My Fat Spoiled Girl

My Fat Spoiled Girl
8



...Bab VIII...


Saat Anggita tiba di depan pintu, terlihat Leon menatap kesal Anggita dengan wajah marah Leon mengintimidasi Anggita yang sangat lelah hari ini.


"Dari mana saja kamu ! kenapa gak balas chat dan telfon ku, " omel Leon.


Anggita sudah lelah untuk berakting kali ini, "Berisik, aku mau tidur. "


Leon tertegun melihat reaksi Anggita, mengapa Anggita mengabaikan amarah nya kali ini.


...--------------------...


Leon mengejar Anggita dan menarik lengan Anggita. "Kau kenapa jadi kasar dengan ku, " Anggita mengabaikan dengan tatapan malas. " Hai, apa aku salah pada mu kalo salah tolong beritahu aku, " ucap lembut Leon mengusap pipi chubby Anggita.


Anggita melepaskan genggaman Leon," Aku lelah, tolong mengerti, " Anggita menepis tangan Leon yang menempel pada pipinya.


Leon lagi lagi tertegun, " kenapa ? Apa yang sudah terjadi kenapa Anggita jadi dingin pada ku ? " Benak Leon bertanya-tanya.


•Pukul. 07.00 pagi.


Keesokan harinya seperti biasa terkumpul lah di meja makan para manusia keji berkedok kebaikan kecuali Brama, melangsungkan rutinitas sarapan bersama.


"Ingat Leon hari ini penentuan jabatan mu berlangsung atau tidak, " Brama mengatakan dengan penuh kehangatan dan tatapan perhatian.


"Sayang, kenapa begitu! kau bilang anak ku juga anak mu kenapa kau begitu kejam padanya, " Elak Herna dengan geram.


"Leon ayah tanya ? Tindakan ayah kejam atau tidak? " Brama menatap Leon.


"Tidak yah aku tau persis dirimu, " ucap Leon. " Aku memang pantas untuk mengulang kembali mematangkan diriku," Dengan tegar Leon berlapang dada.


Anggita menyeringai begitu mendengar topik ini, Sayangnya Herna melihat Anggita yang sedang menunjukkan sikap puasnya itu.


"Hei kamu !, Kenapa kau tersenyum seperti itu kau menertawakan anak ku ya ! " Teriak Herna geram.


Semuanya mata tertuju pada Anggita. " Aa... Aapa.. menertawai ? " Lugu Anggita menjawab.


"Iya aku melihat mu tersenyum !"


"Apa itu benar Anggita ? " Tanya Brama.


"Ayah seberapa lama kau kenal diriku ? " Tanya Anggita dengan mata sedih.


"Aku percaya pada Anggita dia tidak akan menertawakan ku mih! " Bela Leon.


"Aku tadi memang tersenyum karena aku melihat kakak begitu berlapang dada menerima keputusan ayah." Sontak mata Brama dan Leon menatap bangga.


"aku memang marah padanya kemaren karena tidak bisa mengontrol diri dan memukul patner bisnis kita. Aku berfikir itu akan berimbas pada dirinya juga, " ucap Anggita dengan gemulai penuh peran terselubung.


Leon membelalakkan matanya lalu menatap Anggita yang duduk di sampingnya."Itu sebabnya kau mendiami ku semalam Anggita ?"


Anggita mengangguk." Maafkan aku kak, tapi aku peduli pada mu, " Anggita menunjukkan wajah lugu serta mata berbinar penuh air mata yang tertahan.


"Heii, jangan nangis ya aku juga minta maaf, " ucap Leon menepuk puncak kepala Anggita.


Melihat Leon dan Brama berpihak pada Anggita Herna mengigit bibir bawahnya dengan penuh dengki.


"Kakak, ayah , Anggita berangkat sendiri ya, Anggita punya teman yang lagi depresi dan cuman Anggita satu satunya harapan dia untuk bisa semangat lagi."


"Baiklah, jaga diri mu baik-baik ya jangan lukai dirimu sendiri, " Brama memberikan perhatian yang begitu besar padanya.


"Siapa ? Kenapa kau tidak pernah cerita ? " Ucap Leon mengkerutkan dahinya.


"Pernah kok ! kakak yang lupa kali, si Yura itu loh masa gak ingat, kan. Dia lagi kehilangan kepercayaan pada keluarganya lagi karena menjual nya pada rekan bisnis ayahnya kan."


"Lagian aku juga yang membiayai hidupnya Sekarang ya kan , yah. "


Brama pun mengangguk." Emh, mungkin iya aku lupa " ucap Leon.


"Kalau gitu jaga diri baik baik ya, kakak akan urus semua sendiri, " Lanjut Leon mengusap pucuk kepala Anggita.


"Oke, Anggita deluan ya, " semangat Anggita membara meninggal meja makan.


Anggita pun pergi ke supermarket dan langsung kerumah Yuan untuk menjenguk Meilia.


"Pagi !! "Anggita langsung masuk dan melihat Meilia duduk di anak tangga sambil menatap pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang.


"Mei ! " Teriak Anggita dan Meilia yang mendengar suara Anggita langsung berdiri menyambut Anggita dengan senyuman.


"Kakak !! " Meilia berlari dan memeluk Anggita yang sedang menjinjing bahan makan.


"Apa kabar sayang, " Anggita berusaha memeluk balik.


"Baik, " Meilia menjawab sambil memeluk Anggita.


"Oke, mari bantu kakak bawa ini."


Meilia melepaskan pelukannya dan merampas jinjingan Anggita." Kakak kita langsung masak ? " Meilia melihat isi tas belanjaan.


"Yup, kau suka masakan angrkiran ? " Tanya Anggita sambil berjalan ke arah dapur.


"Suka banget. "


"Kita masak itu yok, nanti malam baru kita bakar bakarnya," ucap Anggita sambil memasukkan bahan bahan dalam kulkas yang di kelilingi bartender .


"Yeeey... Kakak, mei seneng banget deh bisa ketemu kakak, " ucap Meilia duduk di sisi bartender dan menatap Anggita yang sibuk dengan kerjaanny .


"Kaka juga kok. "


"Kaka umur brapa sih ? "


"Sama dengan mu 16 hehe. "


"Berarti seumuran dong. "


Anggita pun langsung berhenti menyusun dan menghadapi Meilia yang duduk di bartender.


"Walau seumuran tapi aku seneng di panggil kakak gimana dong, " Anggita mencolek hidung Meilia.


"Hehe iya deh, kakak. "


Meilia lagi lagi tertawa dengan sikap Anggita. " kakak, mengidolakan artis gak ? kemaren Mei dengar dari koko kakak suka Idol Korea," lanjut Mei.


"Kakak.., suka semuanya sih tapi yang paling suka itu Ronda Rousey. "


"Siapa tuu baru dengar?"


" Petinju perempuan, hehe. " jawab Anggita namun hanya di balas anggukan.


"Mana Koko ? " Tanya Anggita.


"Masih mandi kak. "


"Loh, gak ngantor ? "


"Katanya Koko mau ngerjakan kerjaannya di rumah aja. "


"Hmm.. gitu, Nanti jam 10 kakak ke kantor dulu ya, nanti Mei chat kakak semua yang Mei lakuin harus laporan pokoknya."


"Kan, udah ada perjanjian. " Lanjut Anggita.


"Tapi, mei ga ada hp. "


"Jangan sedih, kakak punya dong buat Meilia, " Anggita mengeluarkan ponsel yang udah di retas untuk Meilia.


Tiba tiba Yuan pun datang membisikan, " kenapa repot-repot, Mei gak boleh pegang ponsel nggit."


"Diam aja lu, " ketus Anggita menjawab.


Anggita sudah meretas ponsel untuk Meilia. Dengan meretas ponsel yang akan di berikan Meilia Anggita bisa memantau dan mengendalikan seluruh sistem di ponsel itu.


"Yeeyy... " Mei terlihat senang seketika, " tapi.. enggak deh kak, " muka Mei jadi sedih.


"Hei, terus mau hubungi Kaka lewat apa, " dengan ramah dan penuh canda Anggita menjawab, " lewat telepati, " Anggita memberikan wajah konyol.


"Hahaha, kakak lucu sekali, " Mei tertawa lagi dan lagi kali ini Yuan ikut tertawa.


"Habisnya kamu sih. "


"Tenang aja ya ini yang bisa nembus ponsel kamu, cuman server di ponsel kakak dan Koko kamu, " lanjut Anggita dan menyodorkan ponselnya.


"Terimakasih kakak, aku punya hadiah deh buat kakak, " ucap Mei.


"Woah, apa tuu."


Meilia mengeluarkan anting dan kalung yang dia buat sendiri, "Maaf kak kalau jelek, Mei buat sendiri tadi malam Mei selalu kebayang muka kakak jadi Mei buat ini hehe. "


Mei membuat kalung berbahan emas putih, kemudian permata hijau yang serinya hanya 12 unit di dunia. Di jadikan bandul manis bergemulai, karena di desain sendiri dari tangan Meilia, Anggita hanya terpelongo kagum.


"Mei, kau serius buat ini ?"


"Iya jelek ya kak, maaf ya."


"Apanya yang jelek! ini bagus banget, " Anggita memutar balik dari lain sisi melihat sudut anting yang nyaris tak ada cacat.


"Itu permata hijau yang tahun lalu rilis. Emh, kayanya sudah ketinggalan zaman, " ucap Mei.


"Iya kah, kakak sih tidak peduli ya mau zaman dulu kah, zamannya kah. Yang pasti mulai sekarang ini barang paling berharga yang kakak punya. " Senyum Anggita menatap Mei.


"Kakak, peluk " Mei menatap Anggita dengan mata yang menampung air mata dan memajukan bibir bawahnya.


Yuan pun sangat tersentuh melihat reaksi Mei yang membaik.


Anggita pun mendatangi Mei. " Uuu tayang ... "Anggita memeluk hangat Mei.


"Kakak, jangan tinggalin Mei ya. Temanin Mei sampai Mei berani ketemu banyak orang ya, " Mei mengeratkan pelukannya.


"Pasti sayang, " Anggita membelai punggung Mei.


"Yuk kita masak, " ucap Anggita melepaskan pelukannya.


Meilia pun mendekap kembali Anggita, " masih mau peluk bentar lagi."


"Oke," Anggita memeluk hangat Meilia.


"Oke, sekarang kita masak tempe bacem, " ucap Anggita sambil berjalan menuju sampai kompor.


"Dulu waktu masih tinggal di Yogyakarta Mei suka makan di warung mba Sum, tapi Mba Sum udah meninggal 3 tahun yang lalu, kak. "


"astaga, moga beristirahat dengan tenang. "


"Iya kak kakak ngapain tu, itu kan air kelapa?"


"Iya kita bakal rebus tempe dengan air kelapa , gula merah, garam dan bawang putih "


"Jadi yang kaya karamel itu efek dari gula merah ya kakak, "


" Yup, bener sekali "


Akhirnya setelah menguapkan beberapa hidangan setengah matang Anggita pun langsung pamit kekantor.


"Mei, kakak pergi dulu ya udah jam 10 nih, " ucap Anggita memasukan barang barang nya dalam tas Anggita.


"Biar aku antar sampe depan, Mei ganti baju ya baju kamu basah semua gara gara cuci piring," ucap Yuan.


"Oke kak, " Mei mengacungkan jempol dan tersenyum lalu pergi.


"Kenapa kamu kasih ponsel ? " Tanya Yuan.


"Tenang, aku bisa ngendalikan sistem ponsel yang aku kasih ke Anggita jadi tenang aja bro. "


"Baiklah kau memang hebat, " Puji Yuan.


"Jelas. "


"Yuan aku butuh bantuan mu deh, hari ini penentuan jabatan Leon kalo dia gagal mengurus proyek yang dia handle dia bakal turun jadi staf, "


"Aku ngerti. "


Anggita dan Yuan tiba di pintu." Bagus, makasih yaa. "


"Aku yang makasih. "


"Kalo gitu bye... " Anggita masuk dalam mobilnya.


Anggita pun pergi ke kantor untuk melihat banyak pertunjukan yang di tunggu-tunggu Anggita.


•Pukul. 10.30


"Kakak, gimana kantor !! " Anggita berteriak manja masuk ke ruangan kerja mereka.


"Kau sudah datang, Nggit ," Leon menyambut dengan mata berbinar dan senyuman yang melebar.


"Iya kak, oh ya kak Anggita nyelesain file hari ini juga ya, kak. Nanti malam Anggita ada acara." ucap Anggita langsung membuka laptopnya.


"Baiklah, kakak ngerti, " ucap Leon dengan raut sedih.


"Semangat kakak..., " Anggita dengan senyuman yang melebar dan mengacungkan jempolnya.


Dengan semangat semangat kecil yang di berikan Anggita kebahagiaan Leon sudah memuncak hingga ingin meledak.


deg,


deg,


deg,


Leon memegang dadanya.


"Sudah 1 tahun tapi jantung ku berdetak kencang ribuan kali lipat. "


"Hei kenapa bengong ayoo kerja! " ucap Anggita membangun kan lamunan Leon dengan senyuman.


Selang beberapa waktu Resepsionis menelfon keruangan Anggita dan Leon.


triinggg ..


triiinggg...


triiinggg....


"Ya, ada apa, " Leon mengangkat telfonnya.


"Pak, ada bapak Lingga katanya dia ga punya janji sama bapak, tapi dia pengen ketemu bapak mumpung lagi di Samarinda."


"Suruh keruangan saya aja, " Leon Langsung menutup telepon.


Lingga pun datang ke ruangan Anggita dan Leon saat masuk ke ruangan Leon dengan heboh Lingga berteriak.


"Woahhh gila lu Len, awet bener sama budak Lo yang ini, " ucap Lingga sontak membuat Anggita melirik tajam ke arah Lingga.


Sialan aku lupa kalo Lingga ini tau Anggita budak s*k ku dulu," benak Leon.


"Mba, mau coba semalam ga sama aku nanti aku kasih ke lebih dari yang di kasih Leon deh, " ucap Lingga memainkan ujung rambut Anggita.


Anggita mengepalkan tangannya dan menatap tajam Leon. Anggita pun tak bisa menahan tangisnya.


"Aku, aku ... " Leon berbicara terbata-bata.


"Kak, aku kecewa dengan mu. " Kalimat terlontar dengan deruh air mata terus mengalir.


Leon mencoba melangkah mendekati Anggita,"Bukannya gitu, Nggit."


"Aku, gak tahan kak," Anggita termundur lalu langsung berlari keluar ruangan dengan tangisan.


"Aaarggggghhhhh, b*ngsat ! " sumpah Leon frustasi.


"Aa.. aku ga tau apa-apa Len, " jawab kikuk Lingga.


"Keluar, aku bilang Keluar !! " bentak Leon.


Leon terlihat frustasi dan pikiran nya jadi tidak konsentrasi, namun 2 jam lagi Anggita dan Leon ada rapat yang tidak dapat ia hindari.


Sedangkan Anggita berlari dan tidak tau kemana tujuannya, sekarang Anggita merasakan sangat tertekan entah bagaimana Anggita merasa dirinya sangat hina sekarang.


Akhirnya Anggita berlari ke rooftop gedung" Paman... aku sangat merindukanmu, " lirih Anggita memeluk kakinya.


"Siapa paman yang kau rindukan ? " Suara berat tak asing mengagetkan Anggita.


"Paman !!" Anggita berlari dan langsung lompat memeluk Juna.


Juna pun menangkap Anggita dengan cepat." Kau ini bodoh ya ! " ucap Juna setelah menangkap Anggita.


"Huuuuuu... huuuu... Paman.... " Anggita menangis histeris mengeratkan pelukannya.


Juna yang merasakan kesedihan Anggita, secara spontan Juna memeluk erat Anggita.


"Apa yang terjadi apa kau di tindas lagi ? "


"Aku rindu paman, " ucap Anggita masih menyembunyikan kepala di antara pundak dan leher Juna.


"Dasar bodoh ! " ucap Juna.


"Paman, kapan kau menikahi ku," ucap Anggita menatap Juna.


"Astaga, ingus mu kemana mana, " Juna mengelap air mata dan ingus Anggita.


"Jawab aku, " Lalu Anggita menarik nafas tertutup lendir di hidungnya.


"Emang kamu udah 17 tahun ? " tanya Juna menurunkan Anggita.


"Belum , aku sampai lupa umur ku baru 16 tahun sangking aku ngerasa aku udah dewasa," ucap Anggita menghapus air mata nya.


"Berarti kau memang bodoh."


"kau tidak bisa mengucapkan selain kata bodoh ya, " Anggita mencebikan bibirnya.


Juna pun mengangkat dagu Anggita dan menatap Anggita cukup lama, dan Anggita sudah pasti hanyut dengan pandangan indah di depan matanya.


"Paman kenapa kau tambah tampan, " ucap Anggita.


Juna pun langsung mencium bibir Anggita ciuman yang berawal hanya tertempel, kini Juna lebih memperdalam jejaknya. Sontak diawal Anggita terkejut namun lama kelamaan Anggita menikmati hidangan lembut, kenyal dan lincah di dalam mulutnya.


"Paman... kenapa paman lama lama membuat ku sulit untuk bernafas, " benak Anggita.


"Aku gak mau kalah !, aku harus menang. "


"Tapi, ini kali pertama aku melakukan ini! biasa cuman baca dan nonton aja, " lanjut benak Anggita.


Namun Anggita kehabisan nafas dan akhirnya melepaskan ciumannya.


Hosh..


Hosh....


Hosh......


"Paman... " Anggita menatap Juna.


"Itu hukuman mu, kau selalu mengirimkan ku foto setengah telanj*ng mu itu !" Juna membelakangi Anggita.


"Kau suka kan, " Dengan bersemangat Anggita membuntuti Juna yang melangkah.


"Siapa yang tidak suka yang begituan, aku juga normal lah, " batin Juna.


"1 jam lagi aku ada meeting di lantai 28," ucap Juna.


"Itukan dapartemen pemasaran, " benak Anggita.


"Untuk ? " tanya Anggita.


"Entahlah, " ucap Juna.


"Jangan-jangan Paman Juna mau meeting sama Leon." benak Anggita bertanya-tanya.


...terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati...