
...Bab VII...
"Mereka kehilangan nyawa, dan adik ku kehilangan dirinya kau bayangkan seberapa menderita nya adik ku, " Yuan menangis tersedu.
Anggita merasakan sedih yang mendalam Anggita pun memeluk Yuan yang menangis tersedu-sedu dan mengigit bibir bawahnya.
"Aku harus bagaimana Anggita.. " lirih Yuan.
"Adik mu dimana ? "
"Dirumah, bahkan terkadang dia takut pada ku, " ucap Yuan.
"Yuan, boleh aku panggil kamu Yuan? "
Yuan mengangguk." Anggap saja aku ini teman mu mulai sekarang."
"Terimakasih, boleh aku bertemu dengannya, " tanya Anggita.
"Tentu, besok aku akan jemput kamu. "
Para pelayan pun tiba Anggita langsung melepaskan pelukannya. " terimakasih telah berkunjung, ini hidangan penutup untuk nona Anggita dan patner selamat menikmati."
"Teman, teman dia teman ku, " ucap Anggita gugup.
"Patner juga berarti teman," ucap Yuan mengelap sisa sisa tangisannya.
..._______________...
"Ahh iya juga, " Anggita menggaruk tengkuknya.
"Kalau gitu terimakasih, " Ucap Anggita.
Yuan dan Anggita memakan hidangan pembuka. " Enak ya, aku baru tau di gedung ini memiliki restoran enak di sini, " Yuan menggrutu sambil makan.
"Di Jepang juga ada restoran enak, kalau kau suka makanan seperti ini, " Ucap Anggita.
"Ini apa namanya? "
"salted egg spageti."
"Ini kan pasta kalo mau cari ya di Eropa lebih identik pastinya, " Yuan berseru dengan yakin.
"Aku kasih tau deh recomended pokoknya, kalo kamu suka pasta dan makanan Eropa lainnya, " Ucap Anggita dengan yakin sepenuh jiwa.
"Emang di mana sih! " Penasaran Yuan.
"Itu di hotel Dark Expen. "
"Ahh, aku pernah makan sih di sama waktu pertemuan 5 bulan yang lalu, " Ucap Yuan membersihkan bibirnya.
"Enak gak? "
"Enak sih apa lagi, kimbabnya aku kaya ngerasa ada khas makanan jepang gitu loh tapi...susah ah di jelasin, "ucap Yuan.
"Ternyata kamu ini lucu ya, kaya anak kecil haha, " Ledek Anggita.
"Hah! yang benar aja. "
"Sudah lah lupakan aja, " Ucap Anggita setelah tertawa.
"Anggita kenapa kamu masih bisa senyum sampai detik ini? " Tanya Yuan dengan wajah serius.
Anggita menghela nafas panjangnya." Karena aku ingin menang "
"Kau tau Leon itu hypers"x, kan ," Lanjut Anggita.
"Iya. "
"Aku sebenarnya sangat jijik dengan nya tapi aku punya beberapa tujuan, " Ucap Anggita sambil mengikat rambutnya.
"Maksudnya? " Yuan memang sangat lamban menangkap cerita, kecuali dia yang memulai identifikasi sebuah masalah maka Yuan orang yang paling jenius memecahkan teka teki.
"Selama satu tahun ini aku mencoba membuat Leon menempel pada ku. "
"Aku ngerti, kalian udah nges*x? " Tanya Yuan gak ada akhlak.
"Belum, nah ini yang jadi delima buat aku," Ucap Anggita menghela nafas hingga beberapa kali.
"Jangan jangan, kau ingin nges*x dengan nya, " Ucap Yuan dengan nada intimidasi.
"Kau ini bodoh ya! " Anggita melemparkan kentang goreng.
"Aku itu mulai hiba dengannya, masalahnya dia udah gak hyper, " Lanjut Anggita.
"Tapi dia jadi brother complex eh gak bisa sih di bilang brother complex dia juga memiliki ketertarikan sama kamu, " ucap Yuan.
"Lah emang beda? "
"Gak tau ya, aku pernah baca di artikel kalo B**rother Complex itu sejenis sodara yang caper ama sodara laennya gak sampe ke tahap Oedipus, " Ucap Yuan.
*caper\= cari perhatian.
"Bilang aja kalo Leon itu pengidap Oedipus! " Anggita memutar matanya.
"Tapi, keknya dia lebih condong ke Brother Complex sekarang dia gak pernah minta deluan, dari 3mulai satu tahun yang lalu, " Lanjut Anggita.
"Cieee.. Yang belaiiin," Goda Yuan.
"Gua tabok lu, " Anggita geram.
"Canda buk. "
"Mungkin, dia nungguin kamu yang kasih, " Jawab Yuan.
"Bisa jadi. "
"Jadi kalian belum pernah gituan, " Tanya Yuan.
"Belom ih, " Ucap Anggita menusuk kasar pasta nya dengan garpu membuat Yuan bergidik ngeri.
"Bahkan aku punya trauma, setiap kali dia menyentuh ku aku merasa aku harus bersihkan itu. "
"Kau pengidap OCD kah? " ucap Yuan.
"Gak ada cuman sama dia aja. "
"Apa lagi kalo habis ciuman, ihh aku langsung muntah, " lanjut Anggita
"Sabar-sabar demi tujuan harus berjuang. "
"Ya pasti target ku tinggal 1 tahun lagi. Kalo aku gagal aku akan pergi dan tak kembali, " Anggita memutar mutar gelas yang berisi wine.
"Yaudah, aku juga punya target si jadi aku paham. "
"Aku mau ketemu adek mu malam ini boleh gak. "
"Boleh sih, " Setelah selesai Anggita dan Yuan pergi ke kediaman Yuan.
Begitu masuk ke dalam rumah Yuan terlihat adik perempuan Yuan menatap kosong tv di ruang keluarga yang menyala dengan suara bervolume super besar.
Yuan melangkah mendekati adiknya, lalu meninggalkan Anggita di sebuah bartender dekat ruang keluarga.
Yuan mencium puncak kepala adiknya, " mei, kau sudah makan, " tanya lembut Yuan.
Adiknya pun mendangak lamban kearah Yuan dengan tatapan kosong.
" Makan.. ? " Sangat pelan 1 kata yang terkeluar dari mulut adik kesayangan Yuan.
"Kau pasti belum makan, " ucap Yuan lalu meninggalkan adiknya untuk menyiapkannya makan.
"Kau mau bikin makanan, Yuan? " Anggita membuntuti Yuan.
"Iya, aku yakin dia tidak makan seharian. "
"Dimana perawatnya ? "
"Dia tidak suka dengan orang asing yang menyentuhnya."
"Itu pasti sangat berat, " Anggita menatap sedih adik Yuan.
"Yuan, kau tau makanan kesukaan adik mu ? "
"Dia suka makanan yogya dia besar di Yogyakarta selama beberapa tahun."
Anggita menjentikan jarinya.
"Itu dia. "
"Apa kau ada ide? "
"Dia suka gudeg gak ? " Tanya Anggita.
"Pastinya, dia suka sayur santan yang pakai kulit sapi itu loh, pake kerupuk rambak kalo gak salah."
"Kalo aku bilangnya sih Sayur Rambak. "
"Ahh, terserah lah," ucap frustasi Yuan mengingat nama sayur.
"Ya udah, aku akan hubungi orang ku untuk mengantar gudek kesini. Lalu aku buat kan pendukung yang lainnya." Anggita langsung membuka ponselnya.
"Kenapa harus yang ada di rumah mu kamu gak bisa bikin ya." remeh Yuan.
"Sembarangan, bikin gudek itu butuh waktu yang lama jadi kalo aku bikin gudek sekalian banyak. "
"Kamu yang buat? " tanya Yuan.
"Iya lah. "
"Waaaahh, keren."
"Jelas, " Dengan sombong Anggita menaikan bahu lalu memajukan bibir bawahnya, tak lupa alis kanannya ikut naik secara bersamaan.
Ting,
Tong,
Ting,
Tong.,
"Pakde, terimakasih banyak ya pakde, " ucap Anggita memeluk hangat pakde Joe.
"Santai aja lah non, hayu non Anggit di rumah ayang ya, " goda pakde Joe.
"Mana ada ih pakde ! " Anggita menggembung kan pipinya.
"Hehe, non Anggit udah besar sekarang! udah ada pacarnya gak boleh keseringan ngambek, " ucap pakde Joy mencolek hidung Anggita.
"Heheheh, pakde ih godain Anggit terus, " ucap Anggita.
"Mau pakde jagain non di sini ? " ucap pakde Joy.
"Ga usah pakde Anggita bisa sendiri kok, hehe," ucap Anggita dengan senyuman yang mengembang.
"Baiklah nona Anggit pakde ga ganggu deh, tapi jangan macam-macam ya nanti pakde buang ke lubang penuh buaya pacar non kalo sampe macam-macam, " dengan tegas Joe memitah Anggita.
"Pakde.... " Ucap gemas Anggita.
"Biar dia di kualifikasikan dengan sepesiesnya haha, " lanjut Joe.
"Pakde ihh bisa aja."
"Yaudah non pakde kembali ya, non ," ucap Joe memasang helmet nya.
"Terimakasih pakde, " Anggita melambaikan.
"Tapi tadi pakde serius loh jangan macam macam, " menunjuk Anggita.
"Siap pakde. "
Anggita pun menunggu pakde nya hilang dari pandangannya baru ia masuk, menurut Anggita itu adalah etika yang baik.
Namun tanpa sadar sudah ada Yuan yang bersandar di sisi ruangan sejak awal Anggita membuka pintu.
"Astaga, kaget ih, " ucap Anggita.
"Pakde mu ? Muda banget ? " Tanya Yuan.
"Ah dia itu sudah kaya sodara aku, umurnya baru 32 tahun tapi dia gak pernah marah di panggil pakde, " Anggita bercerita dengan sedikit senyuman.
"Dia anak dari pengacara ayah ku dulu sebelum aku lahir dia dah di rekrut jadi ajudan ayah ku, " lanjut Anggita.
"Hm, kalian keliatan dekat banget."
"Iya dia sejak kecil selalu rawat aku, sampe dia menikah dulu aku nangis karena aku pikir dia gak akan sayang sama aku lagi."
"Lah, suka om om lu. "
"Lain kek gitu kamu itu gak ngerti ! "
"Ngerti kok , aku main main dengan wanita kau pikir karena apa ! "
" Ya apa lagi ! kau kan, sama kaya Leon. Hypers*x! " tukas Anggita dengan gaya bicara merendahkan.
"Sembarang ! , Aku aja perjaka, " ucap Yuan dengan cepat.
Hahahaha.
" Apa, perjaka !" Anggita menertawakan Yuan.
"Apa , apa yang kau tertawakan," gagap Yuan dengan wajah gugup karena malu.
"Gapapa lucu aja gitu, kamu yang nyewa budak s*x tapi gak pernah pake, " ucap Anggita sambil mencuci dan membersihkan ayam.
"Ya.. emang salah. "
"Gak sih justru aku kagum... atau aku ngerasa kamu gak normal, " olok Anggita di lanjutkan dengan tawa ringan.
"aku normal kok, aku punya cewek yang aku suka tapi dia enggak suka sama aku, " Yuan mengakui dengan wajah yang merona.
"Miris hahah, " olok Anggita.
"Tau ah, aku mau bikini susu meilia dulu," ucap Yuan.
"Oh jadi nama adiknya meilia," benak Anggita sambil memotong-motong ayam yang telah ia bersih kan.
Masakan pun sudah matang dengan sempurna, sudah pasti masakan Anggita sangat enak karena Anggita memasak gudek hampir tiap hari kalau dirinya senggang, lalu menyumbangkan kebeberapa panti asuhan dan tempat-tempat yang tertimpa bencana.
Anggita pun menyusun rapi hidangan di atas meja makan, Meilia pun langsung menghampiri sumber harum semerbak yang berasal dari meja makan itu.
Meilia mengambil piring dan memberikan piringnya ke arah Anggita" Mau... "
Anggita menampani piring Meilia dan menaruh nya sekejap di meja makan. Anggita menarik kursi dan menggenggam tangan Meilia untuk menuntun duduk.
Dengan terkejut Yuan menatap Anggita menyentuh tangan Meilia namun Meilia hanya menuruti Anggita tak melawan sedikit pun.
"Oke , mari kita makan ya, " Anggita tersenyum.
mengambil nasi dan lauk untuk Meilia "Meilia suka sayur rambak, " tanya Anggita.
Meilia tersenyum tipis dan mendangak lamban kearah Anggita. "sayur rambak, iya Mei mau yang banyak ya, " kalimat pertama yang keluar dari mulut Meilia setelah kejadian.
Yuan terlihat senang melihat perkembangan adik tercintanya. Yuan berlari dan memeluk Anggita dengan tangisan kebahagiaan. "Terimakasih Anggita, Terimakasih. "
"Sama-sama Yuan, sekarang kau duduk dan makan. "
" Baiklah. "
Anggita pun memberikan seporsi untuk Meilia. " ini buat Meilia yang cantik. "
"Terimakasih, "Meilia mendangak menatap Anggita.
"Sama-sama manis," senyuman Anggita menatap balik sambil memberikan seporsi buat Yuan.
"Ini kali pertama dia berinteraksi lagi nggit !" Dengan senang yang bergebu Yuan memberikan tatapan mata yang bermakna rasa terimakasih yang besar.
"Umh , Koko itu kulit nya buat Mei aja, " ucap Meilia menatap kulit yang mengungkung di atas nasi Yuan.
" Tentu, ini buat Mei semua, " Yuan langsung memindahkan kulit nya ke piring adik perempuan tersayangnya.
"Terimakasih Koko," Meilia tersenyum lebar lagi untuk pertama kalinya setelah kejadian nya.
"Bukan apa apa Mei, cepat di makan nanti dingin, " ucap Yuan.
" Kau juga makan Nggit. "
" Ya iyalah , ya kali gak makan. "
" Enak !! Kaya masakan uti, " ucap Meilia dengan semangat.
"Ya kan, koh. "
"Iyaa.. enak, " ucap Yuan setelah menyicip seluruh lauk.
"Ko, Mei mau belajar sama kakak bulu mata lentik ini ya, " ucap Meilia.
"Bolehkan kok, tapi ga tau kak Anggitnya," ucap Yuan.
"Boleh ya kak, " ucap Meilia dengan senyuman.
"Tentu, sangat-sangat boleh tapi harus janji sama kakak kalo Meilia gak boleh banyak melamun ! tiap hari harus chat kakak apa pun kegiatan Meilia." ucap Anggita dengan senyuman mengembang dan mimik wajah yang ramah.
"Mau , mau.. " ucap semangat Meilia.
Setelah selesai Anggita pun pamit pulang dan Yuan mengantarkan Anggita kerumah Anggita. " Aku gak nyangka kau bisa merubahnya dengan cepat, " ucap Yuan sambil menyetir.
"Dia makan dengan lahap hari ini , interaksi nya bagus semenjak makan tadi, " lanjut Yuan.
"Aku juga gak tau ya, tapi kalo mood aku buruk ya aku makan yang aku suka habis itu streaming Drakor ato gak stalker Bias aku, haha ," ucap Anggita.
"Kau KPop ? "
"Netral aku mah suka semuanya haha," ucap Anggita.
"Ternyata kita tetangga ya, pantes cepet tadi Pakdemu datang."
" Ho.oh," dehem Anggita menggigit bibir bawahnya.
"kau kenapa ? "
"Kita stop di portal aja ya. "
"Takut Leon ya. "
"Takut si enggak. "
"Terus."
"Nanti paniknya kambuh, dia bakal nyebelin banget kalo udah paranoid. "
"Yaudah deh nih kita udah nyampe. "
Akhirnya Yuan pun menurunkan Anggita depan portal. " Loh non, kok turun di sini ?" tanya pakde Joy.
" Biasa, itu kakak kan rada-rada, " balas Anggita langsung naik motor milik Joy.
"Pakde, pinjam ya, hehe, " langsung starter motor dan jalan.
"Motor sport non! jangan laju laju naiknya, " teriak pakde Joy.
"Non Anggit memang unik, " ucap Joe tersenyum menatap punggung Anggita mengendarai motornya.
"Lah motor ku ! , Aku harus jalan kaki sejauh itu buat ambil motor, " grutuan Joe.
"Aku gak muda lagi loh non..., " eluh Joe menurunkan pundaknya.
Saat Anggita tiba di depan pintu sudah terlihat Leon menatap kesal Anggita dengan wajah marah Leon mengintimidasi Anggita yang sangat lelah hari ini.
"Dari mana saja kamu ! kenapa gak balas chat dan telfon ku, " omel Leon.
"Berisik, aku mau tidur, " Anggita sudah lelah untuk berakting hari ini.
Leon tertegun melihat reaksi Anggita, mengapa Anggita mengabaikan amarah nya kali ini.
...terimakasih kasih kak sudah baca karya yang aku buat :) dan mohon minta dukungan nya ya kak tolong tap 👍 dan ❤️ sampai bewarna merah oh ya jangan lupa komentarnya kak itu penting banget kak buat penulis kecil kaya aku heheh terimakasih sekali lagi ya kak selamat menikmati....