
Firda menutup pintu apartemennya dan langsung berhadapan dengan wajah penasaran Putri. "Jadi dia Rendy yang kamu benci itu?"
Firda memutar matanya mendengar pertanyaan itu. "Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam. Kenapa aku bisa bersama si brengsek itu?" tanya Firda lalu duduk di samping Putri.
"Si tampan itu mungkin maksudmu," ralat Putri yang membuat Firda sekali lagi memutar matanya bosan. Ia juga tahu Rendy tampan, seisi kantor juga mengaguminya, api itu semua tidak bisa menutupi sikapnya yang sangat buruk. Untuk apa punya wajah tampan tapi hati busuk.
"Kenapa aku bisa pulang dengannya?" tanya Firda lagi setelah duduk di samping Putri.
"Simpel saja, dia menyelamatkanmu dari pria yang akan membawamu. Tidak hanya itu, dia meminta kami untuk membawa pulang mobilmu."
Firda menatap Putri tidak percaya. "Kalian membiarkanku pulang dengan pria yang tidak dikenal?!"
"Dia memberikan kartu namanya dan kelihatannya dia tidak akan melakukan apapun padamu. Atau kalian melakukan sesuatu semalam?" tanya Putri sambil memicingkan matanya.
Firda mengambil bantal di sofa dan menimpuk wajah Putri. "Jika terjadi sesuatu padaku semalam, kau yang harus bertanggungjawab!"
Putri tertawa. "Aku tidak mungkin menikahimu jika kau hamil. Minta saja dia yang tanggungjawab. Lagi pula-"
"Kami tidak melakukan apapun! Dan aku tidak pernah sudi menikah dengannya!" seru Firda lalu pergi ke kamarnya. Bicara lama-lama dengan Putri bisa membuat kepalanya lebih pening.
Menikah dengan Rendy? Lucu sekali. Dunia mungkin sudah kehabisan stok laki-laki jika Firda menikah dengan Rendy.
Di dalam kamarnya, Firda menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul Sembilan pagi. Ia masih punya waktu tiga jam sebelum kembali ke kantor. Akhirnya, dengan malas ia menyalakan pendingin ruangan dan masuk ke dalam selimut lalu kembali tidur.
Entah sudah berapa lama Firda tertidur hingga ia terbangun tiba-tiba. Matanya menatap jam dinding di ruangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang.
Sial! Dia lupa membuat alarm tadi. Putri juga pasti sudah pulang.
Firda mengacak rambutnya frustasi. Ia pasti akan tiba di kantor pukul empat sore kalau begini dan itu sama saja tidak berguna. Akhirnya ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Rendy dengan alasan ia sakit sehingga tidak dapat kembali ke kantor. Lagi pula, dia tidak ingin pergi bersama Rendy untuk mencari apartemen baru pria itu.
Setelah beberapa menit menunggu dan Rendy tidak membalas pesannya, akhirnya Firda memutuskan untuk kembali tidur.
la benar-benar memanfaatkan waktu tidurnya hari ini dengan sebaik-baiknya.
Tidur nyenyak Firda diinterupsi oleh bunyi bel pintu apartemennya. Pasti itu sahabatnya Putri yang datang mengganggunya. Atau mungkin sahabatnya itu terlalu rindu padanya sampai harus kembali ke apartemennya.
Mengetahui itu Putri, Firda memilih bergelung dulu sebentar di ranjangnya. Matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore dan perutnya sama sekali belum diisi sesuatu selain alkhol kemarin malam.
Firda bangun dengan tubuh yang terasa lemas karena belum makan satu sendok pun sejak tadi subuh. Terkahir kali perutnya diisi makanan yaitu kemarin malam sebelum ia pergi ke club.
Firda sudah biasa merasa lemas karena tidak makan. Dulu, ia sering melakukan diet extreme untuk menurunkan berat badannya dan sekarang rasa lemasnya tidak seberat dulu. Buktinya, ia bisa mencapai pintu apartemennya tanpa jatuh pingsan.
Namun, setelah pintu apartemennya terbuka, ia langsung jatuh terduduk saking terkejutnya melihat siapa yang ada di depannya saat ini.
"Firda, kau kenapa?" Rendy langsung maju dan sebelah tangannya memegang bahu Firda. Perlahan ia membantu Firda bangkit.
"Dari mana kau tahu alamatku?!" tanya Firda ketus sambil menarik bahunya.
Meskipun tubuhnya lemas, ia tetap bisa bersikap kasar pada Rendy. "Oh, aku lupa. Kau bisa membacanya di profilku," sambung Firda.
"Kau salah. Sahabatmu yang memberitahuku kemarin," balas Rendy, membuat Firda geram. Putri benar-benar penghianat! Sudah tahu pria ini adalah musuhnya. Kenapa ia harus memberitahukan tempat persembunyian Firda pada pria ini?
"Lalu kenapa kau tidak membawaku ke apartemenku? Kau sengaja ingin tidur denganku lalu menjebakku kan? Dasar mesum," cecar Firda dengan tatapan menuduh.
Di depannya Rendy tertawa lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi, menurutmu jika aku tahu apartemenmu di mana, aku juga tahu passwordnya apa, hm?" tanya Rendy dengan alis terangkat.
"Mungkin kau bisa memberitahuku sekarang jadi aku bisa membawamu ke sini jika kejadian seperti kemarin terulang," goda Rendy. Firda mengepalkan tangannya kesal. Pria ini benar-benar menyebalkan!
"Apa urusanmu ke sini?! Kalau ingin membuatku kesal, sebaiknya kau pulang saja!"
Rendy mengangkat sebelah tangannya yang menenteng sebuah plastik dengan nama restoran yang dikenal Firda. "Mengunjungi pacarku yang sedang sakit," jawab Rendy yang langsung, membuat Firda ingin muntah.
"Kau salah. Aku bukan pacarmu!" Rendy tersenyum miring, "Kau benar, kalimatku yang tadi salah. Karena pacarku tampaknya tidak sedang sakit," tanpa menunggu balasan Firda, Rendy langsung masuk ke apartemen Diana dan menata makanan yang dibawanya. Dari belakangnya Firda sudah marah-marah karena Rendy masuk dengan seenaknya.
"Aku akan memotong gajimu jika kau cerewet dan terus memarahiku. Ditambah, kau akan dapat surat peringatan karena berbohong padaku," ancam Rendy yang langsung membuat mulut Firda tertutup.
Melihat itu, Rendy tersenyum miring. "Kau lebih manis jika menurut seperti ini."
"Aku bukan peliharaanmu yang akan menurut padamu."
"Kita sudah putus!"
"Kau yakin mau putus dariku?"
"Sangat amat yakin!"
Rendy mendesah lalu mendekati Firda. la mendorong pelan tubuh Firda agar gadis itu segera duduk dan makan.
Setelah Firda duduk, Rendy pergi ke kursi di hadapan Firda dan duduk di sana. la mengambil semangkuk bubur hangat lalu menyerahkannya pada Firda.
Melihat bubur itu, sekilas Firda terpana. Dari mana pria itu tahu bahwa ia ingin makan bubur setelah mabuk? Diana masih terdiam menatap bubur itu hingga Sam mengambil sesendok buburdan menyentuhkannya di bibir Firda.
"Aaak." katanya sambil menyuapi Firda. Melihat hal itu Firda segera mengambil sendok itu dari tangan Sam. "Aku bisa makan sendiri!" protes Diana lalu mulai makan.
Di depannya, Rendy terus menatapnya. "Firr, aku sudah berjanji akan bersikap lembut padamu. Semoga saja setelah itu kau tidak berubah pikiran dan tidak ingin putus dariku."
Mendengar itu Firda mendelik menatap Rendy. "Sebaik apapun sikapmu tidak akan membuatku lupa apa yang sudah kau lakukan padaku dulu."
"Kau belum makan sejak kemarin?" tanya Rendy tanpa mempedulikan perkataan Firda barusan.
"Bukan urusanmu!"
"Jelas urusanku jika kau sakit."
"Kalau begitu berhenti mencampuri urusanku!"
Rendy menarik napas lalu menghembuskannya. "Mana pacarmu yang waktu itu makan siang denganmu? Kenapa dia tidak mengurus pacarnya yang sedang kelaparan?"
Firda memicingkan matanya. "Kau mengikutiku?"
"Semua orang bisa melihat kalian waktu itu. Aku hanya kebetulan lewat dan tanpa sengaja melihatmu dan pacarmu itu," balas Rendy sambil mengambil gelas dan mengisi air putih untuk Firda.
"Dia bukan pacarku. Hanya teman kencan."
Rendy tertawa singkat mendengarnya. "Wah, kau seperti bukan Firda yang ku kenal."
Firda hendak membalas namun perutnya tiba-tiba merasa nyeri. Asam lambungnya pasti naik karena ia tiba-tiba makan dalam jumlah yang banyak. Seharusnya ia makan perlahan-lahan agar asam lambungnya tidak mendadak naik.
Rendy berdiri lalu mendekati Firda. "Sepertinya kau benar-benar sakit." Mendengar itu Firda menatap Rendy kesal.
"Kau punya obat-"
"Obatnya habis." Ringis Firda sambil meremas perutnya. Selalu seperti ini jika perutnya yang kosong tiba-tiba diisi makanan dalam jumlah yang banyak secara tiba-tiba. Ia lupa hal itu tadi dan segera memakan bubur yang dibawa Rendy.
"Berbaringlah di kamarmu. Aku akan pergi membelinya," kata Rendy, tetapi Firda menggeleng.
"Aku bisa sendiri. Kau pergi-" belum sempat Firda menyelesaikan kata-katanya Rendy sudah membungkuk lalu menelusupkan tangannya di lipatan lutut dan punggung Firda. Tanpa menunggu protes Firda, ia langsung mengangkat gadis itu ke kamarnya.
"Sudah sakit, masih keras kepala," kata Rendy sambil berjalan ke kamar Firda. Turunkan aku!"
Rendy tidak mempedulikan Firda. Ia meletakkan gadis itu perlahan ke kasurnya lalu pergi membeli obat. "Sudah kuturunkan. Aku pergi beli obat dulu."
Beberapa menit kemudian, Rendy kembali dan mendapati Firda sedang meringkuk kesakitan di ranjangnya. Langsung saja ia membangunkan Diana dan menyuapi obat itu.
"Kau tidak bilang punya penyakit gastritis," kata Rendy setelah kembali membawa bubur yang dibelinya tadi beserta air hangat.
Kondisi Firda tampak sudah lebih baik, tapi gadis itu tidak menatap Rendy.
"Aku tidak butuh perhatianmu. Jujur saja, kau melakukannya hanya karena rasa bersalah kan?" Firda menatap Rendy datar. "Jika benar, maka kau tidak perlu melakukannya karena sebaik apapun dirimu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
*
*
*