
Fany sudah pergi setelah mengambil kartu yang diberikan Rendy. Sebelum pergi, perempuan itu sempat-sempatnya memeleletkan lidah pada Firda.
Membuat Firda berpikir apakah gadis itu benar-benar sudah berusia dua puluh empat tahun atau sebenarnya enam tahun.
Dan sepertinya Firda akan menganggap Fany sebagai gadis enam tahun karena masih harus dijaga kakaknya saat pergi ke klub malam.
"Sorry, Fany emang gitu kalau menyangkut perempuan yang dekat sama aku," kata Rendy setelah keluar dari kamarnya.
Firda memutar matanya sambil bersedekap. "Kalau begitu, kamu bilang ke adik kamu kalau aku nggak dekat sama kamu, jadi musuh aku nggak bertambah,"
Firda lalu berjalan masuk ke dalam kamar Rendy dan mengambil tasnya.
"Kamu mau pulang?" tanya Rendy setelah Firda keluar.
Ini bukan hari kerja dan aku nggak tahan dekat-dekat sama pria brengsek kayak kamu," balas Firda lalu berjalan melewati Rendy yang sudah tersenyum miring mendengarnya.
Napasnya tercekat saat Rendy sudah menarik tangannya dan mendorongnya hingga terduduk di sofa. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Firda saat Rendy meletakkan sebelah tangannya di sandaran sofa dan tubuhnya menunduk semakin mendekati Firda.
"Kamu bilang aku brengsek kan? Kalau begitu aku akan buktikan ucapan kamu," kata Rendy sambil terus menatap kedua mata Firda. Wajahnya semakin mendekati wajah Firda hingga Firda tidak tahan dan mendorongnya.
"Menjauh dariku!"
Sebelah tangan Rendy menahan kedua tangan Firda dengan kuat hingga Firda meronta ingain melepaskan tangannya. "Jangan marah, aku cuma mau menyelesaikan yang tadi," kedua mata Firda membulat mendengarnya.
"Dasar brengsek!" seru Firda saat ujung hidung Rendy sudah menyentuh ujung hidungnya. "Akan kubuktikan kalau begitu," kata Rendy pelan, disertai senyum miring di bibirnya.
Bibir Firda sudah terbuka untuk memaki Rendy, tetapi dengan cepat Rendy membungkamnya dengan bibir hangatnya.
Dengan perlahan Rendy ******* bibir Firda. Firda semakin meronta untuk melepaskan tangannya, tetapi cengraman Rendy malah bertambah kuat.
Hisapan kuat di bibirnya, membuat Firda tanpa sengaja membuka mulutnya.
Kesempatan itu tidak Rendy biarkan. la segera memasukkan lidahnya dan menjelajahi seisi mulut Firda.
"Ahh,"
Ciuman Rendy sangat memabukkan, membuat Firda tanpa sengaja mendesah karena kehabisan pasokan oksigen. Rendy terus ******* bibir Firda. Sebelah tangannya tidak lagi di atas sofa, melainkan di tengkuk Firda untuk memperdalam ciuman mereka.
Rendy benar-benar membuat dirinya melayang hanya karena ciuman pria itu.
Bahkan tanpa Firda sadari, tangannya sudah tidak lagi meronta melainkan meremas tangan Rendy erat.
Rendy berhenti dan menatapnya dengan kedua mata hitam kelam miliknya. Firda pikir Rendy sudah berhenti, tetapi pria itu malah tersenyum miring dan kembali mencium Firda dengan sangat cepat dan dalam.
Ciuman yang lembut tadi sudah berubah menjadi cepat, keras dan menuntut. Tidak sampai disitu, kini bibir pria itu sudah berpindah di rahangnya, mengecupnya keras hingga ke leher jenjangnya. Mata Firda menutup, tubuhnya menggeliat dalam sentuhan Rendy.
Rendy menarik tangannya dari kedua tangan Firda lalu meletakkannya di bahu Firda. Ciumannya turun hingga ke leher Firda membuat tangan Firda yang terbebas segera meremas bahu Rendy.
"Akh!" pekik Firda saat Rendy membuatnya terlentang di atas sofa dengan Rendy yang shirtless di atasnya.
Tanpa memedulikan pekikkan Firda, Rendy melanjutkan ciumannya hingga turun ke dada wanita itu. Ia mencium Firda dengan keras hingga meninggalkan bekas.
"Ahh, Rendy." desah Firda setelah Rendy menarik bibirnya dan menatap kedua mata Firda tajam. la menatap Firda selama beberapa detik lalu menarik napas dalam. "Kalau aku pria brengsek, aku akan melanjutkannya," kata Rendy dengan suara serak. Setelah itu, Rendy menarik tubuhnya dari atas Firda.
Firda menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Tubuhnya benar-benar tidak bisa dikendalikan tadi. Seharusnya ia menolak ciuman pria itu, bukan malah membalasnya. Seharusnya ia membenci sentuhan Rendy, tetapi mengapa ia malah menikmatinya?
"Tapi rupanya kamu kecewa karena aku tidak melanjutkannya," kata Rendy sambil bersedekap menatap Firda yang masih tidur terlentang.
Firda segera menyedarkan dirinya dan duduk menatap Rendy. "Aku tidak sengaja membalas ciumanmu! Jangan pikir kau sudah menang!" katanya dengan tatapan kebenciaan.
"Dasar brengsek!" seru Firda lalu berdiri menatap Rendy.
"Aku tidak brengsek. Itu buktinya," kata Rendy menunjukkan bekas merah di dada Firda.
Firda menunduk dan menatap bekas merah di dadanya. Setelah itu, ia mengepalkan tangannya dan menatap Rendy kesal. "Ini kau bilang bukti bahwa kau tidak brengsek?!"
"Yap. Jangan lupakan itu. Karena jika aku tidak membuat tanda itu, mungkin aku sudah melanjutkannya tadi" kata Rendy.
Dengan tatapan geli. Firdaa mengangkat tangannya untuk menampar Rendy tetapi Rendy dengan cepat menahan tangannya.
"Kamu menikmatinya. Akui saja. Itu tidak akan merubah apapun di antara kita," kata Rendy tanpa senyum di bibirnya. "Kamu benci aku dan aku tahu tidak akan mudah mendapatkan maaf dari kamu."
Firda menarik tangannya. "Kamu memang tidak pernah berniat minta maaf sama aku sejak awal," katanya lalu menarik tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Rendy yang tertunduk menatap telapak tangannya sendiri.
"Ternyata semuanya masih belum cukup," gumam Rendy.
Di belakangnya, terdengar bunyi pintu tutup dengan langkah kaki Firda yang sudah tidak terdengar lagi.
***
Firda menutup pintu apartemennya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Selama perjalanan pulang, ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang bisa semudah itu luluh dengan ciuman Rendy.
Dengan kesal ia meremas rambutnya dan merutuki kebodohannya. Pria itu pasti sudah merasa menang sekarang.
Sedangkan Firda belum menjalankan satu pun rencana yang ia susun.
Dengan kesal, Firda bangkit dari tempat tidur dan melepas bajunya untuk mandi.
Tatapannya tiba-tiba jatuh pada bekas merah yang ditinggalkan Rendy. Pria itu benar-benar menyebalkan!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Firda, membuat tatapannya teralihkan. Dengan ragu ia mengambil ponsel itu karena takut pesan itu dari seseorang yang sudah menerornya selama beberapa hari ini. Matanya segera membulat setelah membaca siapa pengirim pesan itu. Ternyata dari bosnya yang sangat menyebalkan. Perlahan ia menghembuskan napas lega.
Aku jemput jam 7 malam. Temani aku ke acara gala dinner klien baru kita.
Firda membaca pesan itu dan teringat dengan klien baru yang kemarin menandatangani kontrak dengan perusahaan Rendy. Pria tua itu mengajak Rendy dan dirinya untuk datang ke acara gala dinner yang diadakan dalam rangka diperluasnya perusahaan mereka di Indonesia. Tidak lupa juga pujian untuk Rendy dari semua dewan direksi karena sukses menjadi mitra pertama perusahaan baru itu di Indonesia.
Tapi, pergi makan malam dengan Rendy? Firda melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Rendy pikir dia siapa seenaknya bisa mengajaknya pergi bersama untuk gala dinner.
Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Firda. Dia sudah bisa menebak siapa pengirim pesan itu.
Anggap saja ini sebagai hukuman karena kamu bolos waktu itu. Jangan lupa, aku ini bos kamu.
"Arrgh!" erang Firda karena kesal. Mau tidak mau dia harus pergi dengan pria menyebalkan itu. Mengapa Rendy bisa dengan mudah mengendalikannya?! Bukan seperti ini rencana awalnya. Seharusnya dia yang mengendalikan Rendy dan menghancurkan pria itu.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Firda. Mungkin ia tidak bisa menjalankan rencananya karena sikapnya yang selama ini menentang Rendy. Bisa saja pria itu tidak akan lengah karena sikap menentangnya.
Mungkin, tidak ada salahnya jika ia mencoba menjadi wanita yang penurut?
*
*
*
Rendy kayaknya nafsu banget ya sama Firda. Semoga aja nggak keterusan di part-part berikut..