My Home

My Home
Chapter 10



~Eddreine POV~


"Jangan melamun, kita sudah sampai. Coba lihat, itu rumahku."


Aku agak terkejut mendengar tegurannya, dari jendela kecil di kereta kuda yang kami naiki aku melihat rumah yang besar dan megah. Rumah seorang bangsawan yang tampaknya sudah tua, namun tetap berdiri kokoh. Saat memasuki pekarangan beberapa pelayan menyambut kami dan seorang wanita yang umurnya sekitar 50-60 tahun turun dari teras rumah itu. Ia tampaknya penasaran siapa diriku, namun ia tetap menyambutku dengan senyum.


"Tak biasanya suamiku membawa tamu, apa lagi masih anak-anak. Masuklah, akan kubawakan teh dan kue." ia pun bicara dengan semacam alat penerjemah yang dipasang di telinganya.


"Kau tak usah sungkan padaku jika perlu sesuatu, anggap saja ini rumahmu. Ayo masuk, akan kukenalkan dengan cucu dan anakku."


"Wah…, sudah berapa cucumu kek?" aku menggodanya.


"Jangan menghinaku!" Ia melempar topeng sebelumnya terikat di pinggangnya padaku namun aku berhasil mengelak dan menangkapnya "Cucuku baru 2!"


"Lho? Suamiku? Kenapa kau bersikap begitu padanya?" tentu saja sang nyonya rumah bingung.


"Tak usah sopan atau jaga sikap pada anak ini! Dia adalah Edden, sahabatku yang dulu kuceritakan padamu. Dia juga terlempar ke dimensi ini namun waktunya saja berbeda."


"Oh?! Jadi, jika datang bersamaan kalian bisa jadi seumur!" tampaknya istrinya mulai mengerti dan tertawa, sama sekali tak terlihat perasaan curiga padaku, bahkan seperti sudah mengenalku. "Ya ampun, ini menakjubkan!"


"Apa dia ini masih suka cerewet?" tanyaku pada istrinya. Sepertinya Harron pura-pura tak dengar dan masuk ke dalam, sementara aku diajak ke ruang tengah.


"Begitulah, sejak mulai bisa bahasa di sini dia cerewet sekali. Aku bingung entah aku harus memanggilmu nona, atau namamu saja."


"Panggil Edden saja, harusnya yang bingung itu saya, mau panggil nyonya atau-"


"Namaku Audine, akulah yang menemukan Harron saat ia terlempar di dimensi ini. Pamanku yang mengangkatnya anak. Dan menjodohkan kami saat Harron baru masuk istana sebagai pengawal pribadi raja sebelumnya. Kau tak perlu pakai bahasa formal denganku karena kau adalah teman suamiku."


"Yah, kami memang belajar bela diri sejak SD, jadi wajar saja dia punya kemampuan sebagai pengawal."


"Tapi…, apa memang sejak dulu Harron itu suka menyendiri? Ia tak terlalu banyak bergaul dengan orang lain."


"Kalau itu memang sifat jeleknya, teman kan cuma aku."


"Jangan cerita lagi! Kau ini, baru bertemu sudah membuatku kesal saja!" Harron datang sambil menggendong seorang anak kecil.


"Apa salahnya? Dia kan istrimu, wajar kalau ia ingin tahu soal dirimu, Har. Wah! Manis sekali! Cucumu? Kok tak mirip ya?"


"Dasar kau! Bisanya menggodaku saja! Kau pikir aku masih umur 7 atau 10 tahun?"


"Oh iya, sudah kakek-kakek!" aku dan istrinya tertawa melihat Harron yang salah tingkah karena kesal.


"Hei, kalau bicara dengan yang lebih tua itu sopan sedikit!” Sebuah buku menghantam kepalaku dari belakang “Siapa dia? Sok akrab saja dengan kakek, mana memanggil tanpa panggilan hormat!" muncul lagi seorang anak yang seumuran aku dan yang membuatku kaget dia mirip sekali dengan Harron (kalau tak setua sekarang).


"Zye! Jangan bicara kasar begitu!" tegur Audine, tampaknya anak ini memang serius mau menghajarku karena aku bicara pada Audine dan Harron dengan bahasa biasa. Oh dasar anak bangsawan, persis seperti yang ada di buku.


"Harron, ini cucumu juga?" tanyaku sembari mengusap kepalaku yang berdenyut.


"Iya, dia mirip aku saat masih kecil seumuran kamu kan?" bukannya minta maaf malah dia tampak melihat ini lucu.


"Hei, kau tak dengar kata-kataku tadi?! Siapa kau?!" wah, pemaksa sekali, kakek dan cucu sudah bagai pinang belah dua.


“Aku tak ada urusan denganmu.” tukasku kesal dan itu memang benar.


“Edden adalah tamu kakekmu.” Audine menengahi dengan nada menegur "Kau harus sopan pada tamu."


"Memangnya kenapa? Dia saja tidak sopan pada kakek dan nenek. Buat apa aku sopan padanya? Toh umur kami sama."


"Dia ini teman kakekmu!" sekali lagi Audine menekankan.


"Teman? Masa teman kakek anak kecil?"


"Bukan anak kecil, kalau kami datang bersamaan mungkin kau harus panggil dia nenek." Perasaan aku disindir oleh ikan haring satu itu, dia ingin balas dendam.


"Hah? Nenek? Kakek ngomong apa?" jelas sekali dia bingung, aku saja bingung ketika membayangkan dipanggil nenek oleh bocah ini.


"Edden ini adalah sahabat kakek saat masih di tempat asal kakek dulu, kami sama-sama terlempar ke galaksi ini namun terpisah dan sampai di masa waktu yang berbeda. Dia baru sampai disini beberapa waktu lalu. Kau sudah tahu kalau kakek bukan manusia dimensi ini kan? Juga cerita soal temannya."


"Yah, itu aku tahu. Tapi…, kenapa auranya beda dengan kakek?"


"Maksudmu?"


"Ia tak tampak berasal dari tempat yang sama dengan kakek, ia punya aura dan wajah yang mirip dengan guruku yang berhenti 2 tahun lalu."


"Gurumu?"


"Ia, dia anak angkat raja Gatra dan merupakan penyihir nomor 1 di Granders. Bahkan Tuan Nemetis pun kalah darinya. Tapi entah kenapa dia berhenti mengajar kami dan pulang ke planet Gatra, gosipnya dia selalu menang karena kebal sihir. Sekarang dia pemimpin dewan penyihir di 10 galaksi." Tampaknya anak ini memuja gurunya itu, dia sangat berapi-api menceritakannya.


"Hei, Zye! Apa kau tahu lebih banyak soal dia?!" Aku tersadar karena mendengar nama Nemetis disebut.


"Kenapa kau? Tertarik padanya?"


"Aku harus menemui orang yang membuatku datang ke tempat ini! Itu satu-satunya cara untuk pulang untukku! Aku harus memastikannya siapapun yang mungkin melakukan semua ini!"


"Lalu kau akan pulang?"


"Kalau kakek?" pertanyaan Zye membuatku terhenyak. Aku menatap Harron yang masih terpaku karena pertanyaan cucunya.


Beberapa saat kemudian dia menggeleng.


"Tentu saja kakek tinggal, mana mungkin kakek pulang dengan wujud begini?"


"Tapi kau tetap ingin pulang kan? Kau lupa? Saat kutemukan dulu tiap hari kau selalu mencari berita tentang anak lain yang terlempar ke dimensi ini selain dirimu."


"Sungguh? Apa itu benar, Har?"


"Sudahlah, itu kan dulu." ia memalingkan wajahnya, sepertinya malu. Istrinya juga tampaknya merasa tidak nyaman dengan alur pembicaraan kami "Masa aku meninggalkan keluargaku di sini?"


Getaran dari saku celanaku membuatku tersadar "Sepertinya aku harus kembali, Sezya sepertinya mencariku."


"Tau dari mana?" Zye menaikkan alisnya, duh mirip sekali dengan kakeknya.


"Ini." Ku keluarkan cermin pemberian Nemetis, cermin itu bergetar cukup keras. saat kusentuh tengahnya, wajah yang tidak kusangka malah muncul.


"Kemana saja kamu?! Membuatku cemas saja! Ada dimana?! Akan kujemput sekarang juga!" bagus, dia tak memberiku kesempatan bicara.


"Pangeran Nemetis." Harron mengambil alih cermin itu.


"Raja widder? Dia bersama anda?"


"Ya, di rumahku. Tenang saja, kami sedang ngobrol bersama."


"Hei Ed! Kenapa kau tak bilang?"


"Mana bisa bilang, kamu nyerocos seperti bor beton ngebor tembikar saja. Lagipula aku sudah pamit pada Sezya kenapa kamu bisa tidak tahu?"


"Aku langsung ke kamarmu tanpa menemui anak itu." sweat drop, semua orang menatapku penuh tanya. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu di depan banyak orang. "Aku akan ke sana menjemputmu." seenaknya saja dia memutuskan.


"Wah, baru pertama kali aku melihat guru besar bisa sepanik itu. Lagi pula perumpamaan macam apa tadi?" Zye tampaknya berusaha mengalihkan suasana yang kaku.


"Itulah Edden, suka mengutak atik bahasa. Tapi herannya nilainya selalu bagus."


"Kalau kakek?"


"Pastinya kacau" sahut sang istri.


"Kenapa kamu malah menyudutkanku, kau kan istriku?!"


"Dilihat juga tahu kamu lemah dalam soal bahasa. Belajar bahasa planet ini saja kamu perlu waktu 1 tahun kan?"


"Wah, ternyata kakek payah..." cucu dan kakeknya itu saling adu deathglare.


Nemetis muncul di tengah-tengah kami "Maaf merepotkan anda Raja Widder. Anak ini belum tahu apa-apa tentang tempat ini."


"Saya yang membawanya kemari jadi saya yang harus minta maaf membuat anda panik."


Nemetis menarik nafas lega, sepertinya dia takut aku menyinggung perasaan orang penting di sini.


"Jadi kenapa buru-buru sekali mencariku?"


"Ah, aku mendapat panggilan mendadak dari rumah besarku, karena itu aku harus pergi malam ini juga. Tadinya aku mau membawamu kembali ke desa tapi kamu malah menghilang." Sepertinya Nemetis tidak rela meninggalkanku di Istana yang asing dan besar. Aku sendiri lebih suka di desa.


"Baiklah-"


"Jika anda tidak keberatan, maukah membiarkan anak ini bersama kami selama anda tidak ada?" Audine menarik tanganku yang akan pergi bersama Nemetis "Di sini lebih aman dari tempat manapun yang bisa anda cari."


"Aman?" aku sama sekali tidak berpikir kalau aku dalam bahaya. Nemetis sepertinya juga terlalu sensitif untuk membiarkan ku sendiri.


"Nyonya, apa anda yakin?"


"Meski anda tidak percaya pada bangsawan lain, setidaknya jangan lupa siapa keluarga kami, terutama suamiku."


"Ah, mungkinkah?" Menatap aku dan Harron bergantian berpikir sejenak. "Begitu ya, sepertinya aku mulai pikun. Maaf, kalau begitu saya akan menitipkan anak ini di sini sementara saya tidak ada."


Akhirnya Nemetis membiarkanku di rumah keluarga Widder selama dia pergi. Sezya sepertinya harus ikut karena itu dia bingung harus meninggalkanku sendirian. Semua barangku di Istana di bawa oleh Sezya ke rumah ini. Nemetis dan Sezya di paksa tinggal untuk makan malam sebelum pergi. Makan malam di rumah ini sangat ramai karena anak dan menantu Harron (orang tua Zye) pun datang.


.


.


.


.


.


TBC