
Siapa yang butuh cinta pertama? Kamu akan jadi yang terakhir.
Apa yang dirasakan wanita saat bangun pagi dan menyadari pagi itu adalah hari pernikahannya? Hessa panik dan tegang. Sejak pagi mencemaskan pestanya. Bagaimana kalau makanannya ternyata tidak enak? Bagaimana kalau kue pengantinnya tidak datang tepat waktu? Bagaimana kalau venue pestanya tiba-tiba ambruk dan banyak lagi.
Tapi ternyata insiden buruk dimulai sejak pagi. Hessa sudah duduk, full make up, ditemani mamanya, calon ibu mertuanya, adiknya, dan calon-calon iparnya. Mereka sudah duduk sepuluh menit di sana. Ayah Hessa dan beberapa orang laki-laki yang tadi bercakap-cakap sekarang berkali-kali memeriksa jam.
“Astaga! Ini jadi nggak, sih? Lily! Kakakmu itu ke mana?” Hessa melihat ibu mertuanya berdiri dari duduknya.
“Dia kira dia itu menikah di hutan? Apa dia nggak tahu penghulunya gantian?”
“Udah kutelepon nggak bisa, Ma.”
Lily sempat menjawab sebelum mamanya berjalan pergi.
Lily dan Lilian berjalan mengikuti mamanya.
Hessa ingin tertawa melihat semua orang panik, karena sudah lebih dari jam tujuh pagi Afnan belum datang. Hessa sendiri seharusnya panik, tapi kejadian ini cukup menghiburnya.
“Afnan ke mana, sih?” Lilian duduk di samping Hessa dan bertanya kepada Hessa. Hessa hanya menggeleng, tertawa.
“HP-nya mati.” Hessa mengangkat bahu.
“Mikkel juga, nggak diangkat pula ditelepon.” Lilian kembali mengeluh.
Bagus kalau Afnan tidak datang, mungkin pernikahannya bisa ditunda sebentar. Hessa santai saja mengamati sekelilingnya. Mamanya dan mamanya Afnan terlihat tegang sekali. Semua orang sudah siap di sini, malah pengantin laki-lakinya yang belum ada.
“Tadi harusnya Afnan berangkat ke sini sama Papa dan Mikkel. Kok kamu santai, sih?” Lilian heran melihat Hessa hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa.
“Terus aku harus gimana? Jalan aja ribet.” Hessa tidak mungkin menyusul Afnan.
“Kalau Afnan kabur gimana?” Lilian malah terlihat makin panik.
“Ya ampun! Dia itu bisa ya mengacau di pestanya sendiri.” Lily ikut duduk di samping Lilian.
“Hahahahaha.” Hessa hanya tertawa. Memang tidak ada yang normal kalau menikah dengan Afnan. Hessa sudah mulai terbiasa dengan kelakuan Afnan yang aneh itu. Sejak awal perkenalan mereka memang sudah tidak wajar, tidak masuk nalar orang waras. Hessa dan Afnan mungkin sudah kena penyakit gila nomor 31.
Hessa memilih tetap duduk dan menyalakan HP-nya, paling tidak dia akan mencoba juga menghubungi Afnan. Sudah jam setengah delapan pagi. Jadwal mereka padat sekali. Gedung resepsi disewa sampai jam satu siang dan jam sepuluh mereka akan menerima tamu. Kalau Afnan tidak muncul sampai jam sepuluh, tidak akan lucu sama sekali.
“Itu Afnan!” Lily berseru.
Hessa melihat Afnan masuk. Baju pengantin yang saat fitting dipakai oleh Mikkel tentu jauh lebih bagus setelah dipakai Afnan. Afnan melihat ke arah Hessa, lalu tersenyum. Hessa ingin tertawa, Afnan santai sekali. Dia datang bersama papanya yang kelihatan seperti ingin membunuh anaknya itu. Afnan terlambat hampir satu jam.
“Kak...!” Qiena menyenggol tangan kakaknya. “Kakak beneran nggak pacaran sama Kak Afnan?”
“Nggak.”
“Tapi kalian kaya orang pacaran.”
“Habis ini kami kaya suami istri.” Hessa masih mengamati Afnan yang sedang berbicara dengan papanya Hessa. Mungkin dia memohon ampun karena datang terlambat dan membuat panik semua orang.
“Nana, tolong ambilin Kakak makanan. Roti atau kue atau apa, sama air minum. Makanannya dua, ya!” Hessa menoleh ke arah adiknya.
Adiknya mengangguk dan berjalan meninggalkan Hessa.
Semua berjalan lancar. Afnan melakukan dengan cepat.
Hessa tidak sempat meresapi kejadian itu karena tiba-tiba dia diberi tahu untuk menandatangani buku nikahnya. Salah satu modalnya untuk hidup di negara orang. Walaupun Afnan bilang akan ada satu lagi nanti marriage validation di Denmark. Demi sesuatu yang bermanfaat. Asuransi kesehatan, jaminan perlindungan secara hukum, dan lain-lain.
“I am sorry.” Afnan memandangnya dengan tatapan bersalah. Hessa hanya mengangguk, ingin memukul kepala Afnan tapi masih banyak orang. Bisa kena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Padahal belum berumah tangga.
“Gimana, Kak, rasanya?” Qiena antusias bertanya.
“Nggak terasa.” Hessa tidak merasakan apa-apa. Ketakutannya sebagian sudah lenyap karena takdirnya sudah dieksekusi. Hessa mendengarkan nasihat pernikahan dengan tidak fokus. Bagaimanalah memikirkan pernikahan yang bahagia, kalau kepalanya sibuk memikirkan nanti malam. Bagaimana rasanya tidur dengan orang yang sebelumnya belum lama dikenal lalu tiba-tiba mereka adalah suami istri?
“Aku bangun kesiangan.” Afnan duduk di sebelah Hessa, kursi yang tadi diduduki Lilian.
Hessa memberikan roti yang tadi diambilkan Qiena kepada Afnan. Afnan pasti tidak sempat sarapan. Hessa kasihan kalau Afnan harus salaman dengan perut kosong.
“Papa ngamuk. Katanya mana ada laki-laki di keluarga kita yang terlambat di pernikahannya sendiri, bikin malu aja.” Afnan menggigit rotinya.
“Katanya mau nggak tidur aja.” Hessa ingat Afnan mengatakan rencananya itu setelah mereka berbicara di telepon tadi malam.
“Ketiduran subuh-subuh,” kata Afnan setelah minum airnya dengan cepat.
“Dimarahi papaku nggak?” Hessa penasaran dengan apa yang dikatakan Afnan pada papanya tadi.
“Nggak. Dibilangi aja kalau semua orang sudah nunggu dari tadi. Aku bukan ogah-ogahan menikah. Cuma telat aja tadi. Mana mungkin nggak niat, anaknya cantik banget.” Afnan merasa bersalah pada keluarga Hessa, mereka pasti berpikir Afnan tidak serius dengan pernikahan ini.
Hessa mendorong wajah Afnan yang mengamatinya, terlalu dekat dengan wajah Hessa.
“Aku ke sana dulu.” Afnan menunjuk papa Hessa.
“Mikkel bohong bilang kamu cantik. Kamu cantik banget.”Afnan menyentuh pipi Hessa lalu cepat-cepat pergi karena papanya Hessa sudah melotot ke arahnya.
***
Hessa masuk ke kamarnya dan duduk di kursi, memeriksa lagi list keperluan yang akan dibawanya pindah ke Aarhus. Aarhus. Sampai setelah pesta pernikahannya, masalah ini masih memberatkannya.
Menikah dengan Afnan, orang yang tidak terlalu dikenalnya, hanya bertemu tiga kali dan Skype dua kali seminggu selama dua bulan sebelum menikah, sudah memberikan tekanan sendiri baginya. Mereka sudah menikah tadi pagi. Sesuatu yang tidak bisa dibatalkan. Hessa tidak bisa memprediksi bagaimana kehidupan pernikahannya nanti. Bukan nanti. Tapi mulai saat ini. Akan jadi seperti apa? Cerita cinta yang indah? Mimpi buruk?
Ada dua pihak dalam pernikahan ini. Hessa adalah pihak yang akan meninggalkan rumahnya, keluarganya, dan orang-orang yang disayanginya. Sesuatu yang membuatnya merasa sedih. Hessa adalah pihak yang akan mengganti alamatnya, dia akan berganti kota, negara, dan benua. Sesuatu yang membuatnya takut, takut dengan kehidupan baru di tempat baru.
Demi melihat orangtuanya yang bangga dan bahagia karena besanan dengan keluarga Afnan, demi melihat orangtuanya lega karena anak gadis pertamanya akhirnya menikah, demi melihat orangtuanya tenang sudah melepaskan tanggung jawab terbesar mereka, memastikan bahwa Hessa sudah menikah dengan laki-laki yang baik, demi melihat semakin terbukanya kesempatan adiknya untuk menikah juga, Hessa menelan sendiri semua ketakutannya.
Hessa menoleh ke kiri saat mendengar suara pintu dibuka dan dia melihat Afnan di sana. Dan inilah ketakutan paling besarnya. Ketakutan terbesar Hessa, malam pertama. Malam di mana dia akan mulai berbagi tempat tidur dengan orang yang tidak dicintainya. Orang yang tidak begitu dikenalnya. Bagaimana kalau Afnan memaksakan kehendaknya?
Afnan masuk dan mengunci pintu. Suara anak kunci diputar itu memberikan alarm peringatan di kepalanya. Bukankah dia adalah istri Afnan sekarang? Dia memang sudah menjadi milik Afnan.
Hessa melihat pantulan Afnan yang sedang mengganti bajunya dengan kaos butut. Afnan baru saja mengantarkan sepupu-sepupunya kembali ke hotel setelah mereka semua beramai-ramai mengobrol di rumah Hessa. Semua keluarga Afnan akan pergi ke Bali dan Lombok besok.
Afnan meloncat ke tempat tidur dan berbaring di sana.
Hessa kembali menunduk menekuri tulisannya.
“Aku punya hadiah buat kamu,” kata Afnan.
“Apa?” Hessa menoleh ke kanan, tertarik.
Afnan bangun dan turun dari tempat tidur. Dia membuka lemari dan mengaduk ranselnya.
“Sini!”
Hessa berdiri dan pindah duduk di tempat tidur, di sebelah Afnan.
“Ini.” Afnan mengubah posisinya, duduk bersila menghadap Hessa.
“Apa ini?” Hessa mengamati action figure di tangannya. Ada kertas ditempel di situ, bertuliskan: lulusan Jones University. Universitas Jomlo Ngenes.
“Itu cinta pertamaku.” Afnan memberi tahu.
“Apa?????” Hessa mengamati patung kecil cewek berambut panjang warna pink memakai baju astronot.
“Cewek di Gundam. Dia itu pinter, kuat, sabar, lembut, bagaimanapun dalam duniaku dia sempurna.”
“Tunggu dulu, kenapa dia jadi cinta pertama kamu? Kamu naksir beginian?” Hessa tertawa keras. Astaga! Kurang aneh bagaimana lagi Afnan ini? Ada masa-masa Hessa menggilai anggota boyband dari luar negeri saat dia remaja. Tapi setidaknya boyband masih manusia. Bukan makhluk rekaan seperti yang ada di tangannya ini.
“Iya. Waktu dulu masih remaja aku membayangkan kalau cewek seperti dia ini luar biasa. Aku nggak punya cewek karena aku cari cewek kaya dia. Cerita Gundam itu kan cowok banget. Tapi ada cerita cintanya dikit-dikit. Cewek ini pacaran sama pilot Gundam musuhnya. Yah, walaupun menyebalkan, aku kalah sama mereka. Pilot Gundam aja punya pacar. Padahal mereka gaulnya di langit.”
“Kamu ini nerd tingkat berapa, sih? Berapa banyak mainan Gundam yang kamu punya?” Hessa merasa ini kenyataan yang lucu sekali.
“Banyak. Aku bukan nerd!”
“Terus?”
“Aku cuma sering terobsesi dengan sesuatu.” Afnan membela diri.
“Yah, tetap aja aneh.” Hessa tertawa.
“Lihat sisi baiknya dong, Hessa! Itu menunjukkan loyalitasku. Kamu bisa menunggu sampai aku tergila-gila sama kamu suatu saat nanti. Kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.” Afnan memberi alasan.
Hessa langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu-sipu.
“Kamu ... apa nggak punya sesuatu yang normal yang kamu sukai?” Hessa mengamati makhluk kecil di tangannya.
“Maksudnya?”
“Ya mungkin cowok suka nonton bola, suka balap ... kamu kok suka science, mainan robot ini. ”
“Yah, Kalau aku sudah menyukai sesuatu, aku akan total menjalaninya. Aku dulu suka banget renang, aku menang banyak lomba. Aku rajin baca teorinya serajin aku berlatih di klub. Aku baca cerita-cerita perenang hebat dunia, mengumpulkan inspirasi. Lalu aku suka banget sama Gundam, masa-masa remajaku cuma dipenuhi segala macam tentang Gundam. Kits, games, movies. Ikut forum-forum dan macam-macam. Waktu masuk universitas, aku suka biologi, aku belajar terus dan serius karena aku mau jadi yang terbaik di sana.”
“Kamu lihat sisi baiknya lagi dong, Hessa!”
“Apa lagi?” Hessa masih tertawa. Sisi baik apa lagi yang didapat dari science, renang, dan robot?
“Aku akan menyukaimu, 100%, tidak setengah-setengah.” Afnan memberi tahu dengan tidak sabar.
“Oh. ” Hessa tersipu-sipu sendiri. Untuk kedua kalinya
malam ini.
“Aku jadi bego kalau urusan merayu cewek sih, nggak bisa bikin kalimat murahan.” Afnan memperhatikan Hessa yang diam saja, merasa rayuannya tadi mungkin aneh bagi wanita. Wanita mana yang mau disamakan dengan Gundam dan science? Tapi hanya itu yang terpikir olehnya. Dia ingin Hessa tahu bahwa dia menganggap Hessa penting.
Dia tidak perlu teori macam-macam tentang cinta, dia hanya perlu menikah dan punya istri, juga anak-anak yang luar biasa. Afnan akan menyayangi mereka semua dan menjadikan mereka semua sebagai harta yang paling berharga. Cinta dan hal-hal klise lain bisa menyusul nanti-nanti.
“Kenapa kamu ngasih aku ini?” Hessa memperhatikan makhluk kecil berambut merah muda itu di tangannya.
“Itu sebagai tanda ... aku sudah nggak perlu dia lagi. Karena aku punya kamu sekarang. Siapa yang butuh cinta pertama? Kamu akan jadi yang terakhir.”
Hessa tersenyum dan mencium pipi Afnan,”Aku suka dia dan aku akan berteman sama dia.”
“Kayaknya aku ketularan jadi nerd juga.” Hessa tertawa menyadari kalimatnya tadi.
“Aku bukan nerd!” Afnan membantah lagi. “Ngeles mulu.” Hessa memajukan bibir bawahnya.
“Kamu nggak capek? Tidur, yuk!” Afnan menepuk-nepuk bantalnya.
“Yah, jangan dong!” Hessa menarik tangan Afnan, menahannya agar tidak tidur dulu.
“Terus?”
“Kita ngobrol dulu!”
“Apalagi yang harus kita obrolin?” Afnan duduk tegak lagi.
“Aku lihat video kamu yang di Aarhus. Kamu ini genius
ya?Banyak betul prestasi kamu. Bikin jiper.”
“Memangnya kamu ngerti bahasanya?”
“Nggak, sih.”
“Biasa aja. Aku itu ... suka menjadi yang terbaik ... dalam segala hal.” Afnan mengangkat bahu.
“Apa aku harus lihat sisi baiknya juga?” Hessa tertawa lagi. Berapa banyak sisi baik yang harus dilihatnya malam ini. Afnan membuatnya terlibat dalam permainan menarik kesimpulan.
“Tentu saja. Sisi baiknya adalah ... aku akan menjadi suami yang terbaik. Aku nggak keberatan berusaha untuk itu.”
Hessa tersenyum senang.
“Kamu berapa lama pacaran sama orang jelek tadi siang itu?” Afnan tiba-tiba menanyakan mantan pacar Hessa yang datang ke pesta pernikahan mereka tadi siang.
“Dia nggak jelek.” Kalau dia jelek, tidak mungkin Hessa dulu bisa menyukainya pada pandangan pertama.
“Kalau dia berdiri dekat aku seperti tadi, dia akan kelihatan jelek.”
“Iya ... iya. ” Hessa setuju kalau itu.
“Kok kamu nggak jawab?”
“Lama. Sejak umurku 20 tahun. Putus tahun lalu.” Hessa biasanya tidak suka membicarakan ini. Tapi Hessa tidak bisa menghindar karena suaminya yang bertanya.
“Ngapain aja kamu sama dia selama enam tahun?”
“Heh? Ya ... kayak orang pacaran. Gandengan tangan,
ciuman, ya apalah seperti itu.” Hessa juga tidak tahu mengapa dia membuang waktu selama itu.
“Kenapa kamu nggak menikah sama dia? Kamu maunya gitu, kan? Menikah kalau udah kenal. Enam tahun sih terlalu kenal.”
“Dia nggak mau waktu aku minta.”
“Dasar laki-laki payah!” Afnan memaki. Hessa tertawa.
Ya, memang mantan pacarnya payah.
“Kalau kamu? Mantan pacarmu?” Hessa ganti bertanya.
“Aku cuma pernah pacaran sekali seumur hidupku. Dan
itu cuma seminggu.” Hessa tertawa lagi.
“Kenapa putus?” Hessa tertarik dengan cerita ini.
“Karena dia meninggal.” Hessa berhenti tertawa.
“Oh, sorry ... kenapa dia meninggal?”
“Dia sakit parah ... dokter bilang umurnya nggak lama. Keinginan terakhirnya itu pacaran sama aku. Terus dia minta ke aku, aku mau. Dan seminggu kemudian dia meninggal.”
“Sedih. Dia pasti suka banget sama kamu. Kalian kaya cerita film aja.” Biasanya Hessa akan menangis saat menonton film-film yang berakhir tragis seperti itu.
“Tapi kamu baik ya, kamu mau. ” Hessa menghentikan
ucapannya saat dia melihat Afnan menggembungkan mulutnya, menahan tawa.
“Afnan!!! Kamu bohong, ya???”
Afnan tertawa sambil memegang perutnya, bahunya sampai terguncang-guncang.
“Menurutmu?” Afnan bertanya di sela-sela tawanya.
“Dasar! Nyebelin amat, sih!” Hessa mengambil bantal dan
memukuli Afnan.
“Wajah sedih kamu tadi itu....” Afnan masih tertawa, menahan pukulan Hessa dengan tangannya.
Hessa menghentikan serangannya karena kelelahan.
“Padahal aku udah percaya.”
“Aku khawatir dari kemarin. Gimana kalau kamu mau punya suami romantis, tapi aku jauh sekali dari itu. Aku takut kamu kecewa,” kata Afnan setelah berhasil berhenti tertawa.
Hessa menggelengkan kepalanya, dia tidak kecewa. Dia malah terkejut, dia kira Afnan tidak akan menyenangkan seperti ini. Dia kira Afnan akan menyerangnya membabi buta di malam pertama mereka dengan alasan karena Hessa sudah menjadi miliknya.
“Aku nggak kecewa.” Hessa memandang wajah Afnan.
Tangan kanan Afnan menahan dagu Hessa. Afnan men-
cium keningnya, lalu menempelkan hidungnya di wajah Hessa. Tidak ada satu pun dia antara mereka yang bersuara. Tangan kiri Afnan memeluk punggungnya. Dalam keheningan ini Hessa seperti mendengar suara Afnan, “We will be fine. I promise you. ”
Hessa merasa Afnan bergerak, menuju bibirnya. Afnan menarik punggung Hessa, membuat Hessa mendekat kepadanya. Hessa menutup matanya.
“Tidur, yuk! Biar besok kita bisa jalan-jalan.” Afnan melepaskan pelukan dan ciumannya.
“Eh, apa ... em ... kita ... nggak. ?”
“Apa?”
“Melakukan. ?”
“Nggak. Kita akan punya banyak waktu untuk itu nanti.” Afnan tersenyum geli.
Hessa berbaring di sebelah Afnan.
“Afnan!”
“Ya?”
“Good night kiss?”
“Good night!” Afnan mencium kening Hessa lagi.
Kadang-kadang Hessa perlu waktu yang lama untuk terbiasa dengan orang lain. Bertahun-tahun mungkin tetap tidak membuatnya nyaman dengan orang baru. Kadang-kadang hanya perlu hitungan jam saja untuk terbiasa. Obrolan mereka, ciuman, dan pelukan ini sudah cukup membuat Hessa seperti terkena panah asmara. Semua memang akan baik-baik saja. Seandainya saja mereka tidak perlu pindah ke Aarhus.