My Bittersweet Marriage

My Bittersweet Marriage
Episode 8



Aku puas, kamu puas.



And free Danish class.



Hessa turun ke dapur dan berniat membantu mamanya memasak sarapan. Kurang dari dua minggu Hessa tidak akan memasak bersama mamanya lagi. Rasanya Hessa ingin waktu berhenti saja sekarang. Tiga hari berlalu dan dia senang menjalani hidupnya dengan Afnan. Hessa ingin di sini lebih lama.



“Mama mau ke mana?” Hessa malah melihat mamanya santai sekali minum teh di dapur.



“Mau pergi olahraga sama Nana. Mama mau sarapan di luar nanti. Kamu mau dibeliin? Apa masak sendiri?”



“Nanti aku beli sendiri aja, Ma.” Ya sudahlah, tidak jadi ada acara memasak.



“Mama pergi, ya!” Mamanya berdiri karena Nana sudah berteriak dari teras.



Hessa mengambil minum dan memilih masuk kamar lagi.



“Katanya masak?” Afnan baru keluar kamar mandi dan



melihat Hessa malah tiduran sambil main HP.



“Kita makan di luar aja ya? Habis gini juga aku pindah nggak bisa makan-makan yang enak lagi di sini.”



“Terserah kamu aja.”



“Aku bilang sama mama dan mama kamu kalau aku ... mmm ... masih menunda hamil.” Hessa belum memberi tahu Afnan masalah ini.



“Kenapa?”



“Ya biar nggak ditanya-tanya kapan hamil. Nggak habis-habislah. Ditanya kapan nikah udah berlalu, pasti bakal ditanya kapan hamil.”



“Terus apa kata Mama?”Afnan naik ke tempat tidur dan berbaring lagi.



“Terserah kita. Kan kita sendiri yang ngatur hidup kita.”



Afnan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia setuju juga bahwa mereka akan fokus membuat pernikahan mereka lebih kuat, punya anak sekarang mungkin akan menambah tekanan dalam pernikahan mereka. Lagi pula yang akan hamil adalah Hessa, Afnan tidak bisa melakukannya sendiri walaupun dia ingin punya anak. Hessa juga yang melahirkan, Hessa yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak mereka.



“Apa ... di Aarhus menyenangkan?” Hessa mengalihkan pandangan dari HP-nya.



“Iya.”



“Di sana bicara bahasa apa? Inggris?”



“Ya, tapi nggak semua orang. Aarhus bukan kota besar seperti Copenhagen. Jadi makin ketemu orang-orang daerah makin nggak bisa bahasa Inggris. Juga orang-orang yang agak tua.”



“Berapa lama buat belajar bahasa Denmark?”



“Ya macam-macam. Ada yang 25 tahun tinggal di Denmark belum bisa, ada yang baru dua tahun udah bisa contek aksennya. Aku belajar dari Papa, karena menurutku keren banget aku bisa bahasa yang teman-temanku nggak bisa. Bahasa kan keterampilan, semakin sering kamu ngobrol sama orang semakin bisa. Sama kaya bahasa Inggris, kan? Danish juga begitu. Tinggalkan zona nyaman, bicara bahasa Denmark walaupun bahasa Inggris lebih gampang.”



“Kamu mau ngajarin aku, kan?” Hessa bertanya penuh harap.



“Ya. Asal kamu nggak gampang bosan dan menyerah.”



“Ya ampun! Kenapa kamu nggak tinggal di Malaysia aja?



Yang gampang. Elok tak, Pakcik?” Belum juga berangkat bayangan language barrier sudah membayang di mata Hessa.



Afnan tertawa.



“Kamu nggak perlu lancar bahasa Denmark, asal tahu dikit-dikit. Bisa baca sign di jalan, pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk belanja, naik taksi.” Afnan mencoba membuat ini tidak terlalu terlihat sulit.



“Kamu tahu nggak, Hessa?” “Apa?”



“Tahu cara terbaik untuk belajar bahasa?”



“Nggak tahu. Apa?” Hessa perlu waktu yang sangat lama untuk bisa bahasa Inggris, itu juga terbantu karena di tempat kerjanya banyak ekspat.



“Pernah denger pillow way?”



“Pillow way itu apa?”



“Belajar bahasa dengan cara ... tidur sama native speaker. Temen-temen kuliahku dulu gitu, karena pusing nggak bisa bahasa Denmark, dia pacaran sama orang Denmark terus tinggal bersama. Cepet aja lancarnya, lebih cepet daripada orang yang kursus.”



“Aku harus tidur sama siapa? Laki-laki mana?” Hessa dengan bodohnya bertanya.



“Ya sama akulah!! I am a Danish.” Afnan jadi kesal sendiri karena kodenya tidak dibaca Hessa.



“Bisa aja kamu mencari kesempatan.” Hessa memukul perut Afnan dengan bantal.



“Aku mau membuktikan pillow way itu. Coba, yuk?”



“Hahahahahaha! Bodo, ah! Mesum ke mana-mana



kamu!” Hessa tertawa melihat wajah Afnan yang mencoba membujuknya itu.



“Aku mau belajar sama papa kamu. Atau sama Mikkel.”



Hessa jengah sendiri karena Afnan mulai membawa-bawa masalah itu.



“Enak sama aku dong, Hessa! Aku puas, kamu puas, and free Danish class.”



“Hadeeehh! Aku lapar. Aku mau makan!”



Hessa berdiri sebelum Afnan semakin melantur bicaranya.



Dari pelajaran bahasa bisa saja dibawa-bawa ke arah sana.



“Ngapain sih, kamu?” Afnan tiba-tiba berdiri di belakang



Hessa.



“Aku mau ambil baju.” Hessa mendorong dada Afnan dengan sikunya.



Afnan memaksa memeluk Hessa dari belakang.



“Apa, sih?” Hessa bertanya.



Afnan hanya diam. Hessa memandang pantulan dirinya dan Afnan di cermin. Afnan membenamkan kepalanya di rambut Hessa.



“Mau makan di mana?” Afnan melepaskan pelukannya.



***



Hessa ngeri melihat dua mangkuk soto daging di depan Afnan. Ini hanya makan pagi, suaminya makan sebanyak itu. Hari-hari setelah pernikahannya ini dipakai untuk saling mengenal lebih dalam lagi. Hessa merasa, setelah menikah, dia dan Afnan malah seperti orang pacaran.



“Afnan!”



“Ya?” Afnan sudah mulai menyerang mangkuk pertamanya.



“Kamu nggak papa makan banyak kaya gitu?”



“Kenapa? Aku kan laki-laki.”



“Nanti kamu buncit, lho!” Hessa memperingatkan.



“Nggak akan. Aku tetap akan seksi dan kamu tetap akan



suka. Karena aku kan rajin renang.”



“Ya tapi kan ... makannya diukur dong, secukupnya, jangan berlebihan! Kamu kayak nggak dikasih makan sebulan aja.”



Afnan tidak tahu mengapa, mungkin keturunan. Papanya makan banyak. Mikkel makan banyak. Afnan makan banyak. Lily juga makan banyak.



“Kamu makannya yang banyak, kamu kurus.” Afnan melihat Hessa makan ogah-ogahan. Padahal katanya ini soto kesukaannya.



Afnan tertawa melihat Hessa kepedasan dan wajahnya merah sekali. Hessa cepat-cepat mengambil botol minumnya.



“Katanya tahan makan cabe?”




“Kalau di sana ... apa makanannya pedes juga?” Hessa bertanya sambil mengipasi mulutnya.



“Nggak.” Afnan memberikan air minumnya pada Hessa.



“Mana enak makan nggak pakai cabe?” Hessa mengeluh.



“Aku belum pernah coba makan salmon pakai cabe. Kita



bisa coba bikin nanti.”



“Salmon? Nggak mahal?”



“Nggak, banyak tinggal mancing di dekat Aarhus aja kalau kamu mau. Kalau kita nggak bisa dapat daging atau ayam halal di sana, kita makan ikan.”



“Gimana tahu halal apa nggak?”



“Tanya sama yang dagang. Nggak semua mau jelasin sih. Ya ... kalau kamu ragu-ragu waktu mau makan atau beli daging, beli aja ikan.”



Hessa langsung diam lagi. Ini benar-benar akan jadi sesuatu yang tidak mudah. Hessa tidak suka makan ikan.



“Masa mau makan soto ikan.” Hessa terdengar merana.



“Udah, yuk!” Afnan mengajak Hessa berdiri, mengambil



uangnya dan membayar.



“Gimana kalau hari ini kita kencan?” Afnan berjalan di samping Hessa, jalan kaki lagi pulang ke rumah Hessa.



“Afnan!”



“Apa?”



“Aku suka di sini sama kamu,” Hessa menjawab dalam hati.



“Kita mau ke mana habis ini?” Hessa mencoba tersenyum.



“Hmm ... shopping? Mungkin kamu perlu beli baju-baju



tebal, kaus kaki, juga sepatu.”



“Kamu yang bayar?” Yang menyenangkan dari ini semua, uang milik Hessa aman semua.



“Iya.”



Hessa membuka pintu rumah dan Afnan mengikuti di belakangnya. Mamanya dan Nana belum terlihat di rumah. Hessa langsung naik ke kamarnya.



“Kalau kita di sana ... apa kita akan pulang ke sini?” Hessa berdiri di depan lemari bajunya yang terbuka lebar.



“Ya. Setahun sekali kita bisa pulang. Aku dapat cuti hampir dua bulan setiap tahun. Jadi bisa pulang dan dua bulan tinggal di sini. Rugi kalau pulang hanya sebentar. Biayanya mahal.” Afnan duduk di tempat tidur. Hessa masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.



“Nana mungkin menikah tahun depan. Apa kita bisa pulang?” Hessa keluar dari kamar mandi dan membahas masalah ini.



“Kita lihat nanti. Aku nggak bisa memastikan sekarang.”



“Kalau kamu sibuk ... apa aku bisa ke sini sendiri?”



“Nggak.”



Hessa diam menyisir rambutnya. Posisinya tidak baik sekali. Pulang ke sini perlu uang dari Afnan. Afnan sudah membuka semuanya, berapa uang yang dia miliki, juga rencana-rencananya dengan uang itu. Membeli rumah dan rencana besar lainnya, lalu tabungan untuk keadaan darurat, dan sisanya ada di tangan Hessa. Tapi menghambur-hamburkan uang untuk sering-sering naik pesawat jelas tidak masuk hitungan.



Tabungan Hessa memang ada, tapi tidak ada gunanya juga kalau Afnan tidak mengizinkan pergi. Bukankah dia sudah tahu sejak sebelum menikah, bahwa memang seperti itulah kehidupannya bersama Afnan? Afnan sudah menceritakan pekerjaannya yang sudah dijadwal untuk tahun ini.



“Kamu nggak usah memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Nikmati saja waktu kita di sini. Pergi makan ke tempat-tempat yang kamu suka, hang out sama teman kamu, kamu habiskan waktu sama Mama dan Papa juga Nana.”



“Kamu gimana?”



“Aku akan punya banyak waktu sama kamu nanti di sana.” Hessa menganggukkan kepalanya sambil berusaha tersenyum.



***



“Bawa buku-buku yang kamu sukai dari sini,” Afnan memberi tahu saat mereka masuk ke toko buku.



“Lebih menyenangkan membaca buku yang pakai bahasa Indonesia, kan?” Afnan mengambil sebuah majalah dari rak.



“Iya. Tapi kan ada e-book.” Hari ini dia mengajak Afnan ke mal lagi, nonton film dan ke toko buku.



“Lebih menyenangkan baca buku seperti itu.” Afnan menunjuk deretan buku di rak di depan mereka.



Hessa membenarkan dalam hati apa yang dikatakan Afnan.



“Nanti aku ajak kamu ke perpustakaan di sana, dekat dengan flat kita. Kamu bisa baca buku di sana. Buku berbahasa Inggris, jadi nggak perlu beli.”



Afnan mengikuti Hessa pindah untuk melihat-lihat buku dongeng.



“Aku sudah baca hampir semua buku dongeng di sini,” Hessa memberi tahu, mengambil secara acak buku Charles Dickens.



“Oh ya? Kamu geek juga ya.” Afnan tertawa.



“Nggak. Aku bukan geek.”



“Apa kamu juga delusional? Kamu pasti membayang-bayangkan didatangi pangeran tampan yang menyelamatkanmu dari penyihir jahat.”



“Nggak!” Hessa membantah.



“Bohong!”



“Aku cuma membayangkan aku naik unicorn.”



“Nanti malam baca dongeng buat aku ya, Hessa?” Afnan merangkul pinggang Hessa.



“Jangan kayak anak kecil!” Hessa tidak mau melakukannya.



“Kamu nggak mau, ya?”



“Ya nggak mau. Malu.” Hessa menjauh dari Afnan.



“Tapi aku pengen denger. Kayak yang di video-video



kamu itu.”



“Ya, lihat di internet sana!”



Afnan mengikuti Hessa berpindah lorong lagi.



Hessa membeli juga buku kerajinan tangan, tentang merajut, menyulam dan apa saja yang bisa dipelajarinya dan dilakukannya nanti di sana. Untuk membuatnya sibuk, selain dia akan kursus bahasa, kalau Afnan tidak sempat mengajarinya. Hessa harus bisa bahasanya karena beberapa kali pembicaraan dengan Afnan, Afnan menyiratkan untuk mengajak Hessa tinggal sangat lama di sana.



“Aku udah selesai.” Hessa memberi tahu Afnan.



Afnan bersisian dengan Hessa menuju kasir untuk membayar semua belanjaan Hessa.



“Ada yang mau dibeli lagi?” Afnan menoleh kepada Hessa sebelum menyerahkan kartu kreditnya.



Hessa hanya menggeleng.



“Apa kita akan jalan-jalan begini juga nanti di Aarhus?” Hessa bertanya saat mereka berjalan keluar.



“Tentu saja. Di sana banyak tempat bagus.”



“Apa aku boleh pergi sendiri kalau kamu kerja?”



“Boleh. Nanti di sana aku kasih tahu caranya. Kamu akan seneng di sana. Santai saja.” Afnan merangkul pundak Hessa.



“Semoga aja ya.” Hessa juga berharap semua akan mudah untuk mereka berdua.