
...CHARACTER INTRODUCTION...
Arjuna Dwi Pratama
Juna berumur 24 tahun berasal dari negara Jerman yang menetap di Jepang ibunya orang Jerman dan ayahnya orang Indonesia. Juna seorang chef di restoran mewah kelas atas di sebuah kota megah di Jepang tepatnya di Tokyo, Juna memiliki sikap dingin dan juga datar sudah menjadi ciri khas seorang Juna Dwi Pratama. Juna menyukai masakan jepang sejak umur 17 tahun, Juna pergi dari rumah dan melanjutkan hidup nya sendiri orang tua Juna seorang Aktor dan Aktris yang tempramental .
Kehidupan Juna sejak kecil sangat suram Juna di tuntut memiliki nilai yang baik , prilaku yang baik , dan juga tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun hal itu membuat Juna sulit berekspresi.
Saat Juna mengenal fashion nya di masakan sejak SMA kelas 11 saat seorang wanita memberikan bekal masakan Jepang , wanita itu Shinee gadis berdarah Jepang itu adalah cinta pertama Juna. Shinee mengajarkan Juna cara membuat sushi mulai saat itu begitu berarti nya memasak dalam hidup Juna dan juga Shinee. Shinee lah satu satunya wanita yang mampu membuat mulut Juna tersenyum.
Saat kelas 3 SMA Shinee mengidap Leukimia dan maut memisahkan Shinee dan Juna.
"Bakat mu sangat kuat teruslah memasak aku akan berekarnasi dan mencicipi masakan mu," kata kata terakhir Shinee untuk Juna yang terus mengiang ngiang di otak Juna.
Juna pun memberitahu kedua orang tua nya bahwa Juna ingin kursus memasak dan ingin menjadi chef , jelas orang tua Juna melarang keinginan Meraka agar Juna menjadi profesor. Juna pun tak menggubris keinginan orang tuanya membuat ayah Juna murka dan memukuli Juna hingga hidung Juna patah.
Dihari yang sama Juna menuliskan, " Pah, Mah.. maaf kali ini aku tak dapat menuruti kemauan kalian. Aku akan pergi dari sini," kata kata terakhir yang di tuliskan Juna di secarik kertas sebelum pergi merintis karir dan mengasah kemampuan nya di negeri dengan ciri khas bunga sakura, Jepang .
Mulai saat itu Juna tumbuh menjadi pria yang lebih dingin di bandingkan sebelum nya , Juna berhasil menjadi chef executive yang cukup terkenal di sebuah hotel mewah di Tokyo.
Menurut orang awam itu pencapaian yang sangat hebat di bidangnya, namun menurut orang tua Juna gelar dan pencapaian Juna hanya sebuah bentuk pemberontakan yang berakhir buruk.
Hanya saja puncakJuna memiliki pekerjaan tersembunyi yang sangat rahasia yang jelas penghasilan Juna lebih besar di pekerjaan ini di banding menjadi chef executive. Ini yang membuat Juna menjadi kaya raya.
Anggita Amelia
Anggita adalah putri dari pengusaha konglomerat hebat di Indonesia, bisa di bilang perusahaan tambang nomor 1 di Indonesia. Anggita memiliki tinggi 168 CM di umur 15 tahun dan berat badan 70 Kg dan pada umumnya Anggita termasuk wanita berbadan gemuk di usianya.
Ibu Anggita meninggal saat umur Anggita 8 tahun. Ayah Anggita bernama Brama Hernanda setelah sebulan kematian ibu Anggita di mulailah penderitaan Anggita.
Sebulan kematian ibunya ayah Anggita menikah dengan wanita licik berbau neraka. Setiap saat , setiap detik ibu tiri yang bernama Herna Indah Permata dan kakak tiri yang bernama Leon Abrian yang terus menerus menyiksa Anggita.
Sepanjang pertumbuhan Anggita di iringi dengan penyiksaan dari ibu tiri dan kakak tirinya, sebab waktu itu ayah Anggita hanya pulang satu kali seminggu bahkan hingga satu kali dalam sebulan .
Bukan tidak di beri uang jajan, tidak di berikan makan atau pun di bedakan secara materi bentuk penyiksaan sang ibu tiri. Tapi sang ibu tiri Anggita akan menutup mata tentang apa pun yang anak laki-lakinya lakukan pada Anggita, Seperti di tampar ataupun di lecehkan secara mental.
Anggita di larang untuk mengadu jika itu terjadi maka hukuman menanti Anggita , hukuman Anggita berupa penganiayaan secara mental lagi dan lagi. Karena itu Anggita terlihat tertekan dalam situasi tertentu.
Karena dukungan sang ibu kakak tirinya semakin menjadi-jadi, kakak tiri yang memiliki umur 3 tahun lebih tua dari Anggita memiliki fetish dengan Anime characters mencoba untuk menyalurkan imajinasi nya dengan memaksa adik tirinya menggunakan cosplayer yang tergolong terlalu erotis untuk di gunakan, lalu dengan tanpa bersalah bahkan menikmati kebejadtannya Leon melakukan masturb*si di depan adiknya yang menggunakan costume sesuai dengan fetishnya. Itulah sebuah alasan pelecehan secara mental membuat Anggita menjadi sangat tertekan di waktu tertentu.
Saat Anggita berumur 15 tahun Anggita di ajak berlibur dengan Leon di Jepang. Awalnya Anggita tak ingin ikut dengan Leon Karena Anggita takut dan curiga, namun Leon memaksa Anggita jadi mau tak mau Anggita ikut pergi bersama Leon.
Namun saat berada di Jepang, Anggita malah di paksa untuk memuaskan nafsu kakak tirinya yang bejad itu. Untuk pertama kali nya Leon melecehkan Anggita secara fisik.
Anggita terus melawan dan membabi buta saat kakak tiri nya mejajalkan milik nya ke mulut Anggita , Anggita langsung menggigit nya hingga berbekas entah berdarah atau tidak , hal itu membuat kakak tiri Anggita murka dan menikam perut Anggita dengan gunting yang terletak di sekitarnya.
Dengan berlumur darah kakak tiri Anggita membuang Anggita di tempat yang sangat sepi tak ada satu orang pun melintas di sana karena jalan buntu yang sangat gelap namun bercabang dengan jalan pintas.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun kakak tiri Anggita meninggal kan Anggita, lalu berencana pulang ke Indonesia dan memalsukan kabar Anggita.
Namun takdir berkata lain maut tidak menghampiri Anggita di hari itu sang penyelamat datang menghampiri Anggita .
-PUKUL 22.00
Seperti biasa chef Juna pulang agak terlambat dari karyawan restoran yang lainnya , sebab dirinya ingin merapikan peralatan dapur nya sendiri sebelum pulang. Sudah biasa baginya karena Juna tipekal orang yang perfeksionis yang tak lain mengidap OCD yang cenderung Merapikan barang barang yang menurut nya penting baginya dan akan marah jika barangnya tergerak sedikit pun.
"Chef saya pulang deluan !, " seru Bruno berpamitan.
Seperti biasa Juna tak menjawab hanya mengangguk dan menaikkan alis kanannya.
-PUKUL 22.30
" Hufffftt.... " Juna menghela nafas kasarnya.
"Akhirnya selesai juga," lanjut Juna .
Juna membuka dompetnya dan mengeluarkan secarik foto dari dompet nya .
"Kau harus tau kini aku bisa hidup seperti ini sekarang karena kamu, kapan kau akan berekarnasi ? kapan kau akan menyicipi masakan yang ku buat ?" Sambil melihat secarik foto yang di keluarkan dari dompetnya.
"Sudah malam aku harus segera pulang, "ucap dalam hati Juna sambil melepaskan celemek nya .
Juna pun memastikan semuanya telah beres dan akhirnya Juna tenang untuk meninggalkan dapurnya tercintanya itu. Setelah memastikan Juna pun langsung keparkiran karyawan untuk mengambil mobilnya.
ckeeeekkkkk......
ckeeekkkk...
ckeeeekk..
suara starter mobil Juna yang sulit menyala.
"BERENGSEK !!!," Sumpah Juna kesal .
"Mau tidak mau aku berjalan kaki, jam segini bus sudah tidak ada !! " ucap Juna melangkah meninggalkan mobilnya sambil melihat jam tangan.
Juna pun mengambil jalan pintasnya untuk ke apartemen nya terdekat dari restoran .
"Aku ke apartemenku yang dekat restoran ini aja dah, badanku sudah lelah sekali. "
Gelap malam bercampur embun Juna menyusuri jalan setapak yang tampak suram dan kumuh. Suara tetesan air AC terus menderus membasahi tepi tepi jalan. Juna tanpa gentar melalui dengan wajah datar tidak bergeming , hati kosong membuat Juna mati rasa akan perasaan.
Tiba di suatu tempat Juna mencium aroma darah yang sangat menyengat , saat Juna menyadari aroma itu Juna menghentikan langkahnya tiba tiba ringisan terdengar jelas di telinga Juna.
"Tolong...... tolong ... aku ... siapa pun tolong aku," ringisan Anggita dengan suara kecil tak bertenaga.
Mendengar itu Juna menghampiri sumber suara itu Lalu melihat kaki seorang wanita berbadan gempal dan berisi terbalut baju dan celana piama yang penuh dengan bercak darah sedang berbaring lemah di sisi himpitan di antara dua gendung. Sontak Juna membelalakkan matanya.
Bertanya tanya dalam benak Juna.
"Apa yang harus aku lakukan?."
"Tapi ini bukan urusan ku." Lanjut Juna langsung pergi meninggalkan Anggita.
" Tolong.... tolong aku kak..... ku mohon tolong aku .... " Ringisan Anggita dengan nada penuh permohonan.
Juna pun tak menggubris ringisan Anggita dan terus melangkah kan kakinya sekitar 15 langkah Juna merasa bimbang .
"Sialan !! perasaan macam apa ini !!," Juna mengutuk dalam hati lalu Juna menghentikan langkahnya.
Juna pun berlari kembali menghampiri Anggita terlihat Anggita sudah tidak sadar kan diri dan akhirnya Juna memutuskan membawa Anggita , Juna menggendong Anggita hingga ke apartemen miliknya.
"Kenapa aku harus kembali? bukan kah aku sudah tak punya hati nurani, " benak Juna sambil berjalan cepat menuju apartemen nya.
Setelah sampai di apartemen Juna , Juna pun langsung merawat Anggita dengan penuh hati-hati Juna menjahit luka Anggita sendiri dan membasuh tubuh Anggita.
Juna memiliki multitalenta yang luar biasa Juna memiliki basic basic kedokteran , olahraga , memasak , hingga IT tak heran mengapa Juna mampu merawat Anggita tanpa bantuan dokter .
"Anak sekecil ini, mengapa Dia bisa seperti ini dan juga sepertinya Anak ini bukan orang Jepang ? Aku dengar tadi dia minta tolong dengan bahasa Indonesia, kalo aku hubungi Polisi sekarang siapa tau nyawa anak ini terancam ? apa tunggu nanti saja ketika Dia sadar?"grutuan Juna dalam hati Juna bertanya tanya sambil melihat wajah Anggita.
•PUKUL 05.00 Pagi.
Pagi hari pun tiba Juna terbangun dari tidurnya dan langsung menyiapkan diri dan sarapan Juna memutuskan untuk izin cuti sementara menunggu Anggita sadarkan diri.
"Halo, jangshi aku mau cuti, " Juna menelfon atasannya.
"Yaaa... kenapa tiba-tiba, " Jangshi pun dengan geram berteriak.
"Aku sibuk, " Juna menutup telfonnya.
"Haiistt anak ini, kalau bukan kau anak didik kesayangan ku sudah ku bikin sup, " Jang menggrutu marah karena Juna menutup telfonnya.
Sarapan telah di buat, Juna memutuskan untuk melihat keadaan Anggita. Juna pun membawa kan seporsi bubur yang dirinya buat ke kamar Anggita.
"Mama, mengapa kau tinggalkan aku.... " Igauan lirih Anggita yang tak sengaja terdengar Juna.
"Ternyata gadis ini orang Indonesia." Juna menaruh air mineral di meja samping ranjang.
"Mama, selama 7 tahun aku di siksaa maaa !!.. " lanjut igauan Anggita.
Mendengar igauan Anggita, Juna merasakan kesedihan Anggita Juna pun meletakkan sarapan nya di meja dekat ranjang tepat di samping air mineral berada dan langsung menggapai tangan Anggita lalu menggenggam erat .
"AKU BUKAN BUDAK S*KS !!! " teriak Anggita lalu Anggita tersadar dari tidur nya .
"Hosh.. Hosh... Hosh...." Nafas tak beraturan Anggita ketika terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun ?, mari makan dulu, " ucap Juna melepaskan genggaman nya dan mengambil mangkuk.
Hiks,
Hiks,
Hiks,
"Kenapa kau menangis kau menyesal masih hidup ?, bukankah kau meringik minta tolong semalam, " ucap dingin Juna.
Anggita terdiam menatap Juna dengan wajah ketakutan." Akuu... takutt ... siapa kakak ini apa aku mati di tangan dia ? atau aku akan di jadikan budak s*ks nya , yaaa tuhan tolong aku..." ucap dalam hati Anggita sambil meneteskan air matanya terus menerus.
"Jangan takut aku tidak akan memakanmu, " ucap Juna dengan wajah datar .
"Hmm .. terimakasih kak sudah menolong ku," ucap Anggita.
"Ayo saya bantu duduk." Juna membantu Anggita duduk dan bersandar dengan hati hati.
"Siapa nama mu ? " tanya Juna sambil mengaduk bubur .
"Anggita kak, " ucap Anggita.
"Kenapa kau bisa terluka tusukan dan kepala mu di perban, " ucap Juna sambil menyuapkan bubur.
Anggita pun menyambar suapan pertama yang di suapkan Juna.
"Hmm... luka di kepala Anggita ini di pukul mama tiri Anggita karena Anggita menolak ikut pergi kesini, dan perut Anggita ... di tusuk kakak tiri Anggita, " ucap Anggita setelah selesai menelan bubur nya.
"Ditusuk karena ? " tanya Juna
"Hmmm ... karena dia memaksa Anggita buat melayani dia tapi Anggita menolak huhuhuhuhu.. " ucap Anggita lalu menangis histeris.
"Heyy jangan nangis, kau aman bersama ku, " ucap Juna sambil memeluk lembut Anggita.
Anggita terjeguk menahan tangisnya.
hek,
hek,
hek,
"Sudah-sudah .. ayo makan dulu ," ucap Juna sambil menyuapkan buburnya lagi Anggita pun memakan nya dengan lahap.
"Anak patuh ," ucap Juna sambil membelai pipi Anggita dan berdiri meninggalkan Anggita.
" Kakak, jangan kembali kan aku dengan keluarga ku kumohon kak, " ucap Anggita.
"Kau istirahat dulu, aku akan keruang tamu," ucap Juna dengan wajah datar menutup pintu kamar.
Juna pun berjalan menyusuri koridor hingga sampai ke ruang tamu , lalu Juna duduk di sofa sambil berfikir tentang Anggita.
"Aku harus apa?, gadis ini sebuah masalah untuk ku apa aku hubungi polisi saja?, tapi entah kenapa aku merasa kasihan dengan gadis kecil ini, " ujar benak Juna sambil melipat tangan kirinya dan tangan kanannya memegang dagunya.
Juna pun akhirnya tertidur di sofa karena mengantuk, tak lama kemudian Anggita keluar dari kamarnya dan melihat Juna terlelap dalam tidur nya di sofa big size yang berada di ruang tamu.
"Umh.. kakak ini tampan sih tapi seperti nya jauh lebih tua dari ku? " benak Anggita sembari membungkuk dan menatap Juna yang tertidur.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu." Secara tiba tiba mata Juna terbuka lebar dan langsung menatap tepat wajah Anggita yang hanya berjarak sekitar tujuh sentimeter .
"Umhh mau liat aja malaikat penyelamat ku hehe, " ucap Anggita sambil cengengesan.
"Erhmm.. " Juna terlihat sedikit kikuk mendengar ucapan Anggita.
"Terima kasih paman sudah menolong ku," ucap Anggita.
"Anak ini tadi manggil kakak sekarang paman," benak Juna tak senang.
"Bukan apa apa, kau cepat pulih dan pergi lah dari rumah ku, " ucap Juna sambil memalingkan wajah datarnya.
"Mmm.. maafkan telah merepotkan mu paman" ucap Anggita langsung duduk di samping Juna secara menghentakkan badannya tanpa perkiraan.
"Awww.... sakit... " ringis Anggita merasakan sakit di bagian perutnya tak lain itu adalah bekas jahitannya.
"Heeist..apa kau bodoh! " Sentak Juna langsung membuka piyama bagian perut dimana luka itu berada.
"Apa luka mu terbuka lagi? " ucap Juna dengan wajah datarnya.
"Tidak.. tau... " ucap lugu Anggita.
Juna terlihat masih serius melihat luka Anggita, Juna sangat khawatir dengan keadaan Anggita sekarang.
"Paman, paman mau gak adopsi aku? " ucap Anggita lugu.
"Tidak tertarik," ucap Juna duduk kembali di sofa.
"Aku bisa melakukan apapun paman... aku serius ..." ucap Anggita sambil menatap serius wajah Juna.
"Apa saja yang bisa kau lakukan? " tanya Juna sambil menaikan alis kanannya.
terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati.