My Fat Spoiled Girl

My Fat Spoiled Girl
2



...Bab ll...


"Paman, paman mau gak adopsi aku? "  ucap Anggita lugu.


"Tidak tertarik," ucap Juna duduk kembali di sofa.


"Aku bisa melakukan apapun paman... aku serius ..." ucap Anggita sambil menatap serius wajah Juna.


"Apa saja yang bisa kau lakukan? " tanya Juna sambil menaikan alis kanannya.


...___________________...


Dengan memimbikkan bibirnya Juna menunggu jawaban dari Anggita.


"Aku bisa memasak, cuci baju, cuci piring, mengepel, membersihkan kebun, menjadi budak s*k," ucap lugu Anggita sambil menghitung dengan jari-jemarinya.


"Apa..? Apa kau bilang? " ucap Juna mengkerut kan dahinya.


"Yang mana? Perlu aku ulangi semuanya? " ucap Anggita.


"Budak sss....? "


"Iya.. aku selalu di paksa menggunakan pakaian minim oleh kakak tiriku dan dia menyuruh ku berdiri dan berpose seperti apa yang ia suruh, " ucap Anggita seketika sendu.


"Lalu..... " ucap Anggita mulai melemahkan nadanya.


"Lalu? " tanya Juna penasaran.


"Aku di suruh diam dan menonton dirinya mastrub*si, " ucap lemah Anggita sambil mengingat traumanya.


Juna yang melihat tubuh Anggita seketika bergetar membuat keinginan Juna untuk menenangkan Anggita semakin membesar. Tanpa pikir panjang Juna langsung memeluk tubuh mungil Anggita, " Sudah.. mulai sekarang kau aman bersama ku," Kata kata itu terlontar tanpa tersaring dari mulut milik juna yang biasa melontarkan kata kata ketus.


"Terima kasih, paman. " ucap Anggita memeluk Juna dengan hangat.


"Sudah kau harus istirahat yang cukup! "Juna melepaskan peluk seketika dan membuang wajah dinginnya.


"Baiklah, " ucap Anggita dengan ringisan manis dari senyuman nya yang indah.


"Minum penahanan rasa nyeri milik mu, sebelum tidur! " seru Juna sedikit kaku.


"Baik bos, " hormat Anggita.


"Erhmm, Kalau merasa tidak enak dan juga butuh apa apa panggil saja aku aku di kamar sebelah. " Dengan canggung Juna membuang wajah tak menatap Anggita.


"Umh.. Terima kasih paman," ucap Anggita terpesona.


"Jangan salah paham! ini semua agar kau cepat pergi dari sini, " ucap Juna dengan menstabilkan ekspresi wajahnya.


( perkataan dan hatinya tak sesuai karena Juna belum menyadari sepenuhnya mengapa dia melakukan semua ini )


"Hold on .. wooo cah gemblung, saiki arep aku nyengkreh tak kiro arep adopsi aku ( sebentar... ohhh dasar anak aneh , sekarang mau aku menyingkir kirain mau adopsi)" grutu Anggita dengan mimik wajah sangat imut.


"Hei.. kau ngomong apa! wajah mu seketika seperti menggrutukan keburukan ku! " tegur tak senang Juna.


"Umhh tidak aku bilang kau tampan, " ucap bujuk Anggita lagi lagi membuat perasaan Juna tak karuan seketika.


"Ahrg.. ngomong apa sih. " Wajah datar dan tatapan dingin seketika datang di wajah Juna.


Bukannya takut Anggita malah merasa lucu dengan sikap Juna yang dingin padanya sebab, setiap pria yang bertemu dengan Anggita mereka selalu berbuat manis di depan Anggita dan perilaku itu membuat Anggita sangat muak.


"Kenapa senyum senyum.. kembali sana! " tegas Juna.


"Iya iya.. " ucap Anggita sambil berjalan mundur dan terus menatap Juna hingga ia menutup pintu kamarnya.


"Hisstt, apa ini karena aku tidak pernah kencan dengan wanita stelah shanne, "grutu Juna. " jantung ku berdetak seperti ini " ucap Juna meraba dadanya.


"Tapi ini kan, bukan kencan! aduhh Juna kau ini mau jadi Pedofil apa! " ucap frustasi Juna.


Akhirnya Juna pun kelelahan dan tertidur di kamarnya sedang kan Anggita hanya menahan rasa sakitnya dikamar karena lupa meminum obat penahan rasa sakit milik nya.


•Pukul 12.00 Siang.


Terlihat hidangan hidangan mewah telah tersusun rapi di meja makan bernuansa batu marmer Onyx yang merupakan salah satu jenis batu marmer termahal di dunia.


"Anggita! " seru Juna memanggil Anggita.


"Iya.. " jawab Anggita dengan lemah dan wajah pucat.


"Astaga kau kenapa?? " Langsung menuntun duduk Anggita.


"Sakit.. " ringis Anggita memegang lukanya.


"Coba aku lihat " ucap Juna.


"Kau tidak minum obat? " Tanya Juna dengan tatapan intimidasi.


"Aaa.. Aa..aku lupa.... " Dengan terbata bata Anggita mengakui kesalahan nya.


"Astaga, Anggita kau ini bodoh atau apa! " Ucap Juna menepuk keningnya.


"Maaf.. " ucap Anggita menyesal.


"Cepat makan lalu minum obat. " Perintah Juna.


"Baiklah. " Jawab Anggita.


Akhirnya Anggita melahap semua hidangan yang dibuat dengan Juna entah bagaimana Juna membuatkan Anggita Sushi sedangkan setelah kehilangan shanee Juna bersikukuh untuk tidak menghidangkan Sushi ke siapapun.


"Umm.. paman ini enak banget loh, " ucap Anggita sambil Mengecap-ngecap.


"Kenapa paman ga jadi Chef aja?" lanjut Anggita yang masih melahap hidangannya.


"Apa dia bodoh tidak melihat piagam dan sertifikat milik ku yang terpampang di sisi lain ruangan ini, " benak Juna hanya terdiam mengaduk-aduk secangkir kopinya.


"Paman kenapa diam aja? Paman gak makan? " tanya Anggita lagi.


"Apa rasa nyeri mu sudah hilang kenapa saat makan kau ribut sekali! " Ucap Juna dengan wajah datar.


"Oh iya ini enak banget sih hehe, " ucap Anggita tanpa bersalah.


"Oh iya paman kenapa ga buka reastourant Sushi aja pasti laku keras kalo enaknya begini, " ucap Anggita.


"Iya.. aku suka banget sama Sushi pas dulu aku pernah private bikin sushi tapi malah di hentikan sama mama tiri aku, " ucap Anggita.


"Nanti kalo sembuh belajar aja sama aku " ucap Juna lagi lagi tanpa kontrol terucap.


"Benar kah.. Terima kasih banyak paman.. " ucap antusias Anggita .


"Iya, " ucap singkat Juna.


"Paman aku tidak punya baju ganti , semua nya ada di apartemen bagaiman ini aku hanya punya uang 10 Kwon di kantung ku apa itu cukup buat beli baju? " ucap lugu Anggita.


"Huft... tidak kau tidak bisa beli baju dengan uang segitu, " ucap Juna setelah menghela nafas beratnya.


"Lalu bagaimana masa aku pakai karung beras hiks.. hiks.. " ucap rengekan Anggita.


"Pfft... " Tawa Juna yang tertahan.


"Erhmm.. " Juna memperbaiki Imagenya " Kau pikir kemasan beras di sini sama kaya di Indonesia? " lanjut Juna.


"Emang beda ya? atau jangan jangan aku harus pakai kantung sampah hiks..hikss..hiks.. " Rengekan Anggita sukses membuat Juna tertawa.


"Hahahaha... kau ini bicara apa ! tenyata kau memang bodoh ya.. hahaha," ucap Juna sembari tertawa.


"Kenapa paman mengatai ku bodoh tiap saat sih! , asal paman tau aku ranking satu berturut-turut di sekolah tau! aku sekolah di International School " rajuk Anggita.


" Humpphh.. " Anggita membuang kesal wajahnya.


"Astaga anak ini marah, tapi lucu sekali " ucap benak Juna melihat tingkah laku Anggita.


"Maafkan aku, tapi aku tidak percaya, " ucap Juna mengangkat bahunya.


"Paman bisa cek di google dan lihat prestasi aku... !!!! " ucap Anggita geram.


"Cihh, " sentak seringai Juna. "Kurang kerjaan banget aku "


"Ya siapa tau berubah pikiran aku kasih tau aja Anggita Amelia from INTERNATIONAL SCHOOL ! INGAT YA INGAT!! " ucap geram Anggita .


"Hmm sudah kan makannya dan minum lah obat mu! " ucap Juna.


"Oke, aku akan minum lagian rasanya makin perih." Seketika Anggita tidak merajuk lagi.


Juna yang melihat tingkah laku Anggita yang berubah-ubah sangat menarik perhatian Juna. Tanpa sadar Juna tersenyum dan menunjukkan sisi sisi lembut nya pada Anggita.


"Kau umur berapa ? " Juna berdiri dari tempat duduknya untuk mengambil pil penahan rasa sakitnya.


"Umm, 15 tahun." Anggita menjawab dengan wajah lugu dan mata anak anjing yang imut.


Juna melirik sedikit wajah Anggita." apa apaan mata itu. " lalu fokus mencari obat di kotak P3K. " Tapi imut." Juna lagi lagi tersenyum tanpa terkontrol.


"Ini obat , minum sekarang biar aku liat, " tukas Juna memberikan 1 tablet pil penahan rasa sakit dan 1 gelas air mineral.


"Terimakasih paman." Senyum Anggita menyambar gelas dan tablet pil yang di berikan Juna.


"Hmm.. " dehem Juna.


Anggita pun meminum obat nya dan bersendawa tanpa malu , bukannya merasa jijik Juna justru senang melihat tingkah laku Anggita dirinya merasa Anggita benar benar menikmati hidangannya karena memang nikmat bukan karena siapa yang membuat.


Juna menggapai pipi Anggita. "Kau ini gemuk ya. " Mencubit pipi Anggita tanpa sadar.


"Em iya..," tukas Anggita sedikit geram, " tau gak aku di juluki Si Raksasa Anggita di sekolah , ih itu kan mengesalkan, " curhat Anggita sambil memajukan kedua bibirnya.


"Kau memang gemuk , lihat pipi mu ini seperti bakpao." Masih menainkan pipi Anggita.


"Kalau aku gemuk, kenapa aku banyak yang suka ? apa lagi om om seumuran paman. " tanya lugu Anggita.


"Itu karena proporsi tubuh kamu itu sudah masuk standar wanita dewasa. " Jelas Juna.


"Gitu ya kalo aku menikah sekarang tidak papa dong hehe, " ucap Anggita.


"Emang kamu ada pacar ? " tanya Juna.


"Aku mau nikah sama paman, " jawab Anggita membuat Juna melepaskan tangannya.


"Kau ini !! , sekolah saja yang benar sana. " Juna memutarkan bola matanya dan meninggalkan Anggita.


"Tapi aku serius paman , kata paman aku sudah seperti wanita dewasa apa salahnya kalo kita menikah paman " Anggita mengejar langkah Juna yang ingin masuk ke kamarnya.


Juna terhenti dan mendekatkan wajahnya ke wajah Anggita. " Kau tau menikah tidak semudah itu ! , kau harus memenuhi hasrat suami mu dan juga melayani kebutuhan suami mu apa kau siap, " ucap Juna tepat di wajah Anggita.


"Aa ... Aku siap kok, " ucap terbata bata Anggita. namun terkesan percaya diri.


"Oke tunggu dua tahun lagi setelah kau memiliki KTP kita akan menikah, " ucap Juna dengan datar .


"Apa beneran .. serius.. kalau gitu aku akan belajar mulai sekarang, " ucap Anggita sambil melihat Juna masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.


di kamar Juna , Juna terlihat menatap jendela yang penuh dengan gedung apartemen mewah.


"Arggh, kucing kecil yang terluka " grutuan Juna.


"cih.., jelas aku mengatakan itu hanya membuat nya senang mana mungkin aku menikah gadis seperti dia " lanjut Juna.


•1 bulan kemudian.


"Kau harus pulang Anggita ! , orang tua mu bisa saja menuntut ku nanti, " Juna berusaha menahan emosi.


"Gak mau ! aku bilang gak mau ya gak mau ! " si kukuh Anggita .


"Okay fine, I will call police now , " ucap Juna menekan Anggita.


"Kau ingin aku pergi ya .. , kau berkata kau akan menikahi ku .. , apa yang kau coba lakukan.. Menyingkirkan ku ? " ucap lemah Anggita.


"Bukan maksud ku seperti itu , ini masalah dirimu dan hukum. Pasti orang tua mu sudah mencari mu selama ini , " ucap Juna menenangkan.


"Baiklah.., aku pulang dan aku akan kembali untuk menagih janji mu ! " Ancam Anggita.


"Ya terserah lah .. " ucap Juna datar.


terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati