
Tuhan menciptakan pasangan untuk setiap manusia. Sekeras apa pun manusia menolak, kalau memang sudah ditakdirkan untuk bersama, pasangan itu akan bertemu. Juga sebaliknya. Sebesar apa pun manusia berusaha bersama dengan orang yang diinginkannya, kalau memang tidak ditakdirkan, mereka tidak akan bersatu.
“Hessa! Cepet berangkat! Ditungguin Kana lho,” mamanya memanggilnya dari bawah. Hessa melihat jam di laptopnya, Hessa menyimpan daftar tamu undangannya—Hessa menggunakan Google Docs—lalu mengirim WhatsApp untuk Afnan memberi tahu untuk segera mengisi nama-nama tamu yang ingin diundang. Ini harus dialokasikan dengan benar karena mereka memutuskan akan punya tamu seratus sampai seratus lima puluh orang saja.
Hari ini Hessa akan membereskan salah satu komponen penting untuk pesta pernikahan mereka. Perfect dress. Sekalian akan mencari tukang rias. Ini akan menjadi hari yang panjang lagi. Hessa masuk ke taksi dan minta untuk cepat diantar ke tukang jahitnya. Mamanya Afnan akan ada di sana. Perkara baju ini menjadi lucu lagi, karena Afnan tidak ada untuk diukur, kakaknya yang akan menggantikan. Hesa meragukan ketepatan ukurannya, tapi Afnan bilang pasti sama.
“Maaf, Tante, Hessa telat.” Hessa menerobos masuk saat melihat Kana sudah ada di sana.
“Tante baru sampe, kok. Kita tunggu Mikkel ya, biar sekalian.” Kana tersenyum melihat Hessa datang dengan napas memburu.
Hessa mengangguk dan ikut duduk di sofa, menarik napas dalam-dalam.
“Afnan sudah setuju dengan model baju kalian?”
“Afnan bilang terserah saja.” Hessa memberi tahu. Memang Afnan bilang seperti itu saat Hessa menunjukkan baju yang akan mereka pakai.
“Dasar anak itu! Memangnya dia pikir dia menikah di hutan apa. Apa-apa kok terserah.”
Hessa ingin tertawa mendengar mamanya Afnan mengeluh. Siapa juga yang tidak jengkel kalau calon pengantin laki-lakinya hanya ongkang-ongkang kaki, orang lain yang repot.
“Ah, itu Mikkel datang!” Kana berseru dengan riang.
Hessa mengamati laki-laki yang mendorong pintu kaca,
berjalan bersama seorang wanita seumuran Hessa. Kalau mamanya Afnan tidak memberi tahu kalau laki-laki itu adalah Mikkel, Hessa pasti mengira itu Afnan. Afnan tidak pernah bilang kalau dia kembar. Hanya bilang kakakku, kakakku, kakakku, dan Mikkel, Mikkel, Mikkel.
“Ini Hessa. Calon istrinya Afnan. Hessa, ini Mikkel, kembarannya Afnan. Dan istrinya, Lilian.” Kana memperkenalkan mereka bertiga. Hessa bersalaman dengan Mikkel dan Lilian memeluknya.
“Wow! Afnan bisa juga ya.” Mikkel mengamati Hessa.
“Mikkel! Yang sopan!” Kana mendesis.
“Gimana baju pengantinku, Ma?” Mikkel mengamati sekelilingnya. Seorang wanita datang dan bersiap untuk mengukur badan Mikkel.
“Begini ya rasanya mau menikahi istri kedua.” Mikkel tertawa, langsung digaplok mamanya.
Hessa bengong melihat sikap Mikkel yang sangat berbeda dengan Afnan. Mikkel jauh lebih santai.
“Coba, ya! Kalau Afnan sampai minta diwakili juga saat menikah, aku dengan senang hati melakukannya, Hessa.” Mikkel mengedipkan matanya pada Hessa.
“Mati aja kamu habis ini!” Lilian yang duduk di sebelah Hessa memperingatkan Mikkel sambil tertawa.
Kalau Afnan itu manly, Mikkel itu boyish. Afnan jadi terlihat sangat dewasa bagi Hessa setelah melihat Mikkel hari ini.
“Mau ngapain kamu?” Lilian bertanya saat Mikkel mengeluarkan HP dari sakunya.
“Moto istri-istriku yang lagi akur.”
“Mikkel! Astaga! Kalau Afnan denger, kamu bisa mati kehabisan napas. Dan Mama nggak akan nolong kamu.” Kana memperingatkan. Mikkel tertawa keras.
“Dulu saat remaja dia pernah ambil mainan Gundam Afnan nggak pakai bilang dulu. Dia dicekek sama Afnan.” Kana memberi tahu Hessa dan Lilian.
“Gundam aja sampai mau bunuh-bunuhan, ini calon istrinya kamu becandain. Dilempar ke neraka kamu sama Afnan.” Mereka semua tertawa mendengar komentar Kana.
“Setelah ini masih ada yang mau diurus, Hessa?” Lilian bertanya pada Hessa.
Hessa menggeleng, “Aku mau keliling-keliling aja di sekitar sini.”
“Aku ikut, dong!”
“Ya ... ayo aja!” Hessa dengan senang hati mengizinkan.
Untuk orang yang awalnya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan ini, malah Hessa yang lebih banyak mengurusi daripada Afnan. Sedikit melelahkan, tapi mau bagaimana lagi. Ini sesuatu hal yang tidak bisa diulangi, jadi mengapa tidak melakukan dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk adu bagus-bagusan dengan pesta-pesta lain atau membuat kagum tamu undangan. Ini demi mereka berdua. Hessa ingin memastikan hari itu adalah miliknya dan Afnan. Dia dan Afnan akan mengingat hari itu selamanya, hari di mana mereka berdua, yang awalnya hanya orang asing yang tidak saling mengenal, akan menjadi satu.
Seperti yang dibilang Afnan, “Kita akan berteman dan saling mengenal, lalu siapa tahu kita akan saling mencintai.”
***
Semakin hari Hessa semakin takut menghadapi hari pernikahannya. Takut. Gugup. Khawatir. Hessa masih tidak yakin apakah menjawab lamaran Afnan adalah sesuatu yang memang seharusnya dilakukannya. Rasanya Hessa ingin sekali mengatakan kepada mamanya bahwa dia ingin menunda pernikahan ini sampai tahun depan, sampai semua keragu-raguannya hilang. Hessa susah tidur, susah makan, dan merasa mual karena semua ini membuatnya tertekan. Kepalanya dipenuhi pikiran bahwa mungkin pernikahannya dengan Afnan tidak akan berhasil, hari pernikahannya akan berubah jadi bencana, dan mungkin menikah dengan Afnan adalah sebuah kesalahan. Menikah dengan orang yang belum lama dikenal, dia dan Afnan baru bertemu dua kali, seperti sebuah kencan buta. Kencan buta yang berlangsung seumur hidup. Dia hanya berkomunikasi dengan Afnan lewat video call, yang sudah tidak mereka lakukan lagi dua minggu terakhir ini. Kadang-kadang Hessa kesal karena Afnan sedikit tidak konsentrasi kalau mereka sedang bicara. Ada saja yang mengganggu Afnan, suara HP-nya, e-mail yang harus dibaca dan macam-macam. Padahal Hessa harus menunggu sampai Afnan pulang kerja di sana, berarti jam 10 atau 11 malam di sini.
“Aku tuh pusing, Afnan. Sebentar lagi menikah, sebentar lagi aku nggak kerja, asal kamu tau aku suka pekerjaanku, sebentar lagi aku pindah dari sini. Aku membiasakan diri mengajak kamu ngobrol panjang-panjang ... kupikir biar kita terbiasa. Agar aku juga percaya bahwa ada harapan untuk kita. Apa kamu pikir aku nggak takut, menikah sama kamu yang belum juga kukenal baik, ikut sama kamu pergi jauh ke tempat yang aku nggak tahu?”
“Aku dari tadi nggak tidur, nungguin jam segini buat telepon kamu. Biar nggak ganggu kamu kerja. Akhirnya cuma dibikin kesel sama kamu. Aku kan punya perasaan juga, Afnan. Apalagi makin dekat hari pernikahan, makin stres. Kamu menikah sama biksu aja sana, yang stok sabarnya nggak abis-abis.”
“Kamu harus ngerti. Ini semua bukan cuma tentang kepentingan kamu. Tapi aku juga. Kamu cuma pengen punya istri, setelah itu apa semua selesai? Kan, enggak. Kita akan hidup bersama, dalam satu rumah. Apa aku salah kalau aku coba berkomunikasi sama kamu? Setidaknya kita bisa berteman, kan, Afnan? Kaya yang kamu bilang?”
Pembicaraan terakhirnya dengan Afnan, Hessa melepaskan semua hal yang mengganggunya selama ini. Afnan memang minta maaf tapi Hessa masih malas bicara dengannya.
***
Hessa menatap cermin di depannya untuk memastikan penampilannya baik tanpa cela. Hari ini akan jadi pertemuan ketiganya dengan Afnan. Sebelum naik pesawat ke sini, Afnan meminta Hessa untuk menjemputnya di bandara. Dengan mata mengantuk, terpaksa Hessa menyetir mobil papanya jauh-jauh ke bandara. Sejak tidak bekerja lagi, jam tidurnya jadi molor sampai jam delapan atau jam sembilan. Sebagian
penyebabnya adalah sindrom susah tidur mendekati hari pernikahannya. Yang semakin membuat mamanya marah-marah sepanjang hari karena kebiasaan buruk Hessa ini. Tentang tidak baik wanita bangun siang, seharusnya segera bangun subuh, dan masih banyak lagi. Hessa hanya menuruti saran Afnan, menikmati kebebasannya sebelum tidak bisa lagi. Nanti, hari Sabtu, adalah awal mula Hessa akan kehilangan kebebasannya. Dia akan mulai hidup dengan jabatan dan tanggung jawab baru. Sebagai seorang istri.
Hessa berdiri menunggu Afnan dengan tidak sabar. HP Afnan sudah tidak bisa dihubungi sejak dia memberi tahu akan masuk ke pesawat.
Hari pernikahannya kurang tiga hari lagi. Setelah persiapan yang menyita waktu, emosi, tenaga, dan uang, mereka akan berpesta selama setengah hari. Minggu-minggu terakhir ini benar-benar menyebalkan. Semua orang di rumahnya meributkan persiapan pestanya. Sama sekali tidak memikirkan perasaan Hessa.
Afnan muncul di pintu kedatangan membawa koper superbesar, Hessa mungkin bisa masuk ke dalamnya dan tidak usah bayar tiket. Cukup masuk bagasi.
Hessa tidak tahu harus mengatakan apa pada Afnan saat laki-laki itu langsung menuju ke arahnya. Pertemuan kedua mereka dulu memang cukup natural, tidak dibuat-buat. Tapi saat itu dia dan Afnan adalah dua orang asing, tanpa status apa-apa. Sekarang status mereka berubah. Tunangan. Calon suami. Calon istri. Apa yang dilakukan sepasang kekasih saat bertemu lagi setelah long distance relationship selama tiga bulan? Kalau di film, kita bisa melihat orang berciuman di terminal kedatangan bandara atau peron stasiun. Tapi dia dan Afnan jelas bukan sepasang kekasih. Mereka hanya dua orang yang sepakat untuk menikah. Mereka akan menikah karena sama-sama takut mereka akan semakin tua dan tetap jomlo.
Jadi yang didapat Hessa adalah Afnan berjalan menuju ke arahnya sambil tersenyum—yang masih saja membuatnya ingin pingsan.
“Ayo!” Afnan bergerak meninggalkan terminal kedatangan.
Hessa mengamati punggung Afnan. Pasangan untuk tiap-tiap manusia sudah dituliskan jauh sebelum manusia dilahirkan. Tuhan menciptakan pasangan untuk setiap manusia. Sekeras apa pun manusia menolak, kalau memang sudah ditakdirkan pasangan itu akan bertemu. Juga sebaliknya. Sebesar apa pun manusia berusaha bersama dengan orang yang diinginkannya, kalau memang tidak ditakdirkan, pasangan itu tidak akan bersatu. Apa itu teori yang hanya dilihatnya di Pride and Prejudice atau When Harry Met Sally? Hessa bertanya dalam hati. Untuknya, untuk mereka berdua, Hessa tidak tahu apakah mereka ini sedang mengikuti skenario Tuhan atau tidak. Pernikahan ini diputuskan oleh mereka sendiri berdasarkan alasan-alasan logis hasil pemikiran mereka sendiri.
Menikah dengan orang yang dicintai atau menikah karena dijodohkan, judulnya akan sama-sama menikah. Akan sama-sama berakhir menjadi suami istri. Akan sama-sama menghadapi masalah dalam pernikahan nantinya. Hessa menarik napas panjang. Untuknya, ini dimulai dari sini.
“Afnan!” Hessa memanggil Afnan yang sudah agak jauh meninggalkan Hessa yang masih berdiri di tempatnya semula.
“Ya?” Afnan berhenti dan menoleh ke belakang.
Hessa mengulurkan tangan kanannya. Afnan berpikir sebentar, lalu berjalan lagi ke tempat Hessa berdiri.
“Ayo!” Afnan menggandeng tangan kanan Hessa. Hessa melangkah bersama Afnan dalam diam, sambil mengamati tangan Afnan yang menggenggam tangannya. Bukankah orang terbiasa dengan bergandengan tangan semacam ini sejak masih kanak-kanak? Orangtua atau orang dewasa menggandeng tangan kecil kita saat berjalan. Untuk meyakinkan kita bahwa kita tidak sendirian dan ada orang dewasa yang akan membantu kita saat kita dalam kesulitan. Saat ini Hessa ingin kembali merasakan itu, saat dia sedang berjalan menuju kehidupan yang belum terbayangkan olehnya. Bahwa Hessa tidak sendirian dan ada Afnan yang menguatkannya saat mereka dalam kesulitan.
“Bawa apa itu? Kulkas?” Hessa mengamati Afnan yang memasukkan koper super besarnya ke bagasi.
“Buat siap-siap. Kalau bawaan kamu banyak nanti.”
“Kamu tau aja. Aku mau bawa kecap sama bubuk cabe.”
Hessa tertawa. Hessa ingin menyelundupkan makanan-makanan yang tidak ada di sana. Kalau bisa Hessa malah ingin bawa tempe. Juga durian dan mangga. Tapi membawa makanan kering sepertinya lebih baik, ringan dan tidak bau.
“Sama aja kamu kaya Lily dulu waktu pindah.” Afnan menggantikan Hessa menyetir mobil, walaupun kepalanya pusing sekali. Hessa tentu sudah lelah menyetir saat berangkat ke sini tadi.
“Aku pengen bawa seluruh isi kamarku.” Hessa nyengir ke arah Afnan.
“Kasurnya juga mau dibawa?”
“Biar di sana berasa di rumah.” Hessa menjawab dengan lesu. Dia takut sekali kalau nantinya tidak kerasan di sana.
“Rumahku akan jadi rumahmu juga. Rumah kita. Tapi sementara kita di flat dulu, ya? Aku mau beli rumah di deket hutan atau pantai di sana, tapi adanya kecil bener, perlu direnovasi. Masih aku hitung biayanya.”
“Kenapa nggak tinggal di flat terus?” Hessa belum pernah tinggal di tempat yang tidak langsung menjejak tanah.
“Nggak nyaman nanti, anak-anak nggak bisa berlarian di sana. Kurang lapang. Apa kamu nggak suka kita punya rumah baru?”
Afnan melirik Hessa yang diam di sampingnya, membayangkan hal itu sudah semakin dekat dan nyata. Hessa akan menjadi ibu yang luar biasa. Membayangkan suatu hari nanti dia akan punya anak dengan Hessa, membuatnya ingin tersenyum bahagia. Menjadi ayah yang luar biasa, seperti papanya yang menurutnya luar biasa, adalah tujuan hidupnya.
“Suka.” Tapi rumah baru di sini, Hessa menambahkan dalam hati.
“Emangnya kamu mau punya anak berapa?” Hessa belum membahas anak-anak ini dengan Afnan. Kecuali masalah penundaan anak yang dulu mereka bicarakan, saat mereka membahas pernikahan setelah Hessa menerima lamaran Afnan. Setahun pertama nanti mereka masih menunda punya anak. Mereka akan ada waktu untuk merencanakannya.
“Aku nggak menargetkan. Kalau kita sudah punya satu anak, lalu kita masih mampu lagi, ya lagi. Kalau dua masih mampu lagi ... dan seterusnya. ”
“Maksudnya mampu itu apa?” Hessa bertanya sambil tertawa.
“Ya mampu, secara finansial. Juga tenaga kita, waktu kita, perhatian kita. ”
Hessa diam dan melemparkan pandangannya ke luar jendela.
“Kita ke mana ini?” Hessa mengamati jalanan di samping kanannya.
“Ke rumahku.”
Ini akan menjadi pertama kalinya juga Hessa datang ke rumah Afnan. Atau rumah mertuanya. Rumah Afnan di Aarhus. Sebentar lagi Hessa juga, kalau ada yang tanya rumahnya di mana, dia akan menjawab di Aarhus. Apakah terdengar cukup keren? Tapi dia lebih suka punya rumah di sini.
“Ayo!” Afnan mengajaknya turun.
Hessa mengamati rumah di depannya. Bukan rumah yang besar, hampir sama dengan rumahnya.
“Afnaaaaan!!!”
“Jangan teriak, Ly! Nanti anakku bangun!”
Hessa tertawa melihat Lily langsung diam karena ditegur suaminya.
“Kalian mau ke mana?” Afnan menyeret kopernya sambil mendekati Lily.
“Rumah sakit.” Lily menjawab, melambaikan tangannya pada Hessa.
“Ngapain? Apa ponakanku yang cantik sakit?” Afnan memperhatikan bayi Lily.
“Nggak. Mau ke dokter aja. Daaah!” Lily bergegas menyusul suaminya yang tidak sabar dan meninggalkannya.
“Anak kecil itu belum pantes jadi ibu.” Afnan membuka pintu.
Hessa mengamati interior rumah berwarna monokrom milik keluarga Afnan, yang akan jadi keluarganya juga setelah ini. Warna putih, hitam, dan abu-abu yang mendominasi ruangan yang dilewati Hessa.
Afnan menuang jus ke gelas dan memberikan kepada Hessa. Dapur rumah Afnan langsung menghadap halaman belakang yang penuh bunga.
“Itu apa?” Hessa menunjuk dinding sebelah kanannya, ada kaca tebal di tembok. Møller Message Board. Dinding yang langsung terlihat saat mereka masuk ke dapur ini dari ruang tengah.
“Itu kalau mau ngomong tapi orangnya nggak ada di rumah. Daripada lupa,” Afnan menjelaskan.
“Ini contohnya. Mama, obatnya di dekat TV, dari Linus. Linus itu suaminya Lily tadi. Terus ini apa, jelek tulisannya. Pasti Papa. Ya ampun! Did I tell you that I love you? Cheesy banget.”
Hessa tertawa sampai hampir tersedak. Hessa hanya pernah sekali bertemu papanya Afnan. Mereka datang ke rumahnya untuk menentukan tanggal pernikahan. Warna matanya sama dengan milik Afnan. Biru pucat.
“Aku tempel di kulkas kalau di rumah,” Hessa memberi tahu.
“Kalau seperti itu bisa dihapus, nggak pakai kertas. Mamaku kan terobsesi dengan penghematan.” Hessa menghabiskan minumannya.
“Ayo! Biar aja di situ gelasnya!”
Hessa mengikuti Afnan naik ke lantai dua. Ruangan luas yang nyaman. Rak buku menempel dari lantai sampai menyentuh langit-langit. Dan penuh buku. Dua sofa panjang berwarna putih menghadap layar televisi sangat lebar. Coffee table lebar berwarna putih juga. Ada futon berwarna hitam ditumpuk di samping sofa.
Afnan membuka salah satu pintu dan masuk. Hessa menyudahi pengamatannya, mengikuti Afnan masuk.
“Jangan sentuh itu!” Afnan memperingatkan.
Hessa langsung menarik tangannya. Hessa berdiri dekat dengan Gundam setinggi anak umur lima tahun. Siapa pun yang melihatnya pasti ingin menyentuhnya. Penasaran dengan robot itu.
“Ini yang bikin kamu mau membunuh Mikkel?” Hessa meninggalkan si Gundam pembawa petaka itu. Salah-salah bisa dicekek Afnan juga.
“Tahu dari mana kamu?” Afnan merebahkan tubuhnya di kasur.
“Dari mamamu.”
“Itu benda-benda yang nggak boleh disentuh.” Afnan menunjuk rak di dinding di sebelah pintu. Isinya mainan Gundam berjejer-jejer, lebih dari dua puluh buah.
“Pelit amat!”
“Biar! Itu hartaku! Aku beli itu puasa tiap hari, nggak jajan. Nyusunnya juga susah.”
“Dasar nerd!” Hessa mencibir. Afnan tidak menjawab.
Afnan. Hessa memutar-mutar kursinya. Kamar Afnan terlalu sepi. Tidak banyak barang selain Gundam dan bola dunia besar berwarna abu-abu di atas lemari bajunya. Ada layang-layang besar berbentuk naga digantung di dinding yang menghadap tempat tidur.
“Aku ngantuk! Aku tidur dulu ya!” Afnan memejamkan mata. Hessa menyalakan komputer Afnan.
“Kamu kalau mau nonton TV di luar sana. Buku-buku juga ada. Buku-buku cengeng punya mamaku zaman dulu juga ada.”
“Ya.” Hessa lebih tertarik untuk meneliti isi komputer Afnan.
“Kenapa wajahmu gitu?” Afnan berbaring miring mengamati wajah Hessa dari samping.
“Hari Sabtu cepet banget datang, ya?” Hessa memperhatikan kalender di komputer.
“Kenapa emangnya?”
“Pusing.”
Ini hanya perasaan Hessa saja atau memang hari pernikahan itu mendebarkan?
“Gitu aja bikin kamu pusing. Akan banyak lagi hari-hari lain yang bikin kita lebih pusing nanti. Misalnya saat lihat kamu melahirkan, saat anak kita sakit ... percaya deh, hari pernikahan mungkin malah menyenangkan dibandingkan hari-hari lain nanti.”
“Ah, kamu mah nggak ngerti. Aku pengen pacaran tahu.
Bukan tiba-tiba menikah.”
“Tiba-tiba? Ada jeda tiga bulan ini. Kita udah telepon,
video call, chatting.”
“Ya, tiga bulan tapi kan kita nggak pacaran.” Hessa tidak menemukan apa pun di komputer Afnan. Ada film-film Gundam, juga film robot-robotan lain. Hessa tidak tahu apa bagusnya benda-benda seperti ini.
“Apa enaknya pacaran?”
“Having fun.” Hessa menelusuri folder-folder lain, seharusnya ada porn videos di sini.
“Kalau gitu ayo pacaran mulai hari ini.”
“Apa?” Hessa menoleh ke kanan, melihat wajah Afnan. “Orang pacaran itu ngapain? Aku nggak pernah pacaran.”
Afnan memandang langit-langit kamarnya.
“Tauk! Nggak lucu.” Hessa tidak tahu lagi bagaimana bicara dengan Afnan ini.
Hessa mematikan komputer lalu berdiri, memilih ikut duduk di tempat tidur Afnan. Afnan berbaring di sebelahnya. Hessa mengamati wajah Afnan. Matanya terpejam, sedang mencoba untuk tidur. Laki-laki ini yang akan menjadi suaminya. Hessa dan Afnan punya pilihan untuk membuat ini semua berjalan dengan baik. Seperti kata Mahatma Gandhi, “Be the change you want to be.”
Hessa mengambil bantal dari bawah kepala Afnan dan membekap wajah Afnan dengan bantal.
“Aku bisa mati!” Suara Afnan teredam oleh bantal. Hessa hanya tertawa, semakin menekan bantalnya ke wajah Afnan.
Hessa menarik bantalnya dan melihat Afnan sedang mengumpulkan napas. Hessa menunduk dan memberanikan dirinya untuk menempelkan bibirnya di bibir Afnan. Hessa sudah akan menarik kepalanya, takut kalau Afnan marah padanya karena dia lancang. Hessa merasa dia hampir pingsan. Seperti seluruh darahnya mengalir ke kepala. Afnan membalas ciumannya. Hessa membelalakkan matanya, sebelum memutuskan untuk menikmatinya. Rasanya seperti dunia melebur di sekitar mereka, tidak ada orang lain lagi yang hidup di dunia selain mereka berdua.
“You stole my first kiss,” kata Afnan setelah Hessa melepaskan bibirnya. Hessa tertawa sambil menutup wajahnya. Mengapa dia agresif sekali, tiba-tiba mencium Afnan?
Apa tadi dia bilang? First kiss? Bagaimana mungkin ada laki-laki setua itu tapi belum pernah ciuman? Tapi ciuman Afnan hebat. Afnan lebih jago dari mantan pacar Hessa. Hessa menurunkan tangannya, takut-takut melihat Afnan yang berbaring dengan kepala sudah pindah di paha Hessa. Afnan kembali memejamkan mata. Ekspresi wajahnya gabungan dari ekspresi terkejut, bingung, dan senang.
***
Hari ini terasa sempurna. Hessa duduk bersama Afnan di teras belakang rumah Afnan. Matahari sudah hampir tumbang di ufuk barat. Afnan tadi tidur siang cukup lama, Hessa meninggalkan Afnan untuk duduk di luar nonton TV dan membaca. Sampai mereka telat makan siang, tidak ada satu penghuni lain dari rumah ini yang pulang.
Hessa duduk diam memandang langit senja. Hessa tidak pernah merasa damai seperti ini, selama masa menjelang pernikahannya. Sekarang Hessa bisa sedikit menerima bahwa dia dan Afnan sudah membuat keputusan yang masuk akal. Hanya perlu improvisasi di sana sini untuk membuat pernikahan mereka menjadi wajar. Memang mereka tidak saling mengenal, tapi bukan berarti terus-menerus membiarkan jurang lebar membentang di antara mereka. Kalau tidak bisa secara emosional, setidaknya secara fisik mereka dekat.
Hessa menyentuh tangan Afnan, lalu mencium pipi laki-laki itu, untuk membuat mereka nyaman satu sama lain.
“Kita akan ketemu lagi nanti hari Sabtu,” kata Afnan.
Hidup Afnan sudah sangat baik sebelum ini. Dia merasa hidupnya akan lebih baik setelah ada Hessa. Tidak tahu seperti apa, pasti akan lebih baik. Saat Afnan memiliki sesuatu yang baik seperti ini, sangat berat baginya untuk membayangkan dia bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi.
“Iya. Besok aku akan sibuk,” Hessa menggumam.
“Sibuk apa?”
“Ya rahasia. Itu kan urusan pengantin wanita.” Apalagi selain ritual menyiapkan diri untuk menghadapi malam pengantin mereka. Mamanya yang ribut sebenarnya dan Hessa malas untuk berdebat.
“Kok aku nggak ada kesibukan?” Afnan menunjuk dirinya sendiri.
“Menurutmu ... apa yang bakal kamu rasakan hari Sabtu nanti?” Hessa mengabaikan pertanyaan Afnan.
“Lapar,” Afnan menjawab singkat.
“Hah?” Jawaban Afnan selalu tidak pernah diduganya.
“Aku pasti nggak sempat sarapan pagi-pagi. Ribet pakai baju. Terus ada acara nikah. Habis itu kita ada acara lagi sama keluarga sebentar. Aku nggak sempet makan lagi.”
“Ya ampun!” Hessa menepuk keningnya.
“Lalu kita akan salaman dan senyum-senyum dengan tamu. Aku akan melihat tamu-tamu makan dan aku nggak makan. Aku tetep akan lapar.”
“Terserah, deh.” Hessa menggeleng-gelengkan kepala, takjub dengan jalan pikiran Afnan.
“Aku harus siap-siap. Ayo masuk!” Afnan menarik Hessa berdiri bersamanya.
“Siap-siap?” Hessa menatap punggung Afnan.
“Beberapa barang-barangku harus dibawa ke rumahmu.
Kita tinggal di sana kan, sebelum ke Aarhus?” Afnan memastikan Hessa belum mengubah rencananya.
“Iya.”
Hessa berjalan pelan mengikuti Afnan masuk.
“Hessa di sini?”
Mamanya Afnan sudah ada di dapur saat Afnan dan Hessa masuk ke rumah lewat dapur.
“Kami makan malam di sini, Ma!” Afnan memberi tahu.
“Eh? Aku bantuin Tante masak kalau gitu.” Hessa mencoba melepaskan tangannya dari tangan Afnan.
“Kamu bantuin aku packing dulu.” Afnan menggeret Hessa meninggalkan dapur.
“Nggak enak dong aku cuma makan aja di sini. Kaya di restoran aja.” Hessa protes, masa hanya datang, makan, lalu pulang.
Afnan tidak menjawab, membuka koper besar yang tadi dibawanya dari bandara.
Afnan membuka lemarinya dan mengeluarkan baju-bajunya.
“Ini apa?” Hessa memegang kain dengan telunjuk dan ibu jarinya. Hessa duduk di lantai menghadap koper Afnan.
“Celana dalam. Ngapain kamu jijik? Nanti kamu juga yang doing laundry.”
“Ih! Kamu cuci sendiri, lah!” Hessa melemparkan begitu saja ke koper Afnan.
“Ya ampun! Itu cuma celana dalam. Bukan isinya.”
“Afnan, stop! Mulutmu itu harus disetorkan ke lembaga sensor, deh!”
“Ini kan pembicaraan orang dewasa. Apa yang harus disensor?” Afnan tertawa melihat Hessa menutup telinganya.
Afnan mengeluarkan perlengkapan perang yang dibawanya dari Aarhus.
“Ini apa?” Hessa sedikit tertarik dengan barang-barang laki-laki. Hessa hanya memiliki adik perempuan, jadi dia tidak tahu kalau laki-laki memiliki perlengkapan perang juga. Untuk Hessa itu seperti make up kit dan lain-lainnya.
“Sabun.”
“Kalau ini?” Tulisan di botolnya tidak dipahami Hessa.
“Foam.”
“Ini?”
“Celana renang. Hessa! Kamu harus bantuin beres-beres. Bukan diaduk-aduk kayak gitu.” Afnan menegur Hessa yang membolak-balik tumpukan bajunya.
Hessa mengatur bawaan Afnan, biar tidak kusut di koper.
“Ini apa?” Hessa kembali bertanya.
“Sunscreen.”
“Ooo ... kamu takut gosong ya?”
“Itu buat renang. Bukan masalah gosong. Biar nggak kena kanker kulit.”
Afnan jongkok di depan Hessa, memasukkan parfum ke dalam kopernya.
“Kamu kok iseng banget, sih?” Afnan melihat Hessa membentuk kaos kaki Afnan jadi bola-bola.
“Biar nggak hilang sebelah tahu. Jangan protes terus!”
“Siapa yang protes? Aku kan cuma nanya.” Afnan
menyelipkan rambut Hessa, yang panjang sebahu, ke balik telinganya. Biar lesung pipi Hessa terlihat kalau gadis itu tertawa.
“Uuuuu ... mesranya...!”
Hessa mendengar suara orang bersiul. Mikkel berdiri di pintu kamar Afnan yang dibiarkan terbuka.
Afnan hanya menoleh sekilas, lalu memunggungi Mikkel lagi.
“Karena dia datang, aku jadi batal punya istri kedua.”
Hessa melihat Mikkel mengedipkan matanya, membuat
Hessa ingin tertawa.
“Bosan hidup, ya?” Afnan mengepalkan telapak tangannya, seolah-olah sedang mengancam Mikkel.
“Hahahaha ... Mama suruh turun makan.” Mikkel meninggalkan Afnan dan Hessa sambil tertawa.
“Udah?” Afnan bertanya, Hessa mengangguk.
Afnan menutup kopernya dan membawanya turun bersama mereka. Malam ini kopernya akan dibawa ke rumah Hessa.
“O iya, sepatu sama sandalku. Nanti ingetin habis makan!” Afnan meletakkan kopernya di dekat pintu dapur.
“Hei!” Lilian duduk di sana, masih memakai baju kerjanya, membuat Hessa iri setengah mati. Harusnya Afnan seperti Mikkel, pindah ke sini.
“Hei!” Hessa duduk di sebelah Lilian.
Ini pertama kalinya juga Hessa bergabung dengan keluarga Afnan di meja makan. Semua lengkap. Mama dan papanya, Mikkel dan istrinya, Lily dan suaminya, dan Afnan. Hessa belum menjadi bagian dari keluarga ini. Hessa belum pernah ada dalam situasi seperti ini, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Ayo makan, Hessa!” Mamanya Afnan memberikan piring kepadanya, lalu kepada Afnan.
“Terima kasih, Tante.” Hessa tersenyum sopan.
“Lily, kamu gembul banget. Nggak sadar apa badan kamu udah kaya balon. Bisa kaget nanti anakmu lihat mamanya.”
Mikkel mengamati Lily makan.
“Berisik! Aku perlu banyak makan demi anakku juga.” Lily tidak kalah menjawab.
“Emang dasarnya kamu gembul. Anak dijadikan alasan.”
Hessa mengamati semuanya dalam diam. Afnan tampak tidak terganggu dengan keributan kakak dan adiknya. Tetap fokus pada piringnya.
Bagi Hessa, yang penting hari ini, pertemuan ketiganya dengan Afnan, berjalan dengan baik. Walaupun sedikit, dia bisa menghilangkan sedikit jarak dengan Afnan sebelum pernikahan mereka.