
Dia tidak suka menjadi minoritas. Secara fisik, dia terlihat berbeda di antara orang-orang sini. Sekarang masalah bahasa dan budaya. Setelah hidup seenak jidatnya di negara sendiri, sekarang dia harus hati-hati agar tidak menyinggung orang lain. Karena di sini dia hanya numpang.
Hessa terbangun saat alarm digital milik Afnan berbunyi nyaring. Hessa duduk dan mengamati sekelilingnya. Bingung. Rasanya masih seperti mimpi. Dia ada di rumahnya. Ini adalah rumahnya. Dia harus menganggap ini rumahnya selama sisa hidupnya.
Baginya, gambaran berada di rumah sendiri itu seperti ini: tengah malam terbangun dan ingin pipis, lalu bangun dari tempat tidur tanpa perlu menyalakan lampu, berjalan dengan nyawa yang baru setengah terkumpul ke kamar mandi tapi tidak menabrak apa pun sepanjang jalan. Menyelesaikan urusan di kamar mandi, lalu kembali berjalan ke kamar dengan selamat, naik ke tempat tidur, dan tidur lagi dengan nyenyak.
Hessa belum merasakan itu, otaknya masih harus membuka peta tak kasatmata dan mencari di mana letak kamar mandinya, di mana dapur, dan di mana air minum, harus menyalakan lampu dan kadang harus meraba dinding karena tidak ingat di mana sakelar lampunya. Hal kecil seperti ini membuatnya ingin merosot ke lantai, dia menangis merindukan rumahnya yang dulu.
Hessa mengganti bajunya lalu membangunkan Afnan. Afnan tidak sulit untuk diatur di pagi hari. Hessa berjalan ke dapur dan meninggalkan Afnan untuk siap-siap. Hal asing lain, dia masih kesulitan dan perlu waktu untuk mengingat letak benda-benda yang sedang diperlukannya. Di mana gunting, di mana pembuka tutup botol, di mana gunting kuku, semua masih asing baginya.
“Berani kan, sendiri?” Afnan menyusul dan duduk di dapur, langsung minum jus jeruk yamg sudah disiapkan Hessa di meja.
“Berani.” Hessa menemani Afnan makan sebelum berangkat kerja, seperti biasanya.
“Ini aku pasang di HP kamu, kamu tinggal pakai petunjuk ini aja.” Afnan memegang HP Hessa.
“Vesterbro halal, bukanya jam setengah sepuluh pagi,” Afnan memberi tahu. Afnan meminta Hessa untuk belanja daging di sana. Masih di Aarhus Centrum, tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
“Bahan makanan lain, ada di Asian grocer di Banegårdsgade, kamu ke situ dulu aja baru ke Vesterbro. Harga yang ditempel atau yang dikasih tau tukang dagangnya itu udah termasuk pajak,” Afnan menjelaskan.
“Aku naik sepeda ke sana?” Hessa bertanya.
“Iya. Dekat, kok. Kamu nggak akan capek. Mau, kan?”
“Iya. Nggak papa.”
“Kalau aku nggak tahu bahasa sini lagi?” Hessa sedikit khawatir.
“Kan tadi malam udah diajarin.”
Semalaman Hessa berlatih mengucapkan satu kalimat, “Jeg taler ikke dansk. Yai tai-ler igge dansk. I don‘t speak Danish.” Hessa kesulitan mengucapkan satu kata dalam bahasa yang katanya termasuk paling sulit di dunia itu. Banyak huruf yang tidak diucapkan, diucapkan dengan menggetarkan tenggorokan, dan sulit diucapkan. Hanya mendengar Afnan mengucapkan satu atau dua kata dalam bahasa Denmark saja sudah membuat Hessa sakit kepala. Bahasa yang sungguh tidak manusiawi.
“Nggak masalah. Di sini banyak tinggal mahasiswa dari seluruh dunia. Orang-orang di toko akan tahu kalau kamu bukan orang sini.” Afnan mencoba menenangkan Hessa. Dia jadi ingat saat kuliah dulu—sekarang sudah jarang—biasa mem-bully teman-temannya yang kesusahan bicara dalam bahasa Denmark. Baginya dan orang-orang sini, bahasa adalah salah satu cara penting untuk mengecap dan mendiskriminasi orang, Danish atau non-Danish.
Kalau Hessa tertawa saat nonton TV karena ada orang asing yang berbicara bahasa Indonesia dengan aksen dan susunan kalimat yang tidak normal, seperti itulah yang akan dilakukan orang-orang di sini saat mendengar Hessa mencoba mengatakan satu kalimat dalam bahasa mereka. Mereka memandangnya aneh dan menggelikan.
“Aku berangkat, ya!” Afnan sudah selesai dengan sarapannya.
“Mumpung udara belum terlalu dingin, kamu bisa jalan-jalan.” Afnan berjalan menuju pintu.
Hessa dan Afnan jelas berbeda. Fisik Afnan seperti kebanyakan orang sini. Berkulit putih dan bermata biru. Bapaknya Afnan orang sini. He is half Danish. Itu berarti secara hukum yang berlaku di sini, Afnan adalah warga negara dan memiliki hak-hak yang sama dengan semua orang yang lahir di sini. Afnan memegang paspor Denmark. Dan untuk menambah sempurna, dia tidak ada masalah dengan bahasa Denmark.
Afnan mencium Hessa sebelum keluar dan menutup pintu. Setelah datang ke sini, Afnan kembali bekerja dan Hessa tinggal di rumah. Kehidupan seperti ini yang dijalaninya sekarang. Hessa membuka tirai. Saat ini di Indonesia sudah lewat tengah hari, di sini Hessa belum juga memulai hari. Kalau Hessa masih bekerja, jam segini dia sedang bergosip dengan Andini di toilet.
Hessa mengambil foto dari teras flat kecilnya, teras yang sempit sekali dengan pagar besi pembatas berwarna putih. Hessa mengamati hasil fotonya. Bangunan bertingkat, lebih rendah dari gedung ini dengan dinding berwarna kuning, atap merah bata, dan jendela putih. Bangunan tinggi berdinding abu-abu, mungkin gedung apartemen juga. Bangunan tinggi beratap runcing yang juga sangat tinggi. Afnan bilang itu bangunan dari Aarhus Cathedral. Ada jam dinding besar terlihat di sana, dari menara balai kota. Pohon-pohon tinggi di kejauhan. Sejauh mata memandang, atap-atap bangunan berwarna merah bata dan cokelat tua mendominasi di bawah langit biru. Sekarang Hessa tinggal di bagian timur Semenanjung Jutland. Hessa mengirim foto itu kepada orangtuanya, adiknya, dan Andini.
Hessa masuk ke dalam flat dan mengganti bajunya. Tugasnya sebagai istri masih baru dimulai.
***
Hessa mengeluarkan sepedanya. Afnan membelikan sepeda berwarna kuning, alasan Afnan, “Biar sama kaya sepedaku.”
Hessa tiba di minggu pertama bulan Oktober. Kedatangannya disambut musim gugur Aarhus yang dingin dan berangin. Wajahnya langsung terasa kebas diterpa angin dingin begitu keluar dari gedung flatnya. Hessa memakai winter outfit di musim gugur begini. Selama 27 tahun hidup di bawah garis khatulistiwa, tubuhnya belum terbiasa dengan perubahan suhu di sini. Hessa sempat memeriksa di HP-nya, suhu udara pagi ini 7,7 derajat Celcius.
Hessa berhenti sebentar untuk mengikat rambutnya. Dia berpapasan dengan tukang pos bersepeda di depan gedung flatnya. Hessa mengayuh sepedanya pelan dan terkaget-kaget saat tukang pos yang tadi melewatinya. Cepat sekali. Hanya sekelebat warna merah di bagian belakang sepedanya yang terlihat.
“Tukang pos Denmark lulusan akademi ninja.” Hessa menduga dalam hati.
Hessa berhenti sebentar saat melihat ada truk kontainer loading barang di sebuah bangunan. Hessa tidak tahu itu apa. Tapi nama kontainernya sama dengan di Indonesia. Mærsk.
Hessa hanya baru menyadari bahwa itu miliknya orang Denmark, menyadari dari huruf æ yang digunakan. Hessa memasukkan HP-nya lagi setelah memotret kontainer Mærsk berwarna biru muda. Menemukan sesuatu yang sama dengan negara asalnya membuatnya sedikit senang.
Hessa mengikuti petunjuk di telinganya untuk menuju ke Banegårdsgade sambil mengamati sekelilingnya. Polisi juga naik sepeda. Ada laki-laki naik sepeda dengan gerobak di depannya. Sepeda serbaguna. Hessa menghela napas, mencoba menghibur dirinya. Inilah kehidupan barunya. Inilah Aarhus, rumah barunya. Kota terbesar kedua di negara ini. Rumah untuk banyak mahasiswa—yang datang dari berbagai belahan dunia—dari universitas terbesar di Skandinavia, Aarhus University. Banyak perusahaan besar yang bergerak di bidang bioteknologi dan berhubungan dengan pengobatan berkantor pusat di sini. Surga bagi para pecinta ilmu pengetahuan seperti Afnan dan lainnya. Tapi seperti neraka bagi Hessa.