
...BAB X...
Saat melintasi kediamannya Anggita mengucapkan, "Turun kan aku disini ! " Anggita memitah dengan dingin."
Juna melirik bingung ke arah Anggita.
"Anak ini jadi dingin pada ku ?? " Benak Juna.
"Tidak pak sesuai tujuan, " pitah Juna.
"Kau mau membawa ku kemana lagi ! " Pekik Anggita dengan kesal.
"Apa puas ! Mempermainkan aku, hah !"
"Aku menunggu, merancang, berakting semua ini demi kamu ! Tapi kamu malah menikah dengan wanita lain ! " Anggita menahan tangisnya.
"Sekarang biarkan aku hidup dan mulai melupakan mu, " lanjut Anggita.
Juna mendengar itu langsung membelalakkan mata tak rela, Juna mendekap Anggita lalu nafas Juna tidak dapat di kontrol lagi. Dadanya berdegup kencang hingga Anggita dapat merasakan juga.
"Perasaan macam apa ini ? " benak Juna.
"Dada ku jadi sakit, hanya karena mendengar kata kata Anggita."
Juna mengeratkan pelukannya.
"Aku gak mau kehilangan dia !" lanjut benak Juna.
"Cukup sekarang ! Lepas! " perintah Anggita dengan dingin.
...________________...
Juna menarik tengkuk Anggita dengan tangan kanan lalu mencium lembut bibir Anggita, tangan kirinya mencengkeram erat pinggang Anggita.
Anggita terpaku sejenak kali ini, Anggita berfikir bahkan tak menikmati ciuman Juna. Hanya terasa sakit di hatinya semakin membara.
"Kenapa anak ini tidak ******* bibir ku ?" benak Juna masih menjelajah.
Anggita hanya diam dan menatap Juna yang menutup matanya sambil menggeliat kan lidahnya kemana-mana.
Juna membuka mata sayu menghentikan aktivitasnya dengan nafas berat, namun jaraknya masih terpaut sangat dekat.
"Kau!, Kenapa diam saja ?"
Anggita diam dengan wajah datar menatap dingin Juna.
"Ayolah bicara! " Geram Juna menempelkan dahinya ke dahi Anggita.
"Kenapa?" lirih Anggita.
"Kenapa kau melakukan ini ! "Anggita menahan binar di matanya.
"Kau, membuat harapan lalu pergi lagi ! Menjatuhkan aku ! Membuat ku hancur !" Anggita histeris menangis tersedu-sedu memukul dada Juna.
Mobil pun terhenti di depan Hotel mewah dimana Juna menginap. "Pak, sudah sampai tujuan" supir menegur.
Juna menarik keluar Anggita menuju kamarnya. "Buat apa kau membawa ku kesini !" Anggita memberontak melepaskan genggaman tangan Juna.
"Kau akan tau nanti."
Saat masuk ke kamar, Juna melemparkan tubuh Anggita ke ranjang lalu Juna melepaskan Hoodie nya.
"Ma, ma, mau apa kamu !" Gagap Anggita memeluk kakinya.
Juna menarik kaki Anggita hingga terlentang." Aahh, apa maksud mu!" pekik Anggita.
Juna pun menindih Anggita, lalu menyembunyikan wajahnya di antara leher dan bahu kiri Anggita.
"Tahan sebentar... " lirih Juna.
"Tunggu.., apa maksud Juna?, sepertinya ada yang aneh,"benak Anggita bertanya-tanya.
"Ada apa ?" Anggita membuka suaranya.
"Aku kesepian semenjak pergi darimu."
Deg,
Deg,
Deg,
Jantung Anggita berdetak wajahnya jadi memerah mendengar Juna mengatakan hal yang sangat langka terdengar.
"Aku melawan rasa ini, tapi rasa ini tumbuh tambah besar."
"Saat kau pergi meninggalkan ku saat mendengar kami akan menikah, hatiku sangat sakit Nggit!"
"Alista itu sepupuku. "
Sontak Anggita terkejut. "Apa!!"
Posisi Juna tak berubah sedikitpun, bahkan Juna kerap menempel kan dahinya di leher Anggita.
"Aku sudah atur ini, aku menenangkan diri di Rooftop sebelum bertemu dengan mu. Tak di sangka aku bertemu dengan mu!"
"Kenapa?"
"Nggit, kau jauh lebih muda dari ku!"
"Apa kata orang nanti."
Anggita mendekap leher Juna." Aku akan baik-baik saja."
"Tapi, aku bimbang Nggit." Juna menggulingkan badannya dan menghela nafas panjangnya.
Hufffftt.....
Juna menatap langit-langit, "Apa kau pernah tau sesuatu tentangku ?"
Anggita menoleh Juna lalu menatap Juna.
"Aku, hanya pernah pacaran 1 kali seumur hidup," Juna menatap Anggita kini mata mereka saling bertatapan.
"Sejak saat hari buruk itu tiba, aku merasakan kehilangan, kebahagiaan, semangat dalam hidup ku."
"Aku pikir aku akan bahagia memiliki dia," ucap Juna menatap langit-langit lagi.
Anggita hanya mendengarkan curhat Juna malam ini. "Kenapa kau sangat pendiam malam ini? Kau masih marah?"
"Enggak kok, " Anggita mengangguk dengan wajah biasa saja.
"Kalau boleh tau, hari buruk apa yang kau punya?"
"Dia meninggal, dia menderita kanker darah."
"Maaf..."
"Tidak, bukan salah mu."
"Aku jadi tidak bisa tersenyum mulai saat itu," Juna mantap Anggita.
"Tapi hari ku benar-benar bewarna saat 1 bulan hidup bersama mu," Juna menarik pinggul Anggita lalu mendekap Anggita lagi.
"Setelah kau pulang. Hari-hari ku yang penuh dengan pesan dan foto foto kegiatan yang kau kirimkan selama ini, tapi aku menyukainya."
Anggita menyembunyikan wajahnya di dada bidang Juna."kenapa hari ini jantung ku berdebar kencang seperti ini !!!" Pekik Anggita dalam benaknya.
"Tapi, aku sangat benci ketika aku mengikuti mu tadi siang! kau pergi kerumah pria lain ! " Juna mencengkeram daggu Anggita hingga menatapnya.
"Bagaimana kau bisa jelaskan?"lanjut Juna.
"Kenapa aku harus jelaskan?" ucap songong Anggita.
Juna merubah tatapannya menjadi sangat sinis. Anggita pun hanya tersenyum lalu merubah raut nya menjadi datar.
"Kau!!!!" Juna mencium Anggita lagi dan lagi.
Kali ini Anggita mengikuti permainan yang dimulai Juna. Kini tangan kanan Juna sudah masuk kedalam baju Anggita lalu mencengkeram pinggang kanan Anggita.
Anggita melepaskan ciumannya lalu menggigit bibir bawahnya.
Juna menempelkan dahinya di pipi kiri Anggita dengan nafas menderuh tak karuan.
Hosh,
Hosh,
Hosh,
"Katakan siapa itu!"
"Adiknya, memiliki trauma dan aku cuman datang bantu saja," Anggita mengucapkan sambil mendekap erat tubuh Juna.
"Benarkah? " Juna menatap Anggita dengan tatapan indah terpancar kebahagiaan.
Anggita mengangguk dan tersenyum.
"Nggit.. aku mencintaimu."
"Aku juga paman!!"bergebu Anggita menjawab dengan mata berbinar kebagian.
Juna mencium Anggita dan Anggita turut meladeni Juna. Hingga tak lama kemudian Juna turun ke leher Anggita dan membuka beberapa kancing atas kemeja Anggita.
Juna membuat kissmark di leher dan di atas dada Anggita yang besar. Juna pun manarik diri untuk melakukan hal lebih pada Anggita
Juna berdiri dengan cepat menatap kikuk Anggita," Astaga!!, kenapa aku bisa seperti ini," benak Juna.
Anggita pun mengancingkan kancingnya satu-persatu."Maafkan aku Anggita aku tidak bisa mengontrol diri ku," ucap Juna menyesal.
"Iya ga papa kok."
"Aku kamar mandi dulu ya," ucap Juna memegang tengkuk nya.
Wajah Anggita menjadi merah karena merasakan sesuatu yang mengganjal saat melakukan aktivitas yang panas.
("Jamur Amazon Nggit !!" Author bobrok.)
Anggita menatap punggung Juna yang berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Aaarrhhhh.
Pekik Anggita kegirangan jantung nya berdegup kencang hingga ribuan kali lipat.
Juna melangkah mendekati Anggita.
"Dasar, anak kecil," Juna menyelimuti tubuh Anggita.
Juna mencium lama pipi chubby Anggita, lalu mengecup bibir Anggita dengan perlahan.
"Rasanya ingin ku gigit pipi mu ini!" Gemas Juna menggerutu.
•Pukul. 21.30
Juna mengambil handphone Anggita dan melihat sederet pesan dari meilia, Leon, dan Yuan. Sebenarnya Juna hanya ingin mengirim pesan ke ayah Anggita kalau anaknya tidak pulang malam ini. Tapi Juna terlalu penasaran dan membuka seluruh pesan satu persatu setelah mengirimkan pesan ke Brama.
"Apa dia pakai both untuk membalas Meilia dan Leon?" ucap Juna menggulirkan pesan-pesan terdahulu, sambil berjalan menuju sisi di samping Anggita berbaring.
"Aku yakin sih dia pakai both, tapi kenapa Yuan enggak! siapa Yuan?"Juna melirik tajam Anggita.
Karena Juna menatap dengan aura yang dingin, Anggita pun membuka matanya. " Kenapa paman menatap ku seperti itu !" ucap Anggita lalu melihat Juna menggengam ponselnya.
"Yaa... Kembalikan ponsel ku," pekik Anggita mencoba meraih ponselnya namun gagal Juna menghindari Raihan Anggita.
Saat ini posisinya sangat dekat mata mereka saling bertatapan, Juna menatap Anggita dengan mata sayu sedangkan Anggita menatap dengan pipi yang memerah.
Tangan kiri Juna mencengkeram pinggang kiri Anggita dan tangan kanannya masih mengambungkan ponsel Anggita.
"Wajahmu jadi merah banget, kau sakit?" Juna menempelkan dahinya ke dahi Anggita.
"Katakan pada ku siapa Yuan?" lanjut Juna lalu menutup matanya.
"Kakaknya Meilia!, Patner aku untuk jatuhkan Leon."
Juna menyembunyikan handphone Anggita di belakang punggungnya.
"Kau punya hubungan dengan dia ? " Lalu Juna membawa Anggita duduk di pahanya menghadapi dirinya.
"Kenapa diam aja? " lanjut Juna tangan kanan Juna mencengkeram erat tengkuk Anggita, dan tangan kiri nya mencengkeram erat pinggang Anggita.
"Ada !" jawab Anggita membuat Juna membelalakkan matanya.
Juna melepaskan cengkeramannya lalu menyingkirkan tubuh Anggita dari tubuhnya. Namun Anggita bertahan lalu tertawa.
Hahahahaha.
"Paman, apa kau cemburu ?" ucap Anggita sambil tertawa.
Juna mengerutkan dahinya."Dasar anak kecil !" Juna memalingkan wajahnya.
"Tapi kenapa bisa anak kecil mengambil hati ku ? Bahkan membuat hasrat ku menggebu," benak Juna membuat wajahnya merona.
Anggita pun mencoba beranjak dari tubuh Juna, Juna pun menarik tengkuk Anggita lagi dan kali ini Juna mencium Anggita dengan nafsu yang lebih bergebu.
"Kenapa paman ******* bibir ku dengan panas, tapi mata sayunya sangat indah nafas hangatnya sungguh menggairahkan."
"Tapi perutku tidak merestui kelanjutan kami..."benak Anggita.
Kriuuukk,
Krukk,
Kriuuukk,
Juna mendengar suara perut Anggita, Juna pun menghentikan ciumannya dengan nafas berat.
Hosh,
Hosh,
Hosh,
Juna tersenyum lalu menatap Anggita sambil merapikan rambut Anggita."Kau lapar? "
Anggita mengangguk dengan mencibikkan bibirnya, Juna yang gemas melihat tingkah laku Anggita Juna pun mengecup bibir Anggita sekali lagi. "Ayo kita makan," ucap Juna lalu Anggita pun beranjak dari tubuh Juna.
Juna pun bangkit menggunakan sendalnya." Paman.. aku pinjam hp ya, mau izin sama ayah dulu," ucap ragu Anggita.
"Sudah, aku sudah izin padanya. "
"Apa!!" Pekik Anggita.
"Sudah, kau tenang aja. Apa kau makan dengan baik hari ini ?"
"Aku cuman sarapan tadi pagi. " Juna mengikuti langkah Juna.
Juna menghentikan langkahnya dan Anggita menubruk punggung Juna.
"Aaaaaa... Sakit hidung akuu.." pekik Anggita meringik.
Juna membalikkan badannya dan mendekap pinggang Anggita sengat erat." Hei, kenapa kau tidak isi perut mu ? Mau aku isi dengan ****** ku ? " Bisik Juna membuat Anggita merona, lalu melepaskan kasar dekapan Juna.
Anggita membelakangi Jun, lalu Juna memeluk Anggita dari belakang.
"Aku kira kamu memiliki sifat agresif seperti kau menggoda ku lewat email email mu, " Bisik Juna.
"Sepertinya ada tong kosong bunyi nyaring nya di sini."
Anggita berbalik dan menatap Juna."Gimana ya kamu suka permainan seperti apa sih?"ucap Anggita mengelus kuping Juna.
"Jelas aku suka memimpin dari pada di pimpin!"Juna tersenyum menaikan alisnya.
Anggita menjewer kuping Juna,"aarhh, kenapa di tarik kuping akuu."
"Makannya jangan nakal ! " Anggita melepaskan pelukan Juna.
Hummph..
"Aku lapar! Hanya lapar, LAPAR!" Anggita berjalan meninggalkan Juna setelah membuang kasar wajahnya.
Juna pun tertawa pelan melihat tingkah laku Anggita. "Hal kecil ini yang aku rindukan," benak Juna.
Juna menyusul langkah Anggita yang menuju mini kitchen di kamar Juna.
"Mau makan apa biar aku masakin," ucap Juna mendahului langkah Anggita.
"Sushi!!" ucap Anggita tersenyum lebar.
Juna mengeluarkan ponselnya untuk memesan bahan-bahannya.
"Oke, kita pesan bahannya dulu ya."
Anggita mengangguk dengan wajah berseri, tak lama kemudian jasa kurir online yang di pesan Juna tiba.
Tok,
Tok,
Tok,
Anggita berlari membuka pintu, saat membuka pintu Anggita terkejut bahwa kurir itu teman seangkatannya di SMA.
"Atas nama Arjuna?"tanya Sakti tanpa melihat Anggita, karena sibuk menghitung tas belanjaan.
"Sakti !!" ucap Anggita menegur.
Sontak Sakti menoleh menatap Anggita."Nggit!!"
Tiba-tiba Juna menyusul Anggita yang mengambil pesanan di depan pintu kamarnya. "Apa kau bodoh " Juna memukul kepala Anggita dengan dompetnya.
"Aa...," Manja Anggita berteriak.
" Mas, ini saya bayar cash ya, dan kembalianya ambil aja !" Juna memberikan uang, lalu mengambil belanjaan.
"Sayang, cepat masuk" ucap Juna lalu mengacak rambut Anggita, sontak Sakti membelalakkan mata herannya.
Anggita tengah tersenyum tersipu malu karena panggilan yang di lontarkan Juna, "Nggit, yakin kamu sama om om !" ucap Sakti mengganggu rasa terbuai Anggita.
"Apasih!, Tapi dia tampan kan."
"Iyasih banget, pas dia ga ngomong kukira seumuran kita. Tapi pas ngomong gua tau itu om om, Gila !" ucap Sakti tanpa memikirkan panjang.
Wajah Anggita jadi dingin lalu mematahkan leher nya kekanan, " Tsk, pantas jadi sampah !" Hina Anggita dengan wajah dingin lalu menutup kasar pintunya.
Tanpa rasa bersalah Sakti mengriyitkan dahinya," Apa apaan Anggita ini, menghina orang lain seenaknya saja! " benak Sakti penuh dendam.
Anggita setelah menutup pintu dengan wajah kesal lalu, mendatangi Juna yang sudah menyiapkan hidangan setengah jadi selesai.
"Kenapa? " tanya Juna.
Dengan kasal Anggita menggerutu kesal memaki Sakti.
"Ada cowok kaya gitu ya !"
"Aku tu heran dari dulu suka nya nyinyir aja."
"Kau kenal dia?" tanya Juna.
"Iya, dia itu orang paling bacot di kelas!"
"Suka adu domba orang lain, pokoknya dia itu menjijikkan," Anggita mengomel tanpa henti.
"Emang kamu di apain."
" katanya kamu di bilang Om Om aku benci orang kek dia!"Juna tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepalanya, begitu mendengar kata Anggita.
Anggita terus mengomel tanpa henti hingga Juna menyelesaikan masakannya sekali pun.
Bla,
Bla,
Bla,
"Sudahlah, ini udah selesai ayo makan."
"Baik Paman, " Anggita menurut mengikuti langkah Juna yang menuju meja makan.
Anggita memakan dengan lahap Sushi buatan Juna. Setelah merasa kenyang Anggita pun tertidur.
"Bagaimana anak ini tertidur dengan nyenyak di mana saja ! " grutu Juan
Juna menggendong Anggita ke kamarnya dan menaruh hati hati.
terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati