
Kita hanya membalik prosesnya.
Orang-orang saling mengenal lalu jatuh cinta dan menikah. Kita menikah, saling mengenal, jatuh cinta.
Hessa berbaring telungkup di tempat tidurnya, membaca. Tangan kanannya sibuk mengambil keripik kentang dari mangkuk di dekatnya. Tidak ada hal lain yang dikerjakannya di hari Minggu selain bermalas-malasan, sebelum kenyataan pahit menunggunya esok hari. Kenyataan bernama hari Senin. Kalau saja dia sudah bisa menemukan namanya ada di majalah Forbes, dia tidak akan repot-repot menyeret dirinya ke kantor setiap pagi.
“Ya ampun!” Hessa mengeluh saat HP-nya berbunyi. Hessa berusaha mengingat paragraf mana yang terakhir dibacanya sambil menepuk-nepukkan tangannya untuk menghilangkan bumbu keripik kentang yang menempel di jarinya.
“Halo!” Hessa menjawab tanpa memeriksa siapa yang menelepon.
“Hessa?” Suara yang di seberang sana terdengar ragu-ragu.
“Ya. Ini siapa?” Hessa urung mengambil keripik lagi.
Mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah keripik kentang asin yang dibeli mamanya tadi.
“Afnan.”
Hessa serta-merta melotot lalu meloncat duduk, menyenggol mangkuk keripik kentang dan membuat seprainya kotor. Hessa tidak sempat memikirkan risiko dimarahi mamanya nanti.
“Eh. ” Hessa tidak tahu harus mengatakan apa. Seminggu ini dia lupa dengan orang bernama Afnan ini, lega karena tidak ada kelanjutan dari pertemuan tanpa kata mereka minggu lalu.
“Apa kamu sibuk?”
“Eng ... nggak,” Hessa menjawab, lalu menyadari kebodohannya yang terlalu jujur.
“Bisa temani aku sebentar?”
“Ke mana?” Hessa hampir mengiyakan. Suara Afnan terdengar seperti memerintahnya untuk bilang ‘iya’, untuk menuruti permintaannya.
“Beli sesuatu.” Hanya itu jawaban Afnan. “Sekarang?” Hessa memastikan.
“Ya,” Afnan menjawab singkat sekali.
“Ng ... aku. ” Hessa melihat penampilannya. Dia belum
mandi padahal sudah hampir jam makan siang. “Kenapa?”
“Aku siap-siap dulu. Mungkin satu jam.” Hessa menghitung cepat waktu yang diperlukannya.
“Oke.”
Hessa menatap kosong ke layar HP-nya. Sudah selesai pembicaraannya dengan Afnan. Hanya begitu saja. Percakapan pertamanya dengan Afnan setelah mereka hanya saling menatap minggu lalu.
Hessa menarik napas, sudah telanjur bilang iya.
Hessa berdiri dan membereskan sisa keripik kentangnya, menaruh mangkuknya di meja dan menepuk-nepuk seprainya.
Ya sudahlah, ada baiknya juga Afnan mengajaknya pergi.
Paling tidak, dia akhirnya mandi.
Hessa menarik salah satu bajunya, lalu berusaha berdandan secepat yang dia bisa. Semoga Afnan tidak menjemputnya lebih cepat dan tertangkap mamanya. Hessa malu karena sudah mati-matian bilang tidak mau berkenalan dengan Afnan, tapi sekarang malah mau diajak keluar.
Hessa tidak melihat mamanya ada di dalam rumah dan memutuskan menunggu Afnan di depan setelah menempelkan pesan di pintu kulkas. Dia duduk di teras sambil main game untuk membunuh waktu. Atau membunuh rasa gugupnya. Hessa menyerah dan meletakkan HP-nya begitu saja di meja. Ini membuatnya gelisah.
“Apa batal aja, ya?” Hessa menggumam.
Bagaimana kalau Afnan mengajaknya bicara, seperti membicarakan cohousing dengan papanya dulu itu, dan Hessa sama sekali tidak mengerti? Obrolan macam apa yang akan keluar dari mulut orang pintar seperti dia itu?
Hessa melihat mobil Afnan tiba di depan rumah yang membuatnya otomatis berdiri.
“Tarik napas, embuskan ... ini cuma jalan.” Hessa menenangkan dirinya.
Hessa langsung mendekat dan masuk begitu mobil Afnan berhenti. Mereka harus cepat pergi dari sini sebelum mamanya melihat dan melepas kepergian mereka dengan karpet merah.
Afnan memandang Hessa dengan dahi berkerut.
“Ayo berangkat!” Hessa menyuruh Afnan segera berangkat.
Hessa lega ketika mobil Afnan bergerak menjauhi rumahnya. Hessa melirik Afnan yang tidak mengatakan apa-apa sejak Hessa seenaknya saja naik ke mobilnya, tanpa memberi kesempatan Afnan untuk keluar terlebih dahulu.
Hessa menghitung sampai sepuluh, menunggu Afnan mengucapkan terima kasih karena Hessa meluangkan waktu untuknya. Tapi sampai Hessa menghitung hampir tiga puluh, Afnan tetap diam.
“Kamu sariawan?” Hessa bertanya dengan sebal. Dia naik mobil ini bukan buat dijadikan patung.
“Nggak,” Afnan menjawab, tidak melirik Hessa sama sekali.
“Sakit gigi??”
“Kenapa, sih? Pipiku bengkak, ya?”
“Jangan diem aja, dong! Kasih tahu kek kita mau ke mana.” Hessa semakin kesal karena sindirannya tidak mempan untuk Afnan. Hilang sudah rasa gugupnya, berganti dengan rasa sebal memuncak sampai ubun-ubun.
“Aku nggak tahu kita mau ke mana.”
“Tadi kamu bilang mau beli sesuatu.” Hessa tidak sabaran mengingatkan Afnan.
“Aku mau beli koper. Di mana sih belinya?”
Hessa menoleh ke arah Afnan, tidak percaya orang ini tidak tahu di mana beli koper.
“Di mal.” Hessa menjawab.
Afnan menyadari kebodohannya. Tentu saja mal adalah solusi untuk semua masalah orang di sini. Makan, beli baju, grocery shopping, beli mobil, mencari peralatan rumah tangga, tempat bermain anak, kamar mandi, dan segalanya bisa ditemukan di mal.
“Mal yang mana?”
Hessa mendecakkan lidahnya, menunjukkan jalan.
“Jangan marah-marah dong, Hessa! Aku ngajak kamu kan
karena aku nggak tahu. Kalau tahu, aku akan pergi sendiri.”
Hessa langsung patah hati mendengar alasan Afnan mengajaknya pergi. Dia pikir tadi Afnan hanya basa-basi mengajaknya membeli sesuatu, padahal tujuan sebenarnya ingin jalan dengannya. Mengenal Hessa lebih dekat. Tapi Afnan benar-benar mengajaknya membeli sesuatu. Dalam arti yang sesungguhnya.
“Kenapa aku?” Seperti tidak ada orang lain yang bisa diajak sama Afnan ini.
“Aku cuma kenal kamu.”
“Kita ini nggak saling kenal!” Hessa menyanggah pernyataan Afnan.
“Kamu yang nggak mau diajak kenalan!”Afnan tidak mau kalah.
“Kenapa kamu harus kenalan sama aku?”
“Karena aku tertarik sama kamu,” jawaban Afnan membuat Hessa mengerang dalam hati.
“Kenapa tertarik?” Hessa meneruskan permainan kenapanya.
“Emangnya selama ini nggak ada laki-laki yang tertarik sama kamu?” Afnan balik bertanya.
“Ya banyak.” Mana boleh dia meremehkan Hessa.
“Jadi kenapa kamu heran kalau aku tertarik sama kamu? Itu wajar aja, kan?” Afnan berbelok menuju mal yang dimaksud Hessa.
“Kan, harus ada alasannya!” Hessa gemas sekali.
“Kamu pernah tanya laki-laki yang pernah tertarik sama kamu? Apa alasan mereka?”
“Ya macam-macam.”
“Alasanku sama dengan mereka.” Afnan mencari tempat untuk parkir.
“Mana bisa gitu?” Hessa tidak terima perdebatannya hanya mendapat hasil seperti itu.
“Mau apa lagi? Itu naluri laki-laki.” Afnan memarkir mobilnya dengan sempurna.
“Apa laki-laki selalu bisa tertarik dengan wanita hanya dengan sekali lihat?” tanya Hessa sebelum membuka pintu.
“Ya,” jawab Afnan.
“Apa kamu tertarik sama wanita itu?” Hessa menunjuk wanita yang berjalan dari arah berlawanan.
“Iya.” Afnan menjawab dengan santai.
“Karena?”
“Her boobs.”
Hessa menoleh kepada Afnan, sudah siap tertawa kalau Afnan memang bercanda. Tapi tidak! Wajahnya serius dan tidak terlihat sedang bercanda.
“Mesum!” Hessa memaki.
“Mau gimana lagi? Yang menarik dan gampang dilihat memang hanya itu. Kamu berharap aku menjawab karena dia baik? Kan, aku nggak tahu.”
Hessa tahu dia tidak akan menang di bagian ini. Wanita yang tadi memang dadanya besar dan hampir tumpah.
“Terus aku. ” Hessa bingung bagaimana menanyakannya.
“Apa?”
“Yang bikin kamu tertarik sama aku.” Hessa bisa merangkai kata dengan baik.
“Karena kamu cantik.”
Hessa batal mendebat Afnan, pipinya terasa panas, walaupun AC di mal dingin.
“Fisik terus!” Hessa menjawab saat sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
“Cuma itu yang kelihatan. Mana aku tahu kalau kamu dermawan, rajin menabung, atau membantu ibu.”
Hessa menepuk keningnya, dasar orang ini menguji kesabaran. Terlalu frontal dan logis, tidak ada manis-manisnya.
***
“Yang ini aja.” Afnan menunjuk koper merah yang hampir mirip dengan miliknya, hanya beda strip hitam di tepinya.
“Udah dibilang aku nggak perlu, kenapa buang-buang uang?” Hessa berusaha membuat Afnan membatalkan sebelum membayar.
Afnan tidak mendengarnya, menyelesaikan transaksi dan titip dua koper itu kepada wanita yang membungkus koper mereka tadi. Sementara dia masih akan keliling untuk beli barang lain.
“Itu buat kamu. Hadiah perkenalan,” kata Afnan.
“Mumpung diskon.”
“Dasar pelit!” Hessa memaki.
Afnan memutuskan membeli dua koper hanya karena ada diskon 30%. Afnan memberikan satu kopernya untuk Hessa. Hessa menubruk punggung Afnan saat laki-laki itu tiba-tiba berhenti di depannya. Hessa mengusap-usap hidungnya.
“Makan di sini aja.” Afnan masuk dan Hessa tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Afnan masuk.
“Kenapa kamu cemberut?” Afnan mengamati wajah Hessa.
“Tauk. Pikir sendiri, deh.” Hessa kesal setengah mati dengan Afnan. Apa susahnya menanyai Hessa terlebih dahulu mau makan di mana? Sudah ditemani ke sini juga.
Afnan hanya diam dan memilih memikirkan makanan yang akan dimakannya siang ini. Jelas dia akan makan nasi dan makanan-makanan tanpa susu. Di Denmark itu sepertinya semua makanan dimasak dengan susu.
Hessa mengamati Afnan yang sedang menerima telepon, berbicara cepat dengan bahasa yang belum pernah didengar Hessa.
“Apa kamu bisa bahasa asing?” Afnan menanyai Hessa yang sedang melamun.
“Sedikit. Dulu pernah les bahasa Prancis.” “Kenapa pilih bahasa Prancis?”
“French is romantic, no?” Menurut Hessa bahasa Prancis itu romantis.
“Hmmm ... let me see. French? Cuma ada satu yang menarik dari itu.”
“Apa?” Hessa memandang Afnan.
“Its kiss.” Afnan menjawab setelah makanan mereka datang.
“Maksudnya?” Hessa tidak mengerti.
“French kiss.”
“Hadeeh...!” Hessa memindahkan nasinya ke piring Afnan.
“Wait! Kenapa kamu kasih nasi kamu?” Afnan protes saat nasinya makin banyak.
“Aku nggak abis nanti. Makanku dikit. Itu belum kumakan, masih bersih. Daripada dibuang. Kan, bayar ini.” Hessa beralasan.
“Kamu tahu, tukang dagangnya udah hitung jumlah nasi dan lauknya dengan pas. Kalau nasiku jadi banyak, lauknya kurang, dong.”
“Terus?” Hessa tidak peduli dengan hitung-hitungan Afnan.
“Sini lauk kamu separuh!” Afnan memegang garpunya, siap menyerang piring Hessa.
“Nooooo!” Hessa menjauhkan piringnya dan menutupi dengan kedua tangannya.
“Sama makanan aja kamu posesif.” Afnan geleng-geleng kepala, lalu memutuskan untuk pesan makanan lagi.
“Habis ini aku mau makan dimsum.” Afnan memberi tahu.
“Mau!!!!” Hessa tersenyum lebar mendengar usul Afnan.
“Tadi katanya makannya dikit.” Afnan menyindir Hessa.
“Kan ngemil-ngemil aja, nggak papa.” Hessa membela
diri.
Hessa mengamati Afnan yang sedang makan, sudah tidak peduli dengan kanan kirinya. Matanya hanya fokus pada piringnya, seperti anak kecil yang dibelikan ibunya makanan favoritnya.
Sejauh ini dia dan Afnan tidak canggung seperti orang-orang yang sedang melakukan kencan pertama. Afnan memang menyebalkan, tapi itu membuatnya nyaman. Tidak ada pertanyaan standar-interviu-pasangan-yang-saling-mengenal seperti menanyakan penyanyi favorit atau hobi. Memang begini seharusnya kencan pertama.
Apa Hessa baru saja menyebut ini kencan? Oh, Tuhan!
Afnan merasa diamati Hessa, menghentikan makannya sebentar.
“Kenapa? Aku ... makannya banyak.” Afnan merasa mungkin Hessa heran melihatnya makan seperti ini.
Afnan tersenyum sebelum kembali lagi ke piringnya. Senyum Afnan. Masih tetap membuat Hessa kehilangan kata-kata. Jantung Hessa kembali berdetak sangat kencang, seperti menggedor-gedor dinding tulang rusuknya. Hessa merasa bisa mendengar suaranya. Hessa menggelengkan kepalanya, berusaha menyelesaikan makannya.
***
“Kamu tahu kan kenapa aku dan mamaku datang ke rumahmu hari Sabtu minggu lalu?”
Afnan mengantar Hessa pulang setelah mereka membeli beberapa barang yang diperlukan Afnan. Termasuk membeli beberapa sendal jepit. Jalanan tidak begitu penuh saat hari libur.
“Ya,” Hessa menjawab, memainkan jarinya di pangkuannya. Hessa mencoba menebak arah pembicaraan Afnan.
“Kamu tahu juga, kan, alasanku meminta Mama untuk ngenalin aku sama kamu?” Afnan bertanya lagi.
“Apa alasannya?” Hessa pura-pura bodoh.
“Aku mencari istri.”
Hessa hampir tersedak ludahnya sendiri. Afnan terlalu terus terang. Hessa tidak mengantisipasi akan terseret ke dalam percakapan semacam ini di pertemuan pertama mereka. Yang minggu lalu tidak dihitung karena mereka tidak bicara satu sama lain.
“Oh, terus?” Hessa masih pura-pura tidak mengerti.
“Apa kamu mau mempertimbangkan?” Kali ini Afnan
menoleh ke arah Hessa.
“Mempertimbangkan apa?” Hessa mengerutkan keningnya.
“Kamu menikah denganku.” Afnan memperjelas maksudnya.
“Yang bener aja, dong.” Hessa tertawa hambar.
“Kita baru ketemu satu kali. Apa menurutmu nggak terlalu cepat?” Hessa tidak setuju.
“Kamu mau kita ketemu berapa kali dulu, Hessa? Aku kan nggak tinggal di sini. Hanya pulang setahun sekali. Itu terlalu lama.”
“Yah ... paling nggak kita saling mengenal dulu, lalu ... mungkin jatuh cinta, baru menikah. ” Hessa tidak bisa menerima cara pandang Afnan terhadap jalan menuju pernikahan. Afnan minta instan. Kadang-kadang yang instant tidak baik.
“Nggak ada bedanya. Kita hanya membalik prosesnya. Orang-orang saling mengenal lalu jatuh cinta dan menikah. Kita menikah, saling mengenal, jatuh cinta.” Afnan memberi alasan.
Hessa menunduk, belum bisa memutuskan apa-apa.
“Kenapa kamu sampai minta dicarikan istri sama mama-mu, sih? Kamu nggak laku, ya?” Hessa menyandarkan kepalanya ke belakang, memperhatikan kaca mobil yang mulai basah oleh rintik hujan.
“Ya. Karena di sana nggak terlalu banyak kesempatan untuk menemukan potential brides.” Afnan tidak membantah.
“Apa ada yang kamu rahasiakan?” Hessa memicingkan matanya.
“Rahasia apa?”
“Mungkin orientasi seksualmu dan orangtuamu nggak setuju dengan itu jadi. ”
“Aku masih bisa ‘berdiri’ kalau melihat wanita telanjang sekarang.” Jawaban Afnan membuat Hessa merasa pipinya panas, membahas telanjang dengannya?
“Atau ... mmm ... something ... below normal?” Hessa memberanikan dirinya bertanya.
“Maksudmu sperma? Kalau kamu ragu-ragu, besok kita ke rumah sakit dan bisa lihat. ”
“STOP!” Astaga! Hessa tidak percaya Afnan menjelaskan apa adanya seperti itu. Tidak ada lembaga sensor di mulutnya. Harusnya dipasang sistem rating di mulut laki-laki itu. Biar bisa tersaring kata-kata yang keluar darinya.
“Ya ampun, Hessa!” Afnan tertawa keras.
“Kamu diajak menikah yang kamu pertimbangkan hanya itu? Harusnya kamu khawatir tentang kesejahteraan kamu, atau apa laki-laki yang mengajakmu menikah itu psycho. Kamu mikirin sperma?” Afnan masih tertawa.
“Habis ... kamu kan eksternalnya oke banget! Masa iya kamu nggak punya pacar? Pasti ada yang nggak beres kan di dalamnya?” Hessa tidak terima ditertawakan Afnan.
“Jadi kalau aku oke luar dan dalam, apa aku pantas buat jadi suami kamu?” Afnan sudah kembali serius.
“Aku sudah bilang sebaiknya kita saling mengenal.”
“Aku setuju. Kita saling mengenal setelah menikah. Aku berangkat hari Selasa besok. Setelah itu mungkin kita akan sulit untuk saling mengenal. Perbedaan waktu dan ... aku jarang pulang ke sini. Kalau kita menikah, kita setiap hari ketemu. Akan lebih mudah.”
“Kalau menikah denganmu ... apa harus tinggal di sana?” Hessa ragu-ragu dengan satu kenyataan ini.
“Aku kerja di sana. Nggak mungkin untuk pindah ke sini.”
“Tapi ... aku kerjanya di sini.” Hessa menyahut dalam hati.
“Dengar, Hessa! Aku nggak bisa menjanjikan kehidupan sempurna seperti di film-film itu. Aku bukan orang kaya, tapi aku akan membuat kamu bahagia. Rumahku mungkin nggak senyaman rumahmu, kehidupan yang kutawarkan padamu mungkin nggak sebaik yang diberikan orangtuamu. Tapi aku akan berusaha membuatnya hampir mendekati itu.”
“Ini terlalu tiba-tiba, Afnan. Kepalaku sampai nggak bisa kupakai untuk berpikir.” Hessa memukul kepalanya sendiri.
Mobil Afnan berhenti di depan rumah Hessa.
“Nggak papa. Kamu pikirin dulu. Aku nggak memaksa dan kamu berhak menolak. Kamu berhak mempertimbangkan orang lain juga.”
“Berapa lama aku boleh berpikir?” Hessa tidak tahu dia harus berdiskusi dengan siapa. Mamanya pasti setuju.
“Terserah kamu.”
“Kalau sampai tahun depan?”
“Aku tunggu.”
“Kalau setahun harusnya kamu nyari calon istri lain lah.” Hessa heran dengan Afnan ini.
“Berarti kamu nggak akan tega membiarkan aku menunggu selama itu, kan?”
“Kalau jawabanku nanti adalah tidak?” Hessa memikirkan kemungkinan ini.”
“Nggak papa. Semoga kamu menemukan orang yang lebih baik dariku dan membuatmu bahagia. Mungkin orang yang kamu cintai.”
“Oke.” Hessa lega Afnan tidak memaksakan keinginannya.
“Aku hanya mikir ... mungkin aku dan kamu bisa hidup bersama dan bahagia. Menjadi orangtua, mencintai anak-anak kita. Kehidupan pernikahan seperti itu yang kuinginkan.”
Afnan tidak punya waktu untuk membuat mereka jatuh cinta dalam waktu dekat. Dia tidak bisa membawa Hessa ke sana kalau tidak menikahinya. Sedangkan Afnan tidak mungkin hidup di sini. Satu-satunya jalan adalah menikah dan membawa Hessa bersamanya ke sana. Hidup bersama. Saling mengenal seperti yang diinginkan Hessa.
“Aku ... turun dulu ya?” Hessa membuka pintu mobil.
Afnan ikut turun dan mengambilkan koper Hessa. Afnan memandang punggung Hessa yang menjauh darinya. Mengajak kencan, menyatakan cinta, melamar. Orang-orang normal melakukan dengan urutan benar seperti itu. Tapi Afnan membalik prosesnya. Mungkin Hessa sekarang mengaggapnya tidak waras, orang yang terburu-buru, dan terkesan memaksa untuk menikah dengannya. Itu saja sudah cukup menjadi alasan bagi Hessa untuk tidak menerima lamarannya.
Afnan membawa mobilnya meninggalkan rumah Hessa. Mungkin ini terakhir kalinya mereka bertemu. Kencan pertama itu dikatakan sempurna jika ada tanda-tanda yang mengindikasikan adanya kencan selanjutnya. Afnan sepertinya tidak akan mendapatkan kencan kedua dari Hessa. Tidak akan pernah. Afnan menyiapkan dirinya untuk memikirkan cara lain untuk mencari istri.