My CEO My LOVE

My CEO My LOVE
PART 4



"Fir, cukup dong!" Teriak Putri di tengah riuhnya musik kelab yang saat ini tidak terlalu ramai pengunjung karena bukan akhir pekan.


Firda mengambil gelas yang ditarik Putri dan kemudian mengisinya dengan vodka kemudian meneguknya sampai habis. Ia betul-betul butuh pelarian untuk menghilangkan Rendy dari pikirannya.


Dan hari ini, ia berharap minuman berakohol ini bisa membantunya. Sayangnya, sudah satu botol dan nama Rendy masih muncul dalam pikirannya.


Pria itu sudah menghetahui identitasnya tadi dan sejak itu pula Firda merasa rencananya tidak akan berjalan lancar. Di tambah lagi semua perkataan pria ituu masih terus terngiang dalam pikirannya. Benar-benar menyebalkan!


"Kamu udah mabuk, Fir. Cukup dong!" Seru Putri lagi. Di belakangnya Anrez datang menghampiri dan menggeleng-geleng melihat Firda yang sudah tidak sepenuhnya sadar.


"Tunggu pembalasanku Rendy." Kata Firda yang mulai tidak sadar.


"Dia seperti ini karena Rendy?" tanya Anrez dan Putri mengangguk.


"Jangan bilang namanya lagi!" seru Firda sambil menunjuk Anrez dengan jari telunjuk yang berputar-putar.


"Haduh bakalan repot nih." Kata Anrez pada Putri.


"Kita juga nggak mungkin panggil pacarnya Firda buat jemput dia." Kata Putri. "Ya iyalah. Kita nggak tahu pacarnya sekarang siapa, sayang." Kata Anrez sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tunggu pembalasanku Rendy!" kata Firda sedikit lebih keras lalu meneguk minumannya lagi.


Firda tiba-tiba berdiri dan meninggalkan mereka berdua. "Eh, Fir. Mau ke mana? Aduh." seru Putri yang bergerak menahan Firda.


"Sudah biarin aja. Dia lagi stres banget kayaknya. Kita awasi dia dari sini." Usul Anrez yang langsung membuat Putri mundur.


Firda sudah mabuk. Dia tidak mempedulikan sekitarnya dan terus berjalan ke lantai dansa. Ia bahkan tidak mempedulikan beberapa pria yang menggodanya saat ia berjoget ria.


Pikirannya sudah penuh dengan Rendy sejak tadi siang dan besok ia harus bertemu pria itu lagi. Oleh karena itu, malam ini saja, ia ingin melupakan pria brengsek itu.


Sebuah tangan bergerak dari punggung Firda lalu menelusuri tubuhnya hingga ke bokongnya. Tentu saja, Firda yang sudah mabuk hanya mengenyahkan tangan itu sekenanya lalu kembali berjoget.


Tetapi pria itu tidak mau menyerah. Ia kembali memeluk Firda dari belakang dan dengan kesalnya Firda mendorong pria itu. "Jangan kasar-kasar manis." Kata pria itu sambil tersenyum miring karena di tolak Firda.


Pria itu tidak menyerah. Di saat Firda mulai limbung, ia memajukan tubuhnya hingga Firda bersandar di dadanya dan tangannya tidak tinggal diam. Ia mulai membelai punggung Firda yang hanya berbalut gaun tipis.


"Ayo habiskan malam ini bersamaku." Bisik pria itu di telinga Firda. Firda sudah pusing dan tidak menjawab ajakan pria itu hingga pria itu memapahnya keluar dari lantai dansa.


"Welcome to Day Night Club guys!" seru sang Dj yang langsung mendapat sambutan para pengunjung.


Tiba-tiba tubuh Firda berhenti bergerak. Sebuah kesadaran muncul dalam benak Firda. la mengutuk dirinya yang memilih club ini sebagai tempat mabuknya malam ini.


Sialan! Rendy punya janji dengan temannya di club ini malam ini!


Firda segera meninggalkan pria itu dengan sempoyongan untuk keluar dari club ini. Ia tidak boleh bertemu dengan Rendy.


Arggh! Firda Bodoh!


Pria yang tadi menarik tangan Firda. "Kau mau ke mana manis?" tanya Pria itu. Firda menarik tangannya tetapi pria itu menahannya lebih kuat. Firda yang sudah mabuk tidak mampu menarik tangannya.


la akhirnya pasrah saja saat pria itu mulai menariknya keluar dari club. Sebelum tiba di pintu keluar sebuah tangan menahan tangan Firda, membuat pria yang tadi berhenti menarinya.


"Maaf, dia pacar saya."


Firda mengenal suara itu, tetapi kepalanya terlalu pusing. Ia bahkan mulai tidak sanggup lagi berdiri. Akhrnya ia memilih untuk menarik tanganya dan menjatuhkan dirinya.


"Tunggu pembalasanku Ren".


 


 ***


 


KRIIIIING!


Bunyi alarm ponsel Firda membuatnya menggeliat dalam tidur. Kepalanya terasa berat dan matanya sangat sulit untuk terbuka. Tidak hanya itu, tubuhnya bahkan terasa sulit untuk bergerak.


KRIIIIING!


Kembali alarm itu berbunyi, membuat Firda mau tidak mau harus memaksa dirinya membuka mata. Rasanya ia baru tertidur satu detik yang lalu dan sekarang ia sudah harus membuka matanya lagi.


Hal pertama yang Firda lihat begitu matanya terbuka yaitu tirai berwarna abu-abu yang terasa tidak asing di matanya. Namun, seingatnya, kamarnya memiliki tirai berwarna pink.


Firda berusaha membalikkan tubuhnya tetapi sulit. Tubuhnya terasa di peluk dan hembusan napas seseorang terasa di tengkuk lehernya. Matanya menatap pinggangnya dan ternyata seseorang memeluknya dari belakang. Langsung saja kedua matanya membulat besar. Ia sedikit lega saat melihat tubuhnya masih memakai bajunya yang semalam.


KRIIIIING!


Alarm berbunyi lagi dan orang yang memeluknya mengerang karena terganggu. Langsung saja Firda berbalik dan wajahnya langsung bertatapan dengan wajah Rendy yang sedang tertidur.


KRIIIINGGG!


"Argh! Alarm itu benar-benar menganggu." Erang Rendy sambil mengucek matanya.


"Kenapa aku bisa berada disini?!" Tanya Firda yang langsung membuat Rendy berhenti mengucek matanya.


"Kau sudah bangun?" tanya Rendy balik.


KRIIIINGGG!!


Firda mendesah lalu duduk mencari ponselnya yang berada di nakas dan mematikan alarm tersebut.


"Kenapa aku bisa tidur denganmu?! Jawab!!!" tanya Firda berang.


Rendy bangun lalu duduk bersila di belakang Firda yang tidak mau menatapnya. Setengah mengantuk Rendy menjawab "Aku menyelamatkan pacarku agar tidak di perkosa semalam. Apakah salah?" tanya Rendy dengan nada santai.


Firda bersedekap berbalik menatap Rendy marah. "Oh ya? Dan kau memanfaatkan situasi itu agar bisa tidur denganku?!"


"Kita tidak melakukan apapun. Kau masih berpakaian lengkap. Lagi pula aku akan tidur dimana jika tidak seranjang denganmu?"


"Kau bisa pulang ke apartemenmu!" seru Firda setelah menyadari ini adalah kamar yang terletak di samping ruang kerja Rendy.


"Apartemen apa maksudmu? Aku tinggal disini sejak hari pertama kembali ke Indonesia."


Tatapan Firda berubah terkejut saat mendengar jawaban Rendy. Namun ia tidak mau kalah. "Kau berbohong! Tidak


mungkin kau tidak punya apartemen."


Rendy bergerak mendekat. "Aku tidak berbohong. Aku belum punya waktu untuk mencari apartemen di Jakarta dan ku rasa kamar ini cukup."


Firda terdiam. Ia tiba-tiba mengerti kenapa setiap pagi ia datang, Rendy pasti sudah ada di ruangannya. Ternyata pria itu tinggal di kantor ini.


"Satu lagi, aku bersumpah tidak melakukan apapun padamu semalam. Jadi berhenti mengatakan akan balas dendam padaku karena aku serius saat mengatakan akan bersikap baik padamu."


Firda menatap Rendy dengan pandangan memicing. "Aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi. Kau adalah pria brengsek yang selalu mempermainkan-" ucapan Firda terhenti saat perutnya terasa sakit dan mual.


"Fir, kau baik-baik saja?" tanya Rendy sambil mendekati Firda. Belum sempat Rendy memegang bahunya, Firda sudah berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Inilah hal yang paling ia benci jika minum terlalu banyak. Besoknya ia pasti harus muntah-muntah dan perutnya hanya bisa diisi bubur.


Firda masih memuntahkan isi perutnya hingga sebuah usapan pelan di punggungnya membuat tubuhnya menegang. Tidak hanya itu, Rendy juga menarik rambutnya satu persatu dan menggenggamnya menjadi suatu kunciran agar tidak terkena muntahan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Rendy yang tidak dijawab Firda, melainkan ia kembali memuntahkan isi perutnya. Begitu pula dengan Rendy yang ikut berlutut dan terus mengusap punggungnya dengan lembut.


Setelah merasa tidak ada lagi yang tersisa di dalam perutnya, Firda segera menekan tombol flush dan berdiri dari sana. "Aku baik-baik saja. Terima kasih." Kata Firda datar.


la segera mencuci mulutnya dan juga membasuh wajahnya di wastafel lalu berjalan melewati Rendy yang terus menatapnya. "Terima kasih atas bantuanmu." Kata Firda lalu mengambil tasnya. "Aku akan segera kembali untuk bekerja."


"Ku antar kau pulang." Kata Rendy sambil berjalan nmenahan Firda.


"Aku bisa naik taksi." Tolak Firda.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Dan oh ya, mobilmu sudah di bawa sahabatmu." Kata Rendy yang hanya dibalas anggukan oleh Firda.


"Kau tidak perlu buru-buru kembali ke kantor. Datang saja setelah jam makan siang untuk menemaniku mencari apartemen."


Firda menatap Rendy dengan kening berkerut. "Bukankah kau bilang disini cukup?"


"Tidak cukup jika harus membawamu pulang seperti kemarin." Mendengar itu Firda langsung menatap Rendy kesal. "Kau benar. Carilah apartemen agar kau tidak perlu tidur berdua dengan wanita-wanita yang kau bawa dari club."


Mendengar itu Rendy tertawa. "Wah, pacarku cemburu rupanya."


"Aku tidak cemburu dan aku bukan pacarmu!" seru Firda lalu menarik tangannya tapi Rendy menahannya. "Bisakah kau membatalkan rencanamu untuk balas dendam padaku? Karena semalam kau terus mengucapkannya di depanku. Membuatku jadi takut."


Firda tertawa sinis. "Aku sangat senang jika kau takut."


Rendy tersenyum miring. Tangannya ia ulurkan untuk merapikan rambut Firda. "Aku takut jika rasa benci itu membuatmu jatuh cinta padaku."


"Dasar sinting!" seru Firda lalu pergi dari situ.


.


.


.


.