My CEO My LOVE

My CEO My LOVE
PART 7 : Club Malam



Firda turun ke lobi untuk pulang dan mendapati Steven sedang menunggu di depan lobi. Hari ini Firda pulang sedikit lebih larut karena menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk kemarin. Dan karena ini adalah malam minggu, ia memutuskan untuk makan malam dengan Steven.


Steven adalah seorang direktur keuangan sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Dia bertemu dengan Firda di sebuah club malam pada saat salah satu teman Firda mengadakan ulang tahun.


Sesuai dengan pekerjaannya, Steven menunggangi sebuah mobil BMW 8 Series Coupe berwarna grey metalic dan sekarang Firda sudah berada di dalamnya dengan Steven yang mengusap-usap punggung tangan Firda.


"Firr, kau tidak mau berpacaran denganku?" tanya Steven untuk kesekian kalinya. Setelah teman kencannya yang sebelumnya menghilang tanpa kabar, Steven mendekatinya dan sudah hampir sebulan ini mereka dekat. Sehingga Firda berpikir untuk melanjutkan hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius.


"Aku lebih nyaman dengan hubungan kita yang sekarang," jawab Firda. Ia sudah terbiasa ditembak oleh pria-pria seperti Steven dan jawaban ini yang selalu ia berikan.


Alasannya karena dia tidak percaya pada pria manapun sekarang. Dan mungkin, hanya menunggu waktu sampai Steven meninggalkannya karena wanita lain yang lebih cantik.


Steven menghembuskan napas lalu menjalankan mobilnya. "Baiklah jika itu keputusanmu, sayang" ujar Steven, lalu sebelah tangannya mengelus rambut Firda.


Setelah makan malam, Firda dan Steven berpindah ke salah satu club malam yang terkenal di Jakarta. Suasana malam minggu membuat club itu sangat penuh hingga membuat Firda hampir sesak.


Padahal daritadi dia sudah meminta Steven untuk pergi ke club lain, tetapi pria ituu memaksa Firda untuk pergi ke club itu.


Bahkan teman-teman Firda tidak terlihat di kelab ini.


Sampai di dalam club, ia disuguhi pemandangan menyebalkan, membuat Firda ingin segera pulang dari situ


Bagaimana tidak, di antara ratusan kelab malam di Jakarta, mengapa Rendy harus ada di dalam kelab itu. Di tambah lagi, seorang wanita terlihat sedang duduk di sampingnya. Firda tidak cemburu. Dia bahkan tidak peduli pada apa yang dilakukan Rendy.


"Steven, kita langsung ke lantai dua ya," pinta Firda karena tidak ingin Rendy melihatnya malam ini.


"Baiklah. Teman-temanku juga berada diatas," ujar Steven sambil merangkul Firda.


Sayangnya, begitu berbelok di tangga, Firda sekilas menatap ke arah Rendy untuk memastikan pria itu tidak mengetahui keberadaannya, tetapi matanya malah bertabrakan dengan kedua bola mata hitam legam itu.


Berpura-pura tidak tahu, Firda segera memalingkan matanya dan mengikuti Steven ke lantai atas yang tidak kalah ramai dari lantai bawah. Biarkan saja, pria itu pasti sibuk dengan wanita barunya.


Di lantai atas, Firda menatap sekumpulan teman-teman Steven yang menempati satu meja bulat. Mereka bertos ria saat bertemu lalu segera duduk di meja itu.


Malam semakin larut dan Firda mulai tidak nyaman karena Steven tidak hanya merangkulnya tapi berulang kali pria itu mencoba menciumnya. Walaupun memiliki teman kencan yang silih berganti, Firda tidak pernah membiarkan mereka menciumnya.


Hubungan mereka dengannya hanya teman kencan dan dalam batas teman tidak ada yang namanya ciuman. Sialnya, si Rendy itu malah dengan gampangnya mencuri ciuman pertamanya waktu itu. Padahal pria itu adalah musuhnya!


"Steven, kamu mulai mabuk. Ayo pulang," ajak Firda tapi Steven menolaknya. Firda juga merasa kurang nyaman karena beberapa teman Steven terang-terang menatapya dengan penuh nafsu.


"Kau bisa pulang denganku jika Steven tidak mau," ajak seorang teman Steven yang berkulit sawo matang dengan rambut yang disugar ke belakang tidak lupa juga beberapa tato di tangannya.


Firda tidak mengubrisnya. la memilih mengambil ponselnya dan menelpon Putri. Sialnya, ponsel Putri tidak dapat dihubungi.


Steven berdiri lalu berkata akan ke toilet. Firda hanya mengangguk karena ia sedang mencoba menghubungi Putri sekali lagi.


 


 


***


 


Rendy mencuci tangannya di wastafel ketika seorang pria yang ia kenali adalah teman kencan Firda muncul. Dia sengaja melambat saat membilas tangannya untuk mengamati pria macam apa yang Firda pilih kali ini.


Dan dari penilaiannya, pria itu sama seperti pria-pria brengsek lainnya. Lagi pula itu tidak terlalu penting. Pria ini bukan pacar Firda jadi dia tidak peduli. Cepat atau lambat Firda pasti akan segera meninggalkannya.


Tetapi saat seorang pria lain masuk dan memanggil nama Steven, Rendy mengernyitkan keningnya. la sengaja kembali mengambil sabun dan sekali lagi membilas tangannya lebih lama untuk mendengar pembicaraan kedua orang itu. Entahlah, ia sendiri tidak tahu jika dirinya mulai memiliki sifat kepo sekarang.


"Ini barang pesananmu. Aku jamin dia akan memohon padamu untuk dipuaskan," kata pria itu sambil menyodorkan sebuah plastik dengan beberapa butir kapsul di dalamnya.


"Thanks bro. Kau juga bisa menikmati Firda setelahku," kata Steven, mengambil bungkusan itu sambil tertawa puas.


"Well, aku yakin Firda masih perawan karena dia tidak pernah tidur dengan pacar-pacarnya. Dan bro, kau benar-benar beruntung. Miliknya pasti masih sangat sempit," kata Pria itu lagi sambil tertawa.


Mendengar pembicaraan mereka berdua entah mengapa rahang Rendy langsung mengeras. Ia segera membilas tangannya dan keluar dari sana. Di dalam hingar-bingar kelab, Rendy mencari keberadaan Fird yang sulit ia temukan di antara banyaknya pengunjung


la mencari di lantai satu dan tidak menemukan Firda. Setelah itu, ia naik ke lantai atas dan berharap semoga saja ia belum terlambat.


"Firr, kau denganku saja daripada dengan Steven. Ayolah,," kata pria itu setengah mabuk. Tangannya kembali akan menggenggam tangan Firda tapi Rendy lebih cepat menarik tangan itu.


"Ayo pulang," kata Rendy sambil menarik tangan Firda lebih dulu sebelum pria itu memegang tangan Firda lagi.


"Ren? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Firda karena terkejut dengan kemunculan Rendy.


"Pulang denganku sekarang!" bentak Rendy sambil menarik tangan Firda membuat Firda mau tidak mau berdiri dari tempat duduknya.


"Tapi aku-"


"Jangan membantah. Mengapa kau sangat bodoh?" tanya Rendy yang membuat Firda kesal.


"Kau bilang aku bodoh? Kau-" ucapan Firda terhenti saat Steven muncul dengan sebuah gelas di tangannya. "Hei, ada apa ini?" tanya Steven saat melihat Rendy menggenggam tangan Firda.


Rendy berbalik menatap tajam Steven. "Firda akan pulang denganku," katanya tanpa bisa dibantah.


"Kau pikir kau siapa? Dia datang denganku dan akan pulang denganku," kata Steven tidak suka.


Rendy yang sudah kehilangan kesabarannya segera mengambil gelas yang ada di tangan Steven lalu menyiram wajah pria itu. "Kau pikir aku akan membiarkanmu memperkosanya?!" ujar Rendy lalu membanting gelas itu hingga pecah berkeping-keping.


Hal ini menarik perhatian sebagian pengunjung yang berada di lantai atas.


Steven tidak terima. la bergerak mendorong Rendy tapi Rendy mendorongnya lebih kuat hingga terjengkang ke belakang. Namun, dengan cepat Steven berdiri dan mendekati Rendy.


"Jangan pernah mendekati Firdaa lagi. Dia pacarku dan aku tidak suka dia dinikmati oleh orang lain. Apalagi dengan menggunakan cara licik seperti ini," kata Rendy dengan tatapan tajamnya.


"Aku gak berniat memperkosanya!" seru Steven yang langsung membuat Rendy tersenyum miring. "Aku sudah merekam percakapanmu di toilet tadi. Kau ingin aku membawanya di kantor polisi?" ancam Rendy yang langsung membuat wajah Steven berubah pucat.


Tanpa menunggu lama lagi Rendy segera meraih tangan Firda. Tapi Firda menahannya. "Tunggu dulu," kata Firda lalu mendekati Steven.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di wajah Steven.


Tidak hanya itu. Firda menendang tulang kering pria itu dengan ujung sepatunya sebelum pergi dari situ.


Di belakangnya, Rendy tersenyum melihat apa yang dilakukan Firda.


Sampai di depan kelab, Firda segera menghentikan taksi yang langsung di tahan oleh Rendy. "Kau pulang denganku, Firr," kata Rendy menarik tangan Firda.


Sebuah taksi berhenti di depan mereka dan Firda menarik tangannya lalu membuka pintu taksi. Melihat itu Rendy dengan cepat mendorong pintu taksi dengan sebelah tangannya agar tertutup.


"Firr, Jangan keras kepala! Ini sudah larut!" seru Rendy lagi.


"Aku tidak mau pulang denganmu!" Rendy mengabaikan Firda dan pergi pada pengemudi taksi. "Maaf Pak, pacarku sedang marah. Dia akan pulang denganku," kata Rendy pada si pengemudia taksi yang hanya mendesah lalu berlalu pergi dari situ.


"Aku bukan pacarmu Ren!"


"Aku tahu, tapi setidaknya status itu selalu bisa menyelamatkanmu, kan?" balas Rendy lalu segara mengangkat Firda seperti karung beras.