My Bittersweet Marriage

My Bittersweet Marriage
Episode 4



Dia melihat bayangan mengerikan dalam kepalanya: tahun-tahun akan berlalu dan rambutnya memutih, lalu dia akan menyesali bahwa kesempatannya untuk mengenal cinta sudah tidak ada.



“Kamu jadi pulang nanti sore?”



Afnan menghentikan kegiatannya membereskan isi kopernya, menatap Lily yang duduk di tempat tidur.



“Iya, sebelum dideportasi. Kenapa? Nggak usah sedih. Kaya nggak pernah pisah aja.” Afnan meneruskan lagi memasukkan sandal jepitnya. Hubungan Afnan dan adiknya itu memang sangat dekat. Lily semakin ribut sejak tahu Afnan benar-benar balik sore nanti. Kelakuannya tidak berubah walaupun sudah punya suami.



“Kamu nggak di sini waktu anakku lahir nanti.” Lily terdengar sedih.



Afnan tersenyum. Duduk bersila di lantai, menghadap adiknya itu.



“Rasanya baru kemarin aku lihat Mama bawa kamu pulang dari rumah sakit. Kamu kecil banget, segini.” Afnan menunjukkan lengannya.



“Sekarang kamu udah mau punya anak aja, Ly. Aku juga pengen di sini saat kamu lahiran. Tapi aku sudah cuti sekarang.” Afnan tampak menyesal. Dia selalu ada saat Lily mengalami hari-hari terbaiknya. Ulang tahun, lulus sekolah, wisuda, menikah.



“Tuh! Kamu pilih nikahan Mikkel sih, daripada lahiran anakku.” Lily cemberut.



“Ya gimana, aku sama Mikkel kan berbagi plasenta sejak di perut Mama dulu. Ikatan batin kami.”



“Kok, kamu gitu? Kamu kan kakakku yang paling kusukai tau.”



“Hahahaha ... Mikkel bisa cemburu kalau kamu bilang gitu. Kamu adik yang paling disukai dia.” Dan Afnan juga, karena Lily satu-satunya adik perempuan mereka.



Afnan mengunci kopernya. Tinggal menunggu waktu dia akan kembali ke hidup normalnya.



“Afnan!”



“Kenapa lagi, Ly? Kamu mau dipeluk?” Afnan mengangkat sebelah alisnya, menggoda.



“Apa Hessa udah bilang sesuatu?”



“Oh. Belum.” Afnan sudah tidak terlalu memikirkan itu.



“Kalau aku jadi Hessa aku nggak akan nolak kamu.”



“Seriously? Hessa menolak itu wajar, Ly. Kita baru ketemu sekali aja. Kalau dia langsung terima, mungkin dia kurang waras,” Afnan menjawab dengan santai, melambaikan tangannya.



“Tapi kan rugi, Afnan. Kamu kan ganteng, lebih ganteng dari Mikkel. Kamu baik, nggak kaya Mikkel yang galak itu.”



“Kamu nggak akan bisa mengerti yang dirasakan Hessa, Ly. Kamu aja menikah sama orang yang sudah kamu kenal sejak lahir.” Afnan mengingatkan Lily yang menikah dengan temannya sejak kecil. Lily hanya tertawa pelan menyadari kebenaran ucapan Afnan.



“Apa kamu kecewa?”



“Nggak. Kenapa kecewa? Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk melamar cewek. Atau aku belum beruntung.”



Nanti akan ada banyak kesempatan untuk menemukan gadis lain yang mau menjadi istrinya. Afnan akan punya banyak kesempatan untuk mengenal cinta nanti.



“Padahal aku suka sama Hessa. Dia baik, ya? Cocok untuk kamu, sih.” Lily tertawa kecil.



“Menurutmu, kan? Mungkin menurutnya aku nggak cocok untuk dia.” Afnan tersenyum.



“Apa ... aku masih boleh berteman sama Hessa?” Lily bertanya ragu-ragu.



“Tentu saja. Kenapa kamu minta izin mau berteman dengan siapa?”



Afnan tidak mempermasalahkan dan tidak menyesali apa yang sudah dikatakannya kepada Hessa. Kesalahan yang umum terjadi, Afnan bukan satu-satunya laki-laki yang lamarannya ditolak di dunia ini. Dia melamar Hessa saat Hessa sedang tidak, belum ingin menikah, atau apa pun itu. Juga mereka tidak saling mengenal. Banyak orang yang melamar dan tidak mendapat jawaban. Bahkan ditolak. Seperti apa pun reaksi Hessa, saat mendengar orang lain membicarakan pernikahan, pasti Hessa akan mengingat lamaran itu seumur hidupnya. Mungkin malah bercerita kepada teman-temannya, bahwa ada laki-laki aneh yang nekat melamarnya. Sore ini Afnan akan meninggalkan negara ini, kembali ke kesibukannya seperti biasa. Sambil menunggu jawaban dari Hessa. Dengan sedikit keajaiban mungkin Hessa mau menjawab lamarannya. Diterima atau ditolak.



“Siapa tahu kamu keberatan.” Lily memberi tahu alasannya.



“Aku nggak lagi patah hati, Lily. Jangan khawatir gitu! Aku mencari istri dan ingin dia jadi istriku. Kalau dia nggak mau, ya paling Mama yang makin cerewet.” Afnan tersenyum



menenangkan.



“Udah, yuk! Mending kita makan siang. Aku mau puas-puasin sebelum balik.” Afnan mengajak Lily keluar kamar.



Ruang makannya sudah ramai sekali. Mikkel dan istrinya sudah pulang dari bulan madunya di suatu tempat eksotis di muka bumi ini. Lily langsung melepaskan tangan Afnan dan mendekati suaminya, sudah lupa sama sekali bahwa tadi dia keberatan Afnan pergi. Semua orang yang mengelilingi meja makannya sudah punya pasangan. Mamanya dan papanya. Mikkel dan Lilian. Lily dan Linus. Di mana saja Afnan berada, semua orang sibuk dengan pasangannya masing-masing dan Afnan merasa terasing.



“Pesawat jam berapa?” Mamanya bertanya ketika Afnan duduk.



“Jam setengah delapan.” Afnan menjawab.



“Tuh, Ma! Afnan sengaja nggak mau lihat anakku.” Lily mengadu ke mamanya.



“Afnan kan sibuk, Ly.” Mamanya menjawab.



“Kasihan anakku nggak dijenguk pamannya.” Lily mulai drama.



Afnan hanya tertawa. Bayi Lily pasti akan jadi selebriti di rumah ini. Sama seperti saat Lily lahir dulu, menjadi pusat perhatian semua orang.



“Kirim fotonya kalau dia lahir!” Afnan menjawab sambil mengambil makan banyak-banyak. Afnan juga tidak sabar ingin bertemu keponakannya. Sebentar lagi mungkin Mikkel akan punya anak juga. Afnan tersenyum membayangkan jika suatu saat mereka berkumpul dan suasana ramai oleh celoteh anak-anak.



“Aku juga akan sering ketemu anakmu kalau kamu ke Jerman lagi, Ly.” Afnan melihat Lily masih cemberut.



“Kamu harus kasih hadiah kalau gitu. Yang banyak!” Lily mengajukan syarat.



“Tentu saja,” Afnan menjawab. Dia akan dengan senang hati menghabiskan uangnya untuk menyenangkan keponakannya.



“Wah! Jangan pilih kasih! Anakku juga!” Mikkel menyahut.



“Kau belum punya anak, bodoh!” Afnan mengolok kakaknya.



“Ya ... sebentar lagi. Rajin kok bikinnya.” Mikkel seperti biasa selalu bicara tanpa memikirkan sekitarnya. Istrinya sudah menunduk karena malu mendengar ucapan Mikkel.



“Astaga! Aku balik sekarang. Aku harus bekerja keras sampai subuh kalau mau punya banyak uang.” Afnan menggeleng-gelengkan kepalanya.



“Kukira setelah kalian dewasa, meja makan ini akan tenang dan kita bisa makan seperti para bangsawan Inggris. Ternyata tidak ada bedanya,” Papanya berkomentar ketika Mikkel ribut dengan Lily mengenai anak siapa yang akan lebih disukai Afnan nanti.



“Jadi dapat uang riset?” Mikkel mengabaikan Lily yang mengadu lagi ke mamanya karena dijahili Mikkel.




“Swasta?”



“Dari kerajaan,” Afnan menjawab.



“Kok bisa?”



“Bego, aku warga negara di sana.”



“Aku kangen riset lagi. Waktu masih di Swedia itu dikasih duit sama perusahaan banyak bener.”



“Terus hak patenmu tertinggal di sana, dong?”



“Iya. Udah jadi milik perusahaan. Perusahaan yang daftarin di kantor paten dulu.”



“Sayang banget.”



“Mau gimana, duitku nggak cukup buat daftar sendiri ini.” Mikkel tertawa.



“Kau ngapain di perusahaan Papa?” Setahu Afnan Mikkel itu ECE. Electronic and Communication Engineer. Untuk apa menyusahkan dirinya bekerja di perusahaan pembuat software milik orangtua mereka.



“Ya ... jadi programmer.” Mikkel tertawa.



“Yang bener?” Afnan tidak percaya. Mikkel itu pemberontak. Orang yang mati-matian menolak saat papanya mengusulkan agar dia kuliah Computer Science.



“Ya aku jadi bos, lah. Gantiin Papa.”



Afnan hanya menertawakan nasib Mikkel. Hanya karena menikah dia melupakan mimpinya. Afnan masih ingat saat Mikkel pamer bahwa dia berhasil meninggalkan teknologi 4G yang jadi andalan selama ini. Sudah mematenkan salah satu alternatif transportasi data baru dan macam-macam lagi. Sekarang dia hanya akan duduk di balik meja kerja dan tidak melakukan riset demi kemajuan umat manusia?



Afnan tidak bisa membayangkan kalau dia ada di posisi Mikkel. Karena itu Afnan mencari istri yang mau diajak tinggal di Eropa. Tidak melulu di Aarhus, mungkin suatu saat dia akan pindah ke negara lain yang bisa mendukung risetnya lebih baik lagi.



“Kau bakal ngerti nanti kalau sudah dihadapkan pada pekerjaan atau cinta.” Mikkel sok bijak menasihatinya.



“Bahwa menjadi orang yang sukses dalam pekerjaan itu biasa banget. Sukses menjadi suami dan ayah yang hebat itu baru luar biasa. Coba tanya Papa,” Mikkel menambahkan.



“Aku bakal dapat ketiganya!” Afnan mencibir. Kalau tidak bisa, tidak usah semuanya sekalian. Karena itu Afnan perlu istri yang bisa diajak bekerja sama dan mendukungnya.



***



Afnan berdiri di dapur kecil di flatnya. Hari ini berangin sekali, udaranya lembap. Afnan mencari sisa-sisa jus di kulkasnya. Dia sempat membeli jus kemasan sebelum meninggalkan kota ini tapi tidak sempat membersihkan kulkas. Ada sisa selada dan wortel yang sudah tergolek lemas di sana. Seperti biasanya, setelah pulang dari rumah sakit yang dilakukannya adalah mandi, membuat makan malam ala kadarnya, membaca apa saja yang berkaitan dengan pekerjaannya—mikrobiologi, dan mencoba tidur. Besok malam dia akan mengulangi hal yang sama. Tidak ada suara percakapan, kecuali kalau Afnan sedang menelepon mamanya. Dia sudah hidup seperti ini terlalu lama.



Dulu Afnan merasa hidup sendiri adalah pilihan terbaik baginya. Dia bisa memutuskan sesuatu dengan kepalanya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Mau berbuat apa saja tidak ada yang mengomelinya. Rumah yang sepi dan tenang seperti ini bisa mendinginkan kepalanya yang mendidih karena berdiskusi dengan orang-orang di kantor. Rumah tidak pernah kotor karena dia hanya di rumah malam hari. Biaya listrik dan air dan sebagainya murah karena hidup sendiri. Tidak pernah ada keributan di sini karena tidak pernah ada yang menyulut emosinya. Tidak ada cerita berebut kamar mandi. Afnan sendirian di rumahnya, tidak ada teman, keluarga, juga pasangan. Afnan bebas melakukan apa saja yang ingin dilakukannya di rumahnya tanpa takut ada yang terganggu.



Tapi sekarang terasa sangat berbeda. Afnan tidak sanggup membayangkan betapa menakutkannya saat umurnya sudah lewat tiga puluh tahun dan dia masih hidup sendiri. Segala sesuatu harus dilakukan sendiri karena tidak punya istri. Kalau Afnan terjatuh di kamar mandi dan hampir mati, tidak akan ada yang langsung mengetahuinya. Tidak ada orang yang menyambutnya pulang dan mendengarkan keberhasilannya mengklasifikan bakteri baru hari ini. Saat Afnan mendapatkan penghargaan, naik jabatan, dan hal-hal membanggakan lainnya, tidak ada seseorang yang bisa diajak untuk merayakannya. Afnan tidak jadi bahagia, Afnan merasa sengsara. Tidak ada orang yang bisa diajak bicara tentang sesuatu yang sedang dipikirkannya, seperti hal-hal remeh soal salju yang turun semakin lama semakin gelap dan tidak lagi putih bersih. Afnan benar-benar sendiri kecuali saat dia di kantor, bersama teman-temannya, atau mengunjungi keluarganya.



Sejak kesadarannya untuk berkeluarga muncul, Afnan merasa sensitif sekali. Rasanya pahit sekali melihat pasangan laki-laki dan perempuan tertawa bahagia bersama saat Afnan masuk ke kafe setelah pulang kerja. Afnan semakin merasa dirinya menyedihkan ketika pagi-pagi dia bangun dan mendapati dapurnya kosong, belum ada makanan tersedia dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain sarapan sendiri sambil menghitung jumlah ubin di lantai dapurnya.



Orang-orang jatuh cinta, menikah, dan punya anak. Mengapa Afnan tidak? Afnan bahkan bisa merasa iri pada pasangan yang bercerai. Paling tidak mereka mempunyai perjalanan hidup yang tidak begitu-begitu saja seperti perjalanan hidupnya. Afnan pernah melihat bayangan mengerikan dalam kepalanya: tahun-tahun akan berlalu begitu saja dan rambutnya memutih, dan dia baru menyesali bahwa kesempatannya mengenal cinta sudah tidak ada. Tidak punya istri juga anak-anak yang meneruskan garis keturunannya. Pada saat seperti inilah Afnan meragukan untuk apa keberadaannya di dunia.



Apa yang dikatakan mamanya benar. Mamanya selalu benar. Afnan sudah waktunya punya keluarga lagi. Keluarganya sendiri. Ada istri yang mengomeli kebiasaannya melepas sepatu tanpa menaruh di tempat seharusnya, melepas kaus kaki sambil berjalan masuk rumah dan melempar kaus kakinya sembarangan. Dan tentu saja dia tidak perlu repot-repot memasangkan kaus kakinya yang terlalu sering bercerai karena kebiasaan buruknya itu. Istrinya akan melakukannya. Sambil marah-marah. Seperti mamanya dulu. Bukankah itu terdengar lebih baik?



Afnan mengamati jalanan di bawah melalui jendela di dapurnya. Kota ini selalu disukainya. Jalanan tidak pernah ramai. Orang-orang di sini lebih ramah daripada orang-orang di Copenhagen. Afnan tahu siapa yang tinggal di kiri dan kanan unit flatnya.



Dia bukan tidak suka hidup di Indonesia. Tapi hidupnya memang tidak di sana. Tentu saja Afnan ingin hidup bersama keluarganya, tapi Indonesia bukan tempat yang cocok untuknya. Keluarganya di sana, orang-orang yang sangat dicintainya, yang memberinya sayap untuk bisa terbang sejauh ini. Tapi hanya sebatas itu. Tidak ada lagi yang bisa didapatnya di sana.



Awalnya hanya karena Afnan merasa berhak mendapatkan pendidikan seperti orang-orang Denmark. Afnan adalah warga negara Denmark. Negara itu termasuk salah satu negara yang paling bagus pendidikannya, di Denmark terdapat universitas-universitas dengan ranking tinggi di dunia. Orang boleh sekolah setinggi-tingginya dibayari negara. Mengapa harus melepaskan kesempatan itu? Kesempatannya untuk bekerja di bidang yang dia minati juga ada di sini. Dia dan Mikkel sama-sama menghabiskan masa kuliah mereka di sini, tapi mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Mikkel sudah memilih kewarganegaraan Indonesia. Mikkel tidak bisa memegang bendera, Afnan bisa. Afnan bisa ikut pemilu, dengan sedikitnya jumlah muslim di sini, itu sangat berarti. Kalau nanti dia punya anak dan mereka tinggal di sini, anak-anaknya akan mendapatkan hak yang sama dengan semua anak-anak di Denmark.



Mungkin akan agak susah kalau Afnan membawa istrinya yang sangat mungkin berasal dari tempat kelahirannya. Orang-orang di sini tidak terlalu suka dengan orang asing. Pendatang migran. Pemerintah memperlakukan pendatang secara berbeda, kadang-kadang agak rasis. Tapi itu bukan masalah pokok. Masalah pokoknya adalah menemukan wanita yang mau dinikahi.



Afnan melempar karton jusnya ke tempat sampah lalu menutup tirai. Semua juga masih jauh di angan-angannya. Dalam waktu dekat belum akan menjadi nyata.



Afnan meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya. Flat dua kamar tidur ini jadi terasa besar sekali. Sepi, beda sekali dengan di rumah. Ada papa dan mamanya, ada Lily juga. Mereka biasa makan malam sambil mengobrol lama di meja makan.



Tetangga sebelah flatnya, Hansen, bilang bahwa dia tidak pernah memikirkan untuk menikah walaupun umurnya sudah 35 tahun. Dia hanya berpikir bahwa menikah pasti untuk satu tujuan yaitu seks dan tidak ada yang lain lagi.



“Terangsang? Bayar saja wanita dan tidur dengannya.” Dia memberi alasan sambil tertawa.



Kepentingan Afnan menikah lebih dari itu. Kepentingannya untuk menikah adalah mempunyai sebuah keluarga, yang akan menjalani hidup bersama dengannya. Bukan dibayar untuk satu malam, tapi untuk selamanya.



***



Afnan terbangun dan merasa kepalanya sakit sekali. Setelah membiarkannya beberapa saat, Afnan bangun dan berjalan ke dapur. Minum air sebanyak-banyaknya dan menelan aspirin. Suara hujan terdengar sampai dalam flatnya. Angin kencang memukul-mukul jendela kacanya. Afnan heran kapan tidak ada hujan di kota ini. Manusia memang tidak pernah puas. Di Indonesia, dia mengeluh karena panas dan sedikit-sedikit berkeringat. Di sini mengeluh karena hujan terus sepanjang minggu.



Afnan kembali masuk ke dalam selimut berharap pagi segera datang dan dia segera punya kesibukan.



Afnan sudah hampir terlelap ketika HP-nya berbunyi. Afnan mengulurkan tangannya menjangkau HP yang diletakkan di meja di sebelah tempat tidurnya.



“Hallo!” Afnan menempelkan HP-nya begitu saja di telinga.



Tidak ada sahutan di seberang sana.



“Hvem taler?” Afnan bertanya siapa yang meneleponnya.



Tetap tidak ada jawaban.



“Taler du Dansk?” Afnan mulai jengkel, tidurnya terganggu, bertanya apa orang itu bicara bahasa Denmark.



“English?” Afnan bertanya lagi.



Afnan sudah akan menutup teleponnya ketika akhirnya terdengar sebuah suara.



“Afnan...!”



Hanya satu kata. Mata Afnan langsung terbuka lebar, otaknya mencari kesimpulan apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang ditunggu-tunggunya selama ini. Akhirnya ada perubahan dalam hidupnya. Afnan tidak menyangka ini terjadi pada dirinya.



Afnan tidak tahu harus melakukan apa. Satu kata itu sudah sangat cukup untuknya. Seharusnya Afnan memeluk dan menciumnya. Seharusnya Afnan tersenyum bersamanya. Tersenyum lebar dari telinga ke telinga, seperti orang yang menemukan harta karun yang selama ini terkubur di bawah lantai rumahnya.