My Fat Spoiled Girl

My Fat Spoiled Girl
9



...Bab IX...


Hosh...


Hosh....


Hosh......


Naafas Anggita tak karuang.


"Paman... " lirih Anggita menatap Juna.


"Itu hukuman mu, kau selalu mengirimkan ku foto setengah telanj*ng mu itu !" Juna membelakangi Anggita.


"Kau suka kan, " Dengan bersemangat Anggita membuntuti Juan yang melangkah.


"Siapa yang tidak suka sama foto begituan, aku juga normal lah, " batin Juna.


"1 jam lagi aku ada meeting di lantai 28 " ucap Juna.


"Itukan dapartemen pemasaran, " benak Anggita.


"Untuk ? " tanya Anggita.


"Entahlah, " ucap Juna.


"Eh tunggu, jangan-jangan Paman Juna mau meeting sama Leon." benak Anggita bertanya-tanya.


Akhirnya Juna dan Anggita berjalan bersama menuju lantai 28 tepat nya di dapartemen pemasaran.


"Paman, kenapa kau pergi meninggalkan aku ? "


"Entah. "


"Paman, aku beneran mau nikah sama kamu, " ucap Anggita dengan raut wajah biasa.


Juna melirik Anggita dengan tatapan tajam, "Bisa bisanya anak ini mengatakan hal seperti itu dengan raut wajah datar. "


"Kok diam aja paman," Tegur Anggita.


"Apa yang harus di jawab ! "


"15 menit lagi kita rapat, cepat kan langkah mu ! " lanjut Juna melangkah dengan cepat meninggalkan Anggita.


" Uuuuuh... Gemes deh, " grutu Anggita berbunga bunga.


Anggita pun menyusul langkah Juna." Paman.... tunggu!! "


Setiba di ruang rapat terlihat Brama, Leon, dan rekan-rekan bisnis lainnya sudah berkumpul.


"2 menit lagi rapat di mulai, apa bisa di mulai sekarang saja. " ucap Brama.


"Baiklah.. " Leon menjawab sambil mencuri pandang melihat Anggita.


Anggita memberikan wajah kecewa dan menatap kosong gelas berisi air. Membuat Leon bergetar merasa bersalah.


"Selamat pagi, " ucap Leon menyapa.


"Ah maaf, maksud saya siang. "


"Kali ini kami akan melakukan ~~ Emh... " Gugup Leon memulai presentasi nya karena kehilangan fokus.


"Pak Leon, kau kenapa ? "Tanya Brama.


"Ah, maafkan saya pak " mencuri pandang ke Anggita dan Leon melihat Anggita meneteskan air mata.


"Maaf pak, saya tidak bisa melanjutkan ini. "


Leon terduduk lemah merasa bersalah apalagi melihat Anggita menitihkan air mata nya. Tanpa mereka sadari Juna membaca tingkah laku Leon dan Anggita sedari awal memulai rapat.


"Nona Anggita, apa anda bisa melanjutkan presentasi sebagaimana anda sekertaris Pak Leon, " ucap Brama.


Anggita menghapus air matanya dan mengatur nafasnya." Tentu, maaf saya terlalu lama menghadapi laptop. Mata saya jadi sangat lelah maafkan saya."


"Woah Nona Anggita sangat pekerja keras ya, " ucap Alista yang merupakan pemilik perusahaan brand peralatan masak di Jepang dan juga calon rekan bisnis Brama.


"Haha Ny. Alista bisa saja, " Anggita tersenyum manis dan langsung berdiri menuju proyektor.


Anggita mematikan proyektor." Maaf Tn. dan Ny. Sekalian saya akan presentasi tanpa proyektor dan laptop mata saya sangat lah menghadapi gadget mohon pengertiannya."


Anggita pun memulai presentasi nya dengan sempurna. Anggita menguasai semua materi yang ingin di presentasi kan belum lagi sesi Win-win Solution.


"Bagaimana untuk keuntungan perusahaan kami Nona Anggita?" tanya Alista.


"Jelas, keuntungan yang anda dapatkan lebih besar dari promosi mandiri, dengan sistem yang kami tawarkan Ny.Alista bisa mendapatkan 30 persen lebih besar keuntungan dari promosi personal." Jawab Anggita dengan profesional.


"Benarkah gimana caranya dan kenapa ? "


"Seperti yang kita semua tau, perusahaan Ny. Alista perusahaan ternama di kenal dengan kualitas prodaknya, dan kami selain bergelut di bidang batu bara dan minyak bumi kami juga salah satu perusahaan yang terkenal dengan kualitas di bidang desain. Bukan kah itu kolaborasi yang sangat di nantikan para kelas Elite ?"


"Dengan kita mengadakan kolaborasi sudah jelas kita bisa membagi biaya peluncuran prodak dan pajak -pajak yang di gandrungi produk, bukan? " ucap Anggita.


Semua menatap kagum Anggita, terutama Brama yang begitu bangga dengan anaknya.


"Siapkan kontraknya besok saya akan tandatangani tapi saya mau nona Anggita yang menangani proyek ini, " ucap Alista.


"Baik Ny. Alista dengan senang hati, " ucap Anggita.


Brama pun mengambil alih topik." Untuk sekarang mari dengarkan masukan masukan dari Ny. Alista."


"Baik kali ini saya sendiri yang mempresentasikannya. Sebelum nya perkenalkan nama saya Alista Kim. "


"Seperti yang tertulis saya akan menggunakan chef terkenal di negara kami tepatnya di Jepang sebagai brand ambassador. "


Anggita pun melirik Juna yang menatap ponselnya sedari tadi Alista memulai presentasi nya.


"Ini adalah Chef executive hotel bintang 5 di Jepang namanya Juna, umurnya 28 tahun tapi sudah mendapatkan banyak sertifikat dari berbagai kompetisi di luar negara sekalipun, " Alista pun mencolek pundak Juna.


"Sayang ayo bangun ! " Anggita langsung membelalakkan matanya menatap Juna.


"Ah maaf, kami akan menikah bulan depan jadi saya kurang bisa mengontrol diri, " ucap Alista.


"Woah, selamat Ny. Alista, " ucap Brama.


" Terimakasih. "


Anggita merubah auranya menjadi suram dan akhirnya Anggita sudah tidak tahan dengan suasana hatinya.


"Maaf saya undur diri, saya sudah tidak tahan, " dengan suram Anggita mengundurkan diri.


"Ya, Nona Anggita anda harus jaga kesehatan mu, " ucap Alista tersenyum .


Anggita pun keluar dari ruangan rapat, namun Anggita tak mampu menahan air matanya lagi. Kali ini dia hancur sehancur-hancurnya.


"Aku mau ke toilet, " ucap Juna.


" Pergi lah. "


Juna mengikuti langkah Anggita." Pak tolong siapkan mobil, " Anggita menelfon supir nya.


Saat berjalan menuju keluar gedung setiap orang menyapa Anggita dan bertanya peduli akan keadaan Anggita, namun Anggita mengabaikan begitu saja.


Anggita pun tiba di mobilnya dengan tangisan terus-menerus tak kunjung henti. " Pak, kerumah Yuan." ucap Anggita memitah.


"Baik non. "


Juna pun memanggil taksi untuk mengikuti Anggita. Sesampainya di rumah Yuan Anggita mengetuk tak bersemangat pintu Yuan dan Yuan pun menyambut Anggita.


" Kau balik lagi, Nggit ! "


Wajah suram Juna terlihat begitu saja melihat Anggita datang kerumah pria matang yang ciri cirinya tak jauh beda dengannya. Tinggi badan, tubuh kekar, rambut makok dan wajah tampan menyambut gadis kecil Juna membuat dirinya geram.


"Mana Mei ?" tanya Anggita.


"Di kamarnya, dia mulai merancang aksesoris lagi aku senang banget makasih ya, " ucap Yuan bersemangat.


"oke, " tak bersemangat Anggita menjawab.


Anggita langsung ke dapur dan melanjutkan masakannya tadi.


"Kau kenapa? rencana ku gagal ya, " ucap Yuan.


"Gak kok, sukses keras malah."


" Kenapa kamu sedih Nggit, aku ada salah aku nyinggung kamu ya ?"


"Gak Yuan aku lagi sedih aja, cowok yang aku suka mau menikah tahun depan. Parahnya lagi aku 1 proyek sama calon istrinya," Ucap Anggita dengan tatapan kosong sambil menusukan lidi ke tempe.


"Umh, biar aja lah kan masih ada aku nanti aku yang nikahi kamu gak papa kok, " ucap Yuan sambil memakan tempe bacem.


"Hisstt, Santuy sekali anda bicara, " ucap Anggita menatap Yuan sambil tersenyum menyeringai.


Yuan pun tertawa." Kau ternyata normal ya aku pikir kau lesb*an."


"Sembarang kalo ngomong si aki aki ini"


"Lah iya, rata rata korban kami itu bakal berujung seperti itu, Nggit. kecuali korban korban ku, " ucap Yuan.


"Kenapa gitu?"


"Komunitas kami ini bejad semua, gila. Mereka itu membeli anak yang masih polos terus memperlakukan mereka seperti dildo! "


"Lah kalo kamu ?"


"Aku ini cuman minta foto mereka aja sih, budak ku juga berasal dari lingkungan itu. Berarti kita gak ada unsur memaksa , kan" ucap Yuan.


"Oh, cuman foto ?? "


"Iya lah mau apa lagi ? "


"Aku gak tau kenapa, aku gak pernah prioritaskan komunitas gila itu dari awal, mereka berambisi untuk memamerkan budak mereka satu sama lain di grup dan itu alasannya kenapa aku menyewa wanita malam untuk jadi budak ku, " lanjut Anggita.


"Gak percaya sih, karena kemaren kamu sama Leon tukaran budak "


"Itu lain lagi, aku cuman bilang aku penasaran! aku juga sering liat foto mu di kontes dark web." ucap Yuan membela diri.


"Entah, aku gak mikir kesana."


"Sudah lah, aku bisa pinjam kamar buat istirahat mata ku lelah sekali," ucap Anggita.


"Tentu, kau bisa pakai kamar di sana, " Yuan menunjuk kamar tamu.


Anggita pun berjalan menuju kamar tamu itu dengan tak bersemangat pundaknya yang selalu tegak dengan senyuman cerianya kini berubah menjadi turun dengan wajah suram.


"Kenapa ? Kenapa dia mencium ku tadi?" Anggita menggerutu memegang bibirnya.


"Ciumannya mendalam penuh arti yang tidak bisa ku tebak. "


"Pasti dia punya alasan tertentu? "


"Apa yang harus ku lakukan? "


Akhirnya Anggita tertidur karena lelah menangis.


•Pukul 06.30 Sore menjelang malam.


Mei mengetuk pintu kamar Anggita.


Tok.


Tok.


Tok.


Anggita membuka pintu dengan wajah lusuh, wajar saja Anggita masih merasa badmood saat ini.


Dengan semangat menggebu Mei mengajak Anggita."Kakak, Mei udah siapin semua yuk kita mulai bakar bakar nya."


"Wah, kau menyiapkan semua maaf kakak tadi ga bantu ya," ucap Anggita mengusap lembut pucuk kepala Mei.


"Kak, kok mata kakak bengkak ? "


"Hah, enggak kok mungkin karena lelah."


Senyuman terpaksa Anggita nyata terlihat di mata Mei." Kakak ada masalah ?" Mei menggengam tangan Anggita sontak Anggita menatap Mei menahan air mata nya jatuh.


Huhuhuhu.


"Mei, maafkan kakak kali ini kakak yang rapuh, " Anggita menangis tersedu-sedu.


"Kakak, kenapa ? " Mei menghapus air mata Anggita.


"Kakak ingin menyerah, Mei."


"Kakak bilang gak boleh menyerah, kan?"


"Kakak bilang Kakak harus kuat kaya Ronda Rousey, kan?"


*Ronda Rousey salah satu petinju wanita MMA, dan salah satu petarung favorit Anggita.


Mei memeluk Anggita."Kakak harus kuat, Mei di sini kok buat kakak."


Anggita mengeratkan dekapannya."Terimakasih, Mei."


Lagi-lagi Yuan menguping dan menyimak diam-diam. Sudah menjadi ciri khas Yuan untuk menguping dan mengobservasi apapun yang terjadi di sekitarnya.


Yuan bergumam dalam hati, "Aku tau.. aku tau... kelemahan mu adalah cinta," Yuan menggertakan rahangnya.


Anggita dan Mei pun telah berada di halaman belakang sekarang. Yuan terlihat sibuk memanggang dan, Mei terlihat sibuk membuat minuman penghangat tubuh, dan Anggita duduk di ayunan seorang diri.


Terlihat Anggita menatap langit senja yang berpadu indah." Juna, kenapa? Apa aku terlalu manja? Apa aku terlalu naif ? " Anggita bergumam dengan hati terguncang.


Mei pun menghentikan lamunan Anggita, "Kakak, Ayuk kita makan."


"Ah, iya aku akan nyusul deluan aja."


"Paman, aku akan mengejar mu tak peduli aku di sebut Pelakor," Anggita mengigihkan tekad.


"Eh, enggak deh gak boleh jadi Pelakor," Anggita mengurungkan niatnya.


"Nggit !!" Seru Yuan.


Anggita pun berdiri dan berjalan dengan tatapan sendu.


Yuan yang menatap kedatangan Anggita merasakan kesedihan Anggita,"Aku tidak tega melihat hal seperti ini."


"Apa, kakak bilang apa tadi? " Tanya Mei karena mendengar Yuan menggerutu kecil.


"Ah, enggak kok Mei," Yuan mengacak-acak puncak kepala Mei.


"Jangan di acak, nah."


"Apa sudah selesai?" Tanya Anggita.


"Sudah yuk makan," ajak Yuan.


Semua memakan dengan lahap kecuali Anggita, Anggita kerap menusuk nusuk hidangannya sambil menatap kosong.


Yuan yang melihat Anggita kehilangan arah membuat dirinya merasakan kesedihan juga. "Nggit, setidaknya makanlah sedikit."


Masih menatap kosong Anggita berucap dengan hilangnya semangat."Aku ga mau pulang. Aku gak mau berakting seperti ini lagi, Aku lelah. "


"Kakak bisa tinggal di sini ! kakak bisa jadi istri Koko," ucap Mei memeluk Anggita.


"Kakak gak bisa Mei," ucap Anggita.


"Kenapa??" ucap Mei.


"Nggit mungkin menikah dengan ku itu bukan solusi. Tapi kalau kau butuh sesuatu kau bisa andalkan aku " ucap Yuan.


Tok,


Tok,


Tok,


"Ah ada tamu ! " Seru Yuan bangkit.


"Aku buka dulu."


Yuan pun membuka pintunya dan melihat Pria yang tinggi nya sama dengannya namun memiliki kulit sedikit lebih gelap darinya. Membuat Yuan mengangkat alis kanannya.


"Maaf anda mencari siapa ? "


"Anggita ! " Dingin Juna menyelimuti suasana.


"Anda siapa?"


"Juna."


"Saya panggilkan dulu."


Yuan pun lari ke halaman belakang memanggil Anggita." Nggit ada yang cari, lu jadi sugar Daddy ,yak!"


"Apaan sih ! " Anggita langsung melihat siapa yang mencarinya.


Saat tiba di depan pintu, Anggita melihat punggung yang tak asing sedang membelakangi nya.


"Maaf siapa ya ? " Anggita menyapa.


Juna langsung balik melihat Anggita, dengan mata yang sembab bibir yang pucat sontak membuat juna membelalakkan mata.


Anggita terdiam sejenak menatap wajah Pria yang di idam idamkan sejak beberapa tahun terakhir, Yuan pun melihat arti tatapan Anggita.


Juna menarik tangan Anggita. "Ayo ! "


"Kenapa paman di sini ? " Anggita hanya mengikuti.


Dengan sirgap Yuan menarik tangan Anggita juga." Mau kemana ? "


"Lepas ! " Tatapan dingin Juna menggertak mental Yuan.


Yuan melepaskan tangannya dan hanya bisa menatap kepergian Anggita, hingga masuk ke dalam taksi yang sudah di pesan Juna.


"Aku tidak percaya ini !!, Aku menunggu berjam-jam hanya untuk memata-matai gadis bodoh ini, " benak Juna mengeratkan rahangnya.


Saat melintasi kediamannya Anggita mengucapkan, "Turun kan aku disini ! " Anggita memitah dengan dingin.


Juna melirik bingung Anggita.


"Anak ini jadi dingin pada ku ?? " Benak Juna.


"Tidak pak sesuai tujuan " pitah dingin Juna.


Supir taksi online pun merasakan hawa dingin hingga membeku.


"Ba.., baik pak,"ucap supir dengan gugup.


"Kau mau membawa ku kemana lagi ! " Pekik Anggita dengan kesal.


"Apa puas ! Mempermainkan aku, hah !"


"Aku menunggu, merancang, berakting semua ini demi kamu ! Tapi kamu malah menikah dengan wanita lain ! " Anggita menahan tangisnya.


"Sekarang biarkan aku hidup dan mulai melupakan mu, " lanjut Anggita.


Juna mendengar itu langsung membelalakkan mata tak rela, Juna mendekap Anggita lalu nafas Juna tidak dapat di kontrol lagi. Dadanya berdegup kencang hingga Anggita dapat merasakan juga.


"Perasaan macam apa ini ? " benak Juna.


"Dada ku jadi sakit, hanya karena mendengar kata-kata Anggita"


Juna mengeratkan pelukannya.


"Aku gak mau kehilangan dengan dia !" lanjut benak Juna.


"Cukup sekarang ! Lepas! " perintah Anggita dengan dingin.


...terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati...