My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1

My Bride, I'LI Be Waiting Timetravel #1
T W O



"Berisik" seorang pria dewasa yang tak ku percayai bahwa dia ayahku itu memasuki ruangan dengan wajah yang sangat gelap. Seperti dirinya telah diambil alih oleh mahkluk penghuni neraka. Hii~


Walau suara pria tersebut sangat mengandung nada ancaman. Tetap tak bisa menghentikan tangisan ku. Ini tangisan murni dari jiwa dan raga loh pak. Pikiran ku saat ini hanya terdapat cara untuk menangis lebih keras lagi. Jika saja tubuhku dapat digerakkan, mungkin orang orang diruangan ini sudah terkena lemparan barang tajam.


Syuuutt-!


Tubuhku pun terasa seperti diangkat ke udara, kaga juga sih. Yang jelas, pria– maksudku ayahku tersebut tengah membawaku ke dalam genggamannya. Kenapa bukan membawa ke pelukan? Karena ini menggendong nya kasar loh sis. Dicengkeram pula.


Tangan pria tersebut pun semakin keras menggenggam tubuh ku yang masih belum dijemur dibawah sinar matahari yang sepertinya bisa hancur berkeping-keping. Hati hati saya mati loh pak. Tulang saya masih jadi tulang susu kambing.


"Karena mu, istriku meninggal." ucap pria tersebut dengan senyum miris diwajahnya. Dia sedang menyiratkan apa sih? Aku baru lahir, jadi diriku masih belum bisa berpikir. Yakan? Jadi mari menjadi bayi sejati! Oh, fisik ku masih terlalu muda untuk berpikir layaknya jiwa berumur 16 tahun.


Lagipula, jika aku bisa memilih terlahir kembali maka aku akan memilih untuk tak terlahir dari rahim istri mu itu! Tugas ku itu hanya perlu lahir saja, jadi jangan salahkan aku atas kematian istrimu itu dong, pak tua!


T-tapi, pria yang menjadi ayahku ini terlihat masih cukup muda...


Plaak~!


Tangan kecilku yang masih terlihat memerah sebenarnya berusaha memukul kasar wajah pria tampan tersebut. Tapi yang berhasil ku keluarkan hanya lah pukulan lembut. Kapan coba aku bisa besar sedikit saja? Paling tidak diumur yang memadai untuk menghajar seseorang.


Tapi sepertinya...


Tindakan ku tadi itu sangat sangat berbahaya bagi nyawaku ya. Sekilas aku merasakan tangan yang hendak mencekik leher ku kapan saja itu akan segera melayang. Untungnya ditarik kembali. Ternyata pria ini masih memiliki jiwa kebapakan.


"Rawat dia dengan balasan yang pantas atas kematian ibunya"


Ambigu please...


Ini maksudnya suruh dibaik-baikin atau dijahat-jahatin ini? Sepertinya sih opsi kedua. Saat pertama kali pria paruh baya ini melihat ku saja sudah seperti orang haus darah. Yang penting kasih uang saja, udah ikhlas kok saya ditelantarin.


Aduh, kok sedih?


...•}{ 12 Tahun Kemudian }{•...


"Ini makanan mu!" ucap seorang pelayan yang baru saja meletakkan nampan makanan dimeja yang berada di tengah ruangan. Dan ia pun langsung keluar ruangan bak majikan saja. Cih!


Makanan itu... sangat terlihat tidak layak. Tapi mau bagaimana lagi. Diriku sudah terburu dibesarkan dengan makanan tak layak. Ternyata dugaan ku 12 tahun lalu itu benar. Opsi kedua yang mereka kenakan pada ku.


Adrienne Brisia Eugene, itu adalah nama yang diberikan oleh nenek dari pihak ibu. Walau nama keluarga tetap mengikuti ayah sih. Tapi setidaknya aku diberi nama, tak peduli oleh siapapun itu. Aku adalah seorang Nona Muda dari keluarga Duke Eugene yang terasingkan. Yang bahkan sampai umur 12 tahun, belum diperkenalkan ke bangsawan lainnya.


Diriku adalah anak kedua dari pasangan Duke dan Duchess Eugene. Ya... Duchess Eugene telah meninggal dunia karena melahirkan diriku sebagai anak prematur. Walau gini gini anak prematur dan dibesarkan secara tak layak, dengan kemampuan hidupku. Aku bisa bertahan selama 12 tahun ini dengan makanan yang tak layak itu. Bahkan walau aku seorang bangsawan, yang terbuang tepatnya. Diriku telah melihat seberapa luas pasar di wilayah Duchy. Keren kan?


Ternyata kemampuan ku menyelinap keluar sekolah dulu saat diriku masih menjadi Grizelle tetap bertahan walau saat aku menjadi Adrienne. Aku bangga pada diriku.


Ngomong ngomong, ada satu fakta mengejutkan mengenai kehidupan ku saat menjadi Adrienne. Aku mempunyai seorang saudara laki laki, namun sejak kelahiran ku. Aku belum pernah bertemu dengannya. Jadi sampai sekarang, aku tak mengetahui apa saudara laki laki ku itu akan membenci ku atau tidak. Tapi, melihat dari kacamata pengamatan ku. Dia selama ini tidak mengunjungi adiknya yang jelas jelas hidup ini selama 12 tahun lamanya. Jadi... mari berpikir negatif!


Tapi dengar dengar, saudara laki laki ku akan kembali ke wilayah Duchy setelah pergi ke Ibukota selama 3 tahun lamanya. Jika tidak salah... namanya, Carlos Delmon Eugene. Namanya keren sekali bukan? Tapi sifatnya pada adik kandung satu satunya ini sangat tak keren.


Ya... sepertinya hatiku masih belum bisa rela meninggalkan abad 21.


Aku benar benar... terlahir dimasa lalu.


Sulit dipercaya, tapi aku terlahir pada tahun–ah sedih mengingat tahun kelahiran ku. Aku curiga filter itu yang menyebabkan diriku terlahir kembali ke masa 600 tahun kebelakang. Tau nggak rasanya balita udh cape cape merangkak ke tangga, tau taunya malah roll belakang?


Nggak tau? sama aku juga ngga tau.


Cklek-!


Segera diriku pun menoleh ke arah pintu yang menghubungkan dunia luar dengan ruangan ku tersebut. Mata ku memincing guna melihat siapa itu yang bersembunyi didalam kegelapan. Kayak setan dipojokkan kamar tau nggak sih!


Udah main menerobos masuk, sok-sok'an bersembunyi dikegelapan lagi.


"Tahun berapa saat ini?" tanya orang tersebut dengan nada mengejek. Ingin sekali diriku marah, namun mendengar suaranya yang BIASANYA dipunyai pria pria good looking. Nggak jadi marah deh. Suaranya itu serak serak gentleman gitu.


Setelah diriku menjawab pertanyaan orang tersebut. Akhirnya ia menunjukkan rupanya.


Cakep woy!


Seorang pria tampan dengan perawakan yang sangat sangat diukir sempurna.


Surai pirang dan iris navy blue-nya cukup memikat siapapun yang melihatnya. Bahkan diriku, namun...


"Kakak?"


... Dia kakak ku satu satunya yang menelantarkan ku selama 12 tahun lamanya.


Nggak jadi like deh.


"Ku kira kau sudah mati sejak 12 tahun yang lalu, kak" lanjutku yang melirik tajam pria yang memiliki nama panggilan Carlos itu.


"Kenapa kau tak mati saja? Jika bisa memilih, aku lebih memilih ibunda daripada seorang adik" jawab pria tersebut yang berhasil membuat ku membeku.


Sepertinya masih lebih baik kakak perempuan ku saat diriku menjadi Grizelle deh daripada anda. Walau kami sering bertengkar, setidaknya dengan pertengkaran sepele itu kami jadi dekat. Tapi ini?!


Ini namanya ngajak perang saudara ini. Bukan tonjok tonjokan diruang tamu.


"Kalau begitu kenapa kau tak menghentikan ibunda ketika kau tahu jika ia tengah mengandung?"


"Kupikir calon adik ku itu tak akan menjadi pembunuh"


"Ucapan mu sungguh tak berdasar ya..." gini gini aku sering ribut dengan sekretaris pengumpul uang kas loh yang ucapan nya main toxic.


BRAAK!


Aku tersentak mendengar suara keras itu. Pria itu langsung keluar membanting pintu. Mari berpikir singkat...


Mungkin dia malu karena aku dapat mengalahkan nya di adu debat ini. Tapi... dia kan seorang Tuan Muda, mana mungkin seorang Tuan Muda bangsawan dididik untuk pergi dengan membanting pintu hanya karena perang debat? Whatever~~


Aku pun melanjutkan acara makan ku yang hanya ku isi dengan pikiran pikiran tak berdasar dan tak beraturan. Lebih baik berpikir tak jelas daripada merasakan makanan ini yang tak ada sedap sedapnya.


...🥞🥞🥞...


"Waktunya keluar!"


Aku segera menggeser sebongkah batu yang bisa dikatakan berat untuk ku yang berada di kedalaman kebun Duke Eugene. Untungnya dulu aku pernah tersandung oleh batu saat mencoba melarikan diri dari para pelayan yang hendak memukul ku dengan rotan setelah tahu aku memecahkan piring. eum...


Ini harus senang apa sedih sih? Senang karena aku menemukan jalan rahasia ini, atau sedih karena jika aku tak lari saat itu juga aku akan terkena pukulan rotan?


Setelah sebongkah batu itu tergeser, maka akan ada sebuah lorong kecil yang hanya bisa dimasuki oleh tubuh kecil seperti diriku saat ini. Walau harus merangkak, setidaknya diriku tidak memiliki phobia kepada ruangan sempit. Itu patut disyukuri. Jika saja aku sampai memiliki phobia tempat sempit dan menerobos masuk ke lorong ini. Yang ada, mungkin aku akan pingsan di pertengahan lorong dan mati. Dan bahkan ketika aku matipun, tak ada yang menyadarinya.


Apa ini yang dirasakan oleh tikus-tikus yang mati tak tahu tempat?


Setelah diriku berhasil melalui lorong sempit tersebut. Maka aku akan disuguhkan dengan pemandangan pohon pohon rindang yang sedikit tak beraturan. Akar akar mereka begitu besar hingga dapat menembus tanah. Jalur yang buruk sekali. Namun, setelah berhasil berjalan beberapa meter dari sini, akan terdapat sebuah pemandangan perdesaan kecil yang jarang terjamah yang langsung akan terhubung ke pasar wilayah Duchy dengan jalan tikus.


Ternyata aku pintar membuat peta! Setidaknya aku tidak mengalami penyakit buta map dizaman ini. Jika aku sampai tak tahu arah jalan pulang, mungkin diriku sudah menjadi budak dari para bandit bandit hutan.


"Siapa kau?"


Eh?!


...⏪⏸️⏩...


Kapan kapan ku kasih pict Adrienne. Dah~👋