotong sependek apapun, dalam beberapa hari warna merah akan muncul kembali di rambutnya.
"Ngomong-ngomong kenapa warga sembunyi di dalam rumah saat cuaca cerah begini?"
"Ada beberapa warga yang menjadi korban Rint liar, jadi sejak kemarin mereka memilih ada di rumah sambil menunggu pemburu yang akan membereskannya."
"Kenapa tidak Tuanmu yang melakukannya?"
"Itu...beliau tidak bisa tahan dengan ular."
"...." Dari wajah Nemetis, siapa sangka dia punya phobia ular. "Lalu bagaimana dia berhadapan dengan naga?"
"Karena naga punya kaki dan tangan jadi beliau tidak punya masalah."
"Hmpfh!" Edden menahan tawa hingga nyaris tersedak. Berarti bukan hanya ular, sepertinya si pirang juga takut belut atau cacing. Segala yang badannya lurus dan menggeliat adalah tabu bagi orang phobia ini. "Bagaimana bisa jadi penyihir kalau punya phobia." Sezya angkat bahu, sepertinya dia lah yang mengurus kalau ada bahan-bahan atau makhluk yang sejenis itu dalam pekerjaan majikannya.
Waktu setelah makan, dihabiskan keduanya membereskan kamar kosong dan memilih baju bekas Nemetis agar ada pakaian ganti untuk Edden. Beberapa pakaian membuat remaja itu berpikir selera pakaian orang-orang di sini mirip Romawi kuno atau Jepang dan China jaman dunia persilatan. Bahkan ada juga yang mirip tokoh di film Aladin. Kaos sederhana ada beberapa dan sebagian besar adalah pakaian dengan sabuk kain dan Shipao.
"Kalian ini, semua model pakaian di bumi jaman dulu dipakai ya? Untung tidak ada model penari perut atau India."
"India? Kalau yang mirip penari ada pakaian milik nona Seanne. Mau coba?"
"Tidak, terimakasih." jawabnya cepat dengan wajah horror.
Matahari terbenam hampir di angka 9 malam di jam tangan Edden. Hari di planet ini sungguh panjang, tapi malam yang panjang juga termasuk bagus karena ada banyak waktu untuk istirahat tapi kalau buat yang lembur sial sekali.
"Sezya, apa kamu melihat telur yang aku letakkan di meja depan tadi?" telur Rint yang tadi lenyap padahal baru sejam lalu dia letakkan di meja makan.
"Mungkin dia keluar jalan-jalan."
"Sezya, itu masih telur, loh!"
"Ya mungkin terbang atau menggelinding keluar. Saya tidak merasakannya di dalam rumah."
"...." Edden tidak bisa mengerti cara pikir orang-orang di sini. Telur bisa terbang atau menggelinding sendiri? Itu artinya telur itu sudah punya kesadaran. Tapi jika dipikir ulang, telur itu tidak pernah dibawa namun malah ada di depan pintu rumah Nemetis "Percuma juga mikirin." tidak ada hal logis di tempat ini.