
Normal POV
Darius, pria bersurai biru panjang tersebut selama sehari ini terus memperhatikan Kediaman Duke Eugene dari balik barrier sihirnya dalam diam. Entah apa yang terus ia perhatikan hingga ia belum pergi dari tempat dimana ia mengantarkan Adrienne untuk kembali. Kenapa ia terus terbayang bayang wajah menggerutu Adrienne saat gadis itu terpaksa membersihkan kediaman milik nya ditengah malam?
Apa ini... rasa rindu?
Ukh! Lagipula apa itu perasaan merindukan seseorang? Bisa bisanya dirinya menebak nebak seperti ini. Bahkan sangat tak masuk akal pikiran nya saat ini.
"Adrienne Brisia Eugene, jika sampai ibunda mengetahui jika kau satu satunya yang dapat menarik perhatian ku. Maka sudah ku pastikan kau telah menjadi pengantinku. Paling tidak, tunangan." gumam Darius dengan seringaian tipis. Benar benar menambah nilai ketampanan nya.
END NORMAL POV
...πππ...
"Hachiuuu."
Ukh! Pertama kalinya dalam kedua kehidupan ku aku bersin secara aesthetic. Tapi timing nya sama sekali nggak pas eyy. Ini keadaan nya aku tengah belajar tata krama bersama Doroty. Hilang sudah keanggunan ku.
"Kurasa disini berdebu. Mari kita pindah ke bangunan utama." ajak Doroty yang sepertinya juga merasa sedikit terganggu dengan bersinan ku. Walau ku pikir bersin ku tadi aesthetic, tapi tidak bagi Doroty yang sangat perfeksionis. "T-tidak." jawab ku berusaha menolak.
Saat ini, aku tengah belajar bersama Doroty dibangunan paling tenggara, tempat ku besar selama 12 tahun. Kenapa aku memilih disini? Karena nggak enak woy latihan dibangunan utama. Diawasin sama orang sekabupaten. Jika saat aku berada disana lalu bersin seperti ini, 'kan sangat sangat memalukan. Membayangkannya saja sudah membuat ku ingin mengubur diri ku sendiri.
"Kenapa?"
"Aku merasa tak nyaman saat diperhatikan oleh terlalu banyak orang." Mendengar jawaban ku yang masih sedikit ragu ragu, dengan mudah membuat Doroty memahami apa yang kurasakan.
"Karena itu kau harus sering sering berlatih untuk menjadi bangsawan yang anggun nanti, Adrienne."
Lama waktu berjalan. Hingga tak terasa, matahari telah kembali ke tempatnya. Dan bertukar tempat dengan rembulan dan kawan kawan nya. Dan waktu pembelajaran cara berjalan bangsawan telah berakhir. Doroty pun telah kembali ke County. Kini, tinggal aku saja yang harus kembali ke bangunan utama. Tapi kaki ku terlalu lelah untuk berjalan. Aku merindukan masa masa umur 12 tahun ku sebagai Grizelle yang masih dapat bolos kelas tambahan.
"Kenapa belum kembali ke kamar mu?"
SKAJGSJEGAJHES
Aku pun tersontak berdiri dan melirik ke arah jendela raksasa yang terbuka lebar. Terdapat seorang pria bersurai biru panjang yang terlihat bersinar dibawah cahaya bulan.
"Darius?"
"Ya, tak mungkin bukan kau sudah melupakan ku ketika kita belum lama tak bertemu." jawab Darius yang mendekati ku. Tentu saja aku sontak mundur. Wajahnya cakep bener woy!!
"Ku kira awalnya kau itu hantu yang bisa muncul dimana saja dalam sekejap!" ucapku yang kembali mendekati Darius. Sesuai naluri manusia. Tentunya Darius akan sontak mundur. Tak mungkin bukan jika pria yang terlihat lebih tua dari ku 4 tahun ini tertarik dengan seorang anak berumur 12 tahun.
Selepas aku mengatakan hal tersebut. Kami berdua pun hanya bisa berada di alam pikiran masing masing. Hening? Tentu!
"Kurasa kakak laki laki mu itu tengah mencoba memperbaiki kesalahannya dimasa lalu dengan mu." ucap Darius tiba tiba. Tentunya dengan otak ku yang tengah ku pinjamkan ke Patrick dan belum dikembalikan karena aku terlahir kembali dimasa lalu, aku belum mengerti maksud perkataan Darius.
Psshhh-!
Tanpa menunggu reaksi dariku, Darius langsung menghilang didalam asap. Persis seperti acara acara sulap yang biasa ditampilkan ditelevisi. Tapi ini sungguhan.
"Aneh. Nggak guna sumpah dia dateng kesini!!"
...βͺβΈοΈβ©...