
Firda menatap dirinya di depan cermin. Sebuah rok lima belas senti diatas lutut berwarna merah dipadukan dengan kemeja putih yang membalut pas tubuhnya membuatnya terlihat sangat sexy.
Lihat saja. Rendy pasti tidak akan mengenalnya.
Sebuah senyum miring terukir di bibir merah Firda. Pria itu pasti akan dengan mudah jatuh ke pelukannya. Pria mana yang bisa menahan diri jika melihat penampilan Firda saat ini.
Tanpa menunggu lama lagi, Firda langsung mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia tidak terbiasa sarapan. Bahkan, ia terus menjaga pola makannya agar tubuhnya tetap terjaga.
Firda tiba di kantor tepat pukul delapan dan sang receptionist langsung mengarahkannya ke ruangan Rendy.
Tok. Tok..
"Masuk.." terdengar suara berat dari balik pintu kaca buram yang diketuk Firda. Langsung saja Firda mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.
Matanya langsung bertemu dengan kedua mata hitam legam milik Rendy saat ia berdiri di depan meja Rendy. Sialan! Mengapa pria tu masih saja tampan? Bahkan lebih tampan daripada yang dulu.
Kedua mata hitam Rendy lalu berpindah menatap tubuh Firda dari atas sampai bawah. Dalam hatinya Firda tertawa karena rencana awalnya mulai berhasil. Rendy tertarik pada tubuhnya.
"Kau sekretarisku disini?" tanya Rendy dan Firda langsung mengangguk.
"Aku tidak suka orang yang tukang terlambat. Apalagi di hari pertama bekerja." kata Rendy sambil melipat tangannya di meja. Otot-otot tangannya tidak luput dari pandangan Firda, membuat ia harus menggerakkan otot matanya lebih keras untuk tetap fokus pada mata hitam milik Rendy.
"Saya tidak akan mengulanginya besok."
"Buktikan kalau begitu." Kata Rendy lalu berdiri.dan bersedekap. "Satu lagi." Katanya lalu menatap Firda dari atas sampai bawah. "Apakah perusahaan ini tampak seperti club malam bagimu?"
"Ehm, tidak Pak."
"Kalau begitu ubah gaya berpakaianmu."
"Baik Pak."
Rendy lalu mengambil map kuning yang berisi data-data dari Firda. "Firda Ahmad." Katanya sambil membaca nama Firda dengan alis berkerut. Dalam hatinya Firda berharap agar Rendy tidak mengenalinya. Dulu, namanya hanya Firda Maharani tanpa embel-embel Ahmad.
"Namamu tidak asing. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rendy lalu menutup map kuning di tangannya.
"Ehm, ku rasa tidak Pak." Jawab Firda setenang mungkin.
Rendy tampak berpikir sejenak lalu kerutan di dahinya berkurang. "Kau benar, selama ini aku berada di New York, rasanya aneh pernah bertemu denganmu."
"Saya tidak pernah ke New York Pak." Kata Firda untuk lebih meyakinkan.
"Baiklah, silahkan mulai bekerja." Kata Rendy dan Firda langsung berjalan keluar. Tidak lupa ia berjalan seanggun mungkin dengan panggul yang bergoyang sexy untuk menarik perhatian Rendy.
Saat pintu tertutup, sebuah senyum miring tercetak di bibir Rendy
***
.
Tepat pukul dua belas siang, Firda kembali masuk ke dalam ruang kerja Rendy. "Ada apa?" tanya Rendy, mengangkat kepalanya sejenak dari berbagai berkas diatas mejanya.
"Anda mau makan siang apa, Pak? Biar nanti saya pesankan." Tanya Firda.
Rendy menatap sejenak jam tangannya lalu menghembuskan napas. "Sudah jam makan siang rupanya."
"lya Pak. Anda ingin makan siang apa?" tanya Firda dan Rendy tampak berpikir sejenak. "Bagaimana denganmu? Kau keberatan makan siang masakan Indonesia denganku?"
Firda memasang senyum lebar. Rendy ini mulai tertarik padanya. Semuanya memang lebih mudah jika memiliki tubuh sexy dan wajah cantik.
"Saya tidak keberatan Pak." Balas Firda. Rendy langsung menekan telepon di depannya dan meminta seorang OB untuk membelikan makanan bagi mereka.
Firda pikir, mereka berdua akan makan siang makanan dari restoran mewah, tetapi mendengar kata warteg di telepon membuat Firda membulatkan matanya.
"Kau tidak keberatan kan?" tanya Rendy dan Firda mengangguk. Dia memang tidak masalah, lagi pula itu makanannya sehari-hari, tetapi ini Rendy Haidar Alfiansyah! Pria yang dulu selalu membawa bekal sendiri saat SMA dan seingatnya Rendy tidak pernah pergi makan di warteg.
Atau mungkin Diana salah orang? Tapi tidak mungkin. Dia Samuel yang *i*tu.
Dua puluh menit kemudian Firda masuk kembali ke ruangan Rendy saat makan siang sudah tiba.
Sialnya, Firda malah terpaku saat melihat Rendy menggulung lengannya hingga ke siku sambil mempersiapkan makan siang mereka berdua bersama si OB.
Ingat rencana balas dendamu.
Firda segera mengedipkan matanya, melenyapkan pemikiran tentang otot-otot lengan Rendy yang kekar. "Ada yang perlu saya bantu, Pak?" tanya Firda setelah sampai di pantry kecil yang berada di dalam ruang kerja mewah Rendy.
"Silahkan dimakan." Kata Rendy lalu mulai mengambil sepotong rendang dan gorengan jagung. Firda duduk di depan Rendy sambil memperhatikan pria itu. Well, dia tidak boleh memuji pria ini. Tapi, Rendy terlihat sangat tampan saat makan. Arggh!! Lihat bagaimana rahang kokohnya mengunyah makanan, bagaimana bibir merah itu melahat setiap sendok-
LUPAKAN FIRDA! INGAT RENCANAMU!
Firda memejamkan matanya dan melupakan apapun yang dia pikirkan tentang Rendy tadi. la segera mengambil nasi dan semur daging beserta gorengan. Tidak lupa ia mengambil beberapa sendok sambal sebegai pelengkap rasa makanannya. Hari ini ia tidak akan melakukan diet dulu agar Rendy tidak curiga.
Tepat pada suapan kedua Firda, Rendy berkata, "Kau suka semur daging dan makanan pedas. Sama seperti seseorang yang ku kenal dulu."
Uhuk.. uhuk..
Firda terbatuk mendengarnya. Langsung saja Rendy menyodorkan segelas air putih untuknya.
Sialan! Dia sengaja atau apa?
Terima kasih Pak "" Balas Diana lalu kembali melanjutkan makan siangnya.
"Jadi alasanmu pindah kerja karena dekat dengan tempat tinggalmu?" tanya Rendy dan Firda mengangguk. "Bapak sendiri tinggal di mana?"
"Kenapa? Kamu mau mampir ke apartemenku?" balas Rendy membuat Firda memasang seulas senyum. "Bukan begitu, tapi setau saya, orang tua Bapak tinggal di New York, jadi kalau bapak kenapa-kenapa saya bisa bantu, Pak." Bohong Firda. Tentu saja ia mencari tahu alamat Rendy untuk rencana balas dendamnya.
"Terima kasih karena sudah mempedulikan saya." Balas Rendy lalu melanjutkan makan siangnya.
Dalam hatinya Diana merutuk karena tidak mendapat jawaban dari Sam.
Dia merahasiakan apartemenrya pasti karena dia sering membawa wanita tidur dengannya. Dasar brengsek!
***
Sudah seminggu Firda bekerja dengan Rendy dan sudah beberapa rencana berhasil ia jalankan. Pertama, ia sering membatalkan jadwal Rendy dengan beberapa klien penting. Kedua, ia sudah memanipulasi laporan keuangan yang dikirimkan bagian keuangan padanya. Terakhir, ia yakin Rendy mulai tertarik padanya karena ia sering kedapatan sedang menatap Firda.
la tidak mengira rencanaya akan berjalan semudah ini.
Ternyata menghancurkan Rendy sangat mudah. Lihat saja, setelah beberapa klien kecewa karena jadwalnya dibatalkan, tentu saja Firda tidak melaporkannya pada Rendy, pasti tidak lama lagi perusahaan ini akan hancur.
la juga sudah berencana untuk membocorkan teknologi terbaru dari bagian IT pada perusahaan lawan Rendy dan tinggal tunggu waktu hingga perusahaan ini hancur.
Ah, mungkin ia harus segera mencari lamaran pekerjaan di perusahaan lain sebelum perusahaan ini bangkrut.
"Firda, ke ruanganku sekarang." Pinta Rendy
Firda segera menutup telepon di depannya dan pergi ke ruangan Rendy. "Ada apa Palk? Anda ingin memesan makan malam?" tanya Firda karena saat ini mereka sedang lembur.
Rendy menekan tombol di balik meja kerjanya hingga bunyi klik. Pintu di belakang Firda segera terkunci Rendy berjalan ke depan mejanya lalu menyandarkan tubuhnya di meja itu.
"Sudah puas bermain-main di perusahaanku?" tanya Rendy dengan sorot tajam.
"Bermain-main apa maksudnya Pak?" tanya Firda tidak mengerti.
"Kau pasti mengerti maksutku Firda Veronica Maharani Ahmad-" Rendy menggantung kalimatnya untuk melihat ekspresi wajah Firda. Langsung saja kedua mata Firda membulat mendengarnya. Tidak hanya itu. Nafasnya tercekat saat Rendy berjalan mendekatinya dan memainkan ujung rambutnya.
"Pacarku tersayang." bisik Rendy di telinga Firda dengan senyum iblisnya.
Jangan Lupa Vote dan Comment
Tunggu Chapter Selanjutnya...
©fdldigital