
Mengapa sel telur harus kedaluwarsa? Tidak bisakah wanita subur seumur hidupnya?
“Kamu kenalan sama anaknya temen Mama, ya?”
Hessa menghentikan kunyahan rotinya, mendesah dalam hati, “Oh, Tuhan! Ini lagi!”
“Ma ... jangan promoin Hessa terus! Hessa nggak suka.” Hessa merasa terganggu dengan acara jualan dirinya ini.
“Promoin gimana?”
“Ya gitu. Mama jualan Hessa ke teman-teman Mama. Nanti juga Hessa jodohnya ada sendiri.” Hessa mengunyah rotinya dengan tidak berselera.
“Jodoh? Mama nggak nyariin jodoh buat kamu. Kan, cuma kenalan. Tante Kana teman baik Mama, dulu tetangga sejak kecil. Kamu berteman dengan anaknya, meneruskan silaturahmi.”
“Apa namanya kalau bukan jodohin, semua aja laki-laki Mama kenalin ke Hessa.”
“Karena semua teman Mama anaknya laki-laki,” mamanya menjawab dengan sangat santai.
Hessa memutar bola matanya. Dia tidak bodoh.
“Lagi pula, ya Hessa, apa salahnya kamu coba? Kamu sudah 27 tahun kan, perlu waktu kalau mau cari pacar, belum juga kalau putus, mau gimana coba?”
Hessa diam tidak menjawab.
“Aku berangkat ya, Ma.” Hessa memutuskan berangkat ke kantor sekarang. Sepagi ini percakapannya sudah sampai membahas umur. Ya ya ya, dia sudah dua puluh tujuh dan tiga tahun lagi adalah bencana. Semakin mendekati umur tiga puluh tahun, artinya akan tertempel label di jidatnya: kemampuan menghasilkan bayi berkurang sekian persen. Yang angka persennya akan bertambah seiring bertambah tua usianya.
Alasan orangtuanya menjodoh-jodohkan Hessa adalah murni karena Hessa tidak punya pacar sampai sekarang. Tidak ada laki-laki yang bisa menjanjikan hubungan yang serius padanya yang berpotensi mengarah ke pernikahan. Bukan karena kerja sama bisnis, ayahnya bukan pengusaha tapi bekerja sebagai wartawan senior di salah satu TV swasta dan kontributor jaringan berita internasional. Ibunya sudah tidak bekerja setelah Hessa lulus kuliah. Bukan juga karena orangtuanya punya musuh dan ingin berdamai dengannya melalui kesepakatan pernikahan. Ini terjadi di dunia nyata, Raja yang memploklamirkan berdirinya Saudi Arabia, yang namanya dipakai nama bandara itu, menikahi anak perempuan musuhnya, jadi dengan begitu tidak ada lagi orang yang akan menggulingkan kekuasaannya.
Keluarga Hessa jauh dari drama semacam itu. Ini membuat Hessa merasa semakin tidak berguna, dia tidak bisa menemukan sendiri orang yang bersedia menikahinya. Mamanya mendidiknya dengan baik, menjadi wanita yang baik dengan banyak kelebihan lain dengan harapan itu menjadi bekal untuknya di masa depan, saat menjadi istri. Tapi Istri siapa? Siapa yang akan jadi suaminya? Kapan Hessa akan mendapatkannya?
***
“Kenapa bengong mulu, Hes?” Andini menyenggol lengan Hessa, yang sedang menatap hampa layar HP-nya.
“Din...!”
“Ye?”
“Menurutmu cowok ini gimana?” Hessa meletakkan HP-nya di meja.
“Ganteng. Bule, ya? Ya ampun, kenalin!” Andini mengamati dengan saksama.
“Inget suami, Din!” Hessa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
“Ya kalau dia ini mau sama aku, aku tinggalin suamiku.” Andini ikut tertawa.
See? Andini yang sudah menikah saja rela meninggalkan suaminya demi laki-laki ini. Apa alasannya laki-laki ini minta dijodohkan? Kepala Hessa langsung dipenuhi hal-hal buruk, mulai dari dia mungkin orang yang membosankan sampai mungkin juga impoten.
“Siapa ini, Hes?” Andini bertanya.
“Anaknya temen mamaku,” Hessa tidak semangat menjawab.
“Mau dikenalin sama kamu?” “He eh.”
“Mau aja. Ganteng ini.” Andini malah lebih antusias daripada Hessa.
“Dia harusnya bisa nyari istri tau, kenapa mau dijodohin? Mencurigakan.” Hessa mengeluarkan keheranannya.
“Iya juga, sih. Pacaran sama artis aja dia bisa, ya? Jangan-jangan dia itu anti sosial? Atau nggak pede.”
“Nggak pede apa?”
“Ya ... jangan-jangan dia steril.” Andini nyengir.
Hessa merasa buruk dan menyesal sekali berpikiran buruk seperti itu. Belum kenal kok sudah menghakimi. Mungkin ada alasan lain, orientasi seksual mungkin. Tapi zaman sekarang sudah serba terbuka, orang sudah berpikiran beda, tidak perlu menyembunyikan itu.
Hessa mengamati halaman browser-nya. Namanya Afnan Møller, 30 tahun. Pekerjaannya terdengar keren. Hessa membuka profil profesionalnya di LinkedIn. Daftar penelitian dan paper-nya panjang, juga ada penghargaan. Lulusan Aarhus University. Jenis orang yang sekolah terus dari lahir sampai tua. Warga negara Denmark. Hessa mengirim pesan kepada mamanya.
Udah habis stok lokalnya, Ma?
Hessa memasukkan lagi HP-nya saat supervisornya datang.
Supervisornya menjelaskan tentang sepatu-sepatu yang paling banyak laku dan ingin mendesain model yang mendekati itu. Hessa tidak terlalu memperhatikan, sibuk membaca pesan masuk dari Mamanya.
Dia orang sini, ayahnya orang Denmark dan dia ikut kewarganegaraan ayahnya.
“Dasar nggak nasionalis!” Hessa mencela dalam hati.
“Ah, suamiku ngeselin, deh!” Andini mengeluh saat berjalan meninggalkan ruang meeting.
“Langsung makan aja kita.” Hessa melihat jam di HP-nya.
Sudah hampir jam dua belas.
“Kita nggak jadi pergi ya, Hes, sore ini? Orang merepotkan ini bilang mau pulang cepet. Waktu aku pulang cepet aja dia lembur. Sekarang aku pengen jalan, dia pulang sore.” Andini masih menggerutu.
“Ya kapan-kapan aja,” jawab Hessa pelan.
Kadang-kadang Hessa tidak suka berkumpul dengan teman yang suka sekali mengeluh tentang suami atau calon suami atau tunangannya. Hessa ingin sekali teriak di depan mereka, “Oh, kalian seharusnya bersyukur, aku bahkan nggak tahu apa aku akan punya suami.”
“Kamu nikmati waktu kamu, Hess. Mumpung belum terjebak pernikahan.” Andini tidak peduli dengan perubahan raut wajah Hessa dan terus saja bicara.
Tidak ada waktu untuk dinikmati karena Hessa sudah pasti akan berada dalam kondisi pilih memilih calon suami dari ibunya. Hessa ingin mengenal laki-laki selama tiga tahun sebelum menentukan apakah dia orang yang tepat atau bukan. Tapi tiga tahun dari sekarang adalah saat umurnya tiga puluh. Kalau gagal di tengah jalan, ulang lagi dari awal. Gagal lagi, ulang lagi. Mungkin makan waktu sampai dia menopause. Mengapa sel telur harus kedaluwarsa? Tidak bisakah wanita subur seumur hidupnya?
“Din, kenapa kamu mau menikah sama suamimu itu?” Hessa bertanya ketika mereka melangkah keluar lift, jalan makan siang.
“Cinta,” Andini menjawab singkat.
“Kenapa, Hes? Kamu kok kelihatan galau hari ini?”
“Aku nggak enak sama mamaku. Mamaku pengen aku menikah. Adekku udah 25 kan sekarang, dia nggak mau menikah kalau aku belum.” Hessa menghela napas.
“Emang lagi nggak ada cowok yang kamu suka?”
“Kalau aku suka juga dia belum tentu suka sama aku.” Hessa menggelengkan kepalanya.
“Yang suka kamu?”
“Ada. Tapi aku nggak sreg, dia merokoknya gila bener, deh. Bau.” Hessa bergidik.
“Kalau ada yang suka sama kamu, pertimbangkan aja, Hes. Nanti lama-lama kan kamu bisa suka. Daripada kamu yang ngejar-ngejar, kan capek.”
“Kamu kalau ada temen kenalin dong, Din. Pelit amat.
Kasihan nih, jomlo.” Hessa duduk di depan Andini.
“Iya. Pasti. Kemarin juga udah kukenalin, tapi ternyata dia brengsek. Sialan. Aku juga susah nyarinya, nggak yakin kalau temen-temenku baik semua. Tapi siapa tahu, di antara mereka ada jodoh kamu.”
Orang yang mencintai kita dan kita cintai. Idealnya menikah memang dengan orang yang seperti itu. Selalu ada sisi baik dan buruk dalam diri setiap orang, cinta yang membuat kita bisa menerima itu semua. Menurut pemikiran Hessa, perjodohan atau dijodohkan hanya melihat sisi-sisi baik. Tampangnya, uangnya, rumahnya, pekerjaannya, sifat-sifat baiknya, dan hal-hal baik lainnya. Tidak ketahuan sifat buruknya, apa dia egois, apa dia pelit, apa dia pemarah, dan seterusnya dan seterusnya.
***
Hessa pulang ke rumah setelah jam makan malam, menghindari makan malam yang pasti dipenuhi pertanyaan tentang Afnan dan juga pernikahan. Tapi keberuntungan tidak memihak padanya. Mamanya sedang duduk nonton TV. Mau tidak mau Hessa menyapa mamanya, tidak langsung masuk ke kamarnya.
Hessa sudah tahu yang dimaksud mamanya itu apa.
“Sudah, Ma. Kenapa?”
“Menurutmu gimana? Dia yang paling baik dari semua anak teman-teman Mama.”
“Ya gitu, Ma.”
“Ya sudah kalau kamu nggak mau. Mama nggak maksa.” Mamanya kembali menatap layar televisi.
Hessa menghela napas. Dia sudah tahu kalau keinginan mamanya berkebalikan dengan jawabannya.
“Tapi dia ganteng, kan.” Papanya ikut bergabung dengan mereka.
“Itu nggak penting, Pa. Yang penting kita sudah kenal baik sama keluarganya. Dia berasal dari keluarga baik-baik. Akhlaknya baik. Punya pekerjaan dan penghasilan. Pendidikannya tinggi. Kalau dia ganteng ya itu tambahan yang harus disyukuri.” Mamanya menjelaskan.
“Mungkin Hessa nggak cinta,” Papanya menanggapi.
“Laki-laki yang baik itu walaupun tidak mencintaimu, dia
tidak akan menyakitimu.” Mamanya memberi alasan lagi.
“Ma, coba kita pikir. Kalau dia sebaik itu, kenapa dia dijodohkan? Pasti ada sesuatu yang nggak beres sama dia itu.” Hessa mencoba mengubah pandangan mamanya.
“Hessa! Sudah Papa bilang jangan pernah berprasangka buruk dengan orang lain. Apa kamu suka kalau orang berpikiran buruk tentang kamu?”
Hessa langsung diam di tempat.
“Tidak masalah kalau kamu tidak mau. Jangan biasakan diri kamu dengan prasangka buruk. Itu mungkin yang bikin kamu susah dapat pacar. Kamu membiarkan pikiran buruk ada di kepalamu,” papanya melanjutkan.
“Maaf, Pa.” Hessa menunduk.
“Ya sudah, kamu istirahat dulu.” Papa menyuruhnya masuk.
“Maafkan Hessa, Ma ... Pa ... Hessa nggak bermaksud begitu tadi. Hessa cuma agak bingung dan. ” Hessa mengurungkan dirinya mengatakan ‘tertekan’. Siapa yang tidak tertekan kalau masalah Afnan adalah masalah paling hangat yang dibicarakan di meja makan. Lebih hangat daripada nasi yang baru diambil dari pemanas nasi. Kabar bahwa ada laki-laki yang tertarik padanya membuat orangtuanya semakin rajin membawa masalah ini sebagai makanan penutup di setiap makan malam mereka. Lebih-lebih karena laki-laki itu adalah anak teman sepermainan mamanya saat masih sekolah dulu.
“Papa dan Mama tidak memaksa kamu menikah. Jangan jadi susah karena ini! Bijaklah berpikir, sebelum Mama memberikan jawaban kepada Tante Kana.” Papanya tersenyum menjawab.
Hessa mengangguk dan meninggalkan orangtuanya.
Hessa membasuh mukanya dengan air dingin. Dibanding dengan semua orang yang pernah dipromosikan mamanya, ini yang paling baik di atas kertas. Ya, di atas kertas, karena Hessa memang belum bertemu dengannya.
Hessa merebahkan dirinya dan membuka halaman Aarhus University, memasukkan nama Afnan di kolom pencarian. Tentu saja muncul. Beritanya tentang penelitian, kuliah, dan hal-hal semacam itu.
“Orang yang membosankan,” Hessa menggumam.
“Gimana rasanya hidup dengan orang yang terlalu pintar?” Hessa mendesah pelan.
Hessa memasukkan e-mail Afnan ke search engine dan memunculkan media sosial atas nama Afnan. Tidak ada yang menarik. Tidak ada isinya.
“Bahasa apa pula ini?” Hessa menggumam lagi. Hessa kembali memeriksa hasil pencarian di Aarhus University. Ada foto Afnan juga, dia terlihat pintar dan hebat di sana. Juga tampan. Astaga! Hessa mengacak rambutnya sendiri.
Hessa membuka e-mail-nya. Promosi kartu kredit, undangan reuni, undangan pernikahan, dan ajakan mengisi petisi online.
Hessa mulai malas ikut reuni dan menghadiri pernikahan. Hessa takut memikirkan bahwa mungkin selamanya dia akan sendirian. Orang-orang sudah mulai datang dengan pasangan. Bahkan sudah bawa anak. Hessa hanya manusia biasa, dia punya ketakutan setiap memikirkan jika suatu saat nanti dia mati dan tidak ada siapa-siapa yang menemaninya saat menghadapi kematiannya. Karena tidak punya suami dan anak.
Tidak sampai setahun lagi umurnya dua puluh delapan, mamanya akan semakin khawatir melihatnya tidak juga punya pacar. Juga sepertinya kemungkinan menemukan pacar baginya tidak terlalu besar. Ini saja sudah setahun belum dapat juga. Kalau saja ada pilihan untuk pacaran dengan Afnan dulu. Tapi Afnan sudah 30 tahun, tentu tujuannya bukan untuk sekadar coba-coba. Bagaimana pula mau pacaran, sudah jelas ditulis dia bekerja dan tinggal di Denmark?
Wait!!!!!
“Denmark???”
Jadi harus tinggal di Denmark kalau menikah dengannya? Itu jauh sekali. Tidak bisa mudik tiap bulan naik bus kalau kangen mama dan papa. Tidak bisa setiap Minggu makan soto ayam di warung pojok. Tidak bisa sering makan bakso urat di belakang Kantor Pos. Tiket pesawat makin mahal saat musim liburan. Seandainya Afnan itu kaya, pasti tidak ada waktu untuk membawa Hessa sering pulang.
Hessa jatuh tertidur dengan keyakinan bahwa dia tidak akan menanggapi keinginan Afnan untuk kenalan.
***
Hessa bangun dengan kepala pusing sekali. Waktu adalah sesuatu yang paling bisa menghibur kita. Saat kita tidur, waktu seperti berhenti dan kita melupakan semua masalah yang kita punya. Saat kita bangun, waktu kembali mengejar kita untuk menyelesaikan semua masalah itu.
“Hessa, nanti kita ketemu Tante Kana, ya!” kata mamanya
saat Hessa turun sarapan.
“Mama ... Hessa nggak mau ketemu. ” Hessa tidak mau
bertemu dengan Afnan.
“Siapa yang suruh kamu ketemu dia? Kamu nggak denger Mama, ya? Kita ketemu Tante Kana. Bukan anaknya. Tante Kana kan teman baik Mama. Kamu nggak mau kenalan sama dia?” mamanya menatapnya kesal.
“Tapi anaknya nggak ikut kan, Ma?” Hessa memastikan.
“Nggak,” mamanya menjawab pendek.
“Mama nggak bohong, kan?” Hessa belum percaya.
“Astaga! Kenapa Mama bohong sama kamu? Apa untungnya coba?” Mamanya sudah kesal sepenuhnya kali ini.
“Geer kamu ini. Memangnya Afnan pengen ketemu kamu apa?” mamanya meletakkan roti di depan Hessa.
“Kan Mama bilang dia mau kenalan.” Hessa menggigit rotinya.
“Kenalan harus ketemu? Hari gini?” mamanya menjawab sok asik.
“Jangan ke mana-mana nanti! Bantuin Mama, Tante Kana mau makan di sini.”
“Kok?”
“Mama sudah lama nggak ketemu.”
“Ya asalkan anaknya nggak ikut,” Hessa kembali menggumam.
“Ma, kalau nanti Tante Kana bawa-bawa perjodohan ... aku boleh bilang nggak, kan?”
“Mama dan Tante Kana nggak ikut-ikut masalah itu. Anaknya yang mau kenalan sama kamu. Keinginannya sendiri. Mama pikir juga kamu nggak ada salahnya berteman dengannya. Nggak ada ruginya. Tapi kamu nggak mau ini.”
Hessa batal mengambil roti kedua.
“Ya ... kan dia mau kenal sama Hessa karena Mama udah promo ke Tante Kana. Lalu Tante Kana cerita ke anaknya. ”Hessa sudah tahu skenarionya.
“Kamu ini. Kalau nggak mau, ya udah. Nanti Mama bilang Tante Kana. Afnan menunda pulang ke Denmark karena berharap kamu mau ketemu dia sekali aja.”
“Kenapa Hessa sih, Ma?” Hessa masih tidak mengerti dengan keinginan Afnan itu.
“Kalau kamu mau tahu, kamu tanya sendiri sama dia. Kalau nggak mau ketemu, kamu e-mail aja. Atau mau nomor teleponnya?”
Hessa langsung tutup mulut.