My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1

My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1
T E N



Sudah hampir satu tahun lamanya aku tak bertemu kembali dengan Darius. Dan, entah kenapa perkataan Darius kali ini terus terbayang bayang dipikiranku. Awalnya kupikir Carlos tak lama lagi akan kembali menjadi dirinya yang dulu, menjadi kakak laki laki yang tak berguna. Tapi...


"Nona Muda, Tuan Muda memberi izin agar anda dapat ikut pergi bersamanya ke Ibukota."


... Masih dapat dipikirkan lagi.


Aku benar benar telah muak dengan pemandangan Duchy yang sama sekali tak ada perubahannya. Lebih tepatnya aku muak melihat raut wajah Duke yang selalu terlihat buruk setiap bertemu dengan ku. Lebih baik aku melihat wajah wajah para ****** di Ibukota daripada wajah tampan Duke yang menyeramkan.


Karena itu kemarin lusa aku mendengar jika kakak laki laki ku yang tampan itu akan segera kembali ke Ibukota. Dan dengan keikhlasan hatiku, aku menawarkan diri untuk membebaninya- maksudku menemaninya selama perjalanan ke Ibukota. Mari dipersingkat saja, aku akan ikut ke Ibukota. Walau awalnya reaksi dia sangat sangat tak bersahabat, setidaknya dia tak langsung menjawab kata 'Tidak' dan memilih untuk berpikir pikir dahulu.


"Jadi, kapan kami akan berangkat?" tanyaku dengan nada antusias. Para pelayan yang bertugas dibangunan utama jauh lebih bersahabat daripada para pelayan yang ditugaskan dibangunan bangunan yang tak ditempati oleh Si Tuan Rumah.


"Esok pagi, kereta kuda telah selesai disiapkan."


"Baik, tolong siapkan barang barang yang akan ku perlukan nanti di Ibukota." ucapku yang dijawab anggukan kecil oleh pelayan tersebut. Aku pun segera melangkahkan kakiku keluar ruangan guna mencari keberadaan kakak ku. Kurasa, hubungan kami perlahan lahan mulai membaik. Semoga ini tidak hanya perasaan perorangan.


"Kakak Babu!!" panggil ku dari kejauhan ketika berhasil menemukan Carlos bersandar pada batang pohon dengan buku kecilnya.


Merasa terpanggil dengan panggilan yang khusus dibuat oleh adik kecilnya untuknya sendiri. Ia menengok dengan alis yang terangkat. Seorang gadis yang baru baru ini menginjak umur 13 tahun dengan gaun tipisnya tengah berlari kearahnya dengan senyum mengembang. Terlihat sangat manis dimatanya, namun tidak semanis sifatnya.


Dengar bukan? Adik perempuannya itu saja baru saja memanggil dirinya dengan sebutan Kakak Babu? Sepertinya sia-sia dirinya mengirim Countess Mariana untuk mengajarkan abalon laut itu tata krama.


"Terimakasih sudah mengizinkan diriku ikut dengan mu, Kak! Aku akan mencoba untuk tidak menyusahkan mu disana.-" ucapku dengan senyum mengembang. Tentunya kedatangan ku yang masih mengenakan gaun tidur kehadapan Carlos bukan sekedar mengucapkan terimakasih.


"- Tapi, jangan larang aku untuk pergi keluar tanpa pengawalan ya..."


Inilah yang dinamakan diberi hati minta jantung. Maaf kak! Aku anaknya memang suka ngelunjak. Makanya jangan sampai membuangku dari adikmu, Carlos!


"Tidak, apa kau tak tahu jika Ibukota itu sangat berbahaya. Bagi seorang yang pandai beladiri saja sangat berbahaya. Apalagi dirimu yang hanya taunya berkeliaran tanpa tahu waktu dan tempat!" aduh, ceramah lagi ini orang. Sebenarnya kata kata itu tadi hanya sepenggal dari ceramah Carlos yang sa~ngat panjang.


Kasihan... telingaku. Lagipula mau aku dilarang mau tidak, aku akan tetap pergi. Mau dengan pengawalan maupun tidak. Aku akan tetap pergi. Karena aku punya misi yang penting di Ibukota...


"Tapi, kau benar benar ingin ikut bersamaku sampai ke istana?"


... Menemui Putra Mahkota sialan itu!


...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Aku akan menyusul 2 minggu lagi. Jadi jangan cari masalah disana nanti." ucap Duke Eugene yang mengantarkan kami berdua ke depan gerbang kediaman Eugene.


Aku terharu loh, jarak dari bangunan utama ke gerbang kediaman Duke kan sangat sangat jauh. Waktunya dari sana kemari saja cukup untuk berendam. Tapi tidak jadi terharu deh, raut wajah Duke semakin mengerikan saat ini.


"A-ayah jagalah kesehatan baik baik." ucapku sedikit ragu. Apa sih yang baru saja ku katakan sih?? Gila ya aku?


Sekilas aku merasa perih di daerah punggung tangan. Sepertinya punggung tanganku tergores oleh salah satu atribut ksatria bersurai putih itu yang terlihat juga ikut serta dalam perjalanan menuju Ibukota.


Ah! Maaf!


Tapi diriku sudah keburu ditarik ke hadapan Carlos. Aduh, jadi pengen bunuh orang deh. Aku pun melirik sekilas ke punggung tanganku yang terdapat goresan tipis memerah.


Kena apadah tadi woy!!??


"Ingat pesan ayahanda, jangan buat masalah!" tegas Carlos dengan tatapan tajam. Kurasa pria ini benar benar telah lelah menyelesaikan masalah yang selalu ku buat selama ini. Ya... bisa ku maklumi, aku terlalu nakal selama ini.


Mulai dari menyiram air panas ke para pelayan yang dulu melayani ku dengan tak becus selama 12 tahun, tak sengaja menghajar anak laki laki dipasar karena dia memukulku dengan ranting kayu tajam. Masih banyak sih... tapi kurasa yang paling fatal itu, memasuki kamar Duchess Eugene yang selaku sebagai ibu ku secara tak sengaja. Jika tak ada Carlos yang dengan berani menghalangi jalan Duke kepada ku, mungkin aku sudah diusir dengan cara tak manusiawi dari kediaman ini. Atau bahasa modern nya, dicoret dari KK.


Sedih sih, sebagai Adrienne yang dilahirkan oleh Duchess Eugene sampai beliau mengorbankan nyawanya. Aku selaku sebagai anak, tak diizinkan mengenal atau mengetahui lebih banyak mengenai ibu ku. Aku lebih memilih ayahku yang dulu sebagai Grizelle, walau dia sering sekali telat menjemput ku sekolah dengan alasan ketiduran. Aku tetap menyayanginya walau ayahku di abad 21 dulu sangat suka menghabiskan hari liburnya hanya bersama kasur dan bantal.


Daripada Duke Eugene itu yang menyia-nyiakan pergobanan istrinya demi melahirkan ku. Menjengkelkan! Untung aku masih dapat bersabar karena aku tak boleh menjadi anak yang durhaka dan dikutuk jadi ubur ubur laut.


"Kita akan memasuki wilayah hutan, jangan melamun jika kau tak ingin dirasuki." ucap Carlos menakuti ku. Tapi, aku selama hidup 13 tahun disini sama sekali belum mendengar rumor baik dari dalam hutan. Siapa tahu jika itu sungguhan?


"J-jangan menakut-nakuti ku!"


"Jika kau takut bilang saja."


"Aku tak takut!" tegas ku dengan tatapan yang menantang. Saat aku menjadi Grizelle, aku sering sekali berandai-andai jika akan mengasikkan saat memiliki kakak laki-laki karena dapat dilindungi dari bejatnya pria asing. Ternyata kata kata ekspetasi tak seindah realita benar benar nyata.


"Jika aku bilang ada seseorang dibelakangmu, palingan kau akan langsung melompat kearah ku."


Cih-!


...βͺ⏸️⏩...


Udah lumayan panjang ngga nih?


...[ PICTURE ]...


...πŸ₯œ< CARLOS DELMON EUGENE >πŸ₯œ...