My Home

My Home
Chapter 01 Bad Day



Edden Point of View :


Bagi kalian yang suka baca komik apa lagi yang bertema isekai, terkadang pasti berpikir pengen merasakan bagaimana rasanya ada di dunia lain atau dimensi lain. Tapi giliran disuruh pilih metode, mau mati dulu apa langsung dipanggil? Jujur deh, milihnya pasti prosedur yang ngak sakit. Siapa sih yang demen sakit, pastinya enakan instan? Emang masochist kali ye, mau - mau aja lewat jalur menyakitkan.


Nah, sekarang nasibku sendiri lebih mengenaskan dari pada para Hero atau Heroine yang ada di komik. Sekarang aku malah sendirian ditengah hutan, di hari menjelang malam, dengan perut keroncongan!


Mari berkenalan dulu, aku Eddreine atau bisa kalian panggil Edden. Murid kelas 2 SMP yang sebentar lagi ujian kenaikan. Kalau diingat lagi, pagi ini aku bangun dengan kepala mendarat di lantai setelah mimpi mancing ikan Hiu dan ikan itu malah melompat ke arahku dengan mulut terbuka hendak menerkam. Kepalaku bahkan masih sakit hingga sekarang sehingga aku yakin sekarang aku tidak sedang bermimpi.


Sarapan roti dan telur yang nyaris gosong karena kakak iparku lupa mematikannya ketika dia lari ke kamar kecil karena kebelet, lidahku serasa mati rasa sampai siang karena rasa pahitnya.


Sampai sekolah, nyaris telat karena Harrison alias Harron si ikan haring malah meninggalkan buku peerku yang dipinjam semalam di rumahnya. Kenapa aku ikut telat padahal bisa saja cuma dia yang perlu pulang? Karena dia meninggalkan tasnya yang berisi kunci rumah saat aku menunggu di halte bis. Jadilah aku harus ke rumahnya membawakan kunci.


"Hari apa sih ini, dari pagi tak ada yang benar!" Gerutuku sambil makan dan mencatat materi yang terlewat karena permisi ke toilet.


"Hari sialmu lah." tebak siapa yang menjawab begitu, si ikan haring.


"Kalo bukan kamu yang pikun, kesialanku takkan bertambah!"


"Aduh~, cayang... kamu tahu kan aku banyak pikiran~ mana mungkin hanya mengingat tentang dirimu~"


"Lebay mode : OON." keluhku yang disambut tertawaan teman-teman yang ada di dekatku.


"Hey, ini masih siang. Jangan main drama yaoi dulu!" seru salah satu dari mereka.


"Idih...yaoi..." yang lain berpura-pura jijik tapi cengiran geli di wajah mereka tak bisa bohong.


"Aduh, lupa aku rekam!"


"Brengkengan!" (makian dalam bahasa bali) umpatku makin kesal "Kami bukan GAY!"


"Mirip lah." entah paduan suara atau apa, hampir satu kelas mengatakan itu. Bikin kepala makin nyut - nyutan saja.


Hingga sekolah selesai jam 3 siang tak ada lagi hal menyebalkan, yah normal lah meski ada kuis dadakan di pelajaran fisika yang kubenci. Paling an remidi, atau dapat peer double kalau hasilnya kurang.


Dalam perjalanan pulang, aku dan Harron singgah ke mini market yang ada di dekat halte bis untuk beli makanan dan camilan. Di rumah kami selalu sepi karena semua bekerja. Sejak bayi kami sering di titipkan di tetangga atau penitipan anak. Setelah kelas 4 SD kami dibiarkan tetap di rumah dengan catatan tidak boleh mengacaukan rumah atau dapur. Mentok-mentok cuma boleh buat Cup Noodles dengan air dari dispenser.


Aku yang sudah selesai menunggu di luar sementara Harron masih menunggu minumannya dibuat. Aku bengong melihat orang lalu lalang, ada juga roh yang tampaknya mencoba melakukan hal jahil. Selama tidak berbahaya aku memilih mengacuhkan mereka. Jika mereka tahu kita bisa melihat, terkadang mereka mengikuti dan susah sekali dilepas.


Lumayan lama menunggu, Harron pun keluar dengan ransel yang terisi penuh. Kami mengobrol soal hari ini dan sepertinya aku memang bakal kena remidi. Memasuki gerbang perumahan aku hampir menginjak tas kertas yang tergeletak di jalan. Iseng aku menendangnya pelan dan sebuah telur menggelinding dari dalamnya. Telur berwarna krem dengan motif pembuluh darah warna emas. Anehnya telur yang seharusnya menggelinding menjauh malah mendekati kakiku.


"Belanjaan jatuh?" Aku memungut telur dan tas itu. Didalamnya ada kotak kayu kecil seukuran kotak cincin. "Parsel paskah?"


"Kotak apa?" Harron meraih kotak itu dari tanganku, tampak dia kesulitan ketika membukanya "Macet!"


"Paling isinya permen atau coklat." aku lebih penasaran dengan telur kecil yang terasa berdenyut di tanganku. Anak ayamnya mungkin akan segera menetas.


"Hey, enakan diapain nih?" Jelas nadanya yang penasaran akan isi kotak itu sedang berpikir untuk membukanya dengan cara apapun.


"Banting?" Tanpa menunggu lagi dia sungguh membantingnya sekuat tenaga ke aspal. Kotak itu mental beberapa kali sebelum akhirnya terbuka.


Sebuah benda bulat hitam keluar dari kotak diiringi suara ledakan. Ledakan itu muncul di udara, membentuk robekan yang menarik kami berdua tanpa sempat melarikan diri.


Ditarik makin dalam, Harron menarikku ke pelukannya agar tidak terpisah. Kepalaku masih belum bisa mencerna keadaan yang tidak masuk akal hanya bisa menatap lubang yang menyedot kami makin jauh dari balik punggung Harron.


"Hey, Ed! Sadarlah!" tepukan di pipiku membuatku kaget.


"Huh?" Kini kami melayang bagai di luar angkasa. Sekitar kami agak gelap dengan warna- warna yang saling bercampur bagai mozaik.


"Itu tadi ulah hantu atau bukan?" tanyanya.


"Tidak ada roh atau apapun. Muncul begitu saja!" aku menengok ke balik punggung Harron, lubang itu sudah lenyap. "Lubang masuknya hilang. APA KESIALAN HARI INI BELUM CUKUP?!" teriakku histeris yang malah dihadiahi jitakan.


"Jangan peluk aku kalau begitu!"


"Kalau kau hilang aku yang dimintai tanggung jawab!" omongannya seakan kami akan pulang dengan selamat saja. "Kalau begini di sekolah pasti dikatai gay lagi."


"Jangan bercanda di saat gawat begini! Bagaimana kita kembali? Bagaimana kita pulang?!"


"Ini aku juga mikir!"


Kami pun menghela nafas bersamaan, Harron akhirnya melepas pelukannya dan memilih menggandeng tanganku.


"Kalau di komik biasanya gimana ya?" celetuknya yang membuatku kesal.


"Malah mikirin komik!"


"Kan mirip!"


"Kalau di komik yang ada langsung sampai ke dunia sana!"


"Mati dong!"


"Buset dah! Maksudku langsung sampai di dunia lain! Dasar ikan kering!"


"Berhenti mengataiku, Bencong!"


"Bencong ini yang kamu peluk tadi, semprul!"


"Nuooo, aku ternoda!" ranselnya lebay.


"BERHENTI BERCANDA DI SAAT GAWAT BEGINI!" Bisa-bisanya dia malah melawak dan membuat kesal begini. "Kita malah ribut ngak guna!"


"Terus mau nangis saja?" Akhirnya aku tepuk jidat sendiri karena pertanyaan konyol itu. Berkat ketidak warasan omongannya aku lupa kalau kami dalam bahaya. Bukannya panik, kepalaku malah berdenyut karena emosi.


"Harusnya lubang lain terbuka tapi entah menyambung kemana." Harron bergumam sendiri melirik kesana kemari. "Coba pakai sihirmu."


"Wei, otak ikan! Waras dikit lah!"


"Siapa tahu selain indigo kamu ternyata sakti."


"Lu kate kera sakti apa?"


Kami kembali hening, hingga aku merasa merinding tanpa sebab. Harron sepertinya menyadari perubahan moodku jadi ikut tegang. Akhirnya sebuah celah muncul dan menarik kami kearahnya, dengan pasrah kami mengikuti arus tapi ternyata ada hal lain yang terjadi. Ada roh yang entah kenapa menarikku agar terpisah dari Harron.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa malah menjauh?!"


"Bukan aku! Ada yang menarikku!"


"Lawan itu! Ayo kemari!" Kami mencoba saling meraih satu sama lain namun sia- sia. "Edden!!!" Teriaknya memanggilku sebelum lenyap.


Tubuhku sendiri makin tenggelam ke arah yang gelap hingga roh tadi muncul dihadapanku. Ketika tangannya menyentuh kepalaku aku pun makin kehilangan kesadaran. Sekarang aku cuma bisa berharap kami bisa selamat. Dimanapun kami berakhir, semoga kami tetap hidup dan bisa bertemu lagi.


.


.


.


.


Salam kenal buat para pembaca, dan jumpa lagi kalau-kalau ada yang baca fanfic KHR di sini mungkin tak asing lagi dengan author gaje (enggak jelas) satu ini. Mohon kritik gurih pedas dan saran yang sarat manfaat dan nutrisi bagi otak supaya perkembangan cerita ini jadi makin baik.