My Bittersweet Marriage

My Bittersweet Marriage
Episode 10



Ini adalah jalan hidup yang sudah dipilihnya. Perjalanan yang memerlukan kerja sama, pengorbanan, kesabaran, dan kesetiaan.



Hessa terbangun dengan perasaan berbeda hari ini. Tadi malam tidak semengerikan yang dia duga. Tentu saja dia malu setengah mati saat dia akhirnya membuka baju di depan Afnan dan membiarkan Afnan menyentuhnya. Afnan memandanginya dengan tatapan memuja. Hessa belum pernah merasakan dikagumi orang lain sebelum ini. Perasaan dikagumi, walaupun tidak mengurangi rasa malunya, itu menyenangkan. Sekarang dia merasa lebih dekat—sexually and physically—lagi dengan Afnan.



“Apa kita jadi pergi besok?” Hessa bertanya sambil setengah melamun. Hessa duduk di samping Afnan di mobil, kembali ke rumah Hessa setelah menginap di rumah orangtua Afnan.



“Iya.”



“Nggak bisa diundur sehari aja?”



“Hessa! Kita udah ngomongin ini berkali-kali. Kita akan berangkat hari Sabtu dan nggak akan berubah.”



“Aku masih belum puas di sini.”



“Mau diundur berapa kali juga kamu nggak akan puas. Aku punya tanggung jawab di sana. Kamu tinggal berangkat aja. Nggak perlu cari tempat tinggal di sana. Nggak perlu takut kehabisan uang. Ada aku di sana. Apalagi sih masalahnya?”



“Kenapa kamu nggak bisa tinggal di sini? Seperti Mikkel.



Lilian bilang ”



“Aku nggak bisa. Aku udah kasih tahu kamu tentang pekerjaanku dan aku nggak mungkin pindah. Apa kamu mengharapkan aku seperti Mikkel?” Afnan sedikit kesal karena Hessa seperti tidak mau menjalani semua ini.



“Nggak, hanya saja. ”



“Kamu ingin laki-laki yang mau berkorban seperti Mikkel itu yang jadi suami kamu? Aku nggak akan menjalani hidupku seperti Mikkel. Jangan pernah membanding-bandingkan aku dengan Mikkel! Aku tahu apa yang baik untukku, untuk kamu, dan untuk keluarga kita. Kalau kamu merasa pernikahan ini nggak seperti yang kamu inginkan, kamu belum terlambat untuk membuat keputusan dan tetap tinggal di sini. Mungkin mencari suami seperti Mikkel.”



“Kok kamu ngomong gitu sih, Afnan?” Hessa membuka pintu mobil dengan jengkel, berjalan cepat masuk rumah.



“Lalu apa lagi? Kita sudah membicarakan ini sejak aku melamarmu. Aku sudah bilang kalau aku akan hidup di Aarhus dan istriku harus mau. Kamu mau menikah denganku dan aku menyimpulkan kamu mau tinggal denganku di sana.” Afnan berusaha menahan suaranya saat mereka berdua sudah di dalam kamar Hessa.



“Itu kan hal yang bisa didiskusikan.”




“Pilihanmu hanya ada dua, Hessa. Kamu, terserah, mau tinggal di sini dan aku nggak tahu akan seperti apa pernikahan kita. Atau kamu ikut denganku ke sana dan menjalani pernikahan ini dengan normal. Apa kamu pikir di sana aku akan menelantarkanmu? Nggak akan ada bedanya di sini dan di sana. Caraku memperlakukanmu akan tetap sama. Aku akan tetap menyayangimu seperti biasanya.”



“Aku bukan nggak mau ikut. Tapi aku masih ingin di sini, sebentar aja. Dua atau tiga hari.”



“Aku udah nggak punya argumen lagi. Aku tetap berangkat hari Sabtu. Pikirkan dua pilihan itu.” Afnan masuk ke kamar mandi, mencegah mulutnya mengatakan hal-hal yang akan menyakiti Hessa.



Afnan tidak mengerti apa susahnya pindah ke sana, tinggal pindah saja. Hessa tidak harus menderita seperti Afnan dulu. Yang harus mencari tempat tinggal, mencari pekerjaan. Afnan melakukannya sendiri, saat umurnya masih belasan. Wanita itu sendiri yang mengiyakan permintaan Afnan untuk menikah. Afnan tidak memohon-mohon, tidak membujuknya. Sekarang wanita itu tidak mau diajak pindah ke Aarhus?



Afnan kecewa dan dia tidak suka dengan perasaan ini. Dia sudah memberi waktu kepada Hessa selama dua minggu dan istrinya itu masih saja menawar. Kalau memang dia tidak mau ikut, itu urusannya sendiri.



Sialan! Apa dia pikir dengan menjebak Afnan dalam pernikahan, lalu Afnan akan menuruti semua permintaannya? Untuk hal lain mungkin Afnan akan mau mengalah pada wanita itu. Tapi tidak untuk yang satu ini.



***



Hessa duduk di lantai kamarnya, kembali menguatkan hatinya. Ini adalah jalan hidup yang sudah dipilihnya. Perjalanan yang harus dilaluinya bersama Afnan. Perjalanan yang memerlukan kerja sama, pengorbanan, kesabaran, dan kesetiaan. Hessa berharap pernikahannya dengan Afnan akan semakin kuat dalam perjalanan mereka ini.



Hessa mengunci kopernya—koper hadiah perkenalan dari Afnan dulu—setelah memastikan semua bawaannya sudah masuk.



“Kamu udah mandi?” Afnan masuk ke kamar dan menutup pintu.



“Belum.” Hessa berdiri.



Afnan memeriksa jam di HP-nya.



“Kamu mandi dan siap-siap. Biar nggak kemalaman berangkat ke bandara.”



Hessa mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Hessa menyalakan shower dan membiarkan air dingin mengguyur kepalanya. Hari ini berkali-kali dia mencoba menghibur dirinya. Banyak orang harus meninggalkan rumah untuk kuliah atau bekerja. Bisa ke luar kota atau ke luar pulau. Banyak juga yang ke luar negeri. Kalau mereka bisa, mengapa dia tidak bisa?