My Fat Spoiled Girl

My Fat Spoiled Girl
3



... Bab lll...


•1 bulan kemudian.


"Kau harus pulang Anggita ! , orang tua mu bisa saja menuntut ku nanti."


"Gak mau ! aku bilang gak mau ya gak mau ! " si kukuh Anggita .


"Okay fine, I will call police now , " ucap Juna menekan Anggita.


"Kau ingin aku pergi ya , kau berkata kau akan menikahi ku .. apa yang kau coba lakukan.. kau ingin menyingkirkan ku? " ucap lemah Anggita.


"Bukan maksud ku seperti itu , ini masalah dirimu dan hukum pasti orang tua mu sudah mencari mu selama ini , " ucap Juna menenangkan.


"Baiklah...,aku pulang dan aku akan kembali untuk menagih janji mu ! " Ancam Anggita.


"Ya terserah lah .. " ucap Juna, datar.


...------------------...


Setelah negosiasi panjang Juna pun berhasil membujuk Anggita untuk pulang kerumah Anggita di Indonesia.


"Aku ambil cuti panjang mulai besok." Sambil merapikan pakaian dalam koper.


"Paman ikut? " Tanya Anggita.


"Aku akan mendampingi mu." Wajah datar Juna membungkam mulut penasaran Anggita.


"2 jam lagi penerbangan kita," tukas Juna, lalu membalut coat tebal ke tubuh berisi Anggita.


"Paman akan mendampingi aku kan.. " ucap ragu Anggita dengan penuh kebimbangan dalam hati Anggita.


"Aku hanya mengantarkan mu pulang." Balas dingin Juna.


" Oh.. Gitu.. " lirih Anggita.


•PUKUL 09.00 Pagi.


Di bandara Internasional menuju keberangkatan Jepang ke Indonesia.


Saat berada di dalam pesawat Anggita dan Juna mendapatkan urutan duduk berdampingan" Paman.., " ucap lembut Anggita.


"Ada apa? " Sambil membaca buku nya Juna menjawab.


"Aku.. " Ragu Anggita mengatakan.


Juna menutup bukunya" Ada apa, Kau gugup? " tanya Juna menatap wajah Anggita.


"Iya, " jawab Anggita menganggukkan cepat kepalanya.


"Kau tenang saja, " ucap Juna mengacak-acak puncak kepala Anggita.


"AAAAA..! " teriak Anggita membuat mata penumpang lainnya mengarah padanya.


Canggung Juna melihat semua mata mengarah padanya dan Anggita. " Erhmm, rambut mu itu


berantakan gimana sih " Juna mengalihkan perhatian seolah-olah memerhatikan Anggita.


"Hihi, " Anggita tertawa kecil akhirnya Anggita mulai lelah dan tertidur selama perjalanan yang begitu panjang.


•Jakarta , Pukul 15.30.


"Nggie." Juna mencubit pipi gembul Anggita untuk membangunkannya.


"Nggie bangun udah sampai," ucap Juna membangunkan namun hanya di respon Anggita dengan gerakan mengangguk.


Geram Juna tak sabar akhirnya Juna menggendong Anggita ala bridal namun Juna merasa tidak nyaman dengan jalan di dalam pesawat sangat sempit. Juna pun merubah posisinya seperti seorang balita yang digendong ayahnya dan Sang balita memeluk leher Sang ayah dan menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya.


Pramugari pun melirik sikap gentel seorang Juna tak sedikit sang pramugari terpukau dengan sikap Juna." Eh.. liat deh pria itu menggendong adiknya sangat hati hati. " Bisik pramugari ke pramugari lainya.


"Tuan , mari saya bantu," ucap salah satu pramugari mendatangi Juna.


"Tidak perlu, " jawab Juna.


"Tidak apa tuan, " Pramugari mengejar langkah Juna.


"Kau bisa bantu orang tua di sana, " ucap Juna menunjuk seorang wanita tua susah untuk berjalan.


"Umh , baiklah "Rasa kecewa pramugari.


"Kak , bisa saya minta kontak Anda ? " tanya pramugari setelah mengumpulkan keberanian.


"Saya sudah memiliki istri " ucap dingin Juna.


"Benarkah tuan ? " tanya ragu pramugari.


"Sayang bangun, beritahu dia tanggal pernikahan kita, " ucap Juna.


"Hoaaamm... , Kami sudah menikah 2 tahun dan kami menghabiskan malam dengan bercinta hampir tiap malam kau tau? oppa Juna sangat pandai di atas ranjang, " ucap Anggita yang masih bersembunyi di pertengahan leher dan pundak kanan Juna membuat Juna dan semua mata yang tertuju dengan 3 insan itu membelalakkan mata mereka.


Dengan merona bercampur sesak pramugari mendengar pernyataan Anggita menahan binar di matanya. Juna pun tanpa menoleh sedikit pun meninggalkan pramugari yang patah hati itu.


Sesampainya di bandara internasional di Jakarta Juna di jemput dengan Paman Gober , paman yang sangat menyayangi Juna sejak masih bayi dan Juna juga menyayangi adik dari ayahnya itu.


"My son !! " Teriak Paman Gober memanggil.


Juna tersenyum mendatangi paman yang satu-satunya ia sayangi." Apa Kabar paman ? " tanya Juna.


" Paman baik nak, bagaimana kabar mu ? " ucap bersemangat Paman Gober.


"Ba-" ucap Juna terpotong. " argh... Kau tau apa yang paman mau, good job my son ! " Lanjut Paman Gober memotong omongan Juna.


Juna pun mengangkat alis kanannya dan masih menggendong Anggita bak seorang balita kecil.


"Pintar sekali kau mencari calon istri nak, " Paman Gober bertanya sambil mengambil alih koper yang di genggam Juna.


"Paman, ini bukan calon istri ku," ucap Juna memperbaiki keadaan nya agar Anggita nyaman di gendongan nya.


"Benarka , Lalu siapa ? " tanya kaget sang paman sambil berjalan mengarah parkiran.


"Ini anak nya pengusaha terkaya di negara ini," tukas Juna.


"Apa ini putri Anggita yang hilang 1 bulan yang lalu , kalo iya kita bakal kaya raya Juna! " ucap Paman Gober.


"Mari kulihat wajahnya" Paman Gober menyingkirkan rambut Anggita yang menutupi wajahnya .


"Astaga, benar ini putri konglomerat nya pulau Kalimantan Juna ! " ucap bersemangat Paman Gober.


"Paman kau itu juga sudah kaya! , jangan serakah, " ucap Juna terus melangkah.


"Bukan gitu Juna, paman kan juga punya perusahaan sendiri tapi keuntungan kita bakal besar banget kalo sampe bisa berkerja sama dengan salah satu cabang PT. Brama Hernanda saja. Kita pasti lebih berkembang " ucap Paman Gober.


"Paman, itu terserah kamu saja. "


"Kau juga harus mengambil alih perusahaan paman kelak, " ucap Paman Gober.


Dengan langkah menuju parkiran sudah banyak topik yang terbahas hingga tiba lah di mobil Paman Gober terparkir.


"Paman.. aku ini chef aku ingin punya restoran sendiri kelak, aku gak mau gelut di bidang bisnis." ucap Juna sambil membuka bagasi belakang.


"Nak Paman mu ini udah tua kau tau Paman tidak punya anak lalu paman harus bagaimana ? " Ucap sedih Paman Gober menyusul Juna dan memberikan koper untuk Juna angkat ke bagasi.


"Paman kau bisa hibahkan saja itu akan jadi amal mu untuk bekal kau mati " ujar ketus Juna.


...//PLAAKKKKK!!!//...


Paman Gober memukul punggung Juna.


"Hahahaha," Juna tertawa gelak mengejek Pamannya.


"Paman masih takut mati ya, hahaha. " Juna menaruh Anggita ke kursi penumpang belakang dan memasang kan sabuk pengaman.


Juna pun berhenti dari aktivitas nya begitu menyadari wajah Juna begitu dekat dengan wajah Anggita yang memiliki pipi gembul.


"Kenapa aku baik sekali padanya , Aku menggendong nya dari tadi. Tapi liat pipinya besar sekali seperti bakpao, " Juna bertanya-tanya dalam hati lalu tersenyum dan mengelus pipi gembul Anggita.


Juna pun mengambil alih untuk mengendarai mobil pamannya dan menuju villa pribadi milik Juna yang di beli 2 tahun yang lalu namun belum pernah di tempati.


Juna berkendara sambil berbincang asik dengan paman tercintanya hingga tak sadar sudah tiba di vilanya.


"Woah .. besar sekali, " Kagum paman Gober menatap betapa mewah penyambutan visual dari luar vila yang di desain dengan kombinasi silver dan marmer hitam pekat, sangat bersenada dengan karakter dingin Juna. Di tambah dengan sorot lampu kuning yang menambah kesan mewah.


"Anggita bangun, " ucap Juna mencolek lutut Anggita.


"Iya paman, " Anggita membuka matanya dan mengumpulkan seluruh nyawanya.


Juna membukakan pintu untuk paman dan lalu Anggita." Ayo masuk, " ucap Juna menggandeng tangan Anggita keluar dari mobil, dan kemudian masuk ke dalam vila mewah yang berpijak di lahan berukuran 2 hektar itu.


"Paman, kau bisa gunakan ruang utama di atas, " ucap Juna memberikan kunci kamar ke Paman Gober.


"Biar Paman tidur di kamar tamu saja, nak. "


"Paman, kau orang yang paling aku hormati. Pergilah dan istirahat dengan benar " ucap Juna .


"My son, berikan pelukan hangat buat pamanmu ini, " Paman Gober hendak memeluk Juna namun Juna menepis.


Melihat Anggita dan Paman nya hendak berpelukan Juna pun memeluk Anggita dari belakang dan mengangkat Anggita menjauh dari Pamannya sejauh mungkin.


"Kau harus tidur, " ujar Anggita menggendong Anggita menuju kamarnya.


"Paman, aku mau tidur dengan mu " ringik Anggita yang masih di dekap Juna.


Paman Gober nya menggelengkan kepalanya." Aduh.., kenapa Juna menjadi seperti itu, " menatap heran Juna.


Juna pun tiba di kamar miliknya dan melemparkannya tubuh berisi Anggita di ranjang berukuran sangat besar.


"Uhhkk... " suara Anggita karena hentakan tubuhnya.


Juna melepaskan Hoodie yang ia gunakan dan menyalakan AC." Paman kau serius membiarkan ku tidur bersama mu ? " tanya Anggita sambil melepaskan jaketnya, Anggita pun hanya terlihat menggunakan bra sports.


Juna pun menoleh ke arah Anggita." Kenapa kau melepaskan jaketmu ! " ucap Juna mengalihkan pandangannya .


"Gerah."


"Pakai kembali atau ku biarkan kau tidur di luar ! " bentak Juna.


"Gak , aku gak mau tuh."


Tiba tiba Juna menindih tubuh Anggita." Aku ini pria normal, " bisik Juna.


"Yang bilang paman gak normal itu siapa ? " ucap Anggita mengalungkan tangannya di leher Juna.


Juna pun mendekatkan wajahnya di kuping Anggita, lalu menggigit kuping Anggita.


"Aaaaaaaaaaaaa..... Sakit Paman... Sakit.. Sakit.. ampunn.... " Teriak Anggita kesakitan.


Juna pun melepaskan gigitannya dan bangkit." Kau ini masih bocah tapi kelakuan nya kaya perempuan nakal ! " Kata-kata Ketus terlontar dari mulut Juna.


"Huuuuu... Paman jahat ..aku kasih tau Paman mu ni ! " Sorak Anggita .


"Hufftt..." Juna menghela nafas setelah duduk di kursi besar di sisi ruangan ." Coba saja kalo kau keluar dari kamar ini kau tidak akan bisa masuk, " ucap Juna membuka bukunya.


"Arhh, tau ahh mau mandi " ucap kesal Anggita membuka kopernya dan mengambil baju tidurnya.


"Paman semua baju tidur ini kau belikan untuk ku?, tapi paman kenapa membelikan ku motif gambar gambar animasi seperti ini, " omelan Anggita.


"Kau itu masih berumur 15 tahun Anggita "


"Tapi paman pakaian tidur ku di rumah sangat sexy loh. " Juna memutarkan matanya sambil balikkan halaman bukunya mendengar kata kata Anggita.


Anggita pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya." Paman !! " Teriak Anggita dari kamar mandi.


"Apa Anggita. "


"Handuk.. " ucap Anggita dengan cengangas- cengenges menyembunyikan badannya di balik pintu.


Juna pun segera mengambil handuk untuk Anggita." Cepat selesaikan mandimu nanti masuk angin " memberikan handuk.


" Terimakasih paman " senyum Anggita menglegar.


Anggita pun keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap namun tetap saja membuat Juna marah lagi dan lagi kepada Anggita.


Juna berjalan kekamar mandi sedangkan Anggita duduk di cermin rias dan menyiapkan seluruh perawatan kulit nya. " Du...du... du..dudu... " Senandung Anggita.


Juna melempar kan anduk di kepala Anggita." Apa kau bodoh ! " Sontak membuat Anggita mencibir kan bibirnya.


"Dasar om om tua kerjaannya memaki saja " grutuan pelan Anggita memaki Juna.


Juna pun mengontakan saklar pengering rambut yang di ambilnya di kamar mandi " tidak usah menggerutu kau memang bodoh, " ucap Juna mengering kan rambut Anggita dengan handuk.


"Humpphh, Paman nih kenapa sih ngatain aku bodoh terus, " Anggita merajuk.


"kenapa kau tidak mengering kan rambut mu? " tanya Juna.


"Itu karena - " terpotong dengan ucapan Juna. " Karena kau bodoh, " lanjut Juna.


Anggita hanya menghela nafas dan menurunkan kedua pundaknya." Terserah paman, lah."


Juna pun mengeringkan rambut Anggita dengan mesin pengering dengan piawai dari terakhir kali ia melakukan itu sekitar 7 tahun yang lalu.


"Kenapa aku melakukan ini , kenapa harus ke dia? " benak Juna langsung menghentikan aktivitasnya.


" Kau lanjutin aja sendiri," ucap Juna memberikan mesin pengering rambut nya.


" Emh.., iya paman kau istirahat aja, " ucap Anggita.


Anggita pun mengeringkan rambut dan memberikan perawatan pada kulit nya sebelum tidur. Sedangkan Juna sudah mengatur posisinya di ranjang berukuran super besar itu.


Anggita pun berjalan menuju ranjang sambil bertanya kepada Juna. " Paman kenapa sih Paman ga tertarik sama Anggita ? "


" Kau itu masih bocah. "


" Kata paman aku terlihat seperti seumuran paman. "


Anggita pun tidur di sebelah Juna dan menatap Juna. " Aku mau tanya deh kenapa kau tau bahasa bahasa erotis seperti tadi saat di pesawat " ucap serius Juna menatap Anggita.


" Anggita itu suka baca Manhwa dan anime adult jadi menurut Anggita bahasa itu kurang extrem, " ucap Anggita dengan lugu menceritakan.


" Kau tak malu memberitahu ku ? "


" Tidak , kau akan jadi suami ku kelak, " Anggita mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan Juna.


Juna hanya diam terpaku melihat sifat agresif Anggita yang menurut nya terlalu terang terangan.


" Sudah lah kau tidur sana, " ucap Juna mendorong kening Anggita menjauh dari wajahnya.


" Kelonn... " Ringik Anggita mengajukan bibirnya.


...* kelon \= peluk sambil tidur...


Entah apa yang di pikirkan Juna , Juna menuruti permintaan Anggita yang manja itu Juna membuka dekapan nya seolah menyuruh Anggita masuk kedalam dekapannya.


"Tidur lah besok kita ke Samarinda, " ucap Juna mendekap Anggita.


"Terimakasih paman kau sangat baik dan perhatian pada ku," ucap Anggita memeluk erat Paman idamannya itu.


...Keesokan harinya Pukul 08.00 Pagi....


"Paman ayo bangun " Anggita menggoyang-goyangkan lutut Juna agar terbangun dari tidurnya.


"Erhmm, lima menit lagi ya " ucap Juna menarik selimut.


Anggita mengecup bibir Juna namun langsung pergi dengan cepat dari kamar itu, membuat dengan cepat Juna membuka matanya.


"Hissstt , anak ini ... " Ucap Juna mengacak kasar rambutnya.


Juna pun bergegas mempersiapkan dirinya lalu mendatangi Anggita di ruang makan." Juna sini makan, masakan Anggita ternyata enak juga, " ucap Paman Gober menyambutnya langkah Juna.


"Apa kau masak semua ini ?" tanya Juna menyampingi Anggita yang menyiapkan sarapan.


"Iya Paman semoga suka. Anggita ga tau kalian bakal suka atau enggak Anggita cuman sering masak gudek Yogya aja, " ucap Anggita menuangkan beberapa sendok nasi ke piring Juna.


"Anggita juga ga sepandai yang Paman Gober bilang, " lanjut Anggita.


"Kamu orang Jawa ya ? " Tanya paman Gober.


"Hehe iya Paman cuman Anggita lahir dan besar di pulau Kalimantan tepatnya di Samarinda. "


"Pasti ayah mu bangga punya anak cantik dan pandai masak seperti mu," ucap Paman Gober.


"Haha, kalo ayah sih selalu muji Anggita mau masakan Anggita gak enak sekalipun, " ucap Anggita menarik kursi yang hendak ia duduki.


" Silahkan paman di makan," Anggita mempersilahkan.


Juna pun menyicip satu persatu lauk dan liquid yang di buat Anggita dengan teliti. " Ternyata anak ini pandai juga memasak, tinggal di asah sedikit saja untuk belajar volume memotong sayur sayuran ini, " benak Juna yang menikmati hidangan yang di buat Anggita.


"Erhmm , kita akan berangkat jam 10 karena jam 12 siang sudah boarding." ujar Juna setelah menikmati sarapannya.


"Ehh aku bahkan belum packing " Anggita terkejut.


"Paman sih mau kembali ke Medan, nak, " ucap Paman Gober.


"Paman harus temani aku antar Anggita. "


"Baiklah baiklah, Paman akan telfon asisten paman untuk handle semuanya, " Paman hanya pasrah dengan kehendak Juna.


Paman pun pergi dan tinggal tersisa Anggita dan Juna di meja makan." Anggita, aku akui masakan mu enak " ucap Juna .


"Terimakasih paman. "


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan bahan bahannya ? "


"Aku membeli nya dan aku membayar dengan handphone mu paman, " Anggita tersenyum lebar mengatakan nya tanpa dosa.


"Astaga... " ucap Juna menggelengkan kepalanya.


terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati.