my bronis

my bronis
Episode 16



Sudah seminggu setelah pertengkaran waktu itu, Viola dan Rio tidak saling menghubungi satu sama lain, Joni sudah beberapa kali mencoba menjelaskan pada Rio namun Rio enggan untuk mendengarkan. Sementara Riska yang sedang berada di kamar Viola mencoba untuk menghibur sahabatnya.


"ayolah vio udah seminggu lo kayak gini, mau sampe kapan?" tanya Riska


"gue gak tau Ris,gue tau gue salah tapi Rio juga bohong sama gue dia bilang dia bakal percaya sama gue tapi apa? Dia dibutakan oleh rasa cemburunya" Viola menerangkan perasaannya


"gue ngerti kok vio, tapi gue rasa masalah ini harus diselesaikan, lo mau digantung kayak gini terus?" desak Riska


Viola terdiam kemudian menjawab "lo bener Ris, masalah ini gak bakal selesai kalo gue tetep kayak gini"


" oke bagus ini baru sahabat gue,jadi hari ini sepulang Rio sekolah kita temui dia,gue nanti hubungi Joni dan yang lainnya" Riska memberi semangat pada viola


Viola tersenyum dan langsung memeluk Riska "lo emang best friend gue Ris,thanks ya lo selalu ada buat gue"


Riska membalas pelukan Viola "itulah gunanya sahabat"


Mereka berdua akhirnya menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah Viola dan Rio,Riska menghubungi teman-teman yang kemarin ikut liburan dipuncak dan mengajak mereka bertemu di jam pulang sekolah SMA,Raka dan yang lainnya menyetujui permintaan Riska. Mereka semuapun pergi bersama menunggu Rio didepan gerbang,namun disaat yang sama Rio nampak sedang berboncengan dengan seorang gadis yang tidak lain adalah Cantika,Viola merasa semuanya sia-sia hatinya begitu hancur tapi Riska berusaha menguatkan Viola menepuk bahu Viola tanda dia harus maju dan menghadapinya.


Rio melihat kearah Viola dan teman-temannya tangan Cantika semakin erat memeluk pinggang Rio diatas motor,Rio tidak mempedulikan kelakuan Cantika dan berkendara ke arah Viola, Rio berusaha melewati Viola namun dihadang oleh Joni tepat didepan motornya, Riopun menghentikan laju motornya kemudian berteriak "cari mati lo?"


Semua orang kaget termasuk Cantika,dia segera melepaskan pelukannya


"kita perlu bicara" sahut Viola sinis


Rio mengabaikan ucapan Viola dan mencoba melajukan kendaraannya lagi namun kali ini Viola yang menghalanginya


"aku bilang kita perlu bicara" ucap Viola lantang


"bicara apa lagi? Ga ada yang harus dibicarakan" jawab Rio tanpa memandang Viola


Riska berusaha maju namun Raka menahannya dan berbisik "ini urusan mereka" Riska terdiam dan mengurungkan niatnya


Kemudian Viola kembali bicara "jika memang harus berakhir aku ingin kita berakhir baik-baik bukan seperti ini"


Rio hanya terdiam kemudian melihat ke arah Viola yang mulai berkaca-kaca hatinya tidak tega melihat sang pujaan hati yang bersedih karenanya " oke kita bicara"


Rio meminta Cantika untuk turun dari motornya "sorry tik,lo bisa kan print tugas kita sendiri? Gue minta tolong sama lo"


" oh oke gak masalah Rio" Cantika turun dari motor Rio


"ayo naik" ajak Rio pada Viola


"gue berangkat sama Riska kita ketemu di kafe biasa" jawab Viola lirih


Rio turun dari mmotornya lalu memasangkan helmnya pada Viola "ayo naik kalo ingin bicara"


Viola akhirnya mengikuti perintah Rio dan naik motor bersamanya


" lo semua pulang aja gue bisa selesaikan masalah gue sama Viola"ujar Rio pada teman-teman Viola


"tapi.... " Riska merasa keberatan karena khawatir pada Viola


"oke,gue percaya sama lo" ucapan Riska dipotong oleh Joni


Riopun menarik gas motornya melaju bersama Viola


Joni tersadar bahwa Cantika masih ada didepannya, kemudian menawarkan diri untuk mengantar Cantika pulang "Cantika maaf ya kamu gak jadi pulang bareng Rio,gimana kalo aku aja yang anterin kamu pulang?"


Cantika terkaget dan merasa risih melihat tatapan Riska yang melihatnya seperti musuh "ah gak apa-apa kak,aku bisa pulang sendiri" jawab Cantika


"gak usah sungkan anggap aja permintaan maaf dari kita" Gani mencoba meyakinkan sambil menyenggol Joni


"jadi gimana Cantika? Mau pulang bareng?" Joni kembali menawarkan diri


"iya deh kak, makasih loh sebelumnya dan maaf ngerepotin" Cantika memasang tampang polos


Gani, Raka dan Riska masih ditempat,Riska masih bingung dengan maksud Gani


Rakapun menjelaskannya "untuk mengusir pengganggu kita hanya perlu satu orang mengganggunya, ngerti beb?"jelas Raka


"OMG, jadi kalian udah rencanain ini?" sahut Riska


"iya dong kita udah rencanain ini semenjak lo hubungi kita tadi,awalnya gue yang disuruh deketin si Cantika,tapi kita mikir kalo si Joni juga harus move on, ya gak?" mengepalkan tangannya lalu meninjukannya pada kepalan tangan Raka (semacam tos laki-laki)


"gue gak nyangka tapi ide bagus sih,lagian mereka juga cocok" komen Riska


"ya udah cabut yuk, persiapan ngampus kita" ajak Gani


"songong banget yang mau jadi mahasiswa" ejek Riska


Merekapun pulang dan kembali kerumah masing-masing.


Sementara Rio dan Viola tidak saling bicara sepanjang jalan, sampai akhirnya tiba disuatu taman Riopun menghentikan laju motornya, Viola terdiam kemudian bertanya "kenapa kita kesini?"


Rio menjawab "katanya mau bicara?"


Viola mengangguk kemudian turun dari motor, Rio membantu Viola melepas helmnya kemudian mereka duduk dibangku taman namun tidak langsung bicara mereka terdiam dan keadaan hening,sesekali mereka melirik satu sama lain. Rio memandang ke arah Viola yang sedang menunduk lalu memulai pembicaraan


"jadi?" tanya Rio singkat


"apa?" jawab viola polos


Rio menarik nafasnya panjang "hmmmm kamu bilang kita perlu bicara kan? Jadi bicaralah"


" apa hubungan kita berakhir? " tanya Viola dengan polosnya


Rio memegang erat kedua tangan Viola " apa kamu pikir perasaanku sedangkal itu?"


"maksud kamu?" Viola masih belum mengerti dihanya berpikir bahwa Rio akan memutuskan hubungan mereka


"Vio bicaralah apa yang ingin kamu bicarakan, aku akan dengarkan, dan yahhhh maaf aku membuatmu sedih" Rio mengungkapkan perasaannya


Viola terdiam lalu menjawab "Rio semua yang kamu lihat cuma salah faham,aku sama joni gak ada hubungan apa-apa hanya sebatas sahabat gak lebih dari itu, aku cuma sayang sama kamu bukan Joni"


air mata Viola jatuh menetes pada genggaman tangan Rio,Rio melepaskan genggamannya kemudian menyeka air mata Viola


"heyyyy jangan nangis nek, aku juga sayang sama kamu, maaf aku sudah keterlaluan"


Viola menyandarkan kepalanya ke dada Rio sambil terus menangis


"tapi kenapa kamu gak percaya sama aku Rio?" tanya Viola


"maafin aku, aku tau aku salah aku benar-benar menyesal membuatmu menangis seperti ini, maaf Vio" membelai rambut viola dengan lembut


"aku juga salah Rio, harusnya aku bisa jaga perasaan kamu" viola menyalahkan dirinya sendiri


"sttttt udah ya, kamu jangan nangis lagi, kamu tau gak? Aku kangen banget sama kamu nek" bujuk Rio


"hmmmm aku juga kangen kamu tapi kamu ngapain boncengan sama Cantika? Mau bales aku?" Viola mengagkat kepalanya dan menjauh dari Rio


"hey ya ampun kamu lucu banget sih, aku tadi cuma mau ngeprint tugas bareng" menarik hidung Viola gemas


"auchhh Rio lepasin" viola mencoba melepaskan tangan Rio dari hidungnya


Rio melepaskan tangannya "oke tapi kamu janji ya jangan nangis kayak gitu lagi ya"


Viola mengagguk kemudian balas mencubit pipi Rio" love you kakek"


"love you too nek" jawab Rio