My Bittersweet Marriage

My Bittersweet Marriage
Episode 2



Sesuatu yang mudah didapatkan, biasanya tidak terlalu berkesan dan mudah terlupakan.



“Hessa, cepetan! Kamu kok pakai baju butut kaya gitu?” Kepala mamanya muncul lagi di pintu kamarnya. Mamanya sudah menyuruh turun ke dapur sejak tadi, tapi Hessa beralasan ingin mandi dulu sebelum menemui teman mamanya.



Hessa bergerak malas-malasan ke kamar mandi. Mamanya tidak pernah menyuruhnya turun kalau ada temannya datang ke rumah. Seberapa istimewa teman mamanya yang bernama Kana ini? Hessa menyelesaikan mandinya dengan cepat, walaupun jam makan malam masih lama. Kalau tidak, mamanya akan semakin mengomel tidak sabaran. Ini juga hari Sabtu, karena tidak punya pacar, Hessa santai saja tidak mandi sampai semalam ini.



“Kamu ini! Wanita itu yang teratur. Kalau sudah sore ya mandi! Jangan ditunda-tunda! Nanti kamu punya suami, kebiasaanmu itu nggak hilang gimana? Apa kamu mau suamimu datang kerja kamu masih berantakan begitu?” mamanya berkomentar ketika Hessa turun dan membantu di dapur.



“Ya, Ma,” Hessa menjawab pelan.



“Jangan besar-besar apinya!” mamanya menegur lagi, membuat Hessa pusing. Hari Sabtu ini berbeda sekali dengan Sabtu-Sabtu biasanya yang tenang dan damai, yang dihabiskan Hessa dengan membaca buku.



“Itu kan gampang, Hessa. Masak begitu saja kamu salah-salah.”



Hessa pasrah saja mamanya mengomel seperti itu, kalau menjawab malah makin kena semprot.



“Hahahaha, ya biar aja, Hessa kan nanti nggak akan jadi ibu rumah tangga aja.” Papanya yang sedang melintas menyahut.



“Biar dia nanti jadi presiden, tetap dia harus bisa mengurus suami dan anak-anaknya. Mana mungkin bisa mengurus negara, kalau mengurus suami dan anak-anak saja nggak bisa? Mama dulu juga kerja dan tetap bisa mengurus kalian semua dengan baik.” Mamanya memang hebat sekali, bisa memasak sambil menasihati tanpa pecah konsentrasi. Hessa juga mengakui mamanya dulu memang bekerja, tapi tetap menjadi ibu yang terbaik baginya dan adiknya.



Hessa hanya diam mendengar kata-kata mamanya. Kata “suami dan anak-anak” akhir-akhir ini sering sekali didengarnya.



“Ma, Hessa ke atas sebentar ya. Sakit perut.” Hessa berusaha melarikan diri dari dapur lagi.



Mamanya mengangguk mengizinkan. Hessa berjalan ke kamarnya. Urusan begini saja membuatnya pusing, seseorang bernama Kana ini merepotkannya sekali. Biasanya Hessa juga ikut memasak dan mamanya tidak pernah mempermasalahkan cara memasaknya.



“Hessa!”



Belum sempat Hessa duduk, terdengar suara mamanya sudah memanggil lagi. Hessa mendesah dan berjalan keluar kamar.



“Nah, ini Hessa,” kata mamanya sambil tersenyum ketika Hessa muncul di ruang makan.



Hessa tersenyum lega karena mamanya tidak bohong, Afnan tidak ada di sana bersama mereka.



“Wah, cantik banget! Kayak mamamu waktu muda dulu,” kata wanita yang diprediksi Hessa sebagai teman mamanya yang bernama Kana itu.



Hessa salaman dan teman mamanya itu memeluknya,



“Jadi sekarang aku jelek?” mamanya yang duduk di sisi kanan meja makan tertawa.



“Kita sudah kalah sama anak-anak ini.” Dua wanita berumur itu tertawa lagi.



“Oh, ini anakku, Lily.”



“Hai, Kak!”



Hessa tersenyum dan bersalaman dengan Lily yang tersenyum lebar ke arahnya. Hessa mengamati Lily yang sedang hamil besar.



“Aku udah lihat channel kakak. Bagus banget! Nanti kalau anakku lahir, mau kuajak nonton video-video itu.”



“Oh ya?” Hessa tersenyum geli mendengar Lily mengatakan itu dengan ceria, seperti tidak terganggu dengan kehamilannya.



“Iya, Afnan yang kasih tahu channel-nya,” Lily memberi tahu.



Hessa mengumpat dalam hati, jadi Afnan stalking? Hessa jadi menyesal mengapa dia iseng mengunggah video-videonya saat sedang mendongeng di depan anak-anak di sekitar rumahnya. Adiknya selalu rajin merekamnya.



“Dia memang sejak dulu sukanya begitu. Baca dongeng. Bapaknya wartawan, setiap pulang oleh-olehnya cerita. Jadi anaknya begitu. Ngumpulin anak-anak buat didongengi,” mamanya menjelaskan.



“Bagus itu. Anak-anak zaman sekarang sering kerjaannya ngabisin duit keluyuran di mal, kelab, diskotek. Lebih baik melakukan yang bermanfaat. Ya kan, Hessa?” Kana tersenyum menatap Hessa.



“Anakku itu suka belanja,” Kana menunjuk Lily, “daripada habis duit, dinikahkan saja. Biar duit suaminya aja yang habis.”



“Jangan buka rahasia dong, Ma!”



Hessa ikut tertawa melihat Lily menahan malu karena dijadikan bahan pembicaraan.



“Sudah mandiri semua anak-anakmu?” mamanya bertanya.



“Sudah. Tinggal mama dan papanya aja di rumah kesepian. Anak-anak ini kecil dikasih makan di rumah, besar bisa nyari makan, nggak ingat rumah.” Kana menjawab.



“Lho, ini Lily di rumah.” Mamanya menoleh ke arah Lily.



“Iya, karena mau lahiran. Biasanya ikut suaminya di Jerman. Anakku yang kedua, Afnan, kerja di Denmark. Cuma Mikkel yang di sini. Bantu-bantu Papanya.”



“Anak-anakku belum menikah. Sama telatnya kayak aku dulu.” Hessa melihat mamanya tertawa. Kalau mamanya saja telat menikah, mengapa mengejar-ngejar Hessa untuk menikah?



Hessa hanya diam mengamati wanita-wanita di depannya. Tante Kana orang yang menyenangkan. Di antara teman-teman mamanya yang sering datang, Tante Kana ini yang paling normal. Tidak menggosipkan orang lain. Lily juga ceria dan bersemangat, bertanya apa Hessa menghafal banyak dongeng. Lily senang dengan dongeng Little Mermaid.



“Little Mermaid itu dulu hidup di Denmark. Waktu sekolah dulu aku bangga banget foto sama patung Mermaid itu lalu pamer sama temen-temen. Mereka iri setengah mati.” Lily tertawa ketika menceritakan itu.



“Hans Christian Andersen memang dari sana, kan?” Setahu Hessa orang yang mengarang dongeng Little Mermaid itu orang Denmark.



“Iya, dari Odense. Yah ... di sana kaya negeri dongeng, deh. Kakak pasti suka.” Lily lalu tertawa.




***



Hessa bercakap-cakap dengan Lily sambil membantu menyiapkan makan malam. Mamanya asyik bercengkerama dengan Kana, menyiapkan buah untuk mereka semua.



“Berapa bulan, Ly?” Hessa melihat Lily yang meletakkan serbet-serbet di samping piring, melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan.



“Tujuh, Kak. Udah nggak sabar pengen ketemu.” Lily mengelus perutnya.



Sebenarnya Hessa kurang setuju Lily memanggilnya Kakak, tapi Lily menolak. Dengan alasan siapa tahu nanti Hessa benar-benar menikah dengan Afnan.



“Nanti aku mau lihat bayi kamu, Ly.” Hessa tersenyum, membayangkan pasti bayi itu cantik seperti Lily. Lily bilang dia akan melahirkan anak perempuan.



“Kita makan sekarang.” Mamanya melambaikan tangan.



“Maaf ya, Tante. Lily makannya banyak.” Lily terlihat



sudah tidak sabar ingin makan.



Hessa dan mamanya tertawa saat Lily memberi tahu di awal.



“Tidak apa-apa, kamu habiskan, Lily. Malah bagus, biar Hessa diet.” Hessa mendengar mamanya menjawab.



Hessa batal mengambil sayur ketika melihat papanya masuk bersama dengan Afnan. Hessa hafal dengan wajah Afnan karena seharian ini kerjanya hanya melihat-lihat foto dan video Afnan di internet. Hessa melotot ke arah mamanya, meminta penjelasan. Mamanya hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Mamanya kembali bercakap-cakap dengan Kana, Lily asyik makan, Hessa menunduk, Afnan bercakap-cakap dengan papanya Hessa. Tidak ada yang mau repot-repot mengenalkan mereka berdua.



“Kalau di sana sekitar 5% ikut cohousing.” Hessa mendengar Afnan menjawab pertanyaan papanya. Papanya wartawan, sudah sering ke mana-mana, jadi gampang saja menemukan topik yang bisa dibicarakan.



“Mungkin seperti indekos di sini. Beberapa keluarga berbagi dapur, ruang makan, ruang bermain. Lebih hemat sepertinya. Sistemnya sudah mulai dicontek di negara lain.” Terdengar Afnan menjelaskan lagi.



Hessa melirik Afnan yang duduk di depannya, lalu pura-pura memperhatikan lukisan buah di dinding saat Afnan balas menatapnya.



“Kalau yang muda lebih memilih tinggal di flat. Bisa sewa, lebih murah, dan juga lebih dekat ke tempat kerja agar hemat ongkos.” Afnan kembali menjawab pertanyaan papa Hessa.



Di antara mereka semua yang duduk mengelilingi meja makan, Afnan terlihat sangat besar dan mendominasi. Hessa memperhatikan Afnan berbicara, menjawab dengan sopan, tidak sok tahu. Afnan seperti orang biasa, bukan seperti orang hebat yang memberikan orasi ilmiah di video Aarhus University yang sudah dilihat Hessa. Wajahnya tegas, sorot matanya sama sekali tidak menyiratkan keragu-raguan. Orang yang percaya diri, santai saja menghadapi papanya. Hessa ingat sekali, pacarnya dulu tidak betah saat berbicara lama dengan papanya.



“Nggak mencicil rumah? Daripada bayar sewa?” Hessa mendengar papanya bertanya lagi pada Afnan.



“Hitung-hitungan keuangan setiap kepala mungkin beda, Om. Pajak mahal sekali di sana. Gaji bisa habis hanya untuk pajak saja. Akhir bulan mengunyah udara.”



Hessa melihat papanya tertawa mendengar ucapan Afnan.



Hessa menunduk lagi ketika merasa Afnan menatap ke arahnya, mengamatinya. Hessa merasa seperti kuda yang



sedang diteliti oleh pembelinya.



Melihat Afnan dengan matanya sendiri di sini, di depannya, bukan di foto, membuat Hessa tidak bisa menyuruh dirinya untuk berhenti memperhatikan wajah Afnan. Tampan. Tegas. Cerdas.



“Gimana mungkin orang seperti ini nggak bisa cari istri?” Hessa menggumam dalam hati.



Mereka masih duduk di sana sampai setengah jam kemudian. Isi percakapan didominasi oleh mamanya dan mamanya Afnan, membicarakan masa kecil mereka. Sesekali papa Hessa ikut tertawa. Tapi Afnan tidak. Afnan tidak pernah tertawa. Tersenyum saja tidak sejak tadi.



“Mungkin ada yang salah dengan otot senyumnya.” Hessa membatin.



Hessa dan orangtuanya mengantar mereka keluar setelah mereka pamit. Hessa melangkah pelan bersama Lily, memperhatikan punggung Afnan dari belakang. Kuat dan kokoh. Pasti aman sekali berlindung di balik punggung itu. Hessa menggelengkan kepalanya. Astaga!



“Makasih, Kak. Nanti kita chatting, ya?” Lily mencium kedua pipinya.



Hessa mengangguk dan tersenyum.



Kana memeluknya sebelum masuk ke mobil. Lalu tiba-tiba Afnan berdiri di depannya. Hessa merasa dirinya kecil sekali berdiri dekat dengan Afnan begini. Hessa mencengkeram pinggiran roknya.



Afnan mengulurkan tangannya, Hessa ragu-ragu menyambutnya. Hessa memberanikan diri menatap ke atas. Jantungnya hampir lepas karena Afnan tersenyum kepadanya.



Afnan melepaskan tangannya dan langsung berbalik, meninggalkan Hessa yang masih berdiri dengan kepala kosong di teras rumahnya. Afnan tidak mengatakan apa pun kepadanya tapi Hessa yakin sekali dia tidak akan bisa tidur malam ini.



***



“Apa-apaan sih, orang itu?” Hessa menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Menurut cerita mamanya, laki-laki itu yang ingin kenalan dengannya. Tapi dia hanya diam dan membiarkan Hessa berdiri seperti orang bodoh di sana tadi.



Hessa memegang dadanya yang masih berdebar-debar. Hessa tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Dia hanya terpukau pada penampilan Afnan atau senyuman Afnan. Hanya sesaat. Orang tidak akan jatuh cinta hanya karena hal-hal seperti itu, kan? Jatuh cinta itu perlu waktu, pelan-pelan dan lama. Baginya cinta pada pada pandangan pertama hanya akan terjadi kalau dia melihat baju atau sepatu bagus. Not men. Biasanya, waktu dia membeli baju dengan menurutkan ‘suka atau cinta pandangan pertama’, hanya sebentar saja dia menyukai baju itu, setelah itu ya sudah … terlupakan bersama baju-bajunya yang lain. Hessa hanya tergila-gila sesaat. Bukankah begitu juga yang berlaku untuk perasaan? Sesuatu yang mudah didapatkan, biasanya tidak terlalu berkesan dan mudah terlupakan.



“Kenapa dia seperti itu?” Hessa memejamkan matanya, memutar lagi rekaman di otaknya. Adegan Afnan memegang tangannya, oke, itu cuma salaman, genggaman tangannya kuat dan tegas, mengirimkan sensasi aneh tapi menyenangkan ke sekujur tubuh Hessa, dan Afnan tersenyum. Senyuman itu rasanya bisa membuat kegelapan di sekitarnya, teras rumahnya yang tidak terlalu terang dan halamannya yang gelap, terlupakan. Karena Hessa sempurna terpaku pada wajah Afnan yang tersenyum kepadanya, lupa pada sekitarnya.



“Shit!” Hessa mengumpat dan mencoba tidur daripada



memikirkan ini.



Hanya melihat senyum Afnan tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap hatinya. Hessa meyakinkan dirinya. Afnan tak ada bedanya dengan orang yang ditemuinya saat makan di warung pojok dan berbagi meja dengannya.