My CEO My LOVE

My CEO My LOVE
PART 3



"Saya tidak mengerti maksud anda!" kata Firda dengan nada tinggi lalu berjalan keluar. Sayangnya, pintu itu sudah di kunci Rendy.


"Mau lari lagi seperti dulu, sayang?" tanya Rendy di belakang Firda. Tangan Firda berhenti menarik-narik pintu itu. Ia bahkan tidak berani membalikkan badannya.


Sial! Sial! Sial!


Rendy mengetahui rencananya. Mengapa pria itu begitu jeli?!


Argh! Dia lupa Rendy adalah anak yang cerdas dulu.


"Ahk!" Firda terpekik saat Rendy membalikkan badannya dan menyandarkannya ke pintu. Langsung saja kedua bola mata cokelatnya menatap manik hitam Rendy.


"Firda sayang, kau pikir aku tidak bisa mengenalimu, hm?" tanya Rendy dengan nada pelan. Tidak hanya itu, ia juga mengelus wajah Firda yang terdiam.


"Dengarkan aku sayang, semua kegilaan yang kau lakukan seminggu ini, dengan mudah bisa kutangani." Kata Rendy sambil tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh pipi Firda.


Napasnya menyentuh kulit Firda. Membuat jantung Firda berdebar kencang.


"Sebagai pacarku, kau seharusnya tidak melakukan itu." Kata Rendy sambil menahan tubuh Firda agar tidak menghindarinya.


Seperti tersadar, Firda langsung mendorong dada Rendy sekuat tenaga. "Aku tidak mengerti maksudmu! Lepaskan aku!" seru Firda.


Di luar dugaannya, Rendy malah berjalan mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukan. Bibirnya ia dekatkan ke telinga Firda. "Kau harusnya masih mengingat pelukan ini." Kata Rendy pelan. Membuat Firda, tanpa sengaja meremas lengan pria itu karena darahnya serasa berdesir merasakan semua yang dilakukan Rendy sekarang.


"Ku rasa aku perlu menambah kenangan yang baru selain pelukan ini." Kata Rendy lalu ia segera menempelkan bibirnya pada bibir ranum Firda dan segera **********.


"Lepas! Dasar brengsek!" dorong Firda dan Rendy tertawa melihatnya. "Jangan lupakan ciuman ini."


"Dasar pria brengsek! Aku bukan lagi pacarmu! Kita sudah putus!" seru Firda sambil mengelap bibirnya. Ia tidak sudi dicium pria itu.


"Oh ya? Seingatku kita tidak pernah mengucapkan kata putus dulu."


Tubuh Diana seketika terdiam mendengarnya. Sedetik kemudian matanya memicing menatap Rendy. "Kalau begitu,


mulai hari ini kita putus!" seru Firda lalu berjalan ke arah meja kerja Rendy dan menekan tombol untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, Rendy berjalan ke arahnya dan menarik tangannya. "Kau tidak bisa semudah itu pergi dariku."


"Aku akan mengirimkan surat pengunduran diri besok." Kata Firda berusaha menarik tangannya.


Di luar dugaannya, Rendy malah tertawa. "Kau pikir bisa semudah itu lari dariku, hm?"


"Aku tidak mau melihatmu lagi!"


"Kalau begitu silahkan membayar ganti rugi yang tertera di kontrak kerja." Kata


Rendy yang langsung membuat wajah Firda berubah pias.


la menarik tangannya dan menatap Rendy penuh kebencian. "I HATE YOU REN!" serunya lalu pergi dari hadapan Rendy.


"Mungkin I LOVE YOU maksudmu, Firda sayang." Teriak Rendy yang dibalas oleh bunyi pintu yang dibanting.


Firda meremas rambutnya saat berdiri di depan meja kerjanya. Rencananya gagal total!


Rendy mengenalinya!


Bagaiaman bisa? Tubuhnya tidak lagi segemuk dulu. Wajahnya sudah cantik karena perawatan wajah mahal yang sering ia lakukan. Ia bahkan sudah menghapus nama tengahnya.


"Rendy brengsek!" seru Firda lalu mengepalkan tangannya.


"Aku memang brengsek karena menjadikanmu taruhan dulu." Kata Rendy dari belakang Firda. Langsung saja tubuh Firda menegang. "Tapi sekarang tidak lagi." Kata Rendy yang menarik dagu Firda untuk menghadapnya.


Firda menepis tangan Rendy lalu segera mengambil tasnya dan pergi. Di belakangnya, Rendy terus mengikutinya. "Kau lebih cantik." Kata Rendy saat mereka tiba di depan lift.


Tentu saja. Semua pria akan menyukai wanita cantik sedangkan wanita jelek hanya dijadikan bahan taruhan." Balas Firda tajam. Setelah lift di depannya terbuka, ia segera masuk begitu juga dengan Rendy.


"Kau tahu-"


"Aku tidak mau tahu!" Suara Firda meninggi. la tidak suka dipermainkan Rendy lagi. "Berhenti cari masalah denganku dan aku akan berhenti cari masalah denganmu. Aku akan bekerja dengan professional dan tidak akan menghancurkan perusahaanmu. Mulai sekarang hubungan kita hanya sebatas pekerjaan. Tidak lebih!" kata Firda sambil menatap lurus ke depan.


Di sampingnya Rendy tertawa. "Kau sudah bermain-main denganku selama seminggu dan aku tidak boleh bermain denganmu?"


Lift di depan mereka terbuka. "Terima kasih karena selalu menganggapku sebagai mainan sejak dulu!" Kata Firda lalu beranjak keluar dari lift.


Di luar dugaannya, Rendy menarik tangannya hingga tubuhnya berbalik menabrak dada Rendy. Pria itu menatapnya tajam lalu merambatkan tangannya ke punggung Firda dan memeluknya erat.


"Aku tidak pernah bermain denganmu dulu." Kata Rendy dengan sorot tajam.


Firda mendorong tubuhnya dengan kuat. "Lepas! Aku tidak suka berada di dekatmu!"


"Kalau begitu, kenapa kau ingin menjadi sekretarisku, hm?" tanya Rendy dengan sebelah alis terangkat. Sebelah tangannya naik dan mengelus pipi Firda. "Berhenti bermain-main dengan perusahaanku dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Mengerti?" tanya Rendy dan Firda tidak menjawabnya.


"Mengerti Firda Veronica Maharani Ahmad?" tanya Rendy lagi sambil memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari bibir Firda.


"Kau benar-benar menginginkan ciumanku, hm?" tanya Rendy yang tidak di balas Firda. Tanpa menunggu lama lagi ia segera memajukan bibirnya dan mencium bibir Firda.


Ciumannya terhenti setelah Firda mendorongnya dengan kuat.


Di tempatnya berdiri, Firda hanya terpaku. Belum satu jam pria itu mengenalnya dan dia sudah menciumnya lebih dari satu kali. Sialnya, mengapa jantungnya harus berdegup kencang?


Tidak! Ia tidak boleh lemah. Ia harus tetap membalas semua perbuatan pria itu. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia menunggu kesempatan ini.


Dan bahkan, sebuah ciuman pun tidak bisa menggagalkannya.


 


***


"Selamat pagi, sayang." Sapa Rendy saat Firda memasuki ruangan kerjanya. Mendengar itu Firda menatap Rendy kesal.


"Tolong, bersikaplah professional." Kata Firda saat menyerahkan jadwal kerja Rendy. Sebelum ia berbalik keluar, Rendy sudah menahan tangannya. "Kau juga harus bersikap prefsional dan tidak melakukaan hal-hal yang akan merugikan perusahaan."


Firdaa menarik tangannya. "Kau tenang saja." Katanya dengan sernyum palsu dan sebuah rencana baru di kepalanya.


Untuk sebulan ke depan ia belum akan menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan pada Rendy. Setelah itu, ia mungkin akan membocorkan rahasia perusahaan pria itu ke perusahaan saingannya. Lihat saja, ia tidak boleh gagal kali ini.


"Well, kalau begitu aku akan bersikap baik pada pacarku mulai sekarang." Kata Rendy lalu berdiri dan mendekati Firda.


"Aku bukan pacarmu!" dorong Firda saat Rendy mulai mendekati dirinya. Rendy mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia tersenyum lalu berkata, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi?"


Mendengar itu Firda tersenyum miring. Lihatkan, pria brengsek ini pasti sudah tergoda dengan kecantikannya yang


sekarang. Sudah ia duga. Rendy sama brengseknya dengan pria-pria di luar sana yang hanya menilai wanita dari penampilan luarnya.


"Kita sudah berakhir!" balas Firda dengan nada tinggi.


Rendy mengelus pipi Firda sambil tersenyum miring. "Bukankah setiap akhir adalah awal yang baru?" bisik Rendy di telinga Firda. Sekali lagi suara serak itu berhasil membuat darah Firda berdesir.


Tidak mau terlarut, Firda segera menepis tangan Rendy. "Bersikap professional lah Ren!"


"Baiklah. Aku cukup professional untuk meluluhkan hati seorang wanita. Kau lihat saja." Kata Rendy sambil berkacak pinggang dengan senyum miring di wajahnya.


"Dan aku lebih professional dalam hal mematahkan hati pria." Balas Firda tidak mau kalah.


Rendy tertawa mendengarnya. Setelah tawanya reda, ia berkata, "Kalau begitu kita lihat saja siapa yang menang."


Firda tertawa singkat lalu menggelengkan kepalanya, "Kau sama sekali tidak berubah. Selalu menjadikan perasaan seseorang sebagai bahan taruhan." Kata Firda lalu berjalan keluar dari ruangan Rendy.


Sekali lagi Rendy membiarkan Firda pergi tanpa mengejarnya.


 


***


Rendy benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Pria itu kini sedang berjalan ke arah meja Firda yang terletak tepat di luar ruang kerja pria itu. "Kau mau makan siang apa?" tanya Rendy sambil berdiri di depan meja Firda sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Dari tempat duduknya, Firda menutup buku agenda yang selalu ia gunakan untuk mencatat kegiatan Rendy. "Maaf, aku sudah punya janji."


"Dengan siapa?" tanya Rendy lagi.


"Bukan urusanmu." Balas Firda lalu mengambil dompetnya dan pergi dari situ meninggalkan Rendy.


Di lobby, Steven, teman kencan Firda sudah menunggunya. Pria itu rela datang jauh-jauh ke kantor Firda demi membujuk Firda yang sedang merajuk karena pria itu tidak mengabari Firda selama dua hari.


Firda sendiri tidak peduli. la yakin dengan kecantikannya yang sekarang, semua pria mampu melakukan apapun padanya. Bahkan berlutut untuk mendapatkan maafnya pun mungkin mereka rela.


Bukankah semua pria menginginkan pacar yang cantik untuk mereka pamerkan pada orang-orang?


"Fir, aku minta maaf. Ponselku sedang rusak beberapa hari ini." Jelas Steven saat Firda tiba di depannya.


"Kau sedang dekat dengan wanita lain kan?" tanya Firda lagi. Ia sudah tahu pria macam apa yang sedang ia kencani sekarang.


"Tidak. Cuma kamu yang aku cintai." Balas Steven.


Firda sendiri hanya mendesah karena malas membahas masalah ini. la tidak ingin mereka menjadi perhatian orang-orang yang lewat. Lagi pula, Steven hanya teman kencannya, bukan pacarnya.


"Aku lapar." Kata Firda dan Steven segera merengkuh pinggangnya. "Kau mau makan dimana sayang?" tanya Steven dan Firda segera menyebutkan tempat makan favoritnya.


Tanpa mereka sadari, seseorang terus menatap interaksi mereka berdua dari lantai tiga gedung itu.


Setelah kedua orang itu menghilang dari pandangannya, dia juga segera mengambil ponselnya dan melengos pergi.


 


 


 


 


JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT


UNTUK USAHA BALAS DENDAM FIRDA..