My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1

My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1
E L E V E N



Huh! Kenapa tak ada yang membangunkan ku untuk menepi dihutan. Padahal hanya ku tinggal tidur sebentar. Setidaknya bangunkan dong, jangan ditinggal sendirian didalam kereta kuda yang dijaga ketat oleh para ksatria, Carlos! Walau setidaknya dia telah meninggalkan ku dengan para ksatria tampan, tetap saja ini keterlaluan!


Berterimakasih lah pada Pencipta karena kau telah diberikan adik seperi diriku ini yang dapat menyumpah sarapahi mu selama berjam-jam lamanya. Bukan yang hanya bisa menangis dan memukul tanpa rasa sakit. 'Kan kasihan juga para ksatria tampan ini yang hanya melindungi diriku yang sedari tadi nyaman berada dialam bawah sadar. Mending ini ksatria ksatria tampan tambah gagah ini disumbangkan ke pemerintah untuk memutilasi para bandit kejam dihutan hutan seperti ini. Bukannya untuk jadi tempat penitipan anak.


"Ku dengar kau sudah bangun dari tidurmu." ucap Carlos sembari membuka pintu kereta kuda perlahan lahan. Entah takut jika aku masih tertidur dan terkejut dengan terbukanya pintu ini secara tiba tiba. Atau memang dianya saja yang seorang pribadi lemah lembut dalam melakukan sesuatu.


"Ya, dan kau meninggalkanku sendiri disini!" kuharap Carlos akan meminta maaf dengan ku karena nada bicara yang ku kenakan ini terdengar sangat marah yang... kekanakan. Ini sungguh-sungguh merendahkan harga diriku sebagai jiwa yang telah berumur 28 tahun huhu...


"Kalau begitu, tidur saja disini." aku sangat sangat terkejut mendengar jawaban Carlos yang benar benar keluar dari ekspetasi ku. Wah! Bener bener ini...


"Apa? Kau akan menyuruh ku tidur dikereta kuda, sedangkan kau tidur ditenda?!"


"Ya. Karena kulihat tidur mu sangat tenang dan nyaman walau dikereta kuda sekalipun." Bukan gitu juga!


Mulutku secara tak sadar menganga mendengar alasan Carlos. Itu benar benar tak bisa dijadikan alasan untuk situasi saat ini. Apa ia tak tahu, jika aku tidak bisa tertidur dimana saja? Lagipula aku bisa tertidur sepulas itu didalam kereta kuda juga karena aku merasa aman jika masih berada didalam jangkauan mu. Tapi bukan berarti aku nyaman didalam kereta kuda!


"Sekarang tidur lah kembali." ucap Carlos yang segera akan menutup pintu kereta kuda. Huh! Aku harus benar benar menjatuhkan harga diriku kali ini demi membujuk Carlos agar membawa ku ke tendanya. Walau mau diizinkan maupun tidak, aku akan tetap menerobos masuk sih. Tapi bukan hanya itu alasan ku, aku sedikit merasa kasihan pada para ksatria yang seluruhnya harus berjaga semalaman menjaga majikannya yang tertidur berjauhan, tanpa ada penjagaan bergilir.


"Kakak, kau tega meninggalkan ku dikereta kuda ini? Apa kau tak takut jika adik mu satu satunya ini masuk angin atau sebagainya jika tertidur disini? Lagipula ini hutan." Carlos tampak berpikir sejenak mendengar ucapanku. Kumohon! Ajaklah aku bersama tidur ditenda hangat itu, walau tenda itu tak sehangat kamarku. Setidaknya itu lebih baik daripada kereta kuda ini.


"Eum... Tidak!"


... Mending aku balik ke Duchy ajalah.


...🌷🌷🌷...


Untung saja semalaman aku dapat tertidur ditenda karena bujukan demi bujukan dariku kepada Carlos. Setidaknya aku telah menyelamatkan tulang punggung ku yang terancam sakit karena tidur dengan posisi tertidur ataupun terlentang dengan alas super rata dan sangat terpengaruhi oleh kerataan tanah di kereta kuda.


Pagi pagi buta, kami semua mulai melanjutkan perjalanan menuju Ibukota. Mendengar dari kusir yang mengantar kami, jika mengenakan kereta kuda akan membutuhkan waktu sekitar 2 hari. Sedangkan dengan kuda tumpangan, hanya akan memakan 1 hari penuh. Tentunya itu sangat membuatku canggung dengan Carlos. Padahal jika tanpa diriku, mereka pagi ini telah berada di Ibukota. Tapi karena diriku...


"Apa yang tengah kau pikirkan?"


"Memikirkan pangeran bersurai putihku." jawabku asal. Aku saja bahkan tak mengingat pertanyaan yang dilontarkan Carlos padaku, tapi aku langsung menjawab seperti itu tanpa berpikir. Bisa bisa paham salah ini si Carlos.


"Ah! Tidak, aku tengah memikirkan hal lain yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan pangeran putih apalah itu!" ucapku berusaha mencairkan suasana dalam kereta kuda tersebut. Segera setelah aku mengatakan jawaban frontal ku barusan, suasana didalam sini mulai mendingin ya. Bahkan aku merasakan jika terdapat hawa dingin yang barusan melewati belakang leherku barusan.


"A-aku hanya berpikir jika kau telah beruntung memiliki adik seperti ku." Huh! Sepertinya jawaban ku barusan berhasil menghilangkan hawa mencekam ini. Aku benar benar harus berhati hati untuk bertutur kata. Aku lupa jika bagaimana pun juga, Carlos dan Duke merupakan keturunan dari Eugene. Yang dikenal karena... rumor buruknya. Walau aku tak tahu contoh dari rumor buruk itu.


"Justru kau yang seharusnya bersyukur karena telah beruntung lahir dikeluarga Eugene." ucap Carlos dengan nada sinisnya. Lah! Kan situ juga harusnya bersyukur juga lah. Memangnya situ udh digarisin dari kehidupan sebelumnya dikeluarga Eugene gitu?


"Maksudku, kau seharusnya bersyukur karena belum dibuang oleh ayahanda." lanjutnya. Nah! Itu baru bener... rada sedih sih.


Dan, suasana kembali canggung.


"Aku tak nyaman dalam suasana yang canggung." ucapku frontal. Aku benar benar harus belajar banyak banyak untuk menyaring kata kata ku dulu. Mungkin kebiasaan ku ini akan berbahaya dimasa depan nanti. Tapi, masih lama yekan? Jadi frontal aja dulu selagi masih bisa ceplas-ceplos.


"Pantas saja kau sangat suka mencari masalah."


Kok nusuk ya? Aku memang mengakuinya, tapi saat mendengar ini langsung dari orang lain kok... rada tersinggung ya?


...🌷🌷🌷...


Ini adalah beberapa jam setelah kejadian canggung dan awkward tadi. Sebenarnya sedari beberapa menit yang lalu, kami semua telah menyadari ada yang janggal dari suasana hutan ini. Yang awalnya sunyi, jadi terasa... ramai. Oh! Tapi ini masih dapat dijelaskan dengan rumus Albert Einstein, yaitu ada orang lain yang tengah mengamati kami disini.


Tapi, kenapa Carlos hanya duduk dengan tenang walau dia sudah menyadari keberadaan orang orang bayaran itu?! Begitupun yang terjadi oleh para ksatria yang berjaga disekitar kereta kuda. Namun, sesaat kemudian...


Syuuut-!


Sebuah anak panah hendak melesat menembus kaca kereta kuda yang berada tepat disampingku. Alias, anak panah itu tengah mengarah ke arah ku.


"Menyingkirlah, Adrienne!"


... ketenangan itu telah berubah menjadi kericuhan yang membuat darah menghiasi dinding kereta kuda ini.


...βͺ⏸️⏩...


...πŸƒ...