My Fat Spoiled Girl

My Fat Spoiled Girl
5



...Bab V...


Tanpa menyerah Anggita mencari cara untuk menembus keamanan data Juna.


Hahahaha


"Nahkan bener, aku itu cerdas, " Ucap Anggita dengan puas sambil tertawa.


"Mari kita catat poin pentingnya," Ucap Anggita bersiap merangkum data diri Juna.


"Jenius."


"Ohh dia koki, pantes makanannya enak."


"Umurnya 24 ya beda 9 tahun sama aku, tapi dia tampan."


"Ini alamat orang tuanya ya."


"Woah.. Cantik banget.. " grutu Anggita melihat foto shanee yang di privasi kan ke publik di akun sosial media Juna.


"Ini pacar Juna ya, mana ada foto ciuman lagi! " Anggita berfikir dengan hati terbakar.


...________________...


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Anggita.


"Yaa.. ada apa ? " Ucap Anggita mengintip dari dalam kamarnya.


"Hai Anggita ini kakak," ucap Leon melambaikan tangan dan tersenyum manis.


"Kakak, ada apa ya."


"Kakak mau kasih lollipop kesukaan mu, " Leon memberikan 1 buah lollipop.


"Terimakasih kakak," Anggita tersenyum manis dan menyambar pemberian Leon.


"Ehm... Ahh... Anu... " Ragu Leon memulai percakapan.


"Kenapa, kak ? "


"Kakak minta maaf ya, kakak tau kakak keterlaluan."


Anggita tersenyum namun raut wajahnya yang merasa jijik sedikit terlihat.


"Maaf maaf silit muu kuii ! ( maaf maaf bokong mu itu )" Maki Anggita dalam benaknya yang masih menahan rasa muaknya.


"Kakak, sini deh, " Memberikan kode berbisik. Leon pun mendekatkan telinganya dengan patuh lalu dengan penuh makna tertentu Anggita mencium pipi Leon dengan lembut.


"Kakak, kau tau kau pria pertama yang ku kagumi dulu, " ucap Anggita sedikit membawa perasaan nya.


Anggita terdiam. " saat pertama kau datang dan bersikap sangat baik pada ku, tapi makin kesini kau menjadi pria menjijikkan, " Anggita melanjutkan perkataannya dalam benaknya. Namun ia tak sadar menitihkan air bening bak Cristal di matanya.


Tentu, perilaku Anggita membuat Leon berbunga bunga. Jantung Leon lagi lagi berdetak tak karuan namun saat Leon sadari Anggita menangis Leon menjadi panik. " Kau kenapa, kenapa menangis ?"


"Aku hanya mengingat apa yang dulu kau lakukan pada ku, kak, " ucap rintih dan rapuh Anggita.


"Aku sangat menyesal Anggita, kau bisa pukul dan siksa aku untuk membalas semua perlakuan ku." Leon berlutut dan berbicara dengan lantang dan berusaha meyakini sang pujaan hatinya.


Anggita tertunduk dan tersenyum sinis" Tentu, aku akan siksa kamu tapi lihat saja nanti, " benak Anggita.


"Bangun kak, " Anggita menuntun Leon bangkit.


"Aku harus kembali kak , aku ketinggalan moments kelulusan ku kemarin banyak e-mail yang masuk aku harus menceknya."


"Baiklah.. " Leon pun pergi dari kamarnya.


Anggita masuk ke kamarnya dan menguncinya Anggita membuang lollipop itu ke tong sampah.


"Maaf sayang, aku tau jadi mubazier tapi aku gak bisa makan kamu, " Anggita menggerutu menatap lollipop di dalam tong sampah .


Anggita mencuci tangan dan bibirnya dengan kasar. " Anggita kamu harus tahan, " Anggita berusaha menyemangati dirinya.


Suara e-mail masuk memanggil Anggita.


"Kamu yang menembus keamanan ku? " Email Juna mengejutkan Anggita.


" ? " Anggita hanya mengirim tanda tanya balas.


"Kurang kerjaan banget ya! aku bisa retas balik identitas kamu balik."


"Coba aja, " balas Anggita.


Anggita pun menunggu balasan Juna hingga 1 jam lamanya " aaaaa, kemana sih Paman beruang kutub , kulot , dan tampan ini, " teriak frustasi Anggita entah dia memaki atau memuji.


Anggita mengirimkan foto cosplay nya yang menggunakan costume yang tergolong sangat erotis, dengan mata yang menjuling dan lidah yang menjulur ke luar.


Juna membuka e-mail Anggita, lalu melihat lampiran yang di kirimkan Anggita membuat wajah Juna merah.


"Dasar Anggita !! " Geram Anggita menutup handphone nya.


"Paman, bagus gak foto ku yang kukirim ini menang kontes di darkweb loh, " email Anggita.


"Bodoh."


"Paman , kembali sekarang juga atau aku membuat mu jatuh cinta kelak."


"Jangan percaya diri! kubur aja dirimu."


"Aku serius!!"


Juna pun tak membalas Anggita lagi dan Juna menghilang dari Anggita saat itu.


Keesokan harinya Anggita sarapan bersama seperti biasanya.


•Pukul 06.30 pagi.


"Sayang, kau sudah lulus sekarang mau kerja atau kuliah ? " Tanya ayah Anggita.


"Kerja aja yah, kalo gak keberatan Anggita mau kerja di induk perusahaan ayah, sama-sama kak Leon, " ucap Anggita tersenyum manis melirik kakak tirinya yang berbunga bunga mendengar perkataan sang pujaan hatinya.


Sedangkan Herna merasakan kegelisahan memantau gerak gerik Anggita.


"Baik nak kau akan jadi asisten kakak mu ya , kakak mu bergerak di bidang operasional pemasaran jadi kamu akan lebih sibuk di luar untuk pertemuan dan semacam nya, " ucap ayah Anggita.


"Sayang, anak mu sudah lama membatu di perusahaan mu tapi kenapa jabatannya masih sangat rendah," ucap Herna.


"Kita harus mendidik anak kita dari bawah agar mereka mengerti, " bela Brama.


"Aku setuju mi, ayah memang pandai mematangkan seluruh karyawannya, " ucap Leon.


"Nak, kau itu bukan karyawan kau itu anak ayah, " ucap Herna.


"Aku gak masalah kok aku nyaman di posisi ini, " Leon menjawab.


"Tuhkan, anak kita semua itu pada cerdas dan lapang dada," Brama membersihkan bibirnya dengan tisu bersiap untuk berangkat.


"Ayah, Anggita ikut ya..." rengek Anggita.


"Tentu, kita bertiga akan satu mobil, " balas Brama.


Brama , Anggit ,dan Leon menuju perusahaan induk ."Ayah, Anggita kan masih umur 15 apa Anggita gak papa kerja di perusahaan ayah. "


"Anggita, kau itu cerdas umur mu masih 15 tapi kau sudah lulus, " potong Leon.


"Bener kata kakak mu, Anggita."


Anggita mengangguk mengerti " Iya deh, eh kita udah sampai rupanya, " Anggita pun dengan semangat membuka jendela mobilnya.


"Pak Brama sudah sampai, " ucap supir.


"Makasih Yo mas, engko jam pulang kerja stand by di sini ya mas, " Brama menepuk pundak supirnya.


"Siap pak, " supir menjawab.


"Ayah masih saja ramah walaupun ayah sudah sesukses ini," benak Anggita tersenyum.


Saat masuk perusahaan semua mata tertuju pada 2 insan yang saling berjalan menyusuri koridor untuk menuju ruangan Leon.


Lenggak lenggok Anggita berjalan manja dengan tubuh super sexynya semua mata lelaki menatap nafsu Anggita , semua orang berfikir Anggita berumur 20 ke atas sebab pinggul yang besar dada yang menonjol di sambut tinggi badan yang sempurna membuat Anggita memiliki kategori gemuk di kalangan seumuran nya.


"Hei liat deh , itu pacar nya pak Leon ya ? " Ucap para staf pemasaran yang berkumpul.


"Mungkin," ucap salah satu orang dalam kerumunan.


"Huwa sexy banget, kalah aku huhuhu."


"Ya, pak Leon itu bule senangnya itu yang udah pasti kalo lagi twerk itu keliatan paham kan maksud aku," ucap staf pria.


"Apa lah daya aku ini, " staf wanita yang kecewa dan menurunkan pundaknya.


"Kamu itu cantik kok, jangan sedih lah cewek itu cantik bukan Karena besar atau kecilnya ukuran. Tapi mereka cantik karena punya intelektual dan attitude yang bagus," Staf pria yang terlihat tak tertarik dengan obrolan panas sedari tadi tiba tiba membuka suaranya.


"Yaelah Jean, aku tau kau bule maaf menyinggung ya." ucap staf lainnya lalu yang lain pun ikut bubar.


Jean pun hanya diam dan memberi wajah datar." Dasar sifat gibahnisme yang mendarah daging, " maki Jean dalam hati.


Selang beberapa waktu Leon pun mengumpulkan seluruh staf di dapartemen pemasaran.


"Baik selamat pagi semua, " Leon memulai salam dan di sambut oleh semua karyawan.


"Perkenalkan ini Anggita Amelia dia mulai sekarang adalah sekertaris saya dan wanita spesial bagi saya jadi saya tidak ada mau dengar ada yang mengganggu Anggita di sini, " ucap Leon.


"Baik pak di mengerti," jawab seluruh staf.


"Selamat pagi kak, saya Anggita Amelia bisa panggil aja Amelia umur saya masih 15 tahun jadi jangan sungkan untuk memanggil saya dengan nama saya ya saya seneng sekali dengan nama saya berharap banyak orang yang memanggil nama saya, " ucap Anggita memperkenalkan diri.


"Woah, masih 15 tahun." staf bergeming rusuh.


"Hey , perhatian Anggita adik saya! adik tiri saya jadi saya harap kalian bersikap baik," ucap Leon.


"Baik pak, " staf menjawab.


Leon pun menarik Anggita ke ruangannya setelah penutupan.


"Ah... Kakak kenapa, " Anggita mengikuti langkah Leon dengan tangan yang di tarik Leon.


"Ikut aja sama kakak ya. "


Setelah masuk ruangan Leon, Leon mengunci pintu nya dan memepetkan Anggita ke di dinding dan menghimpit Anggita.


"Kakak, apa yang kau lakukan, " ucap Anggita.


"Sayang, kakak mu ini mulai merasa terguncang sekarang," ucap Leon menatap Anggita dengan intens.


"Kakak, kau membuat ku takut, huhuhuhu, " Anggita menangis ketakutan dengan histeris.


"Kau, kau janji pada ku untuk tidak kasar! " terisak Isak melanjutkan perkataannya.


"Kau baru membuat ku jatuh cinta tadi, dan membuat ku kehilangan itu lagi."


"Huhuhu, " Anggita menangis dengan beberapa omong kosong.


"Maaf, maafkan kakak lagi kakak akan lebih menahan kehendak kakak," Leon terguncang dengan rasa bersalah.


Leon pun mundur menjauhi Anggita lalu berlutut."kakak memang bajing*n Pukul kakak aja, " Leon pun menampar pipi nya sendiri.


Anggita membiarkan Leon memukul dirinya sendiri hingga 4 atau 5 tamparan lalu Anggita berlutut menghentikannya. " Kakak , apa yang kau lakukan," Anggita memeluk Leon.


"Maafkan kakak, Anggita. "


"Kakak, lihat aku, " Anggita melepaskan pelukannya dan menatap Leon.


Leon pun mengikuti pitah Anggita. " kakak kau memang tampan," Anggita tersenyum manis.


"Detak jantung ku, " benak Leon memegang dadanya.


Anggita menggapai pipi Leon lalu sekejap mengecup bibir Leon " Terimakasih , hari ini kakak sudah mengalah dan berusaha bersikap lembut pada ku," Anggita berkata demikian dengan rasa jijik dan muak yang memuncak dalam dirinya.


Sedangkan Leon berbahagia ria mendapatkan kecupan dari sang pujaan hati. " Tahan Anggita, ahh sialan aku mau muntah," benak Anggita.


"Kau kenapa, wajah mu jadi pucat ?" tegur Leon.


"Aku mau muntah di mana toilet! " tanya Anggita dengan air mata menumpuk di matanya karena menahan muntah.


Leon mengantarkan ke toilet pribadi nya di dalam ruangan dan Leon menunggu panik di pintu toilet.


Anggita mengeluarkan sarapannya di closed itu Anggita menangis karena harus mengeluarkan makanannya demi sang pria bejad itu.


Setelah selesai Anggita mencuci dan merapikan dirinya di wastafel.


"Sialan bibir ku jadi ternodai, tapi ga papa Anggita... ini awalan yang bagus, " Anggita berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Anggita pun keluar. "Apa kau gak papa nggit, apa perlu kerumah sakit, " tanya panik Leon.


"Aku baik baik aja, aku cuman menstruasi jadi tubuhku dikit penyesuaian, " ucap Anggita.


"Ah memang kau sudah tanggalnya sih," jawab Leon.


"Apa pria ini sampai tau tanggal aku dapat mmenstruasi segala " benak Anggita.


"Kalau gitu aku antar kamu ke rumah ya. "


"Gak usah kak aku masih bisa, kok. " tolak Anggita.


"Serius."


"Iya Kak. "


Hari pun berlalu begitu saja dan di hari pertama Leon mengajari beberapa pekerjaan basic yang harus di lakukan Anggita.


•Pukul 12.00 Siang.


"Anggita ayo makan siang, " ajak Leon menghampiri meja kerja Anggita yang masih satu ruangan dengan Leon.


"Ahh udah waktunya ya, " ucap Anggita dengan senyuman ceria.


Saat ke kantin kantor terlihat primadona kantor dari dapartemen pelayanan menatap tajam Anggita , Anggita yang mengetahui itu membuat Anggita risih.


"Dih, drama cewek cantik bakal di mulai, " benak Anggita.


"Kau mau makan di luar? " Leon membangunkan lamunan Anggita.


"Enggak, " ucap Anggita ketus.


"Kenapa nggit aku ada salah ? " Tanya Leon menghentikan langkahnya.


"Itu Kaka jalan aja deluan sana, aku benci di tatap begitu sama orang, " ucap Anggita dengan manja dan menunjuk nunjuk sekumpulan wanita cantik.


Leon menatap tajam arah yang di tunjuk Anggita , lalu Leon menghampiri sekelompok cewek cantik itu dengan wajah datar.


"Selamat siang pak Leon," leaasi.


"Kau sadar ? "


"Tentang ? " Ucap anggun leaasi.


"Yang kau tatap adalah anak kandung pak Brama. "


Sekelompok manusia yang menatap tajam Anggita tadi langsung membelalakkan matanya.


Anggita mendatangi Leon dengan sikap manja. " kakak , kau ini aku cuman bilang kakak itu menatap kakak sepertinya mereka cemburu pada keberuntungan ku. Kenapa kau beraksi sekeras ini, " Anggita mengomel dengan manja.


"Selamat siang nona Anggita." Leaasi menyapa.


"Siang kakak, kakak cantik maafin kakak Anggit ya dia memang suka tempramen kalo seseorang yang penting baginya di ganggu, " ucap Anggita dengan ramah.


"Kenapa kamu yang minta maaf Anggita, " ucap Leon.


"Maafkan saya juga nona Anggita saya tidak tau, " ucap Leaasi.


"Aku sih gak papa kak , tapi tolong ya siapapun selain aku jangan di tatap begitu takutnya mereka salah paham , kau cantik ketika senyum kak sebaiknya sering sering senyum, " Anggita berbicara ramah sambil menarik lengan kakaknya. Leaasi pun tersenyum mendengar pujian dan masukan dari Anggita.


Leon dan Anggita pun mendapat kan makan siangnya. " Aa kakak kenapa burger aku gak ada timunnya."


"Kakak lupa, ini ambil punya kakak aja."


"Gak mauu .... Punya kakak gak ada lada hitamnya, " ringik Anggita.


"Mau kakak ambilkan yang baru ? "


"Terus ini ? "


"Buang aja. "


"Mubazier ih. "


" Anggita ih, ya udah ini kakak ambilkan timun punya kakak dan pindah ke punya kamu," ucap Leon frustasi menaruh timunnya di burger Anggita.


"terimakasih kakak, kau memang yang terbaik, " ucap Anggita puas.


Tiba-tiba seseorang mengetuk meja Anggita tak disangka seseorang itu adalah ----


terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati