
Firda duduk diam di dalam mobil Rendy. Kejadian tadi sebenarnya cukup membuat tubuhnya gemetar. la hampir saja diperkosa oleh Steven dan teman-temannya. Memikirkannya membuat tubuh Firda merinding.
Rendy belum menjalankan mobilnya. Pria itu duduk meyamping menghadap Firda dengan pandangan kesal. "Kenapa kamu bodoh banget sampai hampir diperkosa oleh pria brengsek seperti si Steven itu?!" tanya Rendy dengan nada tinggi, tetapi tidak dibalas oleh Firda.
"Kalau aku nggak ada siapa yang bakalan nolongin kamu?" tanya Rendy lagi.
"Terima kasih," kata Firda pendek dan pelan.
"Belajarlah dari pengalaman Firr, berhenti gonta ganti teman kencan seperti itu. Kau tidak tahu mereka benar-benar tulus atau tidak padamu! Hari ini saja kau hampir diperkosa." kata Rendy dengan nada meninggi.
Rendy berbalik menatap ke depan sambil memegang setir mobilnya. "Terserah. Kau boleh marah padaku. Tapi berhenti bersikap bodoh dan membahayakan dirimu sendiri," kata Rendy lalu berbalik hendak menjalankan mobilnya tapi suara isakan kecil terdengar membuat tangannya yang hendak memutar setir terhenti.
Ia berbalik dan mendapati Firda menangis. "Maaf. hikz." lirih Firda sambil menutup wajahnya.
Rendy tidak jadi menjalankan mobilnya. Ia berbalik menatap Firda dan menurunkan kedua tangan Firda perlahan. "Firr, aku nggak bermaksud kasar. Aku cuma-"
"Kamu benar. Seharusnya aku berhenti bersikap bodoh. Sayangnya, aku memang bodoh. Selalu terjebak dengan pria-pria brengsek yang tidak bisa menghargai perempuan," kata-kata Firda terhenti saat Rendy mengusap air mata di pipinya.
Benak Firda menghangat dengan tindakan Rendy, tetapi tangannya dengan cepat menepis tangan Rendy. "Sama seperti dulu. Kamu juga menjadikanku bahan taruhan dan aku dengan bodohnya percaya kalau kamu benar-benar tulus!"
Firda menatap Rendy dengan mata berair. "Sekarang katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar tidak terjebak pada pria yang sama seperti kamu? Aku benci kamu.
Aku benci semua pria yang pernah dekat denganku! Kalian semua hanya menilai wanita dari fisiknya, bahkan setelah aku berubah seperti ini, kalian semua tetap tidak bisa mencintaiku dengan tulus,"
Firda akhirnya melepaskan semua yang dirasakannya selama ini. Meskipun ia harus melepaskannya di depan Rendy. Pria yang membuatnya jadi seperti ini.
"Firr, soal yang dulu, aku minta maaf," mata Rendy memancarkan ketulusan, tetapi Firda tidak peduli.
"Kamu nggak perlu minta maaf. Malahan aku yang berterima kasih," Firda menghapus air matanya dengan kasar.
"Terima kasih karena sudah membuatku sadar kalau pria dengan cinta yang tulus cuma ada di dongeng ponakan aku!"
Diana keluar dari mobil. Ia melepas heels-nya dan mencari taksi, tetapi baru beberapa langkah, Rendy sudah menariknya dan memeluknya. "Ren! Lepas!" berontak Diana.
Rendy memeluknya erat hingga kepala Firda menempel di dadanya. Bahkan kini Firda bisa menghirup aroma Rendy. Aroma yang sama dengan sepuluh tahun yang lalu. Dan dia benci dengan dirinya sendiri karena masih mengingat aroma pria itu.
"Dulu, aku pernah buat kesalahan dan itu membuatmu tidak percaya dengan cinta, tetapi sekarang aku tidak akan membuat kesalahan lagi," Rendy melepas pelukannya saat Firda sudah tenang. la sedikit membungkuk dan menatap kedua mata Firda. "Pulang denganku. Aku berjanji akan menjagamu."
Firda menatap kedua mata Rendy. Pria itu benar-benar serius. Tidak ada kebohongan di kedua matanya. Bahkan hingga Rendy mengusap lembut kedua pipinya, Firda merasa Rendy memperlakukannya, seolah-olah Firda adalah barang yang sangat rapuh.
Yah, dia memang wanita rapuh yang hanya berpura-pura tegar selama sepuluh tahun ini.
Firda mengangguk. "Setidaknya kau tidak menjanjikan sesuatu yang terdengar sulit untuk dipenuhi. Aku benci mendengar janji tidak akan membuatku terluka'. Selama ini itu hanya janji belaka karena mereka selalu melukaiku."
Usai berkata demikian, Firda berjalaan melewati Rendy ke mobil, tetapi Rendy menahannya dan berjongkok di depannya.
"Naik ke punggungku." Firda terdiam menatap punggung lebar Rendy yang pelukable. "Aku bisa berjalan sendiri."
"Tapi aku sedang menepati janjiku untuk menjagamu. Aku menjaga kakimu agar tidak terluka. Naiklah. Kapan lagi kau bisa digendong pria setampan aku," goda Rendy sambil tersenyum jail menatap Firda.
Firda menatap kakinya. Beruntung ia sudah mengganti rok pendeknya tadi dengan celana pendek saat di restoran. Tapi, apakah ini keputusan yang benar dengan naik digendongan Rendy? Sudahlah, lagi pula jarak dari tempat mereka berdiri dan mobil sangat dekat.
Firda perlahan melingkarkan tangannya yang memegang kedua sepatu di leher Rendy. Setelah itu, ia menumpuhkan dirinya pada Rendy dan pria itu langsung menahan kaki Firda dengan kedua tangannya.
"Hap! Kau ternyata sangat ringan," kata Rendy dengan sedikit melirik Firda yang menyandarkan kepalanya di bahu Rendy.
Selama sepersekian detik tatapan mereka beradu hingga Firda berkata. "Cepat jalan ke mobilmu. Aku sudah lelah." Rendy tertawa membuat tubuhnya terguncang. "Seharusnya aku yang lelah."
"Tadi kau bilang aku tidak berat," balas Firda.
"Ini sudah pukul satu malam. Tidak banyak orang yang akan melihatmu," Rendy berjalan tidak mempedulikan protes Firda.
Akhirnya mereka berdua berjalan dengan Firda di gendongan Rendy. Awalnya hanya hening, hingga Firda bertanya, "Jadi, semua keluargamu masih di New York?"
"Kenapa? Kamu mau menemani aku yang kesepian di Jakarta?" goda Rendy lagi, membuat Firda memukul punggungnya.
"Jangan geer!"
"Mereka semua masih di New York. Mama, Papa, kecuali adik aku yang baru kembali kemarin, " jawab Rendy.
"Kenapa kamu mau balik ke sini? Bukannya New York lebih bagus daripada Jakarta?" tanya Firda lagi.
"Pertama, Ayahku masih mengurus perusahaan yang di sana karena aku rasa aku belum bisa mengurusnya. Kedua, aku di sini belajar untuk menggantikan posisi Ayahku. Ketiga," Rendy tidak melanjutkan ucapannya. Ia berbalik menatap Firda sekilas.
"Ketiga apa?" tanya Firda.
Sam tampak berpikir lalu berkata. "Aku tidak bisa mengatakannya. Itu privasi aku," kata Rendy membuat Firda mengangguk pelan. Dia tidak ingin mencari tahu privasi Rendy.
Beberapa saat kemudian Rendy merasa hidung Firda sudah menempel erat di bahunya. "Firr, kamu kenapa? Ngantuk?"
"Aku malu. Banyak orang yang melihat kita. Kamu pikir Jakarta pernah sepi," kata Firda sambil terus menunduk sedangkan Rendy hanya tertawa geli.
Rendy berjalan beberapa menit lagi lalu memutuskan untuk kembali ke mobil. Setelah sampai di depan mobil, Rendy membuka pintu mobilnya dan menurunkan Firda secara perlahan di kursi penumpang. Gadis pemarah itu sudah tertidur pulas rupanya.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rendy, membuat Rendy teringat sesuatu dan langsung membuka isi pesan itu.
Aku sudah sampai di rumah.
Rendy mendesah lega membaca isi pesan itu. Sebuah pesan dari nomor yang sama masuk lagi ke ponselnya.
Memangnya dia se-special itu sampai aku harus pulang sendiri?!
Rendy mengunci layar ponselnya tanpa membalas pesan itu. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil dan membawa Firda ke kantornya.
***
Tiba di kamarnya, Rendy meletakkan Firda dengan perlahan. Setelah itu, ia melepaskan sepatu Firda dan menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu. Perlahan, ia merapikan anak rambut Firda dari wajah mulus gadis itu.
"Kau seharusnya tidak perlu berubah seperti ini," kata Rendy lalu mengusap pipi Firda. Ia menarik tangannya lalu menatap Firda dalam diam.
Rendy pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang penuh dengan aroma rokok. Selesai itu, ia memasukkan dirinya ke dalam selimut di samping Firda.
Firda yang sudah berbaring memunggunginya, membuat Rendy tertarik untuk memeluk gadis itu. Akhirnya, dengan perlahan ia mendekati Firda dan memeluk gadis itu.
Aroma shampo Firda yang ia kenal segera masuk ke indra penciumannya. Rendy menempelkan kepalanya ke ceruk leher Firda dan menutup matanya. Mungkin besok gadis ini akan mengamuk padanya setelah terbangun. Rendy tidak peduli.
la juga tidak tahu mengapa semua ini bisa sampai sejauh ini. Semua ini di luar kendalinya.
*
Terima kasih.