My CEO My LOVE

My CEO My LOVE
PART 9 : Cubitan



Firda terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar yang sudah sangat ia kenali. Tidak hanya itu, ia juga sudah menduga siapa yang membuat tubuhnya sulit bergerak dalam tidurnya.


Setelah mendesah, ia segera menyingkirkan lengan kekar itu dan berbalik. Matanya membulat besar saat mendapati Rendy tidur tanpa menggunakan pakaiannya. Langsung saja ia menatap tubuhnya sendiri dan menghembuskan napas lega karena masih mengenakan pakaiannya semalam.


"Ren, bangun!" seru Firda tapi Rendy hanya mengerang dan malah memeluk pinggangnya. Pria itu bahkan menariknya lebih erat hingga kini mata Firda berada tepat di leher Rendy.


"Aku masih ngantuk," rengek Rendy sambil menutup matanya.


Firda menelan ludah saat melihat jakun Rendy yang bergerak. Oh, tidak. Ia tidak boleh berpikir untuk mendekatkan bibirnya ke situ dan menciumnya.


Akhirnya, sebelum hal yang tidak diinginkannya terjadi, ia sudah mendorong dada bidang sam dengan kedua tangannya.  Dan dada itu terasa begitu keras di telapak tangannya! Ohh..


"Aku harus pergi kerja. Lepaskan!" seru Firda yang langsung membuat Rendy melepaskan pelukannya. Pria itu mengucek matanya hingga terbuka dan menatap kedua mata Firda.


"Ini hari minggu. Kamu mau pergi kerja di mana?" tanya Rendy yang langsung membuat Diana tersadar dengan kesalahannya.


Rendy tersenyum miring lalu kembali memeluk Firda, tapi tangannya langsung ditepis Firda. "Jangan sembarangan memelukku!"


"Kamu tidur sama aku, jadi siapa lagi yang harus aku peluk?" tanya Rendy dengan kedua alis terangkat.


"Kalau begitu, kenapa kamu nggak pulang aja sama gadis semalam yang bersama kamu?" tanya Firda dengan tatapan kesal. "Kamu bahkan bisa mendapatkan kepuasan dengannya daripada dengan aku yang hanya kasih kamu omelan," tambah Firda yang langsung bangkit duduk.


Rendy tertawa lalu menggelengkan kepalanya. "Wah, pacarku cemburu rupanya."


"Aku tidak cemburu!" seru Firda kesal.


"Mengaku saja, Firr sayang. Aku tidak akan marah," goda Rendy lagi, membuat Firda kesal. Akhirnya ia memilih mencubit lengan Rendy yang sialnya terasa begitu keras.


"Aw!" ringis Rendy sambil mengusap tempat Firda mencubitnya.


"Dari dulu kamu paling tahu aku nggak suka dicubit, Firr," protes Rendy. Firda tersenyum miring. Setelah itu, tangannya langsung mencubit-cubit lengan Rendy.


"Firr, stop!" seru Rendy tapi Firda terus mencubitnya hingga ke pinggangnya.


"Rasakan pembalasanku!" seru Firda sambil terus mencubit Rendy hingga tanpa ia sadari ia sudah menduduki perut Rendy.


"Aw! Kenapa kamu terlihat sangat bahagia saat aku tersiksa? Argh!" Rendy menahan kedua tangan Firda, tapi wanita itu berkelit dan terus mencubit lengan Rendy.


"Firr, stop!" seru Rendy tapi Firda tidak mempedulikannya. Akhirnya ia bisa sedikit membalas dendam pada pria itu.


"Firda, kamu menduduki milik aku!" seru Rendy tapi Firda tidak mempedulikannya. Ia malah tertawa bahagia melihat Rendy menderita.


Wajah Rendy memerah hingga mau tidak mau ia segera menahan kedua tangan Firda dengan erat. Usahanya berhasil karena Firda berhenti. "Argh!" ringis Rendy karena bagian bawah tubuhnya serasa berkedut.


Kedua mata Firda segera membesar begitu menyadari sesuatu yang panjang dan keras berada di antara selangkangannya. "Ren, kamu-"


"Firr, kamu sudah berumur 28 tahun untuk mengerti itu artinya apa, kan?" tanya Rendy yang langsung membuat wajah Firda memerah.


Ceklek! Bersamaan dengan itu pintu di belakang mereka berdua terbuka.


"Ups, maaf. Sepertinya aku mengganggu kalian," suara seorang wanita membuat Rendy dan Firda langsung menatap ke arah pintu yang berada di belakang Firda.


"Argh!" Rendy meringis kembali saat Firda bergerak untuk menatap ke arah pintu di belakangnya. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut light brown sependek bahu sedang tersenyum lebar ke arah mereka berdua.


Firda mengenali wajah wanita itu. Dia wanita yang semalam bersama Rendy di klub!


"Silakan dilanjutkan," Wanita itu menutup pintu dan langsung membuat Firda berbalik menatap Rendy. "Ahh, Firr, kamu bisa menyingkir dari atasku? Atau kalaau kau tidak mau, aku tidak keberatan untuk melanjutkannya."


Mendengar itu Firda segera turun dari tubuh Rendy dan menatapnya kesal. "Sana! Lanjutkan saja dengan pacarmu!" Firda hendak turun dari tempat tidur tapi Rendy menahan tangannya. "Aku maunya denganmu," kata Rendy dengan senyum jailnya.


"Dasar brengsek. Dulu kau menjadikan pacarmu taruhan, sekarang kau mau selingkuhi pacarmu? Kau memang tidak pernah menghargai perempuan ya?


"Bagimu-"


"Dia adik aku, Firr! Tidak mungkin aku melakukannya dengan adik aku sendiri," potong Rendy karena gemas dengan Firda.


Firda mengerjapkan matanya. "Dia adik kamu?" tanya Firda yang terlihat memerah karena malu.


"Dia adik aku. Kalau kamu tidak percaya tanya saja padanya," kata Rendy lalu duduk di hadapan Firda. Sebuah senyum jail muncul di wajahnya. "Jadi, karena tidak ada pilihan lain, aku harus melanjutkannya sama kamu."


"Dasar mesum!" seru Firda lalu menarik tangannya. Sayangnya, Rendy sudah mengantisipasi itu dan menariknya balik, membuat Firda terjatuh di atas tubuh Rendy. "Kamu masih bisa merasakannya. Dia belum tidur," bisik Rendy di telinga Firda.


"Kak, bisakah kau menyuruh wanita bayaranmu ini pergi karena aku harus mengatakan sesuatu yang penting saat ini?" Rendy dan Firda menatap ke arah pintu dengan pandangan kesal. Rendy yang kesal karena kegiatannya diganggu, sedangkan Firda yang kesal karena disebut wanita bayaran.


Tanpa menunggu lama lagi Firda segera turun dari atas tubuh Rendy dan berjalan mendekati gadis itu. "Apa kamu bilang? Aku gadis bayaran?" tanya Firda tidak terima.


"Mbak, bukan tipe kakak aku. Dia nggak suka wanita cantik yang terlihat sombong seperti mbak. Jadi sudah pasti kamu bukan pacar kakak saya," balas gadis itu sambil bersedekap menatap Firda.


"Dia bukan gadis bayaran, Fan," kata Rendy yang sudah duduk di tempat tidurnya.


"Lalu dia pacar kakak? Tidak mungkin.." tanya Fany dengan pandangan tidak percaya.


"Dia sekretaris kakak. Kalo kamu butuh sesuatu, bisa meminta bantuannya," jelas Rendy yang langsung dibalas Firda. "Aku tidak mau membantunya!"


"Tidak masalah. Aku sudah cukup bahagia mendengar kau ternyata bukan pacar kakakku," balas Fany dengan pandangan menantang.


"Sudah-sudah. Jangan bertengkar di sini," kata Rendy yang sudah berjalan mendekati mereka berdua. Firda hanya mendengkus lalu berjalan keluar dari kamar. Langkahnya sedikit terhenti saat mendengar perintah Rendy. "Kamu belum diperkenankan pulang. Tunggu di ruangan aku, Firr," pinta Rendy.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Firda.


"Kamu lupa, tas dan ponsel kamu masih di kamar aku."


Firda mengepallkan tangannya lalu menggeram kesal. "Dasar picik!"


Rendy menahan senyumnya. Matanya beralih menatap adiknya yang terus menatapnya seolah-olah kakaknya baru saja berubah menjadi alien. "Kak, jangan bilang kamu suka sama sekretaris kamu itu," Rendy tertawa melihat sikap adiknya.


"Dia itu, mantan pacar kakak lebih tepatnya,"


"Hah?!!"


Rendy menarik Stefany masuk ke dalam kamarnya. "Jadi, kamu mau bilang apa?" tanya Rendy sambil berkacak pinggang.


Fany tidak lagi terkejut. Malahan sekarang ia menipiskan bibirnya tanda berpikir. "Ada beberapa hal sebernarnya."


"Beberapa hal?"


"Iya."


Rendy mengerutkan dahinya dan adiknya yang berusia empat tahun lebih muda darinya sudah mengangkat jari telunjuknya. "Pertama, Mama dan Papa akan pulang dua hari lagi dan kalau kakak lupa, rumah kita belum dibersihkan."


Fany mengangkat jari tengahnya menjadi dua. "Kedua, aku harus check out dari hotel pagi ini dan pulang ke rumah, tapi kakak lupa membersihkan rumah kan?"


Rendy mendesah. "Kakak akan segera menyuruh orang untuk membersihkannya," kata Rendy seolah itu bukan hal yang sulit.


Fany mengangguk. "Ketiga, aku sudah kehabisan uang rupiah," Rendy menggelengkan kepalanya. la berjalan ke arah nakas dan mengambil dompetnya lalu menarik sebuah kartu. "Ini pakai saja," katanya mengulurkan sebuah kartu kredit berwarna emas.


"Wuah! Thankyou, Kak!" seru Fanny sambil berjingkrak bahagia. Setelah itu, ia menatap Rendy serius. "Kakak sudah punya calon istri?"


"Kenapa kamu tanya begitu?"


"Soalnya, Mama dan Papa bilang mereka tidak sabar pulang karena ingin bertemu dengan calon istri kakak."


"Hah?!!"