
Pagi ini, Firda terbangun dengan kondisi perutnya yang sudah lebih baik daripada semalam, meskipun setiap beberapa detik perutnya mulai terasa sedikit nyeri lagi. Pikiran Firda kembali mengulang kejadian semalam. Setelah kata-kata pedas yang ia lontarkan pada Rendy, pria itu tidak mengajaknya bicara lagi, melainkan hanya mengawasinya hingga ia menghabiskarn semangkuk bubur.
Setelah itu, Firda memilih tidur dan tidak mempedulikan Rendy yang mungkin langsung pulang ke kantor. Begini lebih baik. Rendy lebih baik mendiamkannya daripada bersikap baik padanya.
Semua rencana yang sudah ia susun ulang bisa gagal jika Rendy terus bersikap manis padanya. Lebih parah lagi, ia bisa jatuh cinta pada pria itu.
Tidak Mungkin!
la sudah melupakan Rendy. Hanya tersisa rasa dendam untuk pria brengsek itu.
Firda menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur. la tertidur lebih awal kemarin itu sebabnya ia bangun terlalu pagi sebelum alarmnya berbunyi. la mengambil ponselnya di atas nakas dan menemukan beberapa pesan dari Mamanya.
Sebelum menelpon Mamanya, Firda melihat jam sekilas. Biasanya Mamanya sudah bangun pagi begini. Mamaya bukan perkeja kantoran. Dia seorang ibu rumah tangga yang sangat rajin padahal di rumah mereka ada pembantu.
"Halo, ma.." sapa Firda ketika sambungan telepon tersambung.
"Firr, Mama telepon semalam kok nggak diangkat?" tanya Mamanya dengan suara cemas. Selama ini, Mamanya selalu mengetahui kabarnya setiap dua hari sekali dan biasanya di akhir pekan ia akan bercerita panjang lebar pada mamanya jika ia tidak pulang ke rumah.
"Perut aku sakit jadi aku nggak balas sms Mama tadi malam. Tapi sekarang sudah baikkan kok," kata Firda agar mamanya tidak cemas.
"Syukurlah. Kamu jadi pulang akhir pekan ini? Kakakmu dan istrinya akan datang menginap."
Firda berpikir sebentar. Hari ini ia tidak masuk kantor dan pasti banyak hal yang harus ia lakukan. Lagi pula, ia malas pulang akhir-akhir ini karena kedua orangtuanya kompak sering menanyakan pertanyaan yang sama 'Mana calon menantu mereka'
"Hmm. Nggak bisa, Ma. Aku masih ada pekerjaan dan urusan kantor. Aku kan baru pindah kantor. Minggu depan mungkin aku pulang." Firda tidak sepenuhnya berbohong. Kemarin ia tidak masuk kerja dan pasti ada beberapa pekerjaan yang menumpuk. Memang menjadi sekretaris tidak sesibuk pekerjaannya dulu, tapi tetap saja ia tidak suka ada pekerjaan yang belum diselesaikan.
"Ya sudah yang penting jaga kesehatan kamu dan satu lagi, " Firda bisa menebak apa yang akan dikatakan Mamanya selanjutnya.
"Jangan terlalu pemilih. Nanti kanu jadi perawan tua loh, Firr."
"Aku nggak pemilih Mamaaaa.." kata Firda kesal.
"Nggak pemilih gimnana? Kamu mau pacar yang terima kamu apa adanya walaupun kamu jelek dan miskin. Setelah ada, pasti penghasilannya dia nggak cukup buat bayar biaya perawatan kulit kamu. Haduh Mama bingung sama kamu."
Firda mendesah. Dia tidak seperti itu. Dia hanya trauma melihat masa lalu kakaknya dan juga dirinya dulu. "Intinya Firda nggak mau menyesal nantinya."
Terdengar helaan napas di seberang sana. "Kalau kamu nggak bawa calon juga di hadapan Mama dan Papa, kita bakalan jodohin kamu sama pilihan kita."
"Iya maaaa.." kata Firda bosan.
"Satu lagi. Stop kamu gonta ganti pacar kayak gitu. Mama nggak sukal"
"Hmm.. Dah Ma.." kata Firda lalu memutuskan sambungan telepon. Setelah itu, ia men-charge ponselnya sebelum pergi ke dapur. Ia sudah biasa berdebat seperti ini dengan Mamanya. Berbagai macam alasan pun sudah sering ia lontarkan. Intinya, Firda tidak akan membawa calon suami pada Mamanya karena ia tidak akan menikah. Dia tidak percaya ada pria yang akan menerima dirinya apa adanya. Lagi pula, setiap pernikahan menginginkan seorang anak yang mana hanya akan membuat tubuhnya melar setelah melahirkan. Ia tidak ingin seperti itu.
Menurut Firda hidupnya yang sekarang sudah sempurna. Tanpa pria-pria yang membuatnya berharap pada apa yang namanya cinta. Sesuatu yang tidak pernah ada di dunia.
Firda meregangkan tubuhnya lalu berjalan ke arah dapur. Firda tidak terbiasa sarapan. la hanya minum air putih dengan perasan jeruk nipis di pagi hari. Hal itu sudah biasa ia lakukan selama hampir sepuluh tahun.
Ia tahu itu tidak baik bagi kesehatannya, tapi perduli setan. la akan gila jika menjadi gemuk seperti dulu lagi.
Bunyi wajan beradu dengan spatula membuat dahi Firda berkerut. Seingatnya, tukang bersih apartemennya tidak dijadwalkan hari ini. Tidak mungkin juga apartemennya berhantu sehingga memunculkan bunyi-bunyi aneh.
Begitu tiba di depan dapur, Firda menghembuskan napasnya. Ternyata bukan hantu yang ada di apartemennya, melainkan iblis.
Yah, seorang iblis bernama Rendy Haidar Alfiansyah yang sedang memasak dan sialnya terlihat sangat tampan dengan kemeja kusutnya.
"Kenapa kau masih di apartemenku?!" tanya Firda saat berdiri di depan bar. Ia tidak menunjukkan raut memuja seperti yang ada di pikirannya, melainkan raut kesal yang selalu ia tujukan untuk Rendy.
"Kau tidak keberatan jika saraapan omelet kan?" Rendy berbalik dan meletakkan omelet di piring mereka masing-masing.
"Kenapa kau tidak pulang semalam?!" tanya Firda lagi dengan nada amat sangat kesal karena pertanyaannya barusan tidak di jawab.
Rendy menarik napas lalu mengehembuskannya. Ia mengambil sepiring omelet dan meletakkannya di hadapan Firda, tapi gadis itu tidak menatap makanan itu sama sekali.
"Kau sedang sakit dan tidak baik meninggalkanmu sendirian," kata Rendy lalu meletakkan piringnya sendiri dan berdiri di depan Firda. "Silahkan dimakan."
Firda turun dari tempat duduknya. "Aku tidak sarapan," katanya lalu berbalik pergi. Rendy menahan tangannya dan menariknya kembali. "Kau harus makan. Penyakitmu bisa kambuh."
"Aku tidak terbiasa sarapan. Tolong jangan memaksaku!" Firda menarik tangannya.
"Aku lebih baik tidak sarapan pagi. Silahkan habiskan makanan itu dan pergi dari sini!" seru Firda lalu berbalik pergi dari hadapan Rendy.
Rendy tidak tinggal diam. Ia kembali mengejar Firda dan menahan tangan gadis itu. "Kenapa kau seperti ini? Apa susahnya untuk sarapan agar kau tidak sakit lagi?"
"Bukan urusanmu! Aku bisa menjaga kesehatanku sendiri," balas Firda dengan tatapan tajam. "Satu lagi, ini apartemenku dan terserah aku mau makan atau tidak!"
"Kalau begitu aku akan tinggal disini untuk membuatmu mematuhi peraturanku."
"Kau tidak-" ucapan Firda terhenti saat mengingat betapa kayanya pria itu hingga sanggup untuk membeli gedung apartemennya ini.
Di depannya, Rendy sudah tersenyum miring karena Firda cepat megerti. "Aku tidak keberatan berbagi apartemen denganmu," goda Rendy, membuat Firda mengepalkan tangannya. "Kali ini kau menang!" kata Firda lalu berjalan ke arah omeletnya dan segera melahapnya hingga habis.
***
Firda sudah lelah dengan semua sikap Rendy yang selalu memicu pertengkaran di antara mereka berdua. Seperti sekarang, pria brengsek itu memasaknya untuk naik ke mobilnya. Walaupun itu mobil sport mahal, Firda tidak sudi menaikinya.
Tanpa mempedulikan Rendy, Firda berjalan ke dalam mobilnya dan segera memacunya meninggalkan Rendy.
Tiba di kantor Rendy lebih dulu, Firda terkejut melihat seorang wanita cantik dengan dress kuning disertai tas Gucci berwarna senada sedang menunggu di depan ruangan Rendy.
"Maaf, anda mencari siapa?" tanya Firda sopan. Wanita itu menatap Firda dari atas sampai bawah lalu bertanya, "Lo sekretaris Rendy? Gue harus bertemu dengan Rendy tapi dia tidak ada di kantor," kata gadis itu dengan wajah kesal dan bibir dimanyunkan.
Firda sudah membuka mulut untuk memberikan jawaban tetapi gadis itu berlari melewati Firda dan segera memeluk Rendy yang baru saja muncul. "Babe, I Miss You!" seru gadis itu.
Setelah memutar matanya, Firda kembali ke mejanya dan tidak ingin mendengar apapun juga yang akan mereka berdu bicarakan. Dia bahkan tidak peduli saat kedua pasangan itu berjalan masuk ke dalam ruangan Rendy.
Namun, setelah hampir lima belas menit berlalu dan perempuan itu belum juga keluar dari ruangan Rendy, membuat Firda tidak tahan untuk masuk ke ruangan itu dan mengusir gadis itu karena pagi ini Rendy ada meeting penting.
la melihat jam di pergelangan tangannya dan tinggal tersisa lima belas menit sebelum meeting dimulai. Mau tidak mau ia segera mengetuk ruangan Rendy untuk mengingatkan pria itu bahwa sebentar lagi meeting akan dimulai.
Dasar playboy mata keranjang! Pasti Rendy saat ini tengah bercumbu dengan wanita itu lalu ia lupa jika sebentar lagi akan meeting.
Terdengar suara Rendy yang menyuruhnya masuk dan Firda segera mendorong pintu di depannya. Firda melihat Rendy yang sedang duduk menatapnya dengan gadis itu di hadapan Rendy sambil bersandar pada meja Rendy.
Ternyata dugaannya berlebihan tadi. Tapi tetap saja, jarak mereka berdua sangat dekat dan bisa saja Rendy menyuruh gadis itu menjauh karena Firda akan masuk.
Well, jangan lupa, Rendy adalah pria brengsek.
"Meeting anda lima belas menit lagi," Firda mengingatkan dari depan pintu dan Rendy segera bangkit berdiri. "Urusan kita selesai. Aku harus pergi meeting," gadis kuning itu terlihat kesal. "Aku akan datang lagi," katanya lalu berbalik keluar.
Sebelum melewati Firda, dia menatap Firda dengan pandangan kesal tetapi Firda tidak peduli.
"Berikutnya, jika ada gadis yang ingin menemuiku seperti dia tadi, tanyakan dulu padaku atau kau usir saja jika itu dia," kata Rendy sambil membuka kancing lengan bajunya.
"Bilang saja pada resepsionis. Kenapa saya harus repot-repot mendapat amukan pacar-pacar anda?" balas Firda sinis.
Rendy mengangkat kepalanya dan tersenyumn menatap Firda. "Mereka bukan pacar saya. Sama seperti kau yang memerlakukan para pria di luar sana, mereka adalah mantan teman kencanku."
"Setidaknya aku tidak pernah bercumbu dengan teman kencanku sampai melupakan meeting penting," balas Firda dengan tatapan meremehkan.
"Kata siapa aku bercumbu dengannya? Kau melihatnya?" tanya Rendy sambil berkacak pinggang.
"Aku tidak peduli! Bergegaslah. Meetingmu sepuluh menit lagi!" seru Firda yang entah mengapa dibalas Rendy dengan tawa.
"Kau cemburu, Firr?" tanya Rendy membuat Firda mengepalkan tangannya.
"Mungkin kau sudah gila," balas Firda dengan tatapan memicing. Rendy tertawa lebih keras lalu berjalan mendekati Firda yang menatapnya kesal.
"Jangan bilang kau benar-benar masih menganggapku pacarmu, Firr?"
*